Pak Pur, di rumah saya bekerja seorang ibu. Ia ingin
dibaptis. Usianya sekitar 50 tahun, berasal dari desa.
Memang saya tahu mestinya ia ikut Katekisasi, cuma
masalahnya ia tidak cakap baca-tulis... ujar seorang
warga jemaat. Itulah awal dari gagasan untuk mengadakan
sebuah kelas Katekisasi khusus bagi mereka yang tidak bisa
mengikuti kelas Katekisasi yang reguler.
Setelah disetujui oleh Majelis Jemaat, maka sebulan
sebelumnya diwartakanlah perihal akan diadakannya
Katekisasi khusus itu, serta kesempatan untuk mendaftarkan
diri guna mengikutinya.
Minggu pertama hanya satu orang yang mendaftarkan diri,
yaitu ibu yang bekerja pada warga jemaat itu. Sehingga
sempat saya merasa agak pesimistis dan mencemaskan apakah
gagasan itu memang baik. Namun dalam minggu-minggu
berikutnya ternyata lebih daripada lima belas orang telah
mendaftarkan diri, termasuk 2 orang karyawan gereja.
Namun yang kemudian lebih mencemaskan saya adalah bahan
apakah yang akan dipakai untuk kelas ketekisasi ini, serta
metode penyampaiannya.
Bersama dengan rekan-rekan saya mempersiapkan banyak
gambar-gambar dan foto-foto dengan tema Alkitab, tema
kemanusian, dan banyak lagi. Sebab rasanya semuanya
diharapkan akan dapat menolong, mengingat bahasa tulisan
tidak akan dapat digunakan.
Selain itu, salah seorang rekan mengusahakan sebuah paket
slide lengkap dengan tape yang mengisahkan pembebasan
umat Israel dari Mesir. Dan yang lebih penting lagi kami
berhasil menyusun rencana pelajaran sederhana untuk 12
kali pertemuan.
Walaupun demikian, kian mendekati hari diadakannya
Katekisasi khusus itu, kian cemas saya. Akan bisakah saya
menyampaikan materi Katekisasi yang telah dipersiapkan itu
dengan baik? Akan mengertikah para peserta maksud saya?
Akan dapatkah mereka menangkap inti dari pokok iman
Kristen yang disampaikan?
Setiap malam saya bawa hal ini dalam doa. Tetapi terus
terang saja saya masih dihinggapi rasa bimbang.
Akhirnya tibalah hari Rabu sore yang saya nanti-nantikan
dengan perasaan bergalau itu.
Setengah jam sebelum Katekisasi dimulai saya memasuki
ruangan. Saya disambut oleh wajah-wajah ceria dan senyum
berseri. Hampir semua peserta yang mendaftarkan diri telah
hadir. Sulit menggambarkan perasaaan saya saat itu. Tetapi
entah bagaimana semua kebimbangan saya sirna ditelan
antusiasme para peserta yang amat membesarkan hati itu.
Bahkan dua orang tua-tua yang turut menghadiri pembukaan
Katekisasi khusus itu kelihatan amat tersentuh oleh
kepolosan mereka.
Namun ketika hendak membuka Katekisasi saya sempat
ragu-ragu. Secara otomatis saya mengambil buku nyanyian
yang sudah tersedia dalam tumpukan rapi di meja dan
memilih sebuah lagu yang saya harap dikenal: Yesus Sobat
Yang Setia, lalu tiba-tiba saya menyadari bahwa mereka
tidak lancar membaca-tulis.
Saya letakkan buku nyanyian itu, sebab para peserta
kelihatan mulai ragu apakah mereka juga harus mengambil
buku nyanyian atau tidak. Saya mencoba tersenyum dan
berkata:
Ibu-ibu dan Bapak-bapak, selamat sore...
Serempak mereka menjawab:Selamat sore Pak!
