|
Navigasi |
|
|
|
|
|
Warta Jemaat |
|
|
|
|
Layanan Jemaat |
|
|
|
|
Kegiatan Ouikumenis
|
|
|
| |
|
|
|
|
 |
|
PRofil |
|
30 Maret 2004
Bung Didi ...Ini Sungguh Karunia Tuhan.. |
|
|
Bagi para
aktivis di GKI Pondok Indah, tentu sudah mengenal dengan
akrab siapa Bung Didi, atau nama lengkapnya, Nugroho Catur
Kembar Widjajadi. Karena di samping sebagai penatua di
kemajelisan, sebelumnya Bung Didi juga seorang aktivis di
kalangan jemaat dewasa-muda kala itu, dan bahkan pernah
duduk pula di dalam kepengurusan Komisi Dewasa GKI Pondok
Indah.
Namun satu hal yang akan mengejutkan bagi kita semua
adalah terdengarnya berita bahwa Bung Didi belum lama ini
telah meluncurkan sebuah album lagu-lagu rohani. Dan yang
menghebohkan lagi, album ini hanya digarap secara intensif
hanya dalam hitungan minggu saja. Berikut adalah penuturan
Bung Didi kepada Kasut beberapa waktu lalu berkaitan
dengan albumnya tersebut dan juga sedikit mengenai
pribadinya.
Dalam percakapan tersebut, Bung Didi mengemukakan bahwa
penerbitan albumnya itu didorong semata-mata oleh
kerinduannya untuk selalu memuji Tuhan. Diakuinya bahwa
pada awalnya dia memang tidak pernah berlatih nyanyi
dengan serius dan pengalaman nyanyinya itu berawal saat
dia bergabung dengan Vokal Grup Philia dari GKI Kebayoran
Baru pada tahun 1980-an saat masih berusia remaja
menginjak dewasa. Dan ketika berastestasi ke GKI Pondok
Indah pada tahun 1997, Bung Didi dan keluarga mulai
bergiat pula di bidang tarik suara untuk memuliakan Tuhan
di dalam berbagai ibadah khusus. Dia ingat betul ketika
pada suatu saat Bung Didi diminta oleh Pdt. Yoas
Adiprasetya dan Pak Dedi Djajasastra untuk turut mengambil
bagian dalam pelayanan Kebaktian Hari AIDS Sedunia.
Di situ saya merasa bahwa bernyanyi untuk Tuhan itu luar
biasa. Ada damai sejahtera yang sulit dijelaskan dengan
kata-kata, tetapi bisa dirasakan, katanya. Puji-pujian
itu bisa mengalun lepas tanpa tekanan. Pokoknya beda
sekali dengan menyanyikan lagu-lagu sekuler atau pop.
Kebetulan pula di persekutuan keluarga juga ada
teman-teman yang suka menyanyi, sehingga pernah tercetus
ide untuk membuat rekaman lagu-lagu rohani dan
mempersembahkannya di hari ulang tahun ayah saya. Ternyata
rencana itu belum dapat terwujud, Tuhan telah terlebih
dahulu memanggil ayah saya pulang ke pangkuan-Nya,
katanya lebih lanjut.
Namun situasi tersebut tidak menyurutkan niat dan
rencananya untuk membuat rekaman tersebut. Dan singkat
kata, tiga tahun setelah ayahnya berpulang, tepatnya pada
bulan September 2003 lalu, Bung Didi bertemu dengan Bung
Lessy Muskitta, yang tak lain adalah salah seorang pelatih
semasda di VG Philia di GKI Kebayoran Baru ketika masih
aktif sebagai pemuda di sana dulu.
Kami banyak sharing dan bertukar pengalaman karena sudah
lama tidak bertemu, sampai akhirnya beliau (Bung Lessy
Muskitta) yang mendorong saya untuk melanjutkan rencana
rekaman tersebut. Sampai akhirnya saya yakin bahwa karunia
yang Tuhan berikan lewat talenta bernyanyi, selayaknya
saya kembalikan untuk memuliakan nama-Nya, kenang Bung
Didi. |
|
Maunya Kejutan Buat Istri dan
Anak |
Sebelum
meluncurkan album rekamannya yang berisi sebanyak sebelas
lagu pujian itu, Bung Didi rencananya mau membuat kejutan
buat sang isteri, Diana Alice Frans. Namun akhirnya
rencana tersebut malah didiskusikan terlebih dulu dengan
sang isteri, karena bagaimanapun Bung Didi sangat
memerlukan dukungan doa darinya.
Saya sangat bersyukur karena isteri dan anak-anak sangat
mendukung pembuatan album ini dari awal hingga selesai.
Ini semua tak lain karena penyertaan Tuhan yang luar biasa
dalam seluruh proses yang kami lalui. Saya berdoa dan
berharap album ini bisa menjadi berkat bagi banyak orang,
katanya.
