|
Saya membaca firman Tuhan dari Ibrani 4:12 yang mengatakan
demikian: “Sebab Firman Allah hidup dan kuat dan lebih
tajam daripada pedang bermata dua manapun; ia menusuk amat
dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan
sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran
hati kita”;
1. Setelah membaca firman tersebut, saya tidak memahami
maksudnya, mungkin saya kurang dapat menghayati arti
firman itu, mohon dapat dijelaskan.
2. Saya lebih tidak dapat memahami setelah membaca pada
kata-kata “...memisahkan jiwa dan roh...” Apakah perbedaan
antara “jiwa” dan “roh” itu?
Menurut pengertian saya, “jiwa” itu sama dengan “roh”,
tetapi di sini dikatakan bahwa “jiwa” dan “roh” dapat
dipisahkan. mohon Penjelasan.
Terima kasih atas perhatian Bapak.
Tjuk Sumarsono
Pdt. Rudianto Djajakartika:
Pak Tjuk yang baik, Ibrani 4:12 tidak bisa dipisahkan dari
ayat 13 dan juga konteksnya, yaitu penghakiman yang Tuhan
akan lakukan.
Jika kita melihat Ibrani 4:12 dalam hubungannya dengan
ayat 13 “Dan tidak ada suatu mahlukpun yang tersembunyi di
hadapan-Nya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di
depan mata Dia, yang kepada-Nya kita harus memberikan
pertanggungan jawab”, juga dari konteksnya yaitu
peringatan akan adanya penghakiman dan jangan ada orang
yang ketinggalan (ayat 1), menjadi jelas apa yang dimaksud
dengan Ibrani 4:12.
Maksudnya adalah, bahwa penghakiman itu dimulai dari
Firman Tuhan yang kita terima setiap hari, yang kita baca
dan kita renungkan. Firman itu menerangi hidup kita dan
tidak ada yang tersembunyi. Ia mengingatkan kita, menegur
kita dan membimbing kita. Firman itu sanggup memisahkan
yang baik dari yang jahat, bahkan hal-hal yang kita anggap
tak terpisahkan seperti ‘sumsum dan tulang’ atau ‘jiwa dan
roh’.
Nah, dalam hal ini, amat diharapkan respon setiap orang
percaya untuk selalu bertobat, mengaku dosa dan membaharui
dirinya setiap hari. Jangan ada dosa yang disembunyikan
karena semua itu terbuka di hadapan Tuhan, yang
digambarkan seperti orang yang telanjang. Orang yang
merespon karya Firman dengan pembaharuan dirinya ‘tidak
akan ditinggalkan’ (diselamatkan) tetapi orang yang
mengeraskan hatinya, tidak mau bertobat, masih
menyembunyikan dosa, maka penulis surat Ibrani
mengingatkan agar ia segera membaharui dirinya sebelum
terlambat. Sebab tanpa pembaharuan dan pertobatan, sangat
mungkin ia akan menjadi kelompok ‘yang ketinggalan’ (ayat
1).
Dengan kata lain, kalau kita membaca Firman Tuhan yang
tajam itu, yang menelanjangi kita itu, yang memisahkan
kebaikan dan kejahatan kita itu, dan Firman itu berbicara
kepada kita, segeralah meresponnya dengan pertobatan dan
pembaharuan diri. Itu maksudnya Ibrani 4:12-13.
Mengenai perbedaan ‘jiwa dan roh’ sebenarnya ungkapan ini
diambil dari konteks budaya Yunani waktu itu yang mengenal
pembedaan antara tubuh, jiwa dan roh (trikotomis). Justru
karena ‘jiwa dan roh’ itu sulit dibedakan (seperti yang
pak Tjuk pahami), maka dalam hidup ini kadang ‘kebaikan’
dan ‘kejahatan’ juga menyatu dan sulit untuk kita melihat
bedanya. Tetapi Firman Tuhan mampu membedakannya dan
menyadarkan kita mana yang baik dan mana yang jahat.
Itulah sebabnya kita sungguh ‘telanjang’ di hadapan-Nya
dan sungguh amat diharapkan respon pertobatan dan
pembaharuan kita.
Pada dasarnya Allah melihat manusia itu utuh, tidak
dibedakan antara tubuh (soma), jiwa (psukhe) dan roh (pneuma)
tetapi untuk menjelaskan sesuatu kadang pembedaan semacam
itu memang diperlukan. Kadang orang memahami jiwa sebagai
bagian dari proses berpikir kita, sedangkan roh adalah
bagian dari manusia yang memampukan dirinya untuk
berkomunikasi dengan alam yang berdimensi ilahi (Yoh.
4:24).
Apapun itu, sejujurnya saya sendiri mengalami kesulitan
jika harus menarik garis yang tegas antara ‘jiwa dan roh’.
Toh, bukan itu yang mau ditekankan dalam Ibrani 4:12,
tetapi justru kuasa Firman yang luarbiasa, sehingga yang
sulit dipisahkanpun sanggup dipisahkannya, dan maksudnya
jelas bukan ‘jiwa dan roh’, tetapi ‘yang baik’ dan ‘yang
jahat’.
Semoga menjawab dan silakan bertanya lagi untuk hal yang
lain, Tuhan memberkati. |