Refleksi
30 Nopember 2003
Wessel Edelenbos dan Tuhan
Pdt. Purboyo W. Susilaradeya
Nama saya Edelenbos, tapi kami tidak terlalu suka formalitas. Jadi panggil saja kami dengan Wessel dan Hennie...

Begitulah sepasang suami-istri berusia sekitar tujuhpuluhan tahun yang tinggal di apartemen sebelah apartemen kami di kota Kampen memperkenalkan diri, ketika kami baru tiba di Nederland.

    “Terima kasih kami boleh memanggil kalian dengan Pungky dan Elisabeth... Soalnya nama depan kalian, terutama nama Puuur...boy... sulit buat kami,” sambung istrinya malu-malu.

    “Oh, jadi Pungky pendeta? Harap dimaklumi, kami memang percaya kepada Tuhan, tetapi dengan cara kami sendiri. Maka itu kami tidak lagi bergereja,” ujar Wessel menyambut penjelasan kami tentang diri kami.

Begitulah dari hari ke hari kami tinggal di kota Kampen hubungan kami berkembang dari sekadar mengucapkan selamat bila berpapasan atau bila kebetulan bersama-sama dalam lift, hingga saling mengundang pada hari ulang tahun kami masing-masing.

Sejak awal Wessel dan Hennie kelihatan kurang kerasan hadir dalam pesta ulang tahun yang kami adakan bersama teman-teman kami, yang sebagian besar berasal dari Indonesia, atau yang mempunyai latar belakang maupun kaitan dengan Indonesia. Selain karena memang penyakit orang Indonesia, yaitu seringkali kurang mempertimbangkan kehadiran orang-orang yang tidak berbahasa Indonesia, kami menduga soal makanan yang kurang cocok.

    “Kami memang termasuk orang Belanda yang tradisional, juga dalam hal makanan,” sahut Wessel ketika kami menanyakan hal itu kepada mereka.

Sejak saat itu kami selalu mengundang mereka secara khusus untuk minum kopi sambil menikmati kue-kue khas Indonesia, yang ternyata sangat mereka sukai. Dan sebaliknya bila salah satu dari mereka berdua berulang tahun, kami pun diundang secara khusus. Di situlah kami berkesempatan belajar minum anggur, sherry dan sejenisnya.

Mula-mula karena kemampuan berbahasa Belanda kami masih terbatas, percakapan di antara kami berempat agak seret. Apalagi mereka tidak fasih berbahasa Inggris, dan Hennie ternyata agak tuli, namun malu untuk memakai alat pendengar. Syukur lambat laun percakapan di antara kami kian seru dan kami kian mengenal masing-masing. Hanya tentang satu hal kami tidak pernah membicarakannya, yaitu tentang kepercayaan.

Terkadang memang agak menyerempet hal itu, ketika Wessel atau Hennie bertanya tentang kegiatan kami bergereja di Indonesia. Atau ketika kami mempercakapkan keadaan kehidupan gerejawi di Nederland. Namun bila mulai menyentuh kehidupan iman mereka, dengan sigap mereka, terutama Wessel, mengalihkan pokok pembicaraan.

Setelah lima tahun lebih bertetangga dengan Wessel dan Hennie, hubungan kami sudah jauh lebih dekat daripada sekadar hubungan tetangga. Mereka adalah sahabat sekaligus orangtua bagi kami.

Yang selalu menjaga rumah kami dan menyirami tanaman di dalam rumah kami, bila kami bepergian ke luar kota. Yang selalu siap untuk dimintai pertolongan. Tetapi yang juga mau membagi suka-duka dengan kami. Tak dapat terlupakan bagaimana mereka sangat prihatin atas relasi cinta dari Freda, anak perempuan mereka, anak satu-satunya.

Namun kedekatan relasi kami baru kami sadari, ketika pada suatu hari kami mengabarkan kepada mereka bahwa dalam waktu dekat kami harus pindah ke kota lain. Dengan spontan Hennie berseru:

    “Kalian bergurau bukan?” Pada saat itu kebetulan saya melihat kepada Wessel.

Bisa jadi saya keliru, tetapi rasanya saya melihat mata Wessel berkaca-kaca. Sehingga untuk seketika saya sulit memberikan jawaban.

    “Kami memang harus pindah,” ujar Elisabeth.

Dan saya mengangguk-angguk sambil berdehem dan akhirnya berhasil menemukan suara saya untuk menjelaskan kepada mereka bahwa dalam rangka pekerjaan kami harus pindah ke kota Tilburg di Selatan, dekat perbatasan dengan Belgia. Saat itu ternyata jauh lebih berat buat kami berempat dibandingkan dengan hari kepindahan kami.

Sejak pindah dari kota Kampen kesempatan untuk berkomunikasi menjadi sangat terbatas. Selain jarak yang menyebabkannya, Wessel dan Hennie adalah salah satu dari amat sedikit keluarga di Nederland yang tidak mempunyai telepon. Kesempatan bertemu hanya terjadi bila kami berkunjung ke kota Kampen beberapa bulan sekali untuk menengok teman-teman lama, termasuk mereka.