Namun sebagian melakukannya dalam bahasa Jawa. Saya
tertegun sejenak. Lalu tiba-tiba terlintas dalam pikiran
saya bahwa jangan-jangan di antara mereka ada yang kurang
menguasai bahasa Indonesia.
Ibu-ibu dan Bapak-bapak, bagaimana sebaiknya. Kita
gunakan bahasa Indonesia atau bahasa Jawa?
Bahasa Jawa saja Pak. Jawab mereka dengan satu suara.
Tetapi bahasa Jawa saya kurang sempurna lho. Saya
mencoba mengingatkan mereka.
Tidak apa-apa Pak. Kami mengerti. Sahut salah seorang
peserta. Ia yang tertua, karyawan gereja, petugas
kebersihan. Para peserta lain mengangguk setuju.
Begitulah saya memulai kelas Katekisasi khusus itu. Semua
hal yang saya kuatirkan memang terjadi. Tetapi jalan
keluarnya juga langsung tersedia sendiri.
Misalnya ketika saya mengajak mereka menyanyi dari buku
nyanyian. Saya tiba-tiba teringat ketika mengajar nyanyian
bagi anak-anak Sekolah Minggu. Saya membaca dan menyanyi
baris demi baris, dan mereka mengikutinya dengan penuh
antusiasme. Yang luar biasa adalah bahwa praktis setelah
dua atau tiga kali mengulanginya, mereka hapal lagu-lagu
yang saya ajarkan.
Begitupun misalnya ketika saya menjelaskan pengertian
penebusan dosa dan keselamatan oleh Yesus Kristus. Di
rumah ketika mempersiapkan diri, saya berencana untuk
memakai contoh hutang-piutang sebagai contoh utama. Akan
tetapi ketika tiba di kelas saya dihinggapi perasaan bahwa
contoh itu kurang tepat.
Tiba-tiba saya ingat berita di koran lokal kemarin tentang
seorang anak di bawah umur yang melakukan kejahatan, dan
ketika polisi datang ke desanya untuk menangkapnya,
ayahnya menawarkan diri untuk ditahan menggantikan anaknya.
Ternyata contoh itu jauh lebih menyentuh dan membuat
mereka mengerti. Karena mereka sependapat dengan si ayah
dalam berita di koran itu. Mereka juga bersedia
melakukannya untuk anak-anak mereka. Dan Tuhan adalah
Tuhan yang mahabaik karena bersedia melakukannya untuk
mereka semua. Seorang ibu dengan suara bergetar bertanya:
Pak Pendeta, saya punya banyak sekali dosa... rasanya
jauh lebih banyak daripada orang lain. Tidakkah saya harus
melakukan sesuatu agar juga diampuni Tuhan...?
Tidak Ibu. Ibu adalah anak-Nya... Tuhan Yesus juga
berkenan menggantikan Ibu menerima hukuman...
Ibu itu mengangguk-angguk, terharu, tidak dapat mengatakan
apa-apa lagi. Saya pun terdiam menyaksikan beliau.
Setiap Rabu sore bukan hanya para peserta Katekisasi
khusus itu yang belajar. Tetapi saya juga. Bahkan menurut
hemat saya, yang saya pelajari jauh lebih banyak daripada
mereka. Baik tentang iman Kristen maupun dan terutama
tentang manusia.
Ketika manusia dihargai dan diberi kesempatan sesuai
dengan harkat dan situasinya, maka akan nyatalah bahwa ia
adalah berlian ciptaan dan kecintaan Allah.
Selain itu, saya juga menjadi yakin bahwa Roh Kudus bukan
hanya turun pada hari Raya Pentakosta, tetapi setiap haru
Rabu sore di kelas Katekisasi khusus itu.
Itu saya tekankan dalam khotbah saya ketika mereka
menerima sakramen baptis kudus sekitar 4 bulan kemudian.
Saya sempat menangis sejenak menyaksikan ketulusan dan
kesungguhan mereka.
Kelas Katekisasi khusus itu adalah benar-benar kelas
Katekisasi yang istimewa! |