Media Mall
13 Juni 2008
Yesus Tidak Bangkit? Menyingkap Rekayasa Yesus Historis dan Makam Talpiot
Adji A. Sutama
Pada 29 Maret 2008 Komisi Perpustakaan GKI Pondok Indah bekerja sama dengan BPK Gunung Mulia menggelar acara bedah buku bertajuk “Yesus Tidak Bangkit? Menyingkap Rekayasa Yesus Historis dan Makam Talpiot karya Adji A. Sutama, yang berlangsung di ruang Korintus GKI Pondok Indah. Acara bedah buku ini digelar selama kurang-lebih 3,5 jam (09.00-12.30) dengan model panel diskusi yang dimoderasi oleh Steve Gaspersz (editor BPK Gunung Mulia). Para partisipan diskusi yang hadir sekitar 125 orang. Acara diawali dengan doa oleh Pdt. Purboyo Susilaradeya dan puji-pujian dengan iringan musik Upcoming band.

Adji Sutama, penulis buku, diberikan kesempatan pertama untuk mengulas isi bukunya. Selama 45 menit lebih Adji menguraikan beberapa pokok pemikiran yang membingkai isi bukunya itu bab demi bab dengan menggunakan in-focus. Selain itu, Adji juga menayangkan beberapa slide mengenai penemuan makam di Talpiot Yerusalem, yang sempat menjadi isu kontroversial karena kemudian diangkat oleh Simcha Jacobovici ke layar film “The Lost Tomb of Jesus”. Foto-foto itu diperoleh dari beberapa situs internet namun tidak dapat ditampilkan dalam buku berkaitan dengan masalah copyright, yang tentunya akan memakan waktu lebih lama.

Yang menarik ialah, Adji Sutama juga melakukan kritik terhadap pemahaman para teolog Yesus Historis, salah satunya adalah Pdt. Dr. Ioanes Rakhmat. Ioanes Rakhmat diakuinya sebagai teman semasa studi teologi dan juga teman dalam berdebat. Ada beberapa hal yang dia setuju dengan pemikiran Ioanes Rakhmat, tetapi apa yang tertuang dalam beberapa artikel Ioanes Rakhmat di media massa beberapa waktu lalu tidak dapat diterima oleh Adji. Adji sendiri mengatakan dia menunggu tanggapan kritis Ioanes Rakhmat dalam bentuk buku atas apa yang sudah dia kemukakan dalam buku “Yesus Tidak Bangkit?”

Pada bagian akhir presentasinya, Adji mengajukan sejumlah pertanyaan yang mencuat dari selama proses penulisan bukunya ini. Salah satunya ialah bagaimana relasi “iman” dan “rasio”. Adji sendiri tidak memberikan suatu kesimpulan karena baginya buku hanyalah sebentuk proses pencariannya yang belum selesai dan akan terus berkembang.

Sesi kedua dilanjutkan dengan mendengarkan catatan dan tanggapan kritis Romo Deshi Ramadhani yang saat ini mengabdikan dirinya sebagai pengajar di Driyarkara School of Philosophy. Romo Deshi secara garis besar memberikan apresiasi atas hasil tulisan Adji yang sangat diperlukan bagi jemaat, khususnya jemaat yang masih muda. Romo Deshi mengkhawatirkan iman anak-anak muda menjadi goyah dengan terbitnya buku-buku semacam Davinci Codes. Dengan terbitnya buku “Yesus Tidak Bangkit?”, jemaat dapat menjelaskan dan meyakinkan anak-anak muda atau mereka yang tidak seiman tentang Kebangkitan Yesus.

Sesi diskusi juga berlangsung hangat dengan tanggapan dari peserta. Sebagian besar mengawali komentar dengan menyatakan bahwa iman yang kuat tidak akan menggoyahkan pemahaman tentang kebangkitan Yesus. Pengucapan Iman Rasuli setiap kebaktian hari Minggu merupakan pernyataan kepercayaan akan kebangkitan Yesus yang tidak perlu diragukan kebenarannya.

