Pada 29 Maret 2008 Komisi Perpustakaan GKI Pondok Indah
bekerja sama dengan BPK Gunung Mulia menggelar acara
bedah buku bertajuk “Yesus Tidak Bangkit? Menyingkap
Rekayasa Yesus Historis dan Makam Talpiot karya Adji A.
Sutama, yang berlangsung di ruang Korintus GKI Pondok
Indah. Acara bedah buku ini digelar selama kurang-lebih
3,5 jam (09.00-12.30) dengan model panel diskusi yang
dimoderasi oleh Steve Gaspersz (editor BPK Gunung Mulia).
Para partisipan diskusi yang hadir sekitar 125 orang.
Acara diawali dengan doa oleh Pdt. Purboyo Susilaradeya
dan puji-pujian dengan iringan musik Upcoming band.
Adji Sutama, penulis buku, diberikan kesempatan pertama
untuk mengulas isi bukunya. Selama 45 menit lebih Adji
menguraikan beberapa pokok pemikiran yang membingkai isi
bukunya itu bab demi bab dengan menggunakan in-focus.
Selain itu, Adji juga menayangkan beberapa slide
mengenai penemuan makam di Talpiot Yerusalem, yang
sempat menjadi isu kontroversial karena kemudian
diangkat oleh Simcha Jacobovici ke layar film “The Lost
Tomb of Jesus”. Foto-foto itu diperoleh dari beberapa
situs internet namun tidak dapat ditampilkan dalam buku
berkaitan dengan masalah copyright, yang tentunya akan
memakan waktu lebih lama.
Yang menarik ialah, Adji Sutama juga melakukan kritik
terhadap pemahaman para teolog Yesus Historis, salah
satunya adalah Pdt. Dr. Ioanes Rakhmat. Ioanes Rakhmat
diakuinya sebagai teman semasa studi teologi dan juga
teman dalam berdebat. Ada beberapa hal yang dia setuju
dengan pemikiran Ioanes Rakhmat, tetapi apa yang
tertuang dalam beberapa artikel Ioanes Rakhmat di media
massa beberapa waktu lalu tidak dapat diterima oleh Adji.
Adji sendiri mengatakan dia menunggu tanggapan kritis
Ioanes Rakhmat dalam bentuk buku atas apa yang sudah dia
kemukakan dalam buku “Yesus Tidak Bangkit?”
Pada bagian akhir presentasinya, Adji mengajukan
sejumlah pertanyaan yang mencuat dari selama proses
penulisan bukunya ini. Salah satunya ialah bagaimana
relasi “iman” dan “rasio”. Adji sendiri tidak memberikan
suatu kesimpulan karena baginya buku hanyalah sebentuk
proses pencariannya yang belum selesai dan akan terus
berkembang.
Sesi kedua dilanjutkan dengan mendengarkan catatan dan
tanggapan kritis Romo Deshi Ramadhani yang saat ini
mengabdikan dirinya sebagai pengajar di Driyarkara
School of Philosophy. Romo Deshi secara garis besar
memberikan apresiasi atas hasil tulisan Adji yang sangat
diperlukan bagi jemaat, khususnya jemaat yang masih muda.
Romo Deshi mengkhawatirkan iman anak-anak muda menjadi
goyah dengan terbitnya buku-buku semacam Davinci Codes.
Dengan terbitnya buku “Yesus Tidak Bangkit?”, jemaat
dapat menjelaskan dan meyakinkan anak-anak muda atau
mereka yang tidak seiman tentang Kebangkitan Yesus.
Sesi diskusi juga berlangsung hangat dengan tanggapan
dari peserta. Sebagian besar mengawali komentar dengan
menyatakan bahwa iman yang kuat tidak akan menggoyahkan
pemahaman tentang kebangkitan Yesus. Pengucapan Iman
Rasuli setiap kebaktian hari Minggu merupakan pernyataan
kepercayaan akan kebangkitan Yesus yang tidak perlu
diragukan kebenarannya.
