|
Bagi setiap anggota jemaat GKI Pondok Indah yang pernah
berkunjung ke Desa Kemang, pasti sudah pernah mendengar
nama Pak Hong Sin (nama lengkapnya adalah Oen Hong Sin).
Tetapi yang mana sih orangnya? Karena setiap hari Kamis
atau Minggu jika ikut persekutuan atau kebaktian di desa
Kemang jarang sekali kita dapat bertemu dengan Pak Hong
Sin, karena dia baru pulang kerja setelah jam 12:00 siang,
sementara kebaktian sudah usai sekitar pukul 10:00 atau
10:30. Kecuali jika ada perayaan-perayaan hari besar
Kristiani, seperti Paska atau Natal, Pak Hong Sin tentu
akan menyempatkan diri untuk ambil bagian di dalam
kegiatan tersebut.
Tetapi, siapa sih sebenarnya Pak Hong Sin? Dia adalah
warga asli kelahiran Desa Kemang, Bogor, pada tanggal 18
September 1958. Pada masa mudanya, Pak Hong Sin juga aktif
di dalam berbagai kegiatan pemuda setempat, seperti Karang
Taruna dan juga di bidang keagamaan, yaitu Kong Hu Cu,
seperti yang dianut oleh kakek dan orang tuanya. Bahkan
dia juga sempat menjadi pengelola rumah ibadah Kong Hu Cu
(Vihara), yang letaknya bersebelahan dengan rumah
tinggalnya di Desa Kemang. Karena keaktifannya tersebut,
maka pada awal tahun 1990-an dia dipilih menjadi Ketua RT
setempat.
Pak Hong Sin menikah dengan Netty, seorang puteri Bogor,
pada tahun 1980 dan kini pasangan ini dikaruniai tiga
orang anak, yaitu Mariani yang lahir pada tanggal 10
Agustus 1982, Marianto (20 Desember 1984) dan Windiarti
atau Enduk (2 Oktober 1995).
Sehari-hari Pak Hong Sin bekerja sebagai seorang karyawan
pada sebuah warung bakso di Jalan Pengadilan, Bogor. Dia
mempunyai keahlian membuat bakso dan beberapa anggota
jemaat GKI Pondok Indah ternyata pernah mencoba bakso
buatan Pak Hong Sin ini.
Ketika menceritakan kisahnya mengapa dia kemudian tergerak
untuk menjadi pengikut Yesus, Pak Hong Sin mengemukakan
bahwa pada mulanya dia pernah jatuh sakit lever yang cukup
parah dan tak kunjung sembuh. Pada suatu hari, kebetulan
anaknya yang tertua, Mariani, bersama teman-teman
sekolahnya bersekutu bersama di rumah dan pada kesempatan
tersebut anak-anak tersebut menaikkan doa dan memohon
kepada Tuhan Yesus untuk memberikan kesembuhan bagi Pak
Hong Sin.
Setelah mengikuti doa tersebut, kendati dia masih menjadi
pengikut Kong Hu Cu, dia merasakan adanya kesejukan,
ketenangan serta keringanan akan sakit yang dideritanya.
Bahkan beberapa hari kemudian dia merasakan adanya
kerinduan untuk didoakan lagi. Maka Mariani mengundang
teman-temannya untuk datang bersekutu bersama di rumahnya
dan berdoa bagi kesembuhan dan ketenangan Pak Hong Sin.
Dia juga meminta kepada puteri dan isterinya untuk terus
berdoa bagi dirinya, sampai pada suatu saat dia merasakan
datangnya mujizat yang mendatangkan kesembuhan total atas
penyakitnya. Dan sejak itu, Pak Hong Sin merasa terpanggil
untuk mengikut Yesus berkat mujizat yang telah diterimanya.
Semenjak saat itulah maka dirinya terbuka untuk menjadi
saksi Tuhan Yesus dengan mengikuti ibadah di Bethany di
Vila Duta di Bogor.
Mulai saat itulah Pak Hong Sin dan keluarga terus bergiat
di dalam kegiatan gerejawi di Bethany dan baru pada
sekitar tahun 1998 Pak Hong Sin bertemu dengan sebuah tim
dari GKI Pondok Indah yang sedang melakukan survai untuk
memberikan bantuan sembako di daerahnya. Pada saat itu Pak
Hong Sin secara blak-blakan mengemukakan bahwa daerah
tempat tinggalnya memang berpenduduk kurang mampu dan dia
menyambut dengan penuh suka cita jika GKI Pondok Indah,
dalam hal ini Komisi Dikkesra, terbeban untuk membantu
mereka.
Maka sejak saat itu dibuatlah persiapan-persiapan untuk
menyalurkan bantuan bagi penduduk setempat. Setelah itu
boleh dikata terputus dan tidak ada kontak lagi dengan Pak
Hong Sin dan baru pada akhir tahun 1999 Komisi Pekabaran
Injil GKI Pondok Indah yang baru lahir mengadakan
penjajakan untuk mengadakan persekutuan dan Pemahaman
Alkitab (PA) di wilayah tersebut. Sejak saat itu, maka
terus bergulirlah kegiatan yang dilakukan oleh Komisi
Pekabaran Injil, mulai dari persekutuan dan PA menjadi
kebaktian sebulan sekali dan dalam perkembangan
selanjutnya menjadi kebaktian setiap hari Minggu, di
samping juga kebaktian anak (Sekolah Minggu). Selain
kegiatan tersebut di Desa Kemang juga berlangsung
persekutuan untuk bapak-bapak setiap Rabu malam dan untuk
ibu-ibu setiap Kamis pagi.
Semua kegiatan tersebut berlangsung di rumah keluarga Pak
Hong Sin. Dia merelakan rumahnya digunakan untuk kegiatan
memuliakan Allah. Bahkan sebagian besar lahannya kini
telah dibangun untuk digunakan kebaktian, baik untuk
kebaktian anak (Sekolah Minggu) di halaman depan dan
Kebaktian Dewasa di bagian belakang rumahnya. “Saya ikhlas
dan ini merupakan ungkapan rasa syukur kami sekeluarga
kepada Tuhan Yesus yang telah memberikan berbagai
anugerah dan karunia bagi kehidupan kami,” katanya
menegaskan.
Sekarang, seluruh anggota keluarganya, termasuk isterinya
Netty, anaknya yang tertua Mariani, Marianto (kedua) dan
Windiarti atau Enduk (ketiga), kini aktif di dalam
pelayanan kebaktian, baik untuk kebaktian anak maupun
kebaktian dewasa. Marianto membantu bermain gitar baik
untuk Sekolah Minggu maupun kebaktian dewasa, Mariani
membantu mempersiapkan kebaktian dewasa, sementara Enduk
dengan cekatan turut membantu mempersiapkan kebaktian anak.
Kebaktian anak (Sekolah Minggu) di Desa Kemang sekarang
ini diikuti tidak kurang dari 75 anak dan dibagi dalam
tiga kelas, sedang kebaktian dewasa baru diikuti oleh
sekitar 25 orang setiap minggunya. (bert/skt) |