PRofil
30 Agustus 2004
Pak Saleh, “Pilot Kijang-hijau" GKI Pondok Indah
Siapakah sih yang tidak mengenal Pak Saleh? Itu lho, pengemudi di kantor gereja. Tetapi mungkin banyak di antara kita yang belum mengenal pribadinya maupun latar belakang keluarganya. Melalui tulisan ini, kami ajak pembaca untuk mengenal lebih dekat Pak Saleh, yang sebenarnya nama lengkapnya adalah Mohammad Saleh.

Pak Saleh ini orangnya berkepribadian kalem dan ini nampak terlihat dari pembawaan dirinya sehari-hari, baik sewaktu bertugas melaksanakan tugasnya sebagai pengemudi, maupun dalam kehidupan di tempat tinggalnya di kompleks Vila Dago di kawasan Pamulang, di selatan Jakarta. Sebelum tinggal di kompleks Vila Dago ini, Pak Saleh dan keluarga mengontrak rumah di kawasan Pondok Labu di Jakarta Selatan.

Sejumlah temannya mengatakan bahwa Pak Saleh ini orangnya “entengan”, artinya dengan penuh sukacita bersedia membantu siapa saja, sepanjang itu merupakan bagian dari tugasnya sebagai “pilot” di GKI Pondok Indah. Bahkan sejumlah aktivis maupun anggota majelis juga mengemukakan bahwa Pak Saleh ini tahu semua jalan yang ada di Jakarta ini. “Untuk itulah maka kita tak perlu bingung kalau diantar Pak Saleh, karena dia tahu semua pelosok di ibu kota ini,” kata seorang aktivis kepada Kasut.

Dalam percakapan dengan Kasut beberapa waktu yang lalu, Pak Saleh berkisah bahwa dia lahir dari keluarga Muslim di desa Kutorejo, Mojokerto, Jawa Timur, pada tahun 1950, tepatnya pada tgl 21 Januari, 1950.

Pak Saleh mempunyai tiga orang anak dan seorang isteri, Ibu Sriyati, yang lahir th 1956. Mereka bertemu dan terus membina rumah tangga pada th 1973. Setahun kemudian, tepatnya th 1974, lahirlah puteri mereka yang pertama, Susilowati, kini sudah menikah dan mempunyai seorang anak, disusul kemudian dengan lahirnya anak kedua, seorang laki-laki, Subardi pada th 1976. Subardi ini juga sudah menikah dan dikaruniai seorang anak juga. Yang ketiga, seorang perempuan, Anisah Choiriah, lahir th 1988, kini masih studi. Jadi jangan kaget, Pak Saleh itu kini sudah mempunyai dua orang cucu.

Menyinggung tentang riwayat pekerjaannya, Pak Saleh mengemukakan bahwa lingkup pekerjaannya dari awal memang selalu di lingkungan gereja. Pada awal karirnya sebagai pengemudi, Pak Saleh bertugas di Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI), yang digelutinya sejak th 1972 s/d th 1986. Pada waktu itu Pak Saleh melayani a.l; Pdt. Wirakotan, Pdt. Nababan, Pdt. Ibu Lumentut dan Pdt. Kitting, sebelum pindah ke GKI Kebayoran Baru dan akhirnya “mendarat” di GKI Pondok Indah sejak th 1987.

Bahkan ketika GKI Pondok Indah masih berstatus sebagai Cabang Kebayoran Selatan dari GKI Kebayoran Baru, Pak Saleh-pun turut serta melakukan persiapan-persiapan ibadah, karena waktu itu tempat ibadahpun juga sering berpindah-pindah.

Ketika gedung gereja ini masih dalam tahap pembangunan, Pak Saleh melayani Pdt. Agus Susanto dan setelah akhirnya kantor gereja sudah menyatu dengan gedung gereja, Pak Saleh akhirnya sepenuhnya berkarya di lingkungan GKI Pondok Indah.

Tidak ada tekanan

Ketika ditanya mengenai suasana kerjanya di lingkungan umat yang berbeda agama dengan dirinya, Pak Saleh dengan rendah hati mengatakan bahwa segala sesuatunya berjalan secara mengalir seperti apa adanya. “Tidak ada gejolak, tidak ada tekanan, dan semuanya baik-baik semua. Baik anggota majelis maupun jemaat, semuanya baik-baik semua,” katanya.

Hubungan dengan sesama karyawanpun dinilainya juga sangat baik, karena memang ada juga di antara sesama karyawan yang tidak seiman dengan dirinya. Namun semuanya berjalan dengan baik pula.

Dia menyadari bahwa dia bekerja di lingkungan yang berbeda agama dengan dirinya, namun semuanya itu tidak menjadi penghalang bagi dirinya untuk melaksanakan ibadahnya setiap hari. “Pimpinan kantor juga menyadari akan hal ini, maka semuanya pun juga berjalan tanpa suatu kendala,” katanya.

Ketika menyinggung tentang kondisi kerjanya di GKI Pondok Indah, Pak Saleh mengakui bahwa dia dan karyawan lainnya menerima fasilitas dan tunjangan yang memadai. “Majelis dan pimpinan kantor juga sangat baik, karena mereka juga memperhatikan nasib karyawan dengan mengatur pengadaan perumahan serta membantu uang kontrak rumah. Ini sangat membahagiakan kami,” katanya.

Ketika ditanya tentang suka-dukanya bekerja di lingkungan GKI Pondok Indah, Pak Saleh mengungkapkan bahwa yang dirasakannya hanyalah suka saja, karena gaji selalu tepat waktu dan tidak merasakan adanya tekanan dari siapapun. “Dengan kondisi sedemikian itu, maka saya dapat bekerja dengan tenang Pak,” katanya.

Namun dia merasa ada sedikit ganjelan, dan ganjelan ini juga dirasakan oleh teman-teman sekerjanya di GKI Pondok Indah, yaitu mengapa uang makan tidak dilempangkan saja menjadi Rp 10.000,- per hari? Jawaban untuk ini dia serahkan kepada majelis dan pimpinan untuk merumuskan dan mempertimbangkannya, katanya berseloroh.

Itulah sekelumit kisah tentang Pak Saleh, lengkapnya Mohammad Saleh, yang sehari-hari kita kenal sebagai “pilot” Kijang-hijaunya GKI Pondok Indah. (s.soekamto)

 
>> Arsip

   

Gereja Kristen Indonesia Pondok Indah @ 2003