|
Dengan perkembangan teknologi
komunikasi dewasa ini, kami rasakan semakin banyak
acara-acara gereja (Kebaktian atau Puji-pujian) yang
ditayangkan melalui Televisi, bahkan salah satu channel
Kabelvision 24 jam menayangkan acara sejenis. Gejala ini
bisa menjadi indikasi munculnya sebuah Virtual
Christianity?
Pada saat menyaksikan acara tersebut, ada kalanya hati
sempat tersentuh, tetapi tidak seperti hati yang tersentuh
ketika sujud dalam kebaktian di gereja. Ada perasaan yang
berbeda.
Pertanyaan saya adalah: Apakah acara (kebaktian) di
televisi dapat menggantikan kebaktian hari minggu dalam
arti pengampunan dan berkat yang sama dapat diperoleh
melalui acara tersebut? Atas tanggapan Bapak tak lupa kami
sampaikan terima kasih.
Salam, D Han - Jakarta
Pdt. Rudianto Djajakartika:
Ya, sekarang memang makin banyak acara TV rohani, biasanya
bentuknya bukan seperti kebaktian hari minggu. Saya tidak
tahu apakah dalam siaran di Kabelvision ada yang bentuknya
seperti kebaktian hari minggu. Maklumlah, saya memang
tidak berlangganan TV kabel.
Terlepas dari itu, pertanyaan anda adalah, apakah itu bisa
menggantikan kebaktian hari minggu yang biasa kita ikuti?
Anda sudah menjawabnya sendiri kan? Rasanya lain! Jadi ya
memang beda! Letak perbedaan yang paling utama adalah pada
makna persekutuan!
Menurut pemahaman saya, persekutuan tidak bisa dilepaskan
dari perjumpaan kita dengan sesama, di mana keduanya sadar
akan kehadiran masing-masing dan saling menghibur,
menasihati, menguatkan serta banyak lainnya. Di abad
modern ini kita memang bisa mewujudkan persekutuan dengan
sesama seperti itu meskipun kita terpisah oleh jarak.
Misalnya doa bersama lewat telpon (saya sering
melakukannya), dan itu adalah persekutuan.
Tetapi berbeda dengan hanya nonton TV, di mana kesadaran
akan perjumpaan dengan sesama tidak dirasakan. Bisa sih
kita mengatakan: “Di dalam iman saya menyadari akan
kehadiran para penonton TV bersama saya!” Tetapi menurut
pemahaman saya, kesadaran semacam itu tetap tidak bisa
menggantikan perjumpaan langsung (meski terpisah oleh
jarak).
Sebagian orang memang mengartikan nasihat Firman Tuhan
tentang ‘pertemuan ibadah’ dalam Ibrani 10:25, sebagai
sebuah nasihat yang terikat oleh konteks, sehingga di
zaman modern ini, kita harus mengartikan ulang nasihat
tersebut sesuai konteks zaman modern.
Saya setuju dengan pendapat tersebut. Firman Tuhan memang
terikat pada sebuah konteks tertentu, sehingga ketika kita
akan membawa Firman itu pada konteks yang berbeda, kita
perlu mengartikan ulang Firman tersebut sesuai konteks
yang ada, dengan tanpa mengubah maksud utamanya!
Nah, pertanyaannya, apakah ‘maksud utama’ nasihat tersebut
untuk saling menasihati dapat terwakili dengan hanya
menonton TV? Menurut pemahaman saya tidak! Bahkan berdoa
bersama lewat telpon yang masih saya artikan sebagai
sebuah persekutuan tetap mempunyai perbedaan dengan kalau
kita bisa berjumpa langsung. Jadi sekali lagi, acara TV
tidak bisa menggantikan ibadah hari minggu kita seperti
yang biasa kita lakukan!
Pertanyaan anda yang lain adalah, “Apakah pengampunan dan
berkat yang kita terima sama, antara nonton TV atau
mengikuti ibadah langsung di gereja?”
Saya mengasumsikan bahwa yang anda maksud dengan
‘pengampunan dan berkat’ adalah pengampunan dan berkat
yang Tuhan berikan kepada manusia. Bila asumsi saya ini
benar, maka jawaban saya adalah: sama! Karena pengampunan
dan berkat yang Tuhan berikan itu memang tidak berhubungan
dengan apakah kita beribadah langsung di gereja atau hanya
nonton TV saja. Pengampunan dan berkat Tuhan itu kita
terima karena Allah memang mau mengampuni dan memberkati
kita lewat pengorbanan Putera-Nya di kayu salib. Itu
adalah anugerah Allah, bukan balasan Allah atas apa yang
kita lakukan!
Tetapi masa sih, kalau anda sudah merasakan pengampunan
dan berkat Tuhan, anda mau menggantikan ibadah minggu
dengan hanya nonton TV? Kecuali anda ada di tempat yang
tidak ada gereja, atau anda sedang sakit!
Akhirnya memang yang harus kita uji terus adalah motivasi
kita! Apakah saya hanya nonton TV karena keadaan yang
memaksa saya, atau sebenarnya kita malas ke gereja lalu
mencari alasan teologis untuk membenarkan kemalasan kita! |