Jemaat menilai bahwa penerbitan buku-buku seperti ini
membantu warga gereja memahami isu-isu yang membahas
persoalan kristologis (ajaran tentang Yesus) dan
memberikan pemahaman serta memperkuat iman. Ada pula
yang memberikan tanggapan kritis mengenai beberapa hal
yang tidak mereka pahami dalam uraian Adji. Namun
demikian, hampir semua mereka merasa puas dengan acara
bedah buku ini dan berharap bahwa kegiatan-kegiatan
seperti ini makin digiatkan dalam konteks kejemaatan
sehingga gairah membaca buku “berbobot” warga gereja
makin ditingkatkan dan pemahaman iman Kristen mereka
makin diperdalam. Acara bedah buku siang itu diakhiri
dengan sambutan singkat dan doa penutup oleh Pnt. Hari
Santoso. (ef)
Narasumber:
Adji A. Sutama (Penulis)
Penanggap:
Romo Deshi Ramadhani
Moderator:
Steve Gaspersz, (Editor BPK Gunung Mulia)
Rekaman (kaset) acara ini dapat dipinjam di Perpustakaan
GKI Pondok Indah pada hari
Minggu (pkl 8.00-12.00)
atau Selasa (pkl 10.00- 14.00)
Resensi:
Pada 26 Februari 2007 Discovery Channel menayangkan film
dokumenter The Lost Tomb of Jesus karya penulis/sutradara
Simcha Jacobovici dan produser James Cameron tentang
adanya makam Yesus Kristus dan keluarganya. Sepuluh peti
mati (osuari) yang ditayangkan dalam film itu sebetulnya
ditemukan 27 tahun lalu di Talpiot, Yerusalem, sebelum
menjalani banyak pengecekan. Enam dari 10 osuari diklaim
berisi tulang-belulang Yesus, Bunda Maria, Maria
Magdalena, Matius, Josa (Yusuf saudara Yesus) dan Judah
(kemungkinan anak Yesus).
Hasil penemuan makam Talpiot itu kemudian dimanfaatkan
oleh sejumlah pakar Yesus historis untuk membuktikan
bahwa Yesus sesungguhnya adalah manusia biasa yang
pernah hidup dalam sejarah, yang berbeda sama sekali
dari apa yang diyakini secara imaniah oleh kalangan umat
Kristen. Salah seorang yang memanfaatkan hasil penemuan
makam tersebut adalah James D. Tabor yang menulis buku
Dinasti Yesus.
Dinasti Yesus adalah rekonstruksi James Tabor mengenai
“Sejarah Tersembunyi Yesus, Keluarga Kerajaan-Nya dan
Kelahiran Kekristenan” (subjudul). Yesus historis yang
direkonstruksi James Tabor sangat berbeda dibandingkan
dengan gambaran Kekristenan mengenai “Yesus”. Yesus
historis di sini adalah Yesus yang sepenuhnya beragama
Yahudi, taat kepada Taurat dan mengajarkan ajaran Yahudi.
Ia sudah mati, dimakamkan dua kali dan tidak bangkit
dari antara orang mati.
Dalam buku ini, Adji Sutama (AS) berupaya memberikan
tanggapan kritis terhadap argumentasi James Tabor dalam
bukunya Dinasti Yesus. Pembedahan kritis AS terhadap
Dinasti Yesus dilakukannya pada bab 1 - bab yang cukup
tebal dengan 152 halaman - yang dimulai dengan sinopsis
Dinasti Yesus. Pembedahan kritis selanjutnya dilakukan
dalam tiga tahap.
Tahap pertama, kritik difokuskan pada harmonisasi James
Tabor atas teks yang digunakannya untuk merekonstruksi
Dinasti Yesus - dinasti Yahudi yang beriman Yahudi atau
beragama Yahudi (Yudaisme) - terutama para tokohnya.
Kritik tahap kedua ditujukan pada konteks yang lebih
utuh, yaitu pada masing-masing teks yang digunakan
Tabor.
Pada tahap ketiga, kritik lebih meluas pada keseluruhan
pemikiran Tabor dan rekonstruksi Dinasti Yesusnya. Pada
tahap terakhir ini, AS menunjukkan “subjektivisme dan
retorika Tabor” yang tampak “dalam inkonsistensi metode
dan argumennya” (hlm. 118). Inilah yang disebut
harmonisasi, yaitu “apa yang tidak dikatakan di dalam
teks justru itu yang dikembangkan menjadi kemungkinan,
lalu ditambah dan diharmonisasikan dengan kemungkinan
lain, ditambah kemungkinan lain dan ditambah terus
sehingga akhirnya memberi kesan kepastian atau kebenaran
yang pasti, yang sesuai dengan pendapatnya”.
