Pak Pdt. Yth.
Belakangan ini saya sering mendengar orang berbicara
tentang dosa keturunan dan kutuk yang diturunkan secara
turun-temurun.
Pada suatu hari seorang perempuan muda meninggal dunia
dalam kecelakaan, dan ternyata hal yang serupa juga
dialami oleh kakaknya beberapa tahun sebelumnya. Kedua
orang ini dikenal sebagai orang-orang Kristiani yang
taat dan giat di dalam penginjilan. Ada orang yang
berpendapat bahwa mereka tewas karena menyandang kutuk
dari nenek moyang mereka.
Terus terang saya tidak setuju dengan pendapat ini. Saya
meyakini bahwa kalau Yesus sudah menebus dosa kita,
seluruh kutuk dan dosa keturunan juga sudah
dihapuskan-Nya. Saya lebih tidak setuju lagi, ketika
orang-orang tersebut mengatakan bahwa kita harus
didoakan secara khusus dengan doa pelepasan sebelum
kutuk dan dosa keturunan itu hilang.
Apakah pendapat saya salah? Mohon penjelasan Bapak.
Terima kasih!
Niti, Jakarta
Pdt. Rudianto Djajakartika:
Saudara Niti yang baik, pendapat anda benar!
Di dalam Yesus, tidak ada lagi dosa dan kutuk keturunan.
Mengapa demikian? Karena sejak peristiwa salib Kristus,
Allah sudah tidak marah lagi pada kita, anak-anak
tebusanNya. Semua kemarahan Allah sudah tertumpah di
kayu salib! Karena itulah Yesus berteriak di kayu salib:
“Allahku, Allahku, mengapa engkau meninggalkan Aku?”
(Mat. 27:46). Ya, Yesus ditinggalkan supaya kita tidak
ditinggalkan oleh Allah selama-lamanya.
Pemahaman ini sejajar dengan ungkapan Paulus dalam 1 Kor.
6:20; 7:23 “Kamu telah dibeli dan harganya telah lunas
dibayar”. Ya, memakai analogi perdagangan, maka di dalam
Kristus diri kita ini sudah lunas dibayar! Jadi tidak
ada lagi hutang. Bagaimana mungkin masih ada ‘sisa
hutang’ kutuk keturunan?
Begitu juga ungkapan Paulus dalam 2 Kor. 5:17-18.
Diungkapkan di sana bahwa kita adalah ciptaan baru!
Haleluyah! Yang lama sudah berlalu. Lebih lanjut
dikatakan bahwa ‘semuanya ini dari Allah yang dalam
Kristus telah mendamaikan diriNya dengan kita’. Jadi
Allah sudah berdamai dengan kita! Mana mungkin masih ada
kutuk keturunan? Kalau benar masih ada kutuk keturunan
berarti perdamaian Allah itu cuma main-main! Masa sudah
berdamai masih mengutuk? Tetapi syukurlah bahwa
kesaksian Firman Tuhan justru menyatakan tidak ada lagi
kutuk keturunan, sebab yang lama itu sudah berlalu! (termasuk
seandainya ada kutuk keturunan, ya ikut berlalu!).
Sesungguhnya masih banyak ayat-ayat lain yang menyatakan
bahwa kuasa darah Kristus itu cukup! Jadi bagaimana
mungkin masih ada ‘sisa’ kutuk keturunan yang tertinggal?
Sesungguhnya pemahaman masih adanya ‘kutuk keturunan’
itu punya konsekuensi teologis yang sangat serius:
- Secara Pastoral, ia membawa keputusasaan, bukannya
penghiburan. Sudah sedih saudara meninggal, atau sakit,
masih dikatakan ada kutuk keturunan.
- Secara teologis, berarti darah Kristus itu ‘tidak
cukup’. Masih diperlukan doa pelepasan yang ‘kuasanya’
melebihi darah Kristus. Wah... berarti yang mendoakan
itu lebih hebat dari Yesus dong?
- Tuhan main-main dengan karya PenebusanNya. Sudah
ditebus, didamaikan, tapi Tuhan masih marah dan mengutuk?
Kok seperti manusia saja. Katanya sudah mengampuni dan
memaafkan, tapi kenyataannya justru sebaliknya.
Nah, mungkin pertanyaannya adalah, kalau Tuhan ‘sudah
tidak marah’ kenapa masih bisa kecelakaan, sakit dll?
Justru di sinilah persoalannya! Kehadiran Tuhan dalam
hidup kita seringkali dikaitkan dengan hidup yang mulus,
lancar, tanpa masalah dan sakit penyakit. Ini pemahaman
keliru! Justru Yesus yang bangkit itu hadir di tengah
ketakutan murid-muridNya. Semasa hidupNya di dunia,
Yesus justru mencari dan datang pada yang sakit. Para
Rasul dan Nabi serta orang beriman lainnya juga
seringkali mengalami situasi hidup yang sulit, tetapi
justru Tuhan datang di tengah kesulitan itu.
Kisah kematian Stefanus misalnya, sungguh menarik.
Sebelum Stefanus meninggal, ia melihat Yesus yang
bertahta dalam kemuliaanNya (Kis. 7:56). Lalu kenapa
Yesus diam dan membiarkan Stefanus dirajam sampai mati?
Wah, itu misteri Illahi, saya tidak tahu. Tetapi yang
saya tahu (dan disaksikan oleh Alkitab) adalah, bahwa
Allah hadir di tengah penderitaan Stefanus! Dan
kehadiran Allah itu cukup! Itu menjadi penghiburan luar
biasa buat Stefanus dalam menghadapi deritanya.
Allah hadir di tengah penderitaan umat manusia. Justru
kehadiran Allah itulah yang harus kita nyatakan pada
mereka yang menderita melalui penghiburan kita. Kita
lalu menjadi alat di tangan Tuhan untuk menyatakan
kehadiranNya dan penghiburanNya. Jadi, janganlah orang
sudah hidupnya susah, sedih, sakit, masih dikatakan ‘ada
kutuk keturunan’.
Nah, saudara Niti, sampai di sini dulu yah. Saya tunggu
pertanyaan anda yang lain, Tuhan memberkati! |