PRofil
17 Maret 2005
Dr. Widyaharsana; Bersyukur Kepada Tuhan Kunci bagi Ketenangan dan Kedamaian
Siapa di antara jemaat GKI Pondok Indah yang tidak mengenal Dr. J. Widyaharsana, D.E.,FACB., yang lebih akrab dengan sapaan Pak Widya itu. Beliau yang murah senyum itu selalu menyapa terlebih dahulu siapa saja yang ditemuinya sebelum maupun sesudah kebaktian Minggu di gereja. Beliau mesti mengobrol sejenak dengan siapa saja yang ditemuinya atau “just to say hello”.

Pria kelahiran Rogojampi, 15 km selatan Banyuwangi, 75 tahun yang lalu itu atau tepatnya tgl 17 Juli 1930, hingga saat ini masih aktif melayani, baik di gereja maupun bagi masyarakat, karena kendati usia sudah berkepala tujuh, beliau masih menjalani profesi kedokterannya, berpraktek melayani masyarakat.

Di gereja, beliau masih aktif memberikan ceramah-ceramah, bahkan juga menulis untuk Majalah Kasut, dan juga membawakan renungan di berbagai persekutuan.

Dalam perbincangan beberapa waktu yang lalu, Pak Widya bersama Ibu, berkisah mulai dari pendidikan hingga akhirnya “terdampar” di Jakarta dan bermukim di kawasan elit Pondok Indah. “Suatu perjalanan panjang dan penuh liku dan unik,” kata beliau.

Dari segi pendidikan, beliau menitinya mulai dari tingkat pendidikan dasar di HCS, sebuah sekolah dasar Cina di Banyuwangi dan berlanjut ke sekolah menengah pertama MULO Praban di Surabaya. Di MULO Praban ini pernah pula belajar mantan wakil presiden, Try Sutrisno. Seusai menapak pendidikan di MULO Praban, Pak Widya muda melanjutkan studinya di SMA Wijayakusuma, juga di Surabaya dan selesai th 1951.

Mulai 1951 Pak Widya berkuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga di Surabaya dan selesai dengan menyandang gelar dokter pada th 1958. Sewaktu masih duduk di bangku kuliah, Pak Widya muda juga aktif di organisasi kemahasiswaan, yaitu Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) bersama-sama dengan Ibu Ismael dan aktif di bidang penerbitan majalah GMKI Cabang Surabaya bernama “Dedicatio” sebagai salah seorang redakturnya di situ.

Sebagai dokter muda, Pak Widya memperoleh tugas pertamanya di Pekanbaru, yang waktu itu masih bergejolak akibat terjadinya pemberontakan PRRI. Di Pekanbaru ini beliau banyak berkenalan dengan pejabat militer dan kepolisian, antara lain Kol. Kaharuddin Nasution, yang tengah melakukan pembenahan di ibu kota propinsi Riau itu pasca pemberontakan PRRI. Kaharuddin Nasution ini kemudian menjadi gubernur Riau.

Di tengah-tengah tugasnya yang cukup berat di Pekanbaru itu, Pak Widya sempat mudik sebentar ke Surabaya untuk menyunting buah hatinya, yaitu Ibu Johanna Julianti, pada tgl 5 April 1960. Maka itu tidaklah mengherankan jika puteri pertama pasangan muda ini, Julie yang kini juga menjadi dokter, lahir di Pekanbaru.

Di Pekanbaru ini ternyata ibu muda ini juga tidak berdiam diri. Ibu Widya ternyata juga bekerja membantu suami, karena Ibu Johanna Julianti ini adalah lulusan Sekolah Analis Medis dan Bakteriologi di Surabaya.

Pada th 1963 pasangan ini pindah ke Pulau Jawa dan ditempatkan di Wonogiri sebagai Dokter Kabupaten (Dokabu). Di tempat tugas yang baru ini, pasangan dr. Widya dikaruniai puteri keduanya, yaitu Melly Ratnawati yang kini berprofesi sebagai dokter gigi. Putera pertama atau anak ketiga dari pasangan ini, James Widyaharsana, lahir di Rumbai dan kini bekerja sebagai seorang konsultan manajemen dan juga seorang penatua di GKI Pondok Indah.

Di Wonogiri Pak Widya dan keluarga bertahan selama sekitar sembilan tahun dan dari Wonogiri keluarga ini pindah ke kantor pusat Departemen Kesehatan di Jakarta sebagai Kepala Direktorat Laboratorium dan pensiun pada th 1985.