Rekonstruksi Yesus historis yang sepenuhnya Yahudi
dilihat AS sebagai sesuatu yang sah-sah saja. Masalahnya
ialah ketika Tabor memaksakan pendapatnya menjadi
semacam ideologi, tujuan menghalalkan cara. “Ia tidak
peduli pada hermeneutik dan metode penafsiran yang dapat
dipertanggungjawabkan”.Tabor tidak hanya memilih-milih
teks PB yang dinilai mendukung pendapatnya, tetapi juga
merekayasanya sehingga menjadi teks baru, “teks-historis”-nya.
AS juga memperlihatkan inkonsistensi Tabor mengenai
kebangkitan orang mati, yang - dalam hal ini kebangkitan
Yesus - dianggap oleh Tabor sebagai ide hasil rekayasa
Paulus.
Menurut AS, interpretasi Tabor dalam bukunya itu
disebabkan karena kesalahan hermeneutik, suatu kesalahan
dalam memahami dinamika kompleks dari komunikasi
tekstual. Oleh karena itu, pada bab 2 AS membangun
kerangka tafsir dengan pendekatan hermeneutik Kritik
Naratif. Dalam komunikasi tekstual terdapat tiga unsur
dasar: penulis, teks dan pembaca. Penulis dan pembaca
hidup di dunia-nyata sehingga mereka dapat disebut
penulis-nyata dan pembaca-nyata. Namun, di dalam teks
Injil tidak ada penulis-nyata dan pembaca-nyata. Yang
ada hanya penulis-imajiner dan pembaca-imajiner.
Keduanya adalah hasil konstruksi penulis-nyata sekaligus
rekonstruksi dari pembaca-nyata. Mengatakan bahwa dalam
cerita Injil tidak ada penulis-nyata dan pembaca-nyata
perlu dipahami sebagai suatu pembedaan atau pemilahan
metodologis.
Isi teks Injil adalah kesaksian iman jemaat awal
mengenai apa yang terjadi dan yang telah dipercaya
sebagai tindakan Allah di dalam sejarah kehidupan mereka.
Bentuk atau genre sastranya adalah cerita (story).
Dunia-cerita Injil dapat dibedakan dari dunia-nyata
jemaat awal, karena dunia-cerita adalah hasil konstruksi
penulis-nyata sekaligus hasil rekonstruksi pembaca-nyata.
Karena pembaca ikut merekonstruksi dan “membaca adalah
menulis-ulang” maka dunia-cerita selalu berubah.
Dunia-cerita memang dapat dibedakan, tetapi tidak dapat
dipisahkan dari dunia-nyata. Sebab ketika mengonstruksi
dunia-cerita itu, penulis-nyata juga “membawa masuk”
dunia-nyata sebagaimana dialaminya secara historis dan
eksistensial. Juga, ketika merekonstruksi dunia-cerita
itu pembaca-nyata “membawa masuk” dunia-nyatanya sendiri.
AS kemudian menempatkan “kebangkitan Yesus” ke dalam
kerangka hermeneutik tersebut, sehingga terbentuk
rekonstruksi sebagai berikut: [1] ada peristiwa historis:
Yesus bangkit. Tidak ada saksi mata atas peristiwa ini;
[2] ada peristiwa penampakan dari
Yesus-yang-sudah-bangkit (Yesus-kebangkitan) yang
disaksikan oleh jemaat awal; [3] peristiwa tanggapan
atas penampakan Yesus-kebangkitan. Pengalaman perjumpaan
dengan Yesus-kebangkitan yang menampakkan diri itu
diimani jemaat awal sebagai tindakan Allah; [4]
simbolisasi atau pengungkapan iman di dalam
bentuk-bentuk bahasa komunikatif; [5] teologi,
penjelasan atas apa yang sudah diimani dan yang sudah
diungkapkan dalam bentuk-bentuk kebahasaan. Iman yang
mencari pemahaman (hlm. 157-158).