Jemaat menilai bahwa penerbitan buku-buku seperti ini membantu warga gereja memahami isu-isu yang membahas persoalan kristologis (ajaran tentang Yesus) dan memberikan pemahaman serta memperkuat iman. Ada pula yang memberikan tanggapan kritis mengenai beberapa hal yang tidak mereka pahami dalam uraian Adji. Namun demikian, hampir semua mereka merasa puas dengan acara bedah buku ini dan berharap bahwa kegiatan-kegiatan seperti ini makin digiatkan dalam konteks kejemaatan sehingga gairah membaca buku “berbobot” warga gereja makin ditingkatkan dan pemahaman iman Kristen mereka makin diperdalam. Acara bedah buku siang itu diakhiri dengan sambutan singkat dan doa penutup oleh Pnt. Hari Santoso. (ef)
    Narasumber:
    Adji A. Sutama (Penulis)

    Penanggap:
    Romo Deshi Ramadhani

    Moderator:
    Steve Gaspersz, (Editor BPK Gunung Mulia)
Rekaman (kaset) acara ini dapat dipinjam di Perpustakaan GKI Pondok Indah pada hari Minggu (pkl 8.00-12.00) atau Selasa (pkl 10.00- 14.00)


Resensi:

Pada 26 Februari 2007 Discovery Channel menayangkan film dokumenter The Lost Tomb of Jesus karya penulis/sutradara Simcha Jacobovici dan produser James Cameron tentang adanya makam Yesus Kristus dan keluarganya. Sepuluh peti mati (osuari) yang ditayangkan dalam film itu sebetulnya ditemukan 27 tahun lalu di Talpiot, Yerusalem, sebelum menjalani banyak pengecekan. Enam dari 10 osuari diklaim berisi tulang-belulang Yesus, Bunda Maria, Maria Magdalena, Matius, Josa (Yusuf saudara Yesus) dan Judah (kemungkinan anak Yesus).

Hasil penemuan makam Talpiot itu kemudian dimanfaatkan oleh sejumlah pakar Yesus historis untuk membuktikan bahwa Yesus sesungguhnya adalah manusia biasa yang pernah hidup dalam sejarah, yang berbeda sama sekali dari apa yang diyakini secara imaniah oleh kalangan umat Kristen. Salah seorang yang memanfaatkan hasil penemuan makam tersebut adalah James D. Tabor yang menulis buku Dinasti Yesus.

Dinasti Yesus adalah rekonstruksi James Tabor mengenai “Sejarah Tersembunyi Yesus, Keluarga Kerajaan-Nya dan Kelahiran Kekristenan” (subjudul). Yesus historis yang direkonstruksi James Tabor sangat berbeda dibandingkan dengan gambaran Kekristenan mengenai “Yesus”. Yesus historis di sini adalah Yesus yang sepenuhnya beragama Yahudi, taat kepada Taurat dan mengajarkan ajaran Yahudi. Ia sudah mati, dimakamkan dua kali dan tidak bangkit dari antara orang mati.

Dalam buku ini, Adji Sutama (AS) berupaya memberikan tanggapan kritis terhadap argumentasi James Tabor dalam bukunya Dinasti Yesus. Pembedahan kritis AS terhadap Dinasti Yesus dilakukannya pada bab 1 - bab yang cukup tebal dengan 152 halaman - yang dimulai dengan sinopsis Dinasti Yesus. Pembedahan kritis selanjutnya dilakukan dalam tiga tahap.

Tahap pertama, kritik difokuskan pada harmonisasi James Tabor atas teks yang digunakannya untuk merekonstruksi Dinasti Yesus - dinasti Yahudi yang beriman Yahudi atau beragama Yahudi (Yudaisme) - terutama para tokohnya. Kritik tahap kedua ditujukan pada konteks yang lebih utuh, yaitu pada masing-masing teks yang digunakan Tabor.

Pada tahap ketiga, kritik lebih meluas pada keseluruhan pemikiran Tabor dan rekonstruksi Dinasti Yesusnya. Pada tahap terakhir ini, AS menunjukkan “subjektivisme dan retorika Tabor” yang tampak “dalam inkonsistensi metode dan argumennya” (hlm. 118). Inilah yang disebut harmonisasi, yaitu “apa yang tidak dikatakan di dalam teks justru itu yang dikembangkan menjadi kemungkinan, lalu ditambah dan diharmonisasikan dengan kemungkinan lain, ditambah kemungkinan lain dan ditambah terus sehingga akhirnya memberi kesan kepastian atau kebenaran yang pasti, yang sesuai dengan pendapatnya”.