Ketika ditanya mengenai bakat berolah-suara yang
dimilikinya, Bung Didi mengemukakan bahwa rasa-rasanya
bakat nyanyi ini bukan warisan dari orang tua, tetapi
sungguh merupakan karunia Tuhan semata. Ini
sungguh-sungguh karunia Tuhan.
Sebenarnya saudara kembarnya, Didi Tri Kembar Widjajanto,
juga suka bernyanyi dan keduanya dulu juga bergabung di
dalam VG Philia di GKI Kebayoran Baru. Bung Didi berharap
suatu waktu nanti mereka berdua dapat berduet.
Dengan rendah hati Bung Didi menambahkan: Saat inipun
saya masih terus belajar agar bisa memuji Tuhan dengan
kesungguhan hati.
Menyinggung tentang kemungkinan rekaman berikutnya atau
mungkin masih mempunyai simpanan rekaman yang akan segera
diluncurkannya, Bung Didi mengemukakan bahwa dia masih
belum berfikir ke arah itu. Namun semuanya saya serahkan
kepada Tuhan. Biarlah waktu Tuhan yang akan menentukannya,
katanya. |
|
"Witing Tresno Jalaran Soko
Kulino" |
|
Ketika
menyinggung tentang kehidupan keluarganya Bung Didi
mengungkapkan bahwa dia lahir dari pasangan Bapak
Hedijanto dan Ibu Nuk Setyawati. Dia adalah anak ke-4 dari
lima bersaudara dan lahir di kota perjuangan Yogyakarta
pada 5 Oktober 1962.
Semasa masih duduk di bangku SMA pada tahun 1980-an, Bung
Didi sudah mulai aktif di Komisi Pemuda GKI Kebayoran Baru
dan di situlah dia bertemu dan melayani bersama dengan
Diana Alice Frans yang biasa dipanggil Alice. Mereka
berdua tergabung di dalam VG Philia yang kemudian
dipacarinya selama enam tahun. Yah, witing tresno jalaran
soko kulino, katanya. (Yah, tumbuhnya cinta karena sering
biasa bertemu).
Akhirnya, setelah berpacaran selama enam tahun, Didi dan
Alice naik ke pelaminan dan diberkati dalam pernikahan
kudus pada 19 Januari 1990. Dan ulang tahun perkawinan
mereka yang ke-14 itu pada 19 Januari 2004 yang lalu
ditandai dengan peluncuran albumnya tadi yang bertajuk Didi.
Kini pasangan ini dikaruniai satu puteri, Kania Putri
Widiastika, dan dua putera, Nugroho Dwiputra Aldianto dan
Nugroho Triputra Anandityo.
Menyinggung tentang pengalaman rohani atau imannya yang
paling berkesan di dalam kehidupan rumahtangganya, Bung
Didi mengemukakan bahwa sejak remaja hingga menikah dia
sudah cukup aktif di GKI Kebayoran Baru. Tahun 1992
pasangan muda ini pindah ke Surabaya untuk berdinas di
kota itu selama dua tahun. Sekembalinya dari Surabaya
lahirlah anak-anak secara beruntun, sehingga hal ini
sempat membuat pasangan Didi dan Alice absen di dalam
pelayanan di gereja, kecuali kebaktian Minggu.
Tahun 1997 pasutri Didi-Alice pindah ke kawasan Pondok
Indah dan mulai mengantar anak-anak ke Sekolah Minggu di
Tirta Marta. Dari situlah muncul kerinduan untuk kembali
ikut di dalam pelayanan. Dan kami berdua yakiin, di
sinilah Tuhan menempatkan kami untuk melayani, katanya.
Pengalaman iman yang paling berkesan di dalam kehidupan
rumahtangganya adalah saat Tuhan memperkenankan keluarga
Didi-Alice ini memulai persekutuan keluarga pada tahun
1999 dan mulai saat itu, pasangan inipun juga mulai aktif
di dalam pelayanan gereja melalui Komisi Dewasa. Di
saat-saat dalam pelayanan di Komisi Dewasa inilah saya
belajar sharing dan merasa bertumbuh secara rohani,
katanya.
Dengan pertolongan Tuhan, persekutuan keluarga di rumahnya
telah berjalan selama empat tahun lebih. Itu bukan tanpa
pergumulan. Wah, banyak suka-dukanya. Namun saya sungguh
bersyukur, karena di dalam segala keterbatasan saya,
Tuhanlah yang melengkapi dan memberikan seorang penolong,
yaitu isteriku tercinta, katanya.
Diakuinya bahwa melalui seluruh kegiatan serta persekutuan
yang mereka ikuti di GKI Pondok Indah, baik di Sub-Komisi
Dewasa Muda maupun Pasutri, mereka merasa sangat diberkati.
Amin! (Dd/skt)
|
|
|
|
>> Arsip
|
|
|
|
|
|
|
|