|
Navigasi |
|
|
|
|
|
Warta Jemaat |
|
|
|
|
Layanan Jemaat |
|
|
|
|
Kegiatan Ouikumenis
|
|
|
| |
|
|
|
|
 |
|
Media Mall |
|
13 Mei 2008
The Living Church John Stott |
|
|
Subjudul: Menanggapi Pesan Kitab Suci Yang Bersifat Tetap
Dalam Budaya Yang Berubah; Penulis: John Stott; Penerbit:
BPK Gunung Mulia 2008
Di
sepanjang sejarahnya, gereja bertumbuh dan berkembang
dalam konteks rielnya. Kesulitan dan tantangan,
pertumbuhan dan penyebaran, pembangunan jemaat dan
perpecahan internal selalu menjadi bagian dari narasi
eklesiologis pada tanah tempat “gereja” hidup dan pada
waktu ketika “gereja” berproses.
Apa yang mencolok saat ini ialah kritik yang keras
terhadap kevakuman gereja dalam membangun dirinya secara
kreatif dalam tantangan zaman yang terus berubah. John
Stott mencatat bahwa meledaknya buku-buku eklesiologis
kontemporer saat ini lebih didorong oleh perasaan bahwa
gereja makin lama makin tak seirama dengan budaya
kontemporer. Jika gereja tidak mampu mengimbangi perubahan
zaman, gereja [sedang] menghadapi kepunahannya.
Tendensi postmodernisme - yang dipahami sebagai protes
melawan gerakan intelektual modernisme - oleh Stott
dilihat telah memberi kesempatan-kesempatan baru bagi
Injil. Namun demikian, tetap dibutuhkan
pemilahan-pemilahan tertentu.
Bagi John Stott, gereja-gereja, baik yang tradisional
maupun yang sedang “bangkit”, perlu mendengarkan satu sama
lain secara lebih baik, untuk belajar dari yang lain. Yang
lama harus mengenali bahwa banyak dari yang sekerang
dikenal sebagai tradisional dulunya juga bersifat
revolusioner dan bahkan “sedang bangkit”. Karena itu mesti
terbuka untuk cara berpikir kreatif masa kini. Yang
terkemudian harus waspada terhadap sikap menyukai kebaruan
demi kebaruan itu sendiri. Kita sendiri perlu berusaha
untuk mengurangi rasa curiga, mengurangi rasa benci satu
terhadap yang lain dan lebih menghormati serta terbuka.