Rekonstruksi Yesus historis yang sepenuhnya Yahudi dilihat AS sebagai sesuatu yang sah-sah saja. Masalahnya ialah ketika Tabor memaksakan pendapatnya menjadi semacam ideologi, tujuan menghalalkan cara. “Ia tidak peduli pada hermeneutik dan metode penafsiran yang dapat dipertanggungjawabkan”.Tabor tidak hanya memilih-milih teks PB yang dinilai mendukung pendapatnya, tetapi juga merekayasanya sehingga menjadi teks baru, “teks-historis”-nya. AS juga memperlihatkan inkonsistensi Tabor mengenai kebangkitan orang mati, yang - dalam hal ini kebangkitan Yesus - dianggap oleh Tabor sebagai ide hasil rekayasa Paulus.

Menurut AS, interpretasi Tabor dalam bukunya itu disebabkan karena kesalahan hermeneutik, suatu kesalahan dalam memahami dinamika kompleks dari komunikasi tekstual. Oleh karena itu, pada bab 2 AS membangun kerangka tafsir dengan pendekatan hermeneutik Kritik Naratif. Dalam komunikasi tekstual terdapat tiga unsur dasar: penulis, teks dan pembaca. Penulis dan pembaca hidup di dunia-nyata sehingga mereka dapat disebut penulis-nyata dan pembaca-nyata. Namun, di dalam teks Injil tidak ada penulis-nyata dan pembaca-nyata. Yang ada hanya penulis-imajiner dan pembaca-imajiner. Keduanya adalah hasil konstruksi penulis-nyata sekaligus rekonstruksi dari pembaca-nyata. Mengatakan bahwa dalam cerita Injil tidak ada penulis-nyata dan pembaca-nyata perlu dipahami sebagai suatu pembedaan atau pemilahan metodologis.

Isi teks Injil adalah kesaksian iman jemaat awal mengenai apa yang terjadi dan yang telah dipercaya sebagai tindakan Allah di dalam sejarah kehidupan mereka. Bentuk atau genre sastranya adalah cerita (story). Dunia-cerita Injil dapat dibedakan dari dunia-nyata jemaat awal, karena dunia-cerita adalah hasil konstruksi penulis-nyata sekaligus hasil rekonstruksi pembaca-nyata. Karena pembaca ikut merekonstruksi dan “membaca adalah menulis-ulang” maka dunia-cerita selalu berubah.

Dunia-cerita memang dapat dibedakan, tetapi tidak dapat dipisahkan dari dunia-nyata. Sebab ketika mengonstruksi dunia-cerita itu, penulis-nyata juga “membawa masuk” dunia-nyata sebagaimana dialaminya secara historis dan eksistensial. Juga, ketika merekonstruksi dunia-cerita itu pembaca-nyata “membawa masuk” dunia-nyatanya sendiri. AS kemudian menempatkan “kebangkitan Yesus” ke dalam kerangka hermeneutik tersebut, sehingga terbentuk rekonstruksi sebagai berikut: [1] ada peristiwa historis: Yesus bangkit. Tidak ada saksi mata atas peristiwa ini; [2] ada peristiwa penampakan dari Yesus-yang-sudah-bangkit (Yesus-kebangkitan) yang disaksikan oleh jemaat awal; [3] peristiwa tanggapan atas penampakan Yesus-kebangkitan. Pengalaman perjumpaan dengan Yesus-kebangkitan yang menampakkan diri itu diimani jemaat awal sebagai tindakan Allah; [4] simbolisasi atau pengungkapan iman di dalam bentuk-bentuk bahasa komunikatif; [5] teologi, penjelasan atas apa yang sudah diimani dan yang sudah diungkapkan dalam bentuk-bentuk kebahasaan. Iman yang mencari pemahaman (hlm. 157-158).

