Bpk Pdt Yth,
Tentang persepuluhan. Saya salah seorang jemaat yang tidak
menganut dengan persembahan persepuluhan. Karena, kecuali
sulit untuk mengkalkulasi penghasilan saya perhari atau
perminggu atau perbulan karena memang tidak pasti angkanya
tapi juga dalam Alkitab ada dikatakan bukan masalah
jumlahnya tapi seberapa tulus hati kita ketika
mempersembahkan persembahan kita itu kepada Tuhan.
Untuk itu yang menjadi pertanyaan:
1. Bisakah Bapak ceritakan sedikit hal ihwal perpuluhan
itu dilaksanakan bagi jemaat?
2. Dan bagaimana relevansinya dengan anggota jemaat saat
ini mengingat ada jemaat (baca=gereja) yang secara mutlak
melaksanakan itu dan ada juga yang tidak?
3. Berdosakah apabila saya tidak melaksanakan perpuluhan
mengingat saya sudah mempersembahkan juga, misalnya:
sejumlah uang dalam kebaktian minggu (mungkin tidak
seberapa) atau sumbangan gereja dalam bentuk lain?
Demikian pergumulan saya, mohon penerangan semoga saya
menjadi lebih paham tentang perpuluhan, untuk itu sebelum
dan sesudahnya saya mengucapkan terima kasih.
Salam,
AD Jkt
Pdt. Rudianto Djajakartika:
Saudara AD yang
sedang bergumul tentang perpuluhan,
Entah kapan persisnya aturan persembahan persepuluhan itu
muncul, tetapi dalam aturan torat tentang peribadahan
Israel, maka persembahan persepuluhan sudah ada.
Pada awalnya, aturan persembahan persepuluhan adalah
merupakan kompensasi kepada orang-orang Lewi yang tidak
mendapat tanah milik pusaka. Mereka adalah orang yang
dikhususkan Tuhan untuk melayani peribadahan di Kemah Suci.
Kalau sekarang istilahnya pekerja gereja full-time. Jadi
mereka tidak melakukan pekerjaan lain, selain pekerjaan
pelayanan. Karena itu mereka tidak perlu mendapat tanah
pusaka dan mengusahakan tanah itu, supaya konsentrasi
mereka untuk melayani Tuhan tidak terganggu. Tetapi
sebagai manusia, mereka kan tetap perlu hidup dan
menghidupi dirinya. Lalu dari mana mereka mendapatkan
penghasilannya? Dari persembahan persepuluhan! (Bil.
18:21-24).
Persembahan persepuluhan ini milik Tuhan yang dipakai
untuk menghidupi pelayan-pelayan-Nya. Karena itu, hukum
persembahan persepuluhan adalah: WAJIB! (Ul. 14:22-23).
Pada tahap selanjutnya, nampaknya bentuk persembahan yang
ada di Israel mengalami perkembangan sehingga muncul juga
persembahan khusus dan berbagai bentuk persembahan lainnya
(Ul. 12:6). Penggunaan persembahan persepuluhan juga
mengalami perkembangan sehingga tidak hanya dipakai untuk
menghidupi para pelayan Tuhan, tetapi juga untuk
menghidupi orang asing, anak yatim dan janda (Ul.
14:28-29). Landasan dari persembahan persepuluhan adalah
UNGKAPAN SYUKUR! (Ul. 12:6-7). Perhatikanlah kata: karena
dalam usahamu engkau DIBERKATI oleh Tuhan, Allahmu. Jadi
persepuluhan diberikan bukan untuk meminta berkat tetapi
justru sebagai ungkapan syukur atas segala berkat!
Dari uraian tadi menjadi jelas buat kita, bahwa makna
persembahan (persepuluhan atau yang lain) adalah:
- Ungkapan syukur kita atas segala berkat dan
pemeliharaan Tuhan
- Bentuk tanggung jawab umat untuk membiayai tugas
pelayanan.
- Bentuk tanggung jawab sosial kita, baik kepada para
pelayan Tuhan maupun mereka yang membutuhkan (janda, orang
asing, anak yatim dll).
Berangkat dari ketiga makna tadi, saya kira anda setuju
dengan saya, bahwa persembahan itu hukumnya WAJIB!
Persoalannya, apakah harus persepuluhan atau bisa yang
lain?
Nah, sebelum saya menjawab, saya perlu bertanya terlebih
dahulu kepada anda: sesungguhnya yang menjadi MILIK TUHAN
itu yang mana? Sepersepuluh atau semua? Apakah kalau kita
sudah memberikan sepersepuluh, lalu sisanya yang sembilan
persepuluh menjadi milik kita dan boleh kita gunakan semau
kita, termasuk untuk beli narkoba dll? Tentu tidak bukan?
Sesunguhnya yang menjadi milik Tuhan adalah SEMUA, karena
semua itu kita yakini dari Tuhan dan merupakan berkat
Tuhan.
Karena itu kita harus MENGELOLA apa yang Tuhan beri dan
mempertanggungjawabkannya kembali kepada Tuhan. Menjadi
bagian dari pengelolaan atau penatalayanan ini adalah
dengan mengembalikan sebagian untuk pekerjaan pelayanan
dan tanggung jawab sosial kita.
Karena itu makna ke 4 dari persembahan adalah: bagian dari
PENATALAYANAN semua berkat yang Tuhan sudah berikan kepada
kita.
Dalam hal penatalayanan berkat yang Tuhan sudah berikan,
kita boleh membagi sebagian untuk hidup, sebagian untuk
biaya sekolah dan tentu sebagian kita persembahkan kembali
kepada Tuhan.
Kalau kita berbicara penatalayanan, sesungguhnya setiap
orang diberikan kebebasan oleh Tuhan untuk mengelola
berkat yang sudah diberikan-Nya secara bertanggungjawab.
Jadi berdasarkan prinsip penatalayanan, yang WAJIB adalah
persembahannya, bukan seperberapanya! Apalagi bentuk
persembahan sekarang kan banyak variasi dan jenisnya.
Karena itu bagi saya, persepuluhan itu adalah ANCAR-ANCAR
saja. Dalam hal ini ada 3 opsi yang boleh kita pilih:
- Memberikan persepuluhan saja
- Menyebar persepuluhan dalam bentuk persembahan yang
lain
- Memberikan persepuluhan bersama dengan
persembahan-persembahan yang lain.
Sepanjang opsi yang dipilih ini mencerminkan ungkapan
syukur kita dan tanggungjawab kita terhadap pekerjaan
pelayanan tentu sah-sah saja. Pertanyaan pentingnya
sebenarnya bukan seperberapa bagian yang kita beri, tetapi
sudahkah kita menatalayani berkat Tuhan dengan baik dan
bertanggungjawab? Berdasarkan prinsip penatalayanan ini,
maka GKI memang tidak memutlakkan perpuluhan tetapi juga
tidak menolak adanya perpuluhan!
Apakah kita berdosa kalau tidak memberi persepuluhan?
Menurut pemahaman saya, yang berdosa adalah kalau kita
terlalu berhitung dengan Tuhan! Bukan soal memberi
sepersepuluh atau tidak. Jadi santai saja. Kalau anda
sedang ada kebutuhan lain, mungkin anda tidak memberikan
perpuluhan, lain kali bisa saja anda memberikan lebih dari
sepersepuluh. Yang penting semua itu merupakan bagian dari
pengelolaan berkat Tuhan secara baik dan bertanggungjawab. |