Refleksi
30 Maret 2004
Kelas Katekisasi Istimewa
Pdt. Purboyo W. Susilaradeya
Pak Pur, di rumah saya bekerja seorang ibu. Ia ingin dibaptis. Usianya sekitar 50 tahun, berasal dari desa. Memang saya tahu mestinya ia ikut Katekisasi, cuma masalahnya ia tidak cakap baca-tulis... ujar seorang warga jemaat. Itulah awal dari gagasan untuk mengadakan sebuah kelas Katekisasi khusus bagi mereka yang tidak bisa mengikuti kelas Katekisasi yang reguler.

Setelah disetujui oleh Majelis Jemaat, maka sebulan sebelumnya diwartakanlah perihal akan diadakannya Katekisasi khusus itu, serta kesempatan untuk mendaftarkan diri guna mengikutinya.

Minggu pertama hanya satu orang yang mendaftarkan diri, yaitu ibu yang bekerja pada warga jemaat itu. Sehingga sempat saya merasa agak pesimistis dan mencemaskan apakah gagasan itu memang baik. Namun dalam minggu-minggu berikutnya ternyata lebih daripada lima belas orang telah mendaftarkan diri, termasuk 2 orang karyawan gereja.

Namun yang kemudian lebih mencemaskan saya adalah bahan apakah yang akan dipakai untuk kelas ketekisasi ini, serta metode penyampaiannya.

Bersama dengan rekan-rekan saya mempersiapkan banyak gambar-gambar dan foto-foto dengan tema Alkitab, tema kemanusian, dan banyak lagi. Sebab rasanya semuanya diharapkan akan dapat menolong, mengingat bahasa tulisan tidak akan dapat digunakan.

Selain itu, salah seorang rekan mengusahakan sebuah paket “slide” lengkap dengan “tape” yang mengisahkan pembebasan umat Israel dari Mesir. Dan yang lebih penting lagi kami berhasil menyusun rencana pelajaran sederhana untuk 12 kali pertemuan.

Walaupun demikian, kian mendekati hari diadakannya Katekisasi khusus itu, kian cemas saya. Akan bisakah saya menyampaikan materi Katekisasi yang telah dipersiapkan itu dengan baik? Akan mengertikah para peserta maksud saya? Akan dapatkah mereka menangkap inti dari pokok iman Kristen yang disampaikan?

Setiap malam saya bawa hal ini dalam doa. Tetapi terus terang saja saya masih dihinggapi rasa bimbang.

Akhirnya tibalah hari Rabu sore yang saya nanti-nantikan dengan perasaan bergalau itu.
Setengah jam sebelum Katekisasi dimulai saya memasuki ruangan. Saya disambut oleh wajah-wajah ceria dan senyum berseri. Hampir semua peserta yang mendaftarkan diri telah hadir. Sulit menggambarkan perasaaan saya saat itu. Tetapi entah bagaimana semua kebimbangan saya sirna ditelan antusiasme para peserta yang amat membesarkan hati itu. Bahkan dua orang tua-tua yang turut menghadiri pembukaan Katekisasi khusus itu kelihatan amat tersentuh oleh kepolosan mereka.

Namun ketika hendak membuka Katekisasi saya sempat ragu-ragu. Secara otomatis saya mengambil buku nyanyian yang sudah tersedia dalam tumpukan rapi di meja dan memilih sebuah lagu yang saya harap dikenal: Yesus Sobat Yang Setia, lalu tiba-tiba saya menyadari bahwa mereka tidak lancar membaca-tulis.

Saya letakkan buku nyanyian itu, sebab para peserta kelihatan mulai ragu apakah mereka juga harus mengambil buku nyanyian atau tidak. Saya mencoba tersenyum dan berkata:

    “Ibu-ibu dan Bapak-bapak, selamat sore...”

    Serempak mereka menjawab:“Selamat sore Pak!”