Untuk memahami makna tubuh Yesus-kebangkitan, pada bab 3 AS memberikan ulasan dengan menggunakan titik berangkat atau asumsi iman, yang kemudian diikuti oleh penalaran akal untuk memperoleh pemahaman atas apa yang telah diimani. Prinsipnya adalah mengimani untuk dapat memahami dan bukan memahami untuk dapat mengimani (faith seeking understanding). Penjelasannya mengenai “tubuh-kebangkitan” dibagi ke dalam dua perspektif, yang disebut paradoks positif dan paradoks negatif (hlm. 166-170). Pada bagian selanjutnya dilakukan penelusuran atas pendapat beberapa teolog mengenai tubuh-kebangkitan, seperti James D. Tabor, Ioanes Rakhmat, Andar Ismail, F.O. van Gennep dan para teolog Injili.

Penemuan dan penelitian makam Talpiot dan isu makam keluarga Yesus menjadi perhatian AS dalam bab 4. AS menolak dugaan bahwa di balik isu makam Talpiot terdapat sentimen Yahudi terhadap Kekristenan, atau isu itu sengaja diarahkan untuk merusak sejumlah ajaran Kristen. Menurutnya, dugaan itu bertentangan dengan fakta bahwa ada banyak pakar dari berbagai latar belakang keagamaan, bahkan orang Yahudi sendiri, yang menentang kesimpulan bahwa makam Talpiot adalah makam keluarga Yesus. Untuk lebih jelas, AS menampilkan profil enam dari sepuluh osuari yang ditemukan pada makam Talpiot yang diekskavasi oleh Israel Antiquities Authority pada 1980 (hlm. 199-203).

Ulasan dilanjutkan dengan menampilkan alternatif dari Stephen Pfann, epigrafer dari University of Holy Land. Pfann terutama mengkritik film Jacobovici yang menganggap makam Talpiot sebagai makam keluarga Yesus. Menurut Pfann, makam itu adalah makam keluarga Yahudi pada umumnya. AS kemudian mengeksplorasi sejumlah data penelitian menyangkut nama-nama, cara penulisan nama, simbol-simbol, perhitungan statistik ala Feuerverger dan tes DNA. Kritik AS pada bagian ini ditujukan kepada sejumlah adegan “janggal” yang muncul dalam film The Lost Tomb of Jesus karya Simcha Jacobovici dengan produser James Cameron. Kejanggalan ini dibedah agar tidak membingungkan (atau menyesatkan?) publik karena Jacobovici menyebut filmnya sebagai film dokumenter.

Hubungan film ini dengan James Tabor nampak karena Tabor tampil berulang-ulang di layar film sebagai teolog yang menjelaskan sekaligus membela pendapat film ini (bahwa makam Talpiot adalah makam keluarga Yesus Nazaret, termasuk makam Yesus). Pendapat film ini kurang lebih sama dengan pendapat Tabor: Yesus historis tidak bangkit melainkan dimakamkan dua kali.

Secara keseluruhan buku merupakan sebuah ulasan yang padat dengan data (dari berbagai sumber) dan interpretasi terhadap data, yang kemudian ditautkan secara kritis dalam konteks keberimanan masa kini. Dengan membaca buku ini, kita dihadapkan dengan suatu kenyataan yang tak terhindari bahwa “beriman” tidak berlangsung dalam suatu ruang hampa yang bebas nilai.

Perkembangan media komunikasi memberikan kemungkinan yang sangat luas untuk memahami secara kritis aspek-aspek utama dan fundamental dalam iman Kristen, yang dengannya iman bertumbuh mendewasa dalam konteks yang menantang, bukan meninabobokan. Buku ini memberikan sebuah cara pandang yang cerdas dalam menyikapi isu-isu sensasional berkaitan dengan iman Kristen, tanpa harus terjebak dalam kejumudan yang mewujud dalam sikap anti-kemajemukan dan kekerasan-rohani. Apalagi jika sampai harus memberangus karya orang lain tanpa membangun sebuah jembatan dialog-dialektis. Semoga.

Resensi Oleh:
Steve Gaspersz
editor BPK Gunung Mulia, Jakarta.
katabuku.wordpress.com

 
>> Arsip

   

Gereja Kristen Indonesia Pondok Indah @ 2003