Pdt. yang
baik,
Dalam kehidupan berjemaat seringkali pemahaman tentang
Baptisan itu berbeda-beda, tidak sedikit yang berpendapat
bahwa baptis sama dengan pengampunan dosa sehingga orang
yang sudah dibaptis pasti masuk surga, yang menjadi
pertanyaan saya:
- Apakah benar baptisan dapat menyelamatkan orang?
- Di GKI Pondok Indah ada Sakramen baptisan anak, apakah
di dalam Alkitab ada pengajaran tentang baptisan anak/bayi?
Mohon penjelasan, atas pencerahan dari Bapak saya
mengucapkan terima kasih.
S di Jakarta
Pdt. Rudianto Djajakartika: Sdr. S yang
baik, salam dari tempat yang jauh.
Baptisan jelas tidak dapat menyelamatkan orang berdosa.
Keselamatan dan pengampunan hanya didapatkan melalui
percaya kepada-Nya (Yohanes 3:16). Tentu kalau kita
percaya kepada-Nya kita akan mengakui dosa kita, mohon
pengampunan-Nya dan melakukan segala perintah-Nya termasuk
di dalamnya adalah minta dibaptiskan. Dalam Alkitab,
perintah Yesus tentang baptisan berkaitan dengan menjadi
murid-Nya (Mt. 28:19). Tentu orang yang menjadi murid-Nya
adalah orang yang diampuni dosanya bukan? Tetapi baptisan
itu sendiri tidak menghadirkan pengampunan. Baptisan
justru dilakukan oleh orang yang sudah diampuni, dengan
tujuan:
- Ia memproklamasikan imannya kepada yang lain (jemaat)
- Ia menyatakan diri menjadi bagian dari persekutuan
orang percaya. Karena itu orang yang dibaptis lalu dicatat
sebagai anggota gereja.
- Baptisan sebagai simbol kehadiran Allah dalam diri-Nya
sekarang dan selamanya dan sekaligus simbol pengampunan
segala dosanya.
- Baptisan adalah simbol komitmennya untuk hidup baru dan
terus membaharui dirinya.
Jadi baptisan tidak boleh diabaikan karena punya banyak
makna dan tentu karena baptisan juga adalah perintah-Nya.
Masa kita percaya kepada-Nya (Yesus) tetapi tidak
melaksanakan perintah-Nya? Namun orang percaya yang belum
sempat dibaptis (bukan tidak mau dibaptis) tetap
diselamatkan dan diampuni dosanya. Misalnya penjahat yang
di sebelah salib Yesus. Kepadanya Yesus berkata: Hari ini
engkau bersama Aku di dalam Firdaus (Lk. 23:43).
Bagaimana soal baptisan anak? Memang ajaran tentang
baptisan anak tidak muncul secara eksplisit dalam Alkitab
tetapi juga tidak ada larangan yang eksplisit, kecuali
pertanyaan sudahkah anak-anak itu percaya kepada-Nya?
Dapatkah seorang anak (apalagi masih bayi) percaya
kepada-Nya? Mungkin pertanyaan yang paling dekat dengan
baptisan adalah Sudahkah anak-anak itu menjadi murid-Nya,
bila orangtuanya adalah murid-Nya? Jika anda menjawab ya,
atau orangtua yang akan membaptis anaknya menjawab ya,
jangan ragu untuk membaptiskan anak. Kenapa? Karena
baptisan berkaitan erat dengan persoalan menjadi
murid-Nya (Mt. 28:19).
Selain itu, baptisan anak juga punya akar di perjanjian
lama, yaitu tradisi sunat. Allah membuat perjanjian dengan
Abraham. Dan anak-anak yang lahir dalam keluarga Abraham
ikut masuk dalam perjanjian itu. Tandanya adalah sunat (Kej.
17:1-13). Dalam perjanjian baru tradisi sunat diganti
dengan baptisan. Tidak perlu lagi ada darah diteteskan (melalui
sunat) karena darah Kristus sudah cukup untuk menebus dosa
seluruh umat manusia. Nah, karena baptisan punya
kesejajaran dengan tradisi sunat, kalau zaman dulu
anak-anak ikut dalam perjanjian orangtuanya melalui sunat,
mestinya dalam perjanjian baru anak-anak ikut dalam
keselamatan orangtuanya melalui baptisan anak.
Tentu yang mengaku imannya bukan anak yang dibaptis tetapi
orangtuanya. Dengan pengakuan itu, sekaligus sang orangtua
berjanji untuk mendidik anaknya dalam iman yang
dipegangnya. Nanti setelah anak itu dewasa, mereka harus
menyatakan imannya secara pribadi melalui Sidi. Nah,
semoga para orangtua tidak ragu lagi untuk membaptiskan
anaknya. |