|
Pak Pendeta, bagaimana sih proses penyusunan Alkitab?
Kabarnya, pada waktu penyusunan Alkitab ada kitab-kitab
yang dihilangkan. Apa betul demikian? Lalu di mana naskah
asli Alkitab sekarang disimpan? Terus kenapa Alkitabnya
orang Katolik berbeda dengan Alkitabnya orang Kristen?
Terima kasih Pak atas jawabannya.
NN di Jkt.
Pdt. Rudianto Djajakartika:
Wah, ini cerita yang panjang.
Jadi, pada masa lalu, orang-orang percaya yang dipakai
Tuhan melihat peristiwa-peristiwa tertentu yang dialaminya
dalam terang iman. Di sinilah kita meyakini peran Roh
Kudus yang bekerja dan membimbing orang-orang tersebut.
Hasil perenungan mereka, bisa berwujud respon atas
peristiwa tertentu atau catatan langsung atas peristiwa
tertentu kemudian mereka teruskan pada orang percaya yang
lain secara lisan. Kita menyebutkannya tradisi lisan.
Lalu ada orang percaya lain yang mengumpulkan tradisi
lisan tersebut kemudian ditulis. Kita menyebutnya tradisi
tertulis. Kemudian ada orang lain yang mengumpulkan
tradisi tertulis itu dan kemudian membentuknya menjadi
sebuah kitab. Misalnya kitab kejadian. Tetapi ada juga
yang merenungkan langsung ditulis (tanpa tradisi lisan),
misalnya surat-surat Paulus.
Jadi penulis Alkitab itu bisa penulis langsung, tetapi
bisa juga mereka yang menuliskan tradisi lisan, atau
bahkan mereka yang mengumpulkan tradisi tertulis menjadi
sebuah kitab.
Meskipun kadang-kadang penulis Alkitab itu bukan penulis
langsung, tetapi kita percaya pada waktu mereka menuliskan
tradisi lisan, atau mengumpulkan tradisi tertulis, tetap
di bawah bimbingan Roh Kudus. Tuhanlah yang menggerakkan
mereka untuk menuliskan tradisi lisan atau mengumpulkan
tradisi tertulis. Di sini sudah terjadi proses seleksi.
Tidak semua tradisi lisan mereka tuliskan, dan tidak semua
tradisi tertulis mereka rangkum menjadi sebuah kitab.
Dalam proses seleksi inilah peranan iman penulis di bawah
bimbingan Roh Kudus menjadi amat penting. Sekali lagi,
penulis langsung atau tidak langsung, keduanya tetap
dibimbing oleh Roh Kudus.
Hasil akhirnya, muncullah kitab-kitab yang belum menyatu.
Ada kitab kejadian, nabi-nabi, injil, surat-surat dan
banyak lainnya. Kitab-kitab ini kemudian disatukan oleh
gereja menjadi Alkitab. Di sini kembali terjadi proses
seleksi.
Tidak semua kitab yang ada langsung dirangkum menjadi
Alkitab. Dalam persidangannya, gereja berdoa dan mohon
bimbingan Roh Kudus untuk bisa memilih kitab mana yang
layak disatukan menjadi Alkitab. Tentu ada kitab-kitab
yang tidak dimasukkan, tetapi saya tidak memakai kata
dihilangkan karena memang prosesnya belum selesai.
Hasil akhirnya ternyata ada 2 versi Alkitab yang disebut
kanon Palestina (Alkitabnya orang Kristen) dan kanon
Aleksandria (Alkitabnya orang Katolik). Sebenarnya
Alkitabnya orang Katolik isinya sama persis dengan
Alkitabnya orang Kristen, hanya ada beberapa tambahan
kitab yang disebut dengan deuterokanonika.
Setelah proses ini selesai, maka gereja menetapkan, inilah
Alkitab, pegangan gereja, bersifat cukup, tidak harus
ditambah dan dikurangi lagi. Jadilah Alkitab yang ada
sekarang ini.
Yang sangat menarik adalah, bahwa meskipun proses
penyusunan Alkitab melewati kurun waktu yang amat panjang
(bisa ribuah tahun) dan melibatkan banyak orang, tetapi
alur pemikiran imannya ternyata utuh dan menyatu.
Ayat-ayatnya telah membimbing banyak orang untuk makin
mengenal Allah dan membawa orang kepada keselamatan. Dari
sinilah kita boleh yakin, bahwa proses penyusunan ini
bukan proses sembarangan. Ada campur tangan Allah yang
membimbing dan menerangi dalam proses penyusunan ini.
Di mana naskah aslinya? Ada di beberapa museum di Inggris,
Italia dan mungkin juga beberapa tempat yang lain. Mungkin
kalau anda ada kesempatan untuk berlibur ke Eropa, bisa
juga mengunjungi beberapa museum yang menyimpan naskah
asli Alkitab. Saya memang tidak tahu persis di museum mana,
tetapi itu bisa dicari dengan mudah kalau memang mau ke
sana. Demikian jawaban saya, semoga bisa menambah
keyakinan kita pada Alkitab sebagai Firman Tuhan. |