PRofil
17 Desember 2006
Hindra Tjahjadi, selama masih ada kekuatan tetap akan melayani
Kami rasa setiap anggota jemaat di lingkungan GKI Pondok Indah sudah mengenalnya. Postur tubuhnya gagah tinggi dengan suara yang mantap. Betul, dialah Hindra Tjahjadi, seorang mantan anggota Majelis Jemaat (1994 s/d 2000) dan bahkan pernah pula untuk satu periode menjabat sebagai Ketua Umumnya, dan juga mantan ketua Komisi Dikkesra.

Pria kelahiran 8 Januari 1946 di Turen, Malang, Jawa Timur, ini mempunyai segudang pengalaman di bidang pelayanan jemaat di GKI Pondok Indah, khususnya di bidang sosial-kemasyarakatan, karena semenjak ikut berkiprah dalam bidang pelayanan, Pak Hin, begitu beliau biasa dipanggil, turut membidani lahirnya Komisi Dikkesra pada th 1986 hingga saat ini.

Banyak suka dan duka dialaminya dalam bidang pelayanan ini, namun berkat penyertaan Tuhan semuanya itu dijalaninya dengan penuh suka-cita.

Putra pertama, dari empat bersaudara, dari pasangan Bpk. Hadi Gunawan (Alm) dan Ibu Artiningsih (Alm), dalam percakapan beberapa waktu lalu mengemukakan bahwa dalam bidang pelayanan ini terasa semuanya mengalir begitu saja. “Namun sebagai orang beriman, saya meyakini bahwa semuanya itu dapat berjalan karena penyertaan Tuhan semata,” katanya.

Tiga saudara Pak Hin adalah Ibu Ratna, Bpk. Chris Wibisono dan Bpk. Singgih Tjahjono dan semuanya adalah warga jemaat GKI Pondok Indah.

Sebelum astetasi ke GKI Pondok Indah, Pak Hin sebelumnya adalah warga jemaat GKI Tumapel di Malang, dan beliau hijrah ke Jakarta pada th 1972 untuk pindah studi dari Institut Teknologi Surabaya (ITS) ke Universitas Trisakti dan beliau bergabung ke GKI Kebayoran Baru. Namun studinya di Trisakti tidak dilanjutkan karena beliau “tergoda” untuk mengikuti”apprenticeship program ke Taiwan yang ditawarkan oleh Pabrik Semen Indocement. Sepulang dari Taiwan beliau terus bergabung dengan Indocement hingga pensiun pada tgl 30 Maret 2003 lalu setelah mengabdi di perusahaan tersebut selama 30 tahun.

Setelah pensiun, Pak Hin pada bulan Juli 2003 membuka usaha sendiri di bidang transportasi semen curah dan batubara dengan suatu armada yang terdiri dari 27 heavy trucks. Selain itu, perusahaan Pak Hin juga diminta untuk mengoperasikan 12 unit kendaraan serupa milik Indocement, jadi seluruh armada yang berada di bawah kendali Pak Hin berjumlah 39 kendaraan.

Sewaktu masih bekerja di Indocement, Pak Hin mempunyai suatu pengalaman yang tak terlupakan, yaitu ketika pabriknya membangun satu unit produksi yang ke-7 pada awal th 1990-an. Pada waktu itu beliau ditugasi untuk memimpin pengangkutan berbagai mesin dan peralatan yang besarnya sungguh luar biasa dengan berat sekitar 200 ton. Mesin dan peralatan tersebut harus diangkut dengan truk-truk yang sangat besar pula melalui jalan raya dari pelabuhan Tanjung Priok ke Cibinong. Dengan jarak sekitar 60 km, perjalanan pengangkutan tersebut memakan waktu selama satu minggu, karena setiap akan melewati jembatan, harus dipasang jembatan lain di atasnya agar dapat dilewati kendaraan pembawa mesin dan peralatan itu. Setelah itu dibongkar lagi dan dipasang lagi. Begitu seterusnya. Yang paling mengesankan adalah ketika baru saja keluar dari Tanjung Priok, sudah harus menghadapi sebuah jembatan. Untuk memasang jembatan di atasnya diperkirakan akan memakan waktu sekitar 3-4 jam, namun karena belum berpengalaman waktu tersebut terlampaui hingga lebih dari satu hari. Namun untuk selanjutnya dapat berjalan dengan baik. Jembatan dan truk-truk pengangkutnya itu didatangkan dari Jerman dan pemasangannya juga di bawah pengawasan para ahli dari pabriknya.

Menjawab pertanyaan mengenai kehidupan keluarganya, Pak Hin mengemukakan bahwa dari perkawinannya dengan dara pilihannya, Thio Phing Phing yang lebih dikenal dengan panggilan Fenny, beliau dikaruniai dua orang anak, yaitu Aswin Tjahjadi (27) dan Amelia Tjahjadi (24).

Pak Hin menikah dengan Ibu Fenny, yang usianya terpaut sembilan tahun, di depan Kantor Catatan Sipil Cirebon pada tgl 6 Juni 1978. Namun pasangan baru ini baru melaksanakan pesta pernikahan mereka di Jakarta pada bulan Pebruari 1979.

Aswin, yang lulusan S-1 Teknik Industri dari Universitas Katholik Atma Jaya, kini bekerja membantu ayahnya, sementara Amel, yang lulusan S-1 bidang komunikasi dari Universitas Pelita Harapan, kini bekerja pada sebuah perusahaan financing, ORIX Finance.

“Kami sungguh sangat bersyukur karena kami sekeluarga dapat melayani sesama dan Tuhan melalui berbagai kegiatan di gereja maupun di tempat lain. Itu semua dapat terjadi dan berjalan dengan baik karena berkat Tuhan,” kata Pak Hin.

Pak Hin sendiri masih melayani di Komisi Dikkesra, isterinya, Ibu Fenny di Sub-komisi Wanita dan juga di PS Agape dari Kombas Bintaro, Aswin di Komisi Pemuda, begitu pula Amel, yang aktif di Komisi Pemuda dan PS The Voices.

Menyinggung tentang pengalaman yang berkesan selama melakukan pelayanan, Pak Hin mengemukakan bahwa ada satu pengalaman yang seumur hidup tidak dapat beliau lupakan, yaitu ketika pada akhir th 1990-an beliau bersama Bpk Robert Kaminaga, kini tinggal di Australia, ditugasi untuk melakukan peninjauan ke sebuah desa di Bandarjaya, Lampung, yang akan dibantu pompa air. Karena desa tersebut letaknya jauh di pedalaman, maka Pak Hin bersama rombongan untuk dapat sampai di desa tersebut harus berjalan kaki melewati pematang sawah dan harus “nyeker” (tanpa sepatu).

Pengalaman-pengalaman semacam itu selalu beliau ceritakan kepada teman-teman dan juga keluarganya. Oleh karena itu, Pak Hin juga menyatakan bahwa: “Selama masih ada kekuatan tetap akan melayani Tuhan dan mendorong anak-anak juga berbuat serupa.”

Demikianlah sedikit percakan untuk lebih mengenal Pak Hindra Tjahjadi yang tetap berkomitmen untuk tetap melayani Tuhan dan sesama.”(skt)
 
>> Arsip

   

Gereja Kristen Indonesia Pondok Indah @ 2003