14 April 2007
Roy & Ita Sangkilawang |
|
|
|
Bagi jemaat GKI Pondok Indah, Roy dan Ita Sangkilawang
tentunya banyak dikenal orang karena kegiatan mereka dalam
berbagai pelayanan, terutama bagi remaja, pemuda dan
dewasa muda. |
|
|
|
Peran Orang Tua di dalam Mengenal Kristus |
Mereka berdua lahir dalam keluarga Kristen dan menurut Ita,
sejak masih sangat kecil ia sudah dididik oleh orang
tuanya untuk hidup bergantung pada Tuhan, menyadari
kehadiran-Nya dan melibatkanNya dalam setiap hal. Melalui
teladan hidup mereka dan banyak liku-liku pengalaman hidup
sehari-hari, orang tuanya mendidik Ita dan ketiga
saudaranya untuk mengenal Tuhan secara pribadi.
Setiap hari Senin, sedari anak-anak masih kecil sampai
dewasa, orang tua Ita selalu mengadakan persekutuan
keluarga, untuk memuji Tuhan, berdoa, membaca, merenungkan
dan membahas firman Tuhan, juga saling berbagi pengalaman
dan saling mendoakan. Tidak selalu ibadah keluarga ini
berjalan mulus, karena kadang-kadang anak-anak malas,
menggerutu, dan marah, tetapi dengan kasih sayang orang
tua Ita tetap setia mengajak anak-anak mereka untuk
mengikuti persekutuan ini.
Sering kali, anak-anak yang tadinya ogah-ogahan ikut,
malah menjadi bersemangat dan menikmati ibadah ini karena
biasanya kehadiran Tuhan di tengah keluarga terasa sangat
nyata untuk menjawab banyak persoalan dan pergumulan
mereka. Anggota keluarga menjadi saling terbuka, saling
menasihati, saling mendorong untuk taat kepada firman-Nya,
dan saling mendoakan. Sekarang setelah semua anak-anak
menikah, sebulan sekali seluruh keluarga besar, bersama
para menantu, menyempatkan diri untuk berkumpul dan
beribadah bersama dan persekutuan keluarga ini selalu
mereka rindukan!
Roy juga teringat akan peranan yang sangat penting dari
orang tuanya di dalam pertumbuhan imannya. Dari kecil
orang tuanya selalu mengingatkan dan mendisiplin anak-anak
mereka untuk pergi ke Sekolah Minggu/gereja. Tidak ada
satu hari Minggu pun yang terlewat. Di situlah Roy
menyadari betapa pentingnya beribadah kepada Tuhan.
Seminggu sekali juga diadakan kebaktian keluarga di rumah
Roy, dan ia masih ingat lagu favorit keluarganya, yaitu
Batu Karang Yang Teguh (KJ. 37). Pengalaman-pengalaman
hidup bersama Tuhan yang sudah dijalani Roy dan Ita sejak
masa kanak-kanak mereka terekam di dalam hati mereka,
sehingga setelah mereka menikah, pola itu juga mereka
terapkan di dalam keluarga mereka. |
|
|
|
Bertumbuh dalam Iman |
Bagi Ita, teman-teman dan persekutuan kampus di UI memberi
andil besar di dalam pertumbuhan imannya. Ketika ia masih
mahasiswa, ia banyak sekali mendapat dorongan dari mereka.
Ia benar-benar belajar untuk bertumbuh dalam iman: menjadi
dewasa, bergumul bersama Tuhan untuk masalah-masalah
pribadinya, seperti masalah pelajaran, skripsi, pelayanan
gereja dan kampus, bahkan juga teman hidup. Saat ini,
teman-teman dan persekutuan di Dewasa Muda GKI Pondok
Indah menjadi sarana Tuhan untuk terus mendorong
pertumbuhan iman dan pelayanannya.