Selain tugas-tugas di Depkes, Pak Widya juga dipercaya oleh Organisasi Kesehatan Sedunia (WHO) yang berpusat di Geneva sebagai salah seorang anggota the Experts’ Committee for Laboratory Services. Karena itulah, setiap tahun Pak Widya harus terbang ke Geneva untuk menghadiri pertemuan di Swiss. Tugas di WHO ini dijalaninya hingga th 2000 lalu.

Seusai pengabdiannya kepada Negara di Depkes, Pak Widya kemudian berputar haluan dan turut serta mengambil bagian dalam pembangunan dan pendirian Rumah Sakit Pondok Indah. Di RS Pondok Indah ini, Pak Widya mengabdi selama 15 tahun hingga saat pensiun pada th 2000 lalu.
 
Pengalaman tugas gerejawi
Ketika menyinggung tentang tugas-tugas pelayanan di gereja, Pak Widya mengemukakan bahwa sebenarnya beliau pada waktu muda kurang begitu aktif di gereja, dan baru setelah menjadi mahasiswa beliau aktif di GMKI dan keaktifannya di GMKI ini telah membuka wawasan mengenai tugas-tugas pelayanan gerejawinya.

Oleh karena itu sewaktu beliau pindah ke Jakarta dan bergereja di GKI Kebayoran Baru (Panglima Polim) beliau mulai aktif terlibat di dalam berbagai kegiatan gereja yang akhirnya membawanya duduk di kemajelisan hingga dua periode sebelum akhirnya pindah ke GKI Pondok Indah.

Di GKI Pondok Indah beliau beserta Ibu juga aktif. Pak Widya pernah dua periode pula menjabat sebagai Tua-tua di kemajelisan GKI Pondok Indah, sementara Ibu Widya aktif melayani di PS Gracia sejak paduan suara ini berdiri hingga kini.

Selain itu, Pak Widya juga banyak memberikan renungan di berbagai persekutuan, baik di Persekutuan Wilayah maupun persekutuan karyawan serta kegiatan-kegiatan gerejawi lainnya. “Saya sangat bersyukur bahwa anak saya Jimmy kini juga melayani Tuhan sebagai salah seorang penatua di GKI Pondok Indah,” kata beliau menyinggung peran putera ketiganya.
 
Pengalaman rohani paling berkesan
Ketika menyinggung tentang pengalaman rohaninya yang paling berkesan, baik selama melayani masyarakat maupun melayani Tuhan, Pak Widya mengemukakan bahwa saat melayani sebagai dokter di Sumatera dengan segala keterbatasannya pada waktu itu diperhadapkan pada suatu tindakan yang menyangkut mati hidup seorang ibu dan bayi.

Kondisi placenta yang terletak di depan bayi sangatlah sulit untuk ditangani tanpa bantuan peralatan yang memadai. Namun berkat pertolongan Tuhan, Pak Widya melalui doa memohon uluran kasih Tuhan untuk menolong persalinan tersebut. Akhirnya dengan cara manual dan dilakukan secara sangat berhati-hati, Pak Widya dapat mengeluarkan terlebih dahulu placenta tersebut. “Placenta tersebut dapat melorot dengan sangat lancar setelah saya tangani secara manual dengan ekstra hati-hati. Bayi pun lahir dengan selamat. Demikian pula ibunya,” kata kakek yang kini sudah bercucu dua ini.

“Saya yakin, uluran kasih Tuhan telah menolong jalannya persalinan tersebut. Oleh karena itu, saya merasa sangat bersyukur atas pertolongan serta penyertaan Tuhan dalam kami sekeluarga memikul tugas-tugas yang dibebankan kepada kami,” katanya pula.

Dalam kerhidupan keluarganya pun Pak Widya juga selalu menekankan agar kita tidak lupa untuk selalu bersyukur kepada Tuhan atas segala yang kita peroleh. “Tuhan telah memberikan apa saja yang kita perlukan, oleh karena itu sudah sewajarnya jika kita selalu mensyukuri apa yang telah dikaruniakan oleh Tuhan kepada kita. Karena dengan bersyukur itu kita dapat menemukan kunci untuk menuju ke kehidupan yang penuh dengan ketenangan dan kedamaian,” katanya mengakhiri perbincangan di suatu sore yang cerah itu.

(Pewawancara: S.Soekamto dan Purwy)
 
>> Arsip

   

Gereja Kristen Indonesia Pondok Indah @ 2003