Pak Pdt. Yth.
Pak Pendeta, saya memiliki pergumulan yang hingga kini
masih belum menemui titik terang. Mohon penjelasan Bapak
sehingga iman saya kepada Tuhan menjadi lebih mantap.
- Kita sering mendengar umat Kristiani menyebut Tuhan
dengan nama ALLAH YANG MAHA ESA. Apakah ini benar? Apabila
iman Kristiani mengaku Allah sebagai TRI TUNGGAL, maka
sebutan ALLAH YANG MAHA ESA bagi umat Kristiani rasanya
tidak tepat, sebab sebutan ini menunjuk pada SATU yang
teramat solid. Bukan KESATUAN melainkan betul-betul SATU,
atau TUNGGAL. Tidak ada lagi oknum Bapa, oknum Anak dan
oknum Roh Kudus, yang ketiganya merupakan suatu kesatuan.
Mungkin di dalam bahasa Inggris, istilah YANG MAHA ESA itu
dapat diterjemahkan dengan ABSOLUTELY ONE, mutlak satu.
- Sering juga umat Kristiani berdoa dengan “… kami
PANJATKAN doa ini ke hadapan hadiratMu…” Apakah ini benar?
Doa merupakan suatu privilege. Setelah umat Kristiani
mendapat anugerah karena diangkat sebagai anak-anak Allah
melalui pengorbanan Kristus, mereka mendapat privilege
untuk berkomunikasi secara intim dengan Allah, yaitu yang
kita kenal sebagai doa. Tetapi Allah juga tetap menyatakan
diriNya sebagai YANG MAHA TINGGI, MAHA KUASA, MAHA SUCI,
dll. Oleh sebab itu, kita yang mendapat privilege ini
perlu tetap menyadari kerendahan diri kita di hadapan
Allah, selaku hamba yang tak bernilai jasa sama sekali.
Dalam konteks ini, kata-kata yang paling tepat untuk doa
adalah dipersembahkan kepada Allah, bukan seperti
informasi yang dikirim atau disampaikan dari satu orang ke
orang lain. Dengan demikian, istilah “dipanjatkan” rasanya
tidak tepat, bahkan terdengar “lucu”, seperti yang pernah
dikomentari oleh seorang teman, “Doa kok dipanjatkan sih,
emangnya monyet?”
- ALLAH YANG MAHA BESAR lebih besar daripada surga.
Seyogyanya surga ada di dalam Allah dan bukan sebaliknya,
sebab Allah tidak dibatasi oleh apa pun juga. Jadi
bagaimana dengan istilah dalam doa “Bapa kami yang ada di
dalam surga?” Apakah tidak lebih sesuai bila dikatakan
“Bapa kami yang bertahta di surga?” Tuhan Yesus berkata,
“KerajaanKu bukan dari dunia ini.” Yesus tidak mau
bertahta di dunia, melainkan di surga saja, jadi sebaiknya
dikatakan, “Yang bertahta di surga.
Atas penjelasan Bapak saya ucapkan terima kasih.
X di Jakarta
Pdt. Rudianto Djajakartika:
Saudara X, yang pemerhati istilah,
Memang sebaiknya kalau kita mengungkapkan sesuatu dengan
bahasa atau ungkapan yang jelas. Istilah yang tidak jelas
dan bias memang bisa ditangkap berbeda oleh orang lain.
Tetapi ketika kita berbicara tentang Allah, persoalannya
menjadi tidak mudah.
Dalam pertanyaan anda, justru anda mengakui keberadaan
Allah yang Maha besar dan Maha kuasa. Justru di sinilah
masalahnya. Dalam kebesaranNya, maka keberadaan Allah
tidak dapat dikunci atau dijelaskan dengan bahasa manusia
manapun yang justru punya banyak keterbatasan. Karena itu,
yang paling tepat ya kita mengikuti saja apa yang Alkitab
telah ungkapkan mengenai Allah, termasuk istilah yang
dipakai oleh Alkitab itu sendiri. Di sinipun sebenarnya
masih ada masalah, karena bahasa asli Alkitab adalah
bahasa Yunani dan Ibrani, serta sedikit Aram. Alkitab
bahasa Indonesia adalah sebuah terjemahan dari bahasa
aslinya. Persoalannya, istilah bahasa Indonesia kerap
tidak bisa mengungkapkan secara persis seperti yang
dimaksud bahasa aslinya. Tetapi karena kita orang
Indonesia, ya kita ikuti saja Alkitab bahasa Indonesia,
tentu dengan sedikit penjelasan.
Berdasarkan pemahaman ini, saya akan menjawab pertanyaan
anda:
- Ungkapan Allah Yang Maha Esa adalah ungkapan Alkitab (Ul.
6:4). Bahasa aslinya adalah Ehad yang berarti satu atau
yang pertama. Memang tidak ada istilah yang paling tepat
untuk mengungkapkan realitas Allah Trinitas. Tetapi dalam
segala keterbatasan itu, kata Esa saya kira cukup tepat.
Esa tidak berarti satu yang solid, sulit mencari
padanannya yang tepat, tetapi sampai sekarang saya belum
menemukan kata yang lebih tepat.
- Kata ‘memanjatkan doa’ memang kurang tepat secara
kaidah bahasa, tetapi ‘mempersembahkan doa’ juga bukan
berarti yang paling tepat. Kita memang harus menghargai
Allah, tetapi juga jangan menghilangkan keakraban kita
dengan Nya. Bukankah Dia adalah Bapa kita? Jadi, ya
berkomunikasi seperti seorang anak kepada Bapanya, hormat
tetapi juga akrab. Lalu istilah apa yang sebaiknya dipakai
untuk doa yang kita bawa pada Allah? Karena doa ini
sifatnya hubungan pribadi seperti anda nyatakan dalam
pertanyaan anda, maka biarlah tiap-tiap orang datang
kepada Allah dengan istilahnya masing-masing. Bukankah
Tuhan tidak pernah mempersoalkannya? Yang penting, saya
setuju dengan anda, harus ada nuansa hormat namun jangan
kehilangan nuansa akrab.
- Istilah ‘Bapa kami yang di Sorga’ (Mat. 6:9) saya kira
sudah tepat. Merujuk kepada sebuah tempat keberadaan
Allah. Apakah tempat itu lalu membatasi ‘kebesaran Allah’,
tentu tidak. Allah adalah Roh, Ia bisa berada di mana saja.
Tetapi untuk ‘menyatakan alamat’ saya kira harus dipilih
sebuah istilah yang menyatakan tempat, dan surga adalah
‘alamat’ yang paling tepat. Bagaimana kalau istilah ‘Bapa
kami yang bertahta di Sorga’? Saya kira ‘tahta’ bukan
alamat, jadi lebih tepat sorga.
Demikian jawaban saya, semoga membantu menyelesaikan
pergumulannya ya. |