|
Pak Rudi
yang terhormat, saya ingin bertanya mengenai dosa asal/dosa
warisan. Saya pernah mendengar adanya pemikiran bahwa
sebenarnya hal yang “diwariskan” oleh Adam kepada manusia
bukanlah dosa yang diperbuat Adam, melainkan kecenderungan
untuk berbuat dosa dan kecenderungan untuk mementingkan
diri sendiri. Apa benar demikian, Pak?
Akan tetapi saya juga pernah mendengar pemikiran bahwa
Adam memang “mewariskan” dosa yang diperbuatnya. Nah, jika
benar demikian, Pak, bukankah itu menjadi tidak adil,
karena wong Adam yang berbuat salah, tetapi koq, semua
manusia jadi ikutan berdosa.
Bukan berarti saya menganggap bahwa kalau saya ada di
tempatnya Adam saya pasti nggak akan jatuh dalam dosa lho,
Pak. Mungkin malah saya nggak hanya makan buahnya, tapi
sampai ke akar-akarnya juga. He… he… he… bercanda koq,
Pak. Intinya saya tahu bahwa saya nggak lebih baik dari
Adam. Mohon penjelasan Bapak mengenai hal ini. Sebelumnya
terima kasih atas perhatian dan jawaban dari Pak Pendeta.
Alexandra - Jakarta
Pdt. Rudianto Djajakartika:
Sandra yang baik,
Untuk menjawab pertanyaanmu, saya perlu menjelaskan
terlebih dahulu perbedaan antara ‘dosa’ dengan ‘perbuatan
dosa’.
Dosa, adalah suatu keadaan di mana manusia memberontak
kepada Allah. Sering digambarkan seperti orang yang ‘balik
badan’. Dulunya ‘menghadap Allah’ sekarang ‘membelakangi
Allah’. Keadaan ini yang kamu sebutkan sebagai
‘kecenderungan untuk berbuat dosa’.
Tetapi saya lebih senang memakai istilah ‘keadaan berdosa’
manusia, bukan ‘kecenderungan’. Sebab kata ‘kecenderungan’
punya konotasi belum berdosa kalau belum melakukan,
padahal kesaksian Alkitab menunjukkan bahwa manusia ‘sudah
berdosa’ sejak ia dilahirkan (Mz. 51:7). Keberdosaan
manusia ini mirip dengan ‘cacat genetik’ yang ada pada
setiap keturunan manusia setelah Adam. Hanya darah Yesus
yang dapat menyembuhkan ‘cacat genetik’ ini.
Sedangkan ‘perbuatan dosa’ adalah perilaku yang dilakukan
manusia sebagai akibat dari pemberontakannya pada Allah.
Perilaku itu bisa berbeda-beda. Yang satu mencuri, yang
lain membunuh, bisa berdusta termasuk apa yang dilakukan
Adam yaitu ‘makan buah terlarang’.
Nah, yang diwariskan oleh Adam tentu bukan perilakunya,
tetapi keberdosaannya. Tiap orang bisa melakukan perbuatan
dosa yang berbeda, bahkan tiap hari kita juga melakukan
perbuatan dosa yang berbeda-beda. Semua itu akibat
keberdosaan yang kita warisi dari Adam sejak kita
dilahirkan di dunia ini.
Kalau jawaban yang lebih serius begini,
Adam, dalam bahasa Ibrani artinya ‘manusia’. Jadi kitab
kejadian sebenarnya ingin menyaksikan bukan hanya Adam
sebagai sebuah pribadi tetapi Adam sebagai manusia (mewakili
kita semua).
Ketika Adam berdosa, maka yang mau disaksikan adalah bukan
hanya Adam sebagai pribadi saja yang berdosa tetapi
seluruh umat manusia yang berdosa dan telah kehilangan
kemuliaan Allah (Roma 3:23). Di dalam Adam kita melihat
manusia termasuk diri kita.
Dalam kerangka berpikir semacam ini, orang kadang lalu
melihat bahwa yang makan buah terlarang itu bukan hanya
Adam sebagai pribadi tetapi manusia secara keseluruhan.
Apapun itu, yang diwariskan tetap adalah keberdosaannya
bukan perbuatan dosanya. Perbuatan dosa adalah akibat dari
keberdosaan itu.
Apakah cara pandang pewarisan ini adil? Saya katakan ya.
Dulunya Adam (sebagai pribadi) adalah warganegara Surga.
Kemudian karena berdosa ia pindah menjadi warganegara
Neraka. Nah, anak-anaknya ikut warga negara orangtuanya
bukan? Apapun itu, yang mau disaksikan oleh Alkitab
sebenarnya bukan soal waris mewarisi tetapi sebuah keadaan
di mana manusia semuanya sudah berdosa dan butuh
pertolongan Allah.
Karena itu saya lebih senang melihat Adam bukan sebagai
pribadi tetapi mewakili manusia secara keseluruhan. Dalam
Adam kita melihat diri kita yang sudah berdosa dari
sono-nya, entah dari mana itu.
Nah, semoga jawaban ini memuaskan Sandra. Saya senang
dengan pernyataanmu bahwa kamu tidak lebih baik dari Adam.
Ini sebuah pernyataan yang penting. Karena sebuah
pertobatan selalu berawal dari kesadaran diri bahwa saya
tidak baik. Bagaimana mungkin saya memperbaiki kesalahan
kalau saya tidak tahu bahwa saya salah? Justru
pernyataanmu itu meyakinkan saya bahwa kamu sungguh adalah
orang yang baik. |