PRofil
9 Desember 2004
Berkat dan pertolongan-Nya dorong Pnt.Zilvanus Layani Tuhan
Dalam suatu percakapan dengan Majalah Kasut beberapa waktu lalu, Pak Zil, demikian biasanya dia dipanggil, mengatakan bahwa dalam kehidupan pribadi maupun keluarga, “Saya merasakan berkat dan pertolongan Tuhan, dan itu jugalah yang menjadi dorongan bagi saya untuk melayani Tuhan sebagai ungkapan syukur saya. Dengan pertimbangan itu pulalah maka ketika saya diminta menjadi penatua di GKI Pondok Indah, saya menyatakan kesediaan saya karena saya berpendapat bahwa ini merupakan suatu kesempatan yang diberikan Tuhan untuk melayani-Nya.”

Menurut Pak Zil, isterinya, Yohana Puspa Andrini, serta dua anaknya, Hendy Nathaniel dan Karina Valencia, sangat mendukung panggilan untuk melayani tersebut. “Mereka mengatakan kepada saya bahwa selagi Tuhan memberikan kesempatan untuk melayani-Nya, maka hal itu hendaknya jangan engkau sia-siakan. Dukungan dari mereka itu pulalah yang menguatkan saya dalam turut ambil bagian dalam pelayanan di gereja, walau kami menyadari bahwa dalam pelayanan itu tentu membutuhkan pengorbanan, baik waktu maupun tenaga,” tambahnya.

Menyinggung pengalaman imannya, Pak Zil mengungkapkan bahwa menerima sakramen Baptis Kudus di GKI Diponegoro, Surabaya, yang waktu itu dilayani oleh Pdt. Agus Susanto pada tahun 1983. Tentu jemaat GKI Pondok Indah mengenal betul siapa Pdt. Agus Susanto, karena sejak th 1986 lalu beliau melayani di GKI Pondok Indah ini. Semenjak itu banyak pengalaman iman yang dijalaninya, sehingga akhirnya saat ini “mendarat” dan melayani di GKI Pondok Indah sebagai penatua serta aktif di Komunitas Basis Bintaro.

Terbuka terhadap karyawan
Menyinggung tentang perjalanan kariernya, Pak Zil mengungkapkan bahwa dia memulai kariernya sebagai seorang guru di SD Kristen Pelita di Curup, Bengkulu. SD Kristen Pelita ini merupakan satu-satunya sekolah Kristen di Curup, sebuah kota kecil yang terletak sekitar 90 km ke arah timur laut dari Bengkulu, ibu kota Propinsi Bengkulu.

Di SD ini Pak Zil bertahan selama lima tahun (dari th 1969 s/d 1974) sebelum melanjutkan studinya di Fakultas Hukum Universitas Kristen Satya Wacana di Salatiga, Jawa Tengah, pada th 1974.

Setelah selesai mengenyam pendidikan di kota sejuk di sebelah selatan Semarang ini pada tahun 1978, Pak Zil bekerja sebagai sekretaris direksi di sebuah perusahaan di Jakarta. (Harap dimaklumi, bahwa jauh sebelum ditunjuk sebagai Sekretaris Umum di Majelis Jemaat GKI Pondok Indah, sebenarnya Pak Zil sudah pernah berkecimpung di bidang kesekretariatan dan dia meyakini bahwa Tim Kecil yang menyusun struktur organisasi Kemajelisan tidak mengetahui hal ini). Kemudian ketika direksi akan mengembangkan usaha di bidang lain, maka Pak Zil dialihtugaskan ke Surabaya untuk merintis perusahaan sewa-beli dan di Kota Buaya ini pula Pak Zil pada tahun 1984 melanjutkan studynya di bidang kenotariatan di Universitas Airlangga yang dapat diselesaikannya pada tahun 1986.

“Di sini saya merasakan campur tangan Tuhan, karena tak lama setelah menyelesaikan studi di Unair tersebut, maka para pemegang saham kemudian menempatkan saya kembali ke Jakarta untuk mengelola sebuah perusahaan di bidang leasing hingga saat ini,” tuturnya.

