Pak Pdt. Yth.
Kasus 1: Seorang teman saya tidak bisa hadir di Kebaktian
Minggu (entah berhalangan atau memang lagi pingin mbolos).
Hari-hari kemudian sepanjang minggu itu dia “merasa” tidak
nyaman (mungkin merasa bersalah), dan pada kebaktian
Minggu berikutnya dia berdoa minta ampun pada Tuhan.
Kasus 2: Saya sering mengikuti beberapa kegiatan gereja,
misal-nya: Persekutuan Doa Pagi, MPD, PTJ atau Kebaktian
Keluarga/Kebaktian Syukur dll. Dari kegiatan-kegiatan
tersebut saya mendapatkan banyak hal seperti pengetahuan
tentang Injil, per-jumpaan/keakraban dengan sesama anggota,
bisa juga iman yang dikuatkan, bahkan merasakan
pe-meliharaan Tuhan, dst. Pada suatu hari Minggu dengan
pembenaran diri sendiri: baru saja “kebaktian” koq
kebaktian lagi; sehingga muncul pendapat pribadi, ah,
libur sekali-sekali tak apalah.
Pertanyaan: Mohon berikan pandangan yang betul mengenai
berbakti baik Kebaktian Minggu maupun kebaktian lainnya
sehingga sikap kita benar menurut terang firman Allah.
Terima kasih.
BebeEs-JKT
Pdt. Rudianto Djajakartika:
Saudara BebeEs yang terkasih,
Saya pakai kata ‘ibadah’ saja ya, ketimbang kata ‘kebaktian’.
Lebih cocok dengan bahasa Alkitab. Nah, dalam Alkitab kata
ibadah itu paling tidak punya dua arti:
1. Ritual keagamaan (Kel. 13:5)
2. Perilaku hidup kita sehari-hari (Roma 12:1)
Jadi, ketika kita datang ber-ibadah pada hari minggu, itu
adalah ibadah kita. Tetapi ketika kita mengunjungi orang
sakit misalnya, juga merupakan ibadah kita. Namun harus
diingat, bahwa dalam Alkitab juga ada hukum Sabath (hukum
ke 4), yang lebih merujuk pada kegiatan ritual mingguan,
meskipun arti hukum sabath tentu lebih dari itu. Nah,
hukum sabath inilah yang oleh gereja awal diubah menjadi
ibadah minggu (disesuaikan dengan ke-bangkitan Kristus).
Berdasarkan penjelasan tadi, menjadi jelas, yang dimaksud
ibadah sesungguhnya sangatlah luas, tidak terbatas hanya
pada ibadah minggu. Ketika anda ikut MPD, persekutuan
wilayah dan lainnya, itu juga adalah ibadah. Bahkan, hidup
anda sehari-hari yang terarah pada Kristus adalah juga
ibadah. Karena itu, kita tidak perlu ‘merasa bersalah’
atau merasa ‘belum beribadah’ ketika kita tidak sempat
beribadah hari minggu karena mengantar tetangga ke rumah
sakit, misalnya. Sebab yang kita lakukan tadi juga adalah
ibadah. Tetapi, bukan berarti ibadah minggu lalu bisa kita
substitusi begitu saja dengan kegiatan lain yang sudah
kita lakukan.
Ada hukum Sabath, yang mengajak kita untuk beribadah
secara khusus setiap hari minggu. Karena itu pergi
beribadah setiap minggu tetap harus dilaku-kan, meski
setiap hari adalah ibadah kita. Namun bila karena menolong
orang, kita tidak bisa beribadah di hari minggu, tentu
Tuhan bisa mengerti dan kita tidak perlu me-rasa bersalah
karenanya. Di sisi lain, jangan karena sudah beribadah
hari minggu lalu kita mengabaikan hidup kita sehari-hari.
Pada hakekatnya, ibadah adalah hidup kita setiap hari.
Kita harus meng-arahkan diri kita kepada Tuhan dalam
keseharian kita, namun di hari minggu mengambil bentuk
yang lebih khusus melalui ibadah minggu.
Demikian penjelasan saya, selamat beribadah setiap hari
dan secara khusus di hari minggu. |