Nama saya Edelenbos, tapi kami tidak terlalu suka
formalitas. Jadi panggil saja kami dengan Wessel dan
Hennie...
Begitulah sepasang suami-istri berusia sekitar
tujuhpuluhan tahun yang tinggal di apartemen sebelah
apartemen kami di kota Kampen memperkenalkan diri, ketika
kami baru tiba di Nederland.
“Terima kasih kami boleh memanggil kalian dengan Pungky
dan Elisabeth... Soalnya nama depan kalian, terutama nama
Puuur...boy... sulit buat kami,” sambung istrinya
malu-malu.
“Oh, jadi Pungky pendeta? Harap dimaklumi, kami memang
percaya kepada Tuhan, tetapi dengan cara kami sendiri.
Maka itu kami tidak lagi bergereja,” ujar Wessel menyambut
penjelasan kami tentang diri kami.
Begitulah dari hari ke hari kami tinggal di kota Kampen
hubungan kami berkembang dari sekadar mengucapkan selamat
bila berpapasan atau bila kebetulan bersama-sama dalam
lift, hingga saling mengundang pada hari ulang tahun kami
masing-masing.
Sejak awal Wessel dan Hennie kelihatan kurang kerasan
hadir dalam pesta ulang tahun yang kami adakan bersama
teman-teman kami, yang sebagian besar berasal dari
Indonesia, atau yang mempunyai latar belakang maupun
kaitan dengan Indonesia. Selain karena memang penyakit
orang Indonesia, yaitu seringkali kurang mempertimbangkan
kehadiran orang-orang yang tidak berbahasa Indonesia, kami
menduga soal makanan yang kurang cocok.
“Kami memang termasuk orang Belanda yang tradisional, juga
dalam hal makanan,” sahut Wessel ketika kami menanyakan
hal itu kepada mereka.
Sejak saat itu kami selalu mengundang mereka secara khusus
untuk minum kopi sambil menikmati kue-kue khas Indonesia,
yang ternyata sangat mereka sukai. Dan sebaliknya bila
salah satu dari mereka berdua berulang tahun, kami pun
diundang secara khusus. Di situlah kami berkesempatan
belajar minum anggur, sherry dan sejenisnya.
Mula-mula karena kemampuan berbahasa Belanda kami masih
terbatas, percakapan di antara kami berempat agak seret.
Apalagi mereka tidak fasih berbahasa Inggris, dan Hennie
ternyata agak tuli, namun malu untuk memakai alat
pendengar. Syukur lambat laun percakapan di antara kami
kian seru dan kami kian mengenal masing-masing. Hanya
tentang satu hal kami tidak pernah membicarakannya, yaitu
tentang kepercayaan.
Terkadang memang agak menyerempet hal itu, ketika Wessel
atau Hennie bertanya tentang kegiatan kami bergereja di
Indonesia. Atau ketika kami mempercakapkan keadaan
kehidupan gerejawi di Nederland. Namun bila mulai
menyentuh kehidupan iman mereka, dengan sigap mereka,
terutama Wessel, mengalihkan pokok pembicaraan.
Setelah lima tahun lebih bertetangga dengan Wessel dan
Hennie, hubungan kami sudah jauh lebih dekat daripada
sekadar hubungan tetangga. Mereka adalah sahabat sekaligus
orangtua bagi kami.
Yang selalu menjaga rumah kami dan menyirami tanaman di
dalam rumah kami, bila kami bepergian ke luar kota. Yang
selalu siap untuk dimintai pertolongan. Tetapi yang juga
mau membagi suka-duka dengan kami. Tak dapat terlupakan
bagaimana mereka sangat prihatin atas relasi cinta dari
Freda, anak perempuan mereka, anak satu-satunya.
Namun kedekatan relasi kami baru kami sadari, ketika pada
suatu hari kami mengabarkan kepada mereka bahwa dalam
waktu dekat kami harus pindah ke kota lain. Dengan spontan
Hennie berseru:
Bisa jadi saya keliru, tetapi rasanya saya melihat mata
Wessel berkaca-kaca. Sehingga untuk seketika saya sulit
memberikan jawaban.
“Kami memang harus pindah,” ujar Elisabeth.
Dan saya mengangguk-angguk sambil berdehem dan akhirnya
berhasil menemukan suara saya untuk menjelaskan kepada
mereka bahwa dalam rangka pekerjaan kami harus pindah ke
kota Tilburg di Selatan, dekat perbatasan dengan Belgia.
Saat itu ternyata jauh lebih berat buat kami berempat
dibandingkan dengan hari kepindahan kami.
Sejak pindah dari kota Kampen kesempatan untuk
berkomunikasi menjadi sangat terbatas. Selain jarak yang
menyebabkannya, Wessel dan Hennie adalah salah satu dari
amat sedikit keluarga di Nederland yang tidak mempunyai
telepon. Kesempatan bertemu hanya terjadi bila kami
berkunjung ke kota Kampen beberapa bulan sekali untuk
menengok teman-teman lama, termasuk mereka.
