|
Navigasi |
|
|
|
|
|
Warta Jemaat |
|
|
|
|
Layanan Jemaat |
|
|
|
|
Kegiatan Ouikumenis
|
|
|
| |
|
|
|
|
 |
|
Pastoralia |
|
9 Pebruari 2007
Marah itu Berdosa |
|
|
Pak Pdt. Yth.
Di dalam Efesus 4:26 dikatakan bahwa “Apabila kamu menjadi
marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari
terbenam, sebelum padam amarahmu.”
Dalam firman tersebut dikatakan bila pun marah tapi jangan
berbuat dosa, bagaimana orang bisa marah tetapi tidak
berbuat dosa?
Terima kasih atas jawaban Bapak. Tuhan memberkati.
Indah-Jkt.
Pdt. Rudianto Djajakartika:
Saudari Indah
yang tidak senang marah, pertanyaan anda mengandung dua
arti:
- Bagaimana mungkin marah tidak berdosa, padahal dalam
Mat. 5:22 jelas dikatakan bahwa setiap orang yang marah
sudah berbuat dosa dan harus dihukum. Berkaitan dengan hal
ini, orang juga sering bertanya-tanya tentang Yesus yang
marah. Apakah berarti Yesus berdosa?
- Bagaimana caranya supaya kalau kita marah, tidak
berdosa.
Nah, saya akan menjawab yang pertama dulu, apakah marah
itu berdosa? Dalam bahasa Yunani ternyata ada dua jenis
marah yaitu: Orgi (marah yang berkepanjangan) dan Thumos (marah
yang sekilas saja). Kalau kita memperhatikan bahasa Yunani
yang dipakai dalam Mat. 5:22 dan Ef. 4:26 ternyata sama,
yaitu Orgi. Tetapi dalam Ef. 4:26 meskipun dipakai kata
Orgi, tetapi justru ada nasihat yang berlawanan dengan
pemahaman Orgi, yaitu agar marah kita tidak berkepanjangan
(sampai matahari terbenam).
Dari sini menjadi jelas bagi kita, bahwa yang dianggap
berdosa itu adalah ‘marah yang berkepanjangan’ apalagi
sampai dendam. Sedangkan nasihat Paulus dalam Ef. 4:26
meskipun dipakai kata Orgi, tetapi tekanannya justru agar
merubah sifat Orgi itu menjadi marah yang singkat saja.
Nah, marah yang singkat ini masih bisa ditoleransi
sehingga dikategorikan oleh Paulus sebagai belum berdosa.
Tetapi selalu ada bahaya bila kita marah, yaitu ketika
marah kita menjadi berkepanjangan. Di sini kemarahan kita
sudah dipakai oleh Iblis dan membuahkan dosa.
Lalu bagaimana dengan Yesus yang marah. Dalam Alkitab
selalu disaksikan bahwa Yesus atau Allah yang marah itu
tidak pernah berkepanjangan. Selain itu, dalam Injil, kata
Yunani yang dipakai untuk menggambarkan kemarahan Yesus
adalah Aganateo, yang lebih berarti ‘kurang senang’
(displeased). Karena itu, jelas Yesus tidak berdosa.
Nah, sekarang bagaimana caranya agar kemarahan kita tidak
berkepanjangan (menjadi Orgi)? Saya kira nasihat Rasul
Paulus cukup jelas. Cepat selesaikan ketika kita menjadi
marah. Katakanlah apa alasannya bahwa kita marah. Jangan
segan meminta maaf bila ternyata kemarahan kita bukan pada
tempatnya (misunderstanding). Lalu kembalilah berdamai.
Bila ada disiplin yang harus diterapkan karena sebuah
kesalahan, maka jelaskan bahwa penerapan disiplin adalah
sesuatu yang sudah disepakati bersama bila terjadi sebuah
kesalahan. Penerapan disiplin bukan berarti bahwa anda
tetap marah. Berdamailah meskipun dengan berat hati anda
harus memberlakukan disiplin.
Begitu jawaban saya, semoga membantu, Syalom. |
|
|
|
>> Arsip
|
|
|
|
Bila anda berminat untuk ikut serta
dalam kolom Pastoralia ini, silahkahkan
klik
...>> |
 |
|
|
|
|
|