Berbeda dengan Ita, meskipun Roy juga mengenal teman-teman
Ita di kampus, tetapi teman-teman gerejanyalah yang sangat
memberi andil di dalam pertumbuhan imannya pada waktu ia
remaja dan pemuda. Mereka selalu bahu-membahu melayani di
Remaja GKI Kebayoran Baru, kemudian di GKI Kebayoran
Selatan (cikal-bakal GKI Pondok Indah) dan sampai sekarang
masih terus bersamanya untuk membina Dewasa Muda GKI
Pondok Indah. Peran kakak Roy, Rita, juga sangat penting
di dalam pertumbuhan imannya. Rita selalu menjadi motor di
keluarganya untuk mengadakan persekutuan dan dialah juga
yang menggerakkan adik-adiknya untuk giat melayani di
gereja.
Setelah berkeluarga, Roy merasa bahwa andil Ita sebagai
pasangan hidupnya yang sejati sangat besar di dalam
pertumbuhan imannya. Sejak bersamanya, perkembangan ini
memasuki tahap-tahap yang luar biasa, dan ia benar-benar
mengalami apa yang disebut dengan kemuliaan Tuhan, janji
Tuhan, mukjizat Tuhan bahkan kehadiran Tuhan yang nyata di
dalam hidupnya. Bila dulu Roy mengetahui-Nya, sekarang ia
mengalami-Nya. Tuhan bukan hanya sekadar pengetahuan
belaka, tetapi kenyataan, dan untuk itu ia merasa sangat
bersyukur atas kehadiran Ita di dalam hidupnya. |
|
|
|
Tetap Bertahan di dalam Pelayanan |
Di dalam pelayanan, tentu Roy dan Ita pernah mengalami
masa-masa ups and downs. Tetapi meskipun terdengar klise,
Ita mengatakan bahwa kasih Tuhan Yesus tetap membuatnya
bertahan dan tegar. Tentu ada masa-masa sulit, seperti
sakit hati, salah dimengerti, difitnah, ingin mundur,
malas... tetapi kasih Tuhan selalu mengingatkannya,
melalui firman-Nya, untuk tekun dalam bekerja. Saat Teduh
sangat penting baginya untuk bercakap-cakap dengan Tuhan
di dalam doa dan membaca firman-Nya, juga untuk
mendapatkan kekuatan dan dorongan di dalam menjalani
kehidupan ini.
Roy berkata bahwa dulu kalau lagi up, hatinya sangat
senang karena semua lancar, program sukses dan tidak ada
masalah dengan kawan-kawan sepelayanan, tetapi sebaliknya
kalau lagi down ia merasa putus asa, kecewa, sakit hati
dan lebih parah lagi, marah kepada Tuhan dan kepada sesama.
Kalau sudah begini, ia ingin sekali mundur dari pelayanan.
Tetapi puji syukur kepada Tuhan, sekarang ia tidak dapat
lepas dari pelayanan, karena pelayanan sudah menjadi
kegemaran, sukacita, bahkan kebahagiaan, namun bukan
karena ia telah menangkap-Nya (meminjam istilah Paulus)
tetapi karena Tuhan telah menangkapnya terlebih dahulu dan
sedang mempersiapkan perbuatan baik untuk dikerjakannya
(becoming a partner with GOD Almighty). |
|
|
|
Pendidikan Kristiani Kepada Anak-Anak Mereka |
Pertama-tama mereka berdua sepakat bahwa pendidikan rohani
anak-anak adalah tugas dan tanggung jawab mereka sebagai
orang tua. Dengan pertolongan Tuhan, mereka berdua akan
dengan sekuat tenaga memperkenalkan Tuhan kepada anak-anak,
bahkan membawa mereka untuk mengasihi dan melayani-Nya.