Tidak terasa tahun dan musim berganti, dari kota Tilburg
di Selatan, kami pindah ke kota Arnhem di Timur, dekat
perbatasan dengan Jerman. Ketika baru pindah di Arnhem
kami mendapatkan telepon dari pacar Freda, putri Wessel,
yang mengabarkan bahwa Wessel sakit. Kami agak terkejut
karena biasa membayangkannya sebagai seorang yang sangat
vital dan aktif.
Lebih terkejut lagi ketika kami menengoknya di rumahnya.
Wessel mengidap penyakit kanker. Ia tidak bisa lagi
berdiri dan berjalan dengan leluasa. Ia harus menghabiskan
sebagian besar dari waktunya di atas kursi roda. Kami
tidak tahu harus mengatakan apa. Tetapi Wessel dengan
wajah gembira menyambut kedatangan kami.
“Halo? Apa kabar? Wah anak-anak kelihatan begitu cantik.
Juga kamu Elisabeth. Dan Pungky... ho ho ho... gemuk!
Bagaimana dengan pekerjaanmu di Arnhem?” Begitulah.
Alih-alih bersedih, kami berkisah tentang diri kami
masing-masing, dan bernostalgia. Tentang penyakitnya
Wessel tidak banyak bercerita, walau ia menyayangkannya
karena sebenar-nya ia masih ingin melakukan banyak hal.
Setelah mempertimbangkannya sejenak, saya lalu
memberanikan diri bertanya:
“Wessel, bolehkah aku berdoa untukmu?”
Wessel menatap saya sesaat dengan matan birunya. Ia
kelihatan sedih. Lalu ia mengangguk dan menjawab lirih:
“Tentu... kalau kamu mau melakukannya untukku, masakan aku
akan menolakmu Pungky...”
Saya lalu mendoakannya. Sengaja saya tidak
berpanjang-panjang mengingat ia sudah berpuluh-puluh tahun
tidak berdoa. Saya memasrah-kannya kepada Tuhan sepenuhnya.
Selesai berdoa ia dan Hennie mengucapkan terima kasih
dengan mata berkaca-kaca.
Sejak perkunjungan itu kami menyempatkan diri untuk
beberapa kali mengunjunginya. Dan tiap kali kami harus
berhadapan dengan kenyataan bahwa kesehatan Wessel kian
mundur. Dan tiap kali saya meminta izinnya untuk berdoa,
Wessel selalu mengiyakannya.
Pada perkunjungan kami yang
terakhir Wessel sudah tidak dapat lagi duduk di kursi roda.
Di atas pembaringannya ia sempat bertanya:
Rupanya ia sudah menerima keadaannya dengan ikhlas.
“Bukankah berdoa berarti menyerahkan diri kepada Pencipta
kita... kepada Tuhan? Bukankah kau sendiri pernah
mengatakan bahwa kau percaya kepada-Nya?” Wessel tersenyum
dan mengangguk.
Setiba kami di rumah, Freda menelepon saya dan minta waktu
untuk berbicara. Rupanya tidak lama setelah kami
meninggalkannya, Wessel meminta putrinya untuk bertanya
kepada saya apakah bila Wessel meninggal, saya bersedia
memimpin kebaktian kremasinya.
“Kebaktian...?” tanya saya dengan heran.
“Ya. Papa mengatakannya sendiri. Memang ia tidak pernah ke
gereja dan teman-teman serta keluarga kami juga tidak.
Jadi mohon dipertimbangkan. Pendeknya Papa dan kami semua
menyerahkannya kepadamu,” jawab Freda.
Rabu 31 Mei 2000 jam 15.15 saya memimpin sebuah kebaktian
sederhana di krematorium kota Zwolle, 18 kilometer dari
kota Kampen. Tanpa nyanyian jemaat, hanya musik gerejawi
dan klasik instrumental yang diperdengarkan bergantian
dengan lembut, juga mengawali dan mengakhiri khotbah
pendek saya.
Kami menangisinya. Kami merindukannya. Kami mengenangnya.
Dan hidup kami harus kami lanjutkan tanpa kehadirannya.
Wessel telah tiada. Kembali kepada Penciptanya.
Namun entah bagaimana saya yakin bahwa pada akhirnya
Wessel berdamai kembali dengan Tuhan. Penciptanya yang
kiranya juga dialaminya sebagai gembalanya. Gembalanya
yang pasti menerimanya dengan tangan terbuka.
Itu sebabnya sengaja saya memilih lagu “Tuhan Adalah
Gembalaku” (Mazmur 23) sebagai lagu yang terakhir yang
diperdengarkan dalam kebaktian kremasi yang singkat namun
sangat bermakna itu. |