Namun sebagian melakukannya dalam bahasa Jawa. Saya tertegun sejenak. Lalu tiba-tiba terlintas dalam pikiran saya bahwa jangan-jangan di antara mereka ada yang kurang menguasai bahasa Indonesia.

    “Ibu-ibu dan Bapak-bapak, bagaimana sebaiknya. Kita gunakan bahasa Indonesia atau bahasa Jawa?”

    “Bahasa Jawa saja Pak.” Jawab mereka dengan satu suara.

    “Tetapi bahasa Jawa saya kurang sempurna lho.” Saya mencoba mengingatkan mereka.

    “Tidak apa-apa Pak. Kami mengerti.” Sahut salah seorang peserta. Ia yang tertua, karyawan gereja, petugas kebersihan. Para peserta lain mengangguk setuju.

Begitulah saya memulai kelas Katekisasi khusus itu. Semua hal yang saya kuatirkan memang terjadi. Tetapi jalan keluarnya juga langsung tersedia sendiri.

Misalnya ketika saya mengajak mereka menyanyi dari buku nyanyian. Saya tiba-tiba teringat ketika mengajar nyanyian bagi anak-anak Sekolah Minggu. Saya membaca dan menyanyi baris demi baris, dan mereka mengikutinya dengan penuh antusiasme. Yang luar biasa adalah bahwa praktis setelah dua atau tiga kali mengulanginya, mereka hapal lagu-lagu yang saya ajarkan.

Begitupun misalnya ketika saya menjelaskan pengertian penebusan dosa dan keselamatan oleh Yesus Kristus. Di rumah ketika mempersiapkan diri, saya berencana untuk memakai contoh hutang-piutang sebagai contoh utama. Akan tetapi ketika tiba di kelas saya dihinggapi perasaan bahwa contoh itu kurang tepat.

Tiba-tiba saya ingat berita di koran lokal kemarin tentang seorang anak di bawah umur yang melakukan kejahatan, dan ketika polisi datang ke desanya untuk menangkapnya, ayahnya menawarkan diri untuk ditahan menggantikan anaknya. Ternyata contoh itu jauh lebih menyentuh dan membuat mereka mengerti. Karena mereka sependapat dengan si ayah dalam berita di koran itu. Mereka juga bersedia melakukannya untuk anak-anak mereka. Dan Tuhan adalah Tuhan yang mahabaik karena bersedia melakukannya untuk mereka semua. Seorang ibu dengan suara bergetar bertanya:

    “Pak Pendeta, saya punya banyak sekali dosa... rasanya jauh lebih banyak daripada orang lain. Tidakkah saya harus melakukan sesuatu agar juga diampuni Tuhan...?”

    “Tidak Ibu. Ibu adalah anak-Nya... Tuhan Yesus juga berkenan menggantikan Ibu menerima hukuman...”

Ibu itu mengangguk-angguk, terharu, tidak dapat mengatakan apa-apa lagi. Saya pun terdiam menyaksikan beliau.

Setiap Rabu sore bukan hanya para peserta Katekisasi khusus itu yang belajar. Tetapi saya juga. Bahkan menurut hemat saya, yang saya pelajari jauh lebih banyak daripada mereka. Baik tentang iman Kristen maupun dan terutama tentang manusia.

Ketika manusia dihargai dan diberi kesempatan sesuai dengan harkat dan situasinya, maka akan nyatalah bahwa ia adalah berlian ciptaan dan kecintaan Allah.

Selain itu, saya juga menjadi yakin bahwa Roh Kudus bukan hanya turun pada hari Raya Pentakosta, tetapi setiap haru Rabu sore di kelas Katekisasi khusus itu.

Itu saya tekankan dalam khotbah saya ketika mereka menerima sakramen baptis kudus sekitar 4 bulan kemudian. Saya sempat menangis sejenak menyaksikan ketulusan dan kesungguhan mereka.

Kelas Katekisasi khusus itu adalah benar-benar kelas Katekisasi yang istimewa!

 
>> Arsip

   

Gereja Kristen Indonesia Pondok Indah @ 2003