Untuk memahami makna tubuh Yesus-kebangkitan, pada bab 3
AS memberikan ulasan dengan menggunakan titik berangkat
atau asumsi iman, yang kemudian diikuti oleh penalaran
akal untuk memperoleh pemahaman atas apa yang telah
diimani. Prinsipnya adalah mengimani untuk dapat
memahami dan bukan memahami untuk dapat mengimani (faith
seeking understanding). Penjelasannya mengenai
“tubuh-kebangkitan” dibagi ke dalam dua perspektif, yang
disebut paradoks positif dan paradoks negatif (hlm.
166-170). Pada bagian selanjutnya dilakukan penelusuran
atas pendapat beberapa teolog mengenai tubuh-kebangkitan,
seperti James D. Tabor, Ioanes Rakhmat, Andar Ismail,
F.O. van Gennep dan para teolog Injili.
Penemuan dan penelitian makam Talpiot dan isu makam
keluarga Yesus menjadi perhatian AS dalam bab 4. AS
menolak dugaan bahwa di balik isu makam Talpiot terdapat
sentimen Yahudi terhadap Kekristenan, atau isu itu
sengaja diarahkan untuk merusak sejumlah ajaran Kristen.
Menurutnya, dugaan itu bertentangan dengan fakta bahwa
ada banyak pakar dari berbagai latar belakang keagamaan,
bahkan orang Yahudi sendiri, yang menentang kesimpulan
bahwa makam Talpiot adalah makam keluarga Yesus. Untuk
lebih jelas, AS menampilkan profil enam dari sepuluh
osuari yang ditemukan pada makam Talpiot yang
diekskavasi oleh Israel Antiquities Authority pada 1980
(hlm. 199-203).
Ulasan dilanjutkan dengan menampilkan alternatif dari
Stephen Pfann, epigrafer dari University of Holy Land.
Pfann terutama mengkritik film Jacobovici yang
menganggap makam Talpiot sebagai makam keluarga Yesus.
Menurut Pfann, makam itu adalah makam keluarga Yahudi
pada umumnya. AS kemudian mengeksplorasi sejumlah data
penelitian menyangkut nama-nama, cara penulisan nama,
simbol-simbol, perhitungan statistik ala Feuerverger dan
tes DNA. Kritik AS pada bagian ini ditujukan kepada
sejumlah adegan “janggal” yang muncul dalam film The
Lost Tomb of Jesus karya Simcha Jacobovici dengan
produser James Cameron. Kejanggalan ini dibedah agar
tidak membingungkan (atau menyesatkan?) publik karena
Jacobovici menyebut filmnya sebagai film dokumenter.
Hubungan film ini dengan James Tabor nampak karena Tabor
tampil berulang-ulang di layar film sebagai teolog yang
menjelaskan sekaligus membela pendapat film ini (bahwa
makam Talpiot adalah makam keluarga Yesus Nazaret,
termasuk makam Yesus). Pendapat film ini kurang lebih
sama dengan pendapat Tabor: Yesus historis tidak bangkit
melainkan dimakamkan dua kali.
Secara keseluruhan buku merupakan sebuah ulasan yang
padat dengan data (dari berbagai sumber) dan
interpretasi terhadap data, yang kemudian ditautkan
secara kritis dalam konteks keberimanan masa kini.
Dengan membaca buku ini, kita dihadapkan dengan suatu
kenyataan yang tak terhindari bahwa “beriman” tidak
berlangsung dalam suatu ruang hampa yang bebas nilai.
Perkembangan media komunikasi memberikan kemungkinan
yang sangat luas untuk memahami secara kritis
aspek-aspek utama dan fundamental dalam iman Kristen,
yang dengannya iman bertumbuh mendewasa dalam konteks
yang menantang, bukan meninabobokan. Buku ini memberikan
sebuah cara pandang yang cerdas dalam menyikapi isu-isu
sensasional berkaitan dengan iman Kristen, tanpa harus
terjebak dalam kejumudan yang mewujud dalam sikap
anti-kemajemukan dan kekerasan-rohani. Apalagi jika
sampai harus memberangus karya orang lain tanpa
membangun sebuah jembatan dialog-dialektis. Semoga.
Resensi Oleh: Steve Gaspersz
editor BPK Gunung Mulia, Jakarta.
katabuku.wordpress.com |