PRofil
30 Juli 2003
Mengenal Lebih Jauh Pak Oen Hong Sin

Bagi setiap anggota jemaat GKI Pondok Indah yang pernah berkunjung ke Desa Kemang, pasti sudah pernah mendengar nama Pak Hong Sin (nama lengkapnya adalah Oen Hong Sin). Tetapi yang mana sih orangnya? Karena setiap hari Kamis atau Minggu jika ikut persekutuan atau kebaktian di desa Kemang jarang sekali kita dapat bertemu dengan Pak Hong Sin, karena dia baru pulang kerja setelah jam 12:00 siang, sementara kebaktian sudah usai sekitar pukul 10:00 atau 10:30. Kecuali jika ada perayaan-perayaan hari besar Kristiani, seperti Paska atau Natal, Pak Hong Sin tentu akan menyempatkan diri untuk ambil bagian di dalam kegiatan tersebut.

Tetapi, siapa sih sebenarnya Pak Hong Sin? Dia adalah warga asli kelahiran Desa Kemang, Bogor, pada tanggal 18 September 1958. Pada masa mudanya, Pak Hong Sin juga aktif di dalam berbagai kegiatan pemuda setempat, seperti Karang Taruna dan juga di bidang keagamaan, yaitu Kong Hu Cu, seperti yang dianut oleh kakek dan orang tuanya. Bahkan dia juga sempat menjadi pengelola rumah ibadah Kong Hu Cu (Vihara), yang letaknya bersebelahan dengan rumah tinggalnya di Desa Kemang. Karena keaktifannya tersebut, maka pada awal tahun 1990-an dia dipilih menjadi Ketua RT setempat.

Pak Hong Sin menikah dengan Netty, seorang puteri Bogor, pada tahun 1980 dan kini pasangan ini dikaruniai tiga orang anak, yaitu Mariani yang lahir pada tanggal 10 Agustus 1982, Marianto (20 Desember 1984) dan Windiarti atau Enduk (2 Oktober 1995).

Sehari-hari Pak Hong Sin bekerja sebagai seorang karyawan pada sebuah warung bakso di Jalan Pengadilan, Bogor. Dia mempunyai keahlian membuat bakso dan beberapa anggota jemaat GKI Pondok Indah ternyata pernah mencoba bakso buatan Pak Hong Sin ini.

Ketika menceritakan kisahnya mengapa dia kemudian tergerak untuk menjadi pengikut Yesus, Pak Hong Sin mengemukakan bahwa pada mulanya dia pernah jatuh sakit lever yang cukup parah dan tak kunjung sembuh. Pada suatu hari, kebetulan anaknya yang tertua, Mariani, bersama teman-teman sekolahnya bersekutu bersama di rumah dan pada kesempatan tersebut anak-anak tersebut menaikkan doa dan memohon kepada Tuhan Yesus untuk memberikan kesembuhan bagi Pak Hong Sin.

Setelah mengikuti doa tersebut, kendati dia masih menjadi pengikut Kong Hu Cu, dia merasakan adanya kesejukan, ketenangan serta keringanan akan sakit yang dideritanya. Bahkan beberapa hari kemudian dia merasakan adanya kerinduan untuk didoakan lagi. Maka Mariani mengundang teman-temannya untuk datang bersekutu bersama di rumahnya dan berdoa bagi kesembuhan dan ketenangan Pak Hong Sin. Dia juga meminta kepada puteri dan isterinya untuk terus berdoa bagi dirinya, sampai pada suatu saat dia merasakan datangnya mujizat yang mendatangkan kesembuhan total atas penyakitnya. Dan sejak itu, Pak Hong Sin merasa terpanggil untuk mengikut Yesus berkat mujizat yang telah diterimanya. Semenjak saat itulah maka dirinya terbuka untuk menjadi saksi Tuhan Yesus dengan mengikuti ibadah di Bethany di Vila Duta di Bogor.

Mulai saat itulah Pak Hong Sin dan keluarga terus bergiat di dalam kegiatan gerejawi di Bethany dan baru pada sekitar tahun 1998 Pak Hong Sin bertemu dengan sebuah tim dari GKI Pondok Indah yang sedang melakukan survai untuk memberikan bantuan sembako di daerahnya. Pada saat itu Pak Hong Sin secara blak-blakan mengemukakan bahwa daerah tempat tinggalnya memang berpenduduk kurang mampu dan dia menyambut dengan penuh suka cita jika GKI Pondok Indah, dalam hal ini Komisi Dikkesra, terbeban untuk membantu mereka.

Maka sejak saat itu dibuatlah persiapan-persiapan untuk menyalurkan bantuan bagi penduduk setempat. Setelah itu boleh dikata terputus dan tidak ada kontak lagi dengan Pak Hong Sin dan baru pada akhir tahun 1999 Komisi Pekabaran Injil GKI Pondok Indah yang baru lahir mengadakan penjajakan untuk mengadakan persekutuan dan Pemahaman Alkitab (PA) di wilayah tersebut. Sejak saat itu, maka terus bergulirlah kegiatan yang dilakukan oleh Komisi Pekabaran Injil, mulai dari persekutuan dan PA menjadi kebaktian sebulan sekali dan dalam perkembangan selanjutnya menjadi kebaktian setiap hari Minggu, di samping juga kebaktian anak (Sekolah Minggu). Selain kegiatan tersebut di Desa Kemang juga berlangsung persekutuan untuk bapak-bapak setiap Rabu malam dan untuk ibu-ibu setiap Kamis pagi.

Semua kegiatan tersebut berlangsung di rumah keluarga Pak Hong Sin. Dia merelakan rumahnya digunakan untuk kegiatan memuliakan Allah. Bahkan sebagian besar lahannya kini telah dibangun untuk digunakan kebaktian, baik untuk kebaktian anak (Sekolah Minggu) di halaman depan dan Kebaktian Dewasa di bagian belakang rumahnya. “Saya ikhlas dan ini merupakan ungkapan rasa syukur kami sekeluarga kepada Tuhan Yesus yang telah memberikan berbagai anugerah dan karunia bagi kehidupan kami,” katanya menegaskan.

Sekarang, seluruh anggota keluarganya, termasuk isterinya Netty, anaknya yang tertua Mariani, Marianto (kedua) dan Windiarti atau Enduk (ketiga), kini aktif di dalam pelayanan kebaktian, baik untuk kebaktian anak maupun kebaktian dewasa. Marianto membantu bermain gitar baik untuk Sekolah Minggu maupun kebaktian dewasa, Mariani membantu mempersiapkan kebaktian dewasa, sementara Enduk dengan cekatan turut membantu mempersiapkan kebaktian anak.

Kebaktian anak (Sekolah Minggu) di Desa Kemang sekarang ini diikuti tidak kurang dari 75 anak dan dibagi dalam tiga kelas, sedang kebaktian dewasa baru diikuti oleh sekitar 25 orang setiap minggunya. (bert/skt)

 
>> Arsip

   

Gereja Kristen Indonesia Pondok Indah @ 2003