Tidak terasa tahun dan musim berganti, dari kota Tilburg di Selatan, kami pindah ke kota Arnhem di Timur, dekat perbatasan dengan Jerman. Ketika baru pindah di Arnhem kami mendapatkan telepon dari pacar Freda, putri Wessel, yang mengabarkan bahwa Wessel sakit. Kami agak terkejut karena biasa membayangkannya sebagai seorang yang sangat vital dan aktif.

Lebih terkejut lagi ketika kami menengoknya di rumahnya. Wessel mengidap penyakit kanker. Ia tidak bisa lagi berdiri dan berjalan dengan leluasa. Ia harus menghabiskan sebagian besar dari waktunya di atas kursi roda. Kami tidak tahu harus mengatakan apa. Tetapi Wessel dengan wajah gembira menyambut kedatangan kami.

    “Halo? Apa kabar? Wah anak-anak kelihatan begitu cantik. Juga kamu Elisabeth. Dan Pungky... ho ho ho... gemuk! Bagaimana dengan pekerjaanmu di Arnhem?” Begitulah.

Alih-alih bersedih, kami berkisah tentang diri kami masing-masing, dan bernostalgia. Tentang penyakitnya Wessel tidak banyak bercerita, walau ia menyayangkannya karena sebenar-nya ia masih ingin melakukan banyak hal. Setelah mempertimbangkannya sejenak, saya lalu memberanikan diri bertanya:

    “Wessel, bolehkah aku berdoa untukmu?”

Wessel menatap saya sesaat dengan matan birunya. Ia kelihatan sedih. Lalu ia mengangguk dan menjawab lirih:

    “Tentu... kalau kamu mau melakukannya untukku, masakan aku akan menolakmu Pungky...”

Saya lalu mendoakannya. Sengaja saya tidak berpanjang-panjang mengingat ia sudah berpuluh-puluh tahun tidak berdoa. Saya memasrah-kannya kepada Tuhan sepenuhnya. Selesai berdoa ia dan Hennie mengucapkan terima kasih dengan mata berkaca-kaca.

Sejak perkunjungan itu kami menyempatkan diri untuk beberapa kali mengunjunginya. Dan tiap kali kami harus berhadapan dengan kenyataan bahwa kesehatan Wessel kian mundur. Dan tiap kali saya meminta izinnya untuk berdoa, Wessel selalu mengiyakannya.

Pada perkunjungan kami yang terakhir Wessel sudah tidak dapat lagi duduk di kursi roda. Di atas pembaringannya ia sempat bertanya:

    “Adakah gunanya...? Aku sudah capek sekali Pungky...”

    “Tentu...!” jawab saya dengan tercekat.

Rupanya ia sudah menerima keadaannya dengan ikhlas.

    “Bukankah berdoa berarti menyerahkan diri kepada Pencipta kita... kepada Tuhan? Bukankah kau sendiri pernah mengatakan bahwa kau percaya kepada-Nya?” Wessel tersenyum dan mengangguk.

Setiba kami di rumah, Freda menelepon saya dan minta waktu untuk berbicara. Rupanya tidak lama setelah kami meninggalkannya, Wessel meminta putrinya untuk bertanya kepada saya apakah bila Wessel meninggal, saya bersedia memimpin kebaktian kremasinya.

    “Kebaktian...?” tanya saya dengan heran.

    “Ya. Papa mengatakannya sendiri. Memang ia tidak pernah ke gereja dan teman-teman serta keluarga kami juga tidak. Jadi mohon dipertimbangkan. Pendeknya Papa dan kami semua menyerahkannya kepadamu,” jawab Freda.

Rabu 31 Mei 2000 jam 15.15 saya memimpin sebuah kebaktian sederhana di krematorium kota Zwolle, 18 kilometer dari kota Kampen. Tanpa nyanyian jemaat, hanya musik gerejawi dan klasik instrumental yang diperdengarkan bergantian dengan lembut, juga mengawali dan mengakhiri khotbah pendek saya.

Kami menangisinya. Kami merindukannya. Kami mengenangnya. Dan hidup kami harus kami lanjutkan tanpa kehadirannya. Wessel telah tiada. Kembali kepada Penciptanya.

Namun entah bagaimana saya yakin bahwa pada akhirnya Wessel berdamai kembali dengan Tuhan. Penciptanya yang kiranya juga dialaminya sebagai gembalanya. Gembalanya yang pasti menerimanya dengan tangan terbuka.

Itu sebabnya sengaja saya memilih lagu “Tuhan Adalah Gembalaku” (Mazmur 23) sebagai lagu yang terakhir yang diperdengarkan dalam kebaktian kremasi yang singkat namun sangat bermakna itu.

 
>> Arsip

   

Gereja Kristen Indonesia Pondok Indah @ 2003