Mengisahkan tentang lingkungan pekerjaannya, Pak Zil mengemukakan bahwa dirinya sangat terbuka terhadap karyawan yang akan menyampaikan keluhan maupun unek-unek mereka, namun dia juga selalu tegas dalam menjalankan disiplin perusahaan. “Dengan manajemen sedemikian itu, kami tidak mengalami gejolak di perusahaan kami ini,” tegasnya.
 
Bertemu “tulang rusuk” dalam retret
Pak Zil kemudian menceriterakan kisah kasihnya dengan Ibu Yohana Puspa Andrini, yang berasal dari kota Kudus, yang dinikahinya pada th 1984 itu. Dikisahkannya bahwa Pak Zil bertemu dengan “tulang rusuknya” itu dalam suatu retret Perkantas di Rumah Retret Girisonta di Ungaran pada th 1977. Semenjak saat itu mereka berdua selalu bertemu secara teratur, yang kemudian membawanya ke jenjang pernikahan pada th 1984.

Pasangan Pak Zil-Johana ini kini dikaruniai dua orang anak, seorang lelaki bernama Hendy Nathaniel dan seorang perempuan bernama Karina Valencia. Pasangan ini aktif di Kombas Bintaro, sementara Ibu Yohana kini juga aktif di Sub-komisi Wanita, sedang puterinya, Karina Valencia turut mengambil bagian di dalam pelayanan sebagai pemain biola di Group Ensemble Imago Dei dari Wilayah Bintaro.

“Saya sangat terkesan dengan kebersamaan yang terjalin di dalam Kombas Bintaro dan Group Ensemble Imago Dei, di mana kami bersama dengan beberapa orang anggota jemaat dari Wilayah Bintaro ikut mengasuh group ensemble ini,” katanya.

Dalam kehidupan rumahtangganya, Pak Zil dan keluarga selalu ingin menjalin komunikasi dengan baik. Untuk itu, maka Pak Zil tidak akan melewatkan kesempatan untuk dapat makan malam bersama keluarga, di mana dalam kesempatan tersebut setiap anggota keluarga dapat saling menceriterakan pengalaman mereka masing-masing yang terjadi sepanjang hari itu. “Dengan cara demikian, maka kami akan dapat mendiskusikan permasalahan yang kami hadapi dan membawanya sebagai pokok-pokok doa keluarga kami,” tuturnya.

Anugerah Tuhan
Ketika ditanya mengenai bagaimana Pak Zil mendidik putera-puterinya, dengan pandangan yang tajam Pak Zil mengemukakan bahwa dalam mendidik anak-anak “saya selalu mengingatkan mereka untuk menyadari bahwa hidup kita adalah anugerah Tuhan. Oleh sebab itu, kita harus selalu bersyukur untuk apa yang boleh kita terima dan alami hari lepas hari.”

Kepada anak-anaknya Pak Zil juga menekankan pentingnya untuk selalu menyediakan waktu guna membaca Alkitab dan bersaat teduh. “Sebagai mantan seorang guru, maka pelajaran anak-anak sejak mereka masih duduk di bangku SD selalu saya kontrol serta membantu mereka bila mereka menemui kesulitan dalam pelajaran mereka.

“Sampai saat inipun anak-anak masih sering berdiskusi dengan saya menyangkut pelajaran mereka, terutama dalam mata pelajaran ilmu-ilmu sosial,” katanya.

Menyinggung tentang perannya sekarang ini sebagai Sekretaris Umum Majelis Jemaat GKI Pondok Indah, Pak Zil berharap untuk dapat menampung aspirasi jemaat serta mengkoordinasikannya dengan majelis bidang (mabid) terkait, sehingga bersama-sama dengan para penatua dan anggota jemaat dapat mengemban tugas untuk mewujudkan visi dan misi GKI Pondok Indah. “Tentu saja dalam melaksanakan tugas-tugas sebagai Sekum, saya juga berharap adanya bantuan serta dukungan doa dari rekan-rekan penatua maupun anggota jemaat GKI Pondok Indah,” katanya mengakhiri penuturannya kepada Kasut. (zil/skt)
 
>> Arsip

   

Gereja Kristen Indonesia Pondok Indah @ 2003