Teknis pendidikan ini meniru pola dari keluarga Ita,
misalnya sejak masih bayi, anak-anak sudah diajar berdoa
singkat. Roy dan Ita-lah yang mengucapkan doa singkat
ketika mau tidur, mau makan, bangun pagi atau mau
bepergian. Ketika anak-anak sudah mulai bisa bicara,
mereka diajarkan untuk berdoa sendiri, dengan kata-kata
sederhana, dan secara bertahap berdoa spontan, bukan
dihafal. Setelah mereka memasuki usia pre-school, mereka
mengadakan kebaktian keluarga seminggu sekali dengan
memuji Tuhan, berdoa, membaca firman Tuhan (dengan
buku-buku Sekolah Minggu, gambar-gambar, dan yang penting
membaca dan menghafalkan satu ayat Alkitab), lalu berbagi
pengalaman sederhana dan saling mendoakan.
Ketika anak-anak mulai besar, Roy secara khusus
menjelaskan kepada mereka tentang berita Injil dan
mengajak mereka untuk secara pribadi punya komitmen untuk
percaya kepada Yesus dan menyerahkan hidup mereka
kepada-Nya. Tentu ini masih awal sekali, dan merupakan
tugas Roy dan Ita untuk terus mendorong kehidupan iman
anak-anak mereka. Roy dan Ita berharap dan berdoa agar
anak-anak mereka mengasihi dan melayani Tuhan lebih
daripada mereka sendiri, dan selalu memuliakan Tuhan! |
|
|
|
Peran sekolah Kristen |
|
Roy dan Ita sepakat untuk menyekolahkan anak-anak di
sekolah Kristen, paling tidak dari TK sampai dengan
selesai SMP. Mereka menganggap bahwa usia dari 3 15
tahun adalah masa penting pembentukan dasar-dasar iman dan
karakter anak-anak. Dengan bersekolah di sekolah Kristen,
mereka berharap bahwa hal-hal dasar yang sudah mereka
perkenalkan dan tumbuhkan di rumah, akan konsisten juga
dibangun di lingkungan pergaulan dan pendidikan anak-anak
di sekolah. Oleh karena itu mereka memasukkan anak-anak di
sekolah Kristen yang baik, bukan hanya dari segi mutu
pendidikannya saja, tetapi juga baik dalam soal menerapkan
nilai-nilai Kristiani di dalam kehidupan sehari-hari. |
|
|
|
Saksi Kristus di Tempat Kerja |
|
Roy mengatakan bahwa tentu banyak rintangan di tempat
kerjanya karena nilai-nilai dunia tidak sama dengan nilai
Kristiani, tetapi ia terus berupaya untuk menjadi saksi
Kristus yang benar, karena ia yakin bahwa ini merupakan
salah satu maksud Tuhan bagi hidupnya. Roy tidak melakukan
hal-hal yang spektakuler, tetapi cukup menjadi lilin kecil
yang dapat menyinari sekitarnya. Ia betul-betul melakukan
apa yang disebut dengan BUAH ROH, yaitu kasih, suka cita,
damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan,
kelemahlembutan, penguasaan diri di dalam pekerjaannya,
pada waktu ia harus berinteraksi dengan orang lain, baik
itu atasan, bawahan, rekan kerja, bahkan juga office boy,
kurir, satpam, sopir maupun para pelanggan (customer),
pemasok (vendor), pihak ketiga (out sourcing) dan business
partners. |
|
|
|
Kepedulian Remaja dan Pemuda Gereja Kita |
|
Menurut
pengalaman pribadi Roy dan Ita, agar remaja dan pemuda
gereja kita benar-benar berakar di dalam Tuhan, sebaiknya
keluarga menjadi pilar utama di dalam perkembangan rohani
mereka sejak dini. Sukar mengharapkan terlalu banyak dari
remaja dan pemuda yang tidak pernah mendapat pendidikan
rohani di keluarga mereka untuk terlibat di dalam
pelayanan. Pilar kedua ialah gereja, yang menyediakan
sarana pertumbuhan dan pergaulan yang sehat bagi mereka,
dan baru kemudian yang lain-lain, seperti masyarakat/sosial,
sehingga mereka menjadi saksi Kristus di dunia. |
|
|
 |
|
Roy, Ita dan anak-anak |
|
|
|
|
>> Arsip
|
|
|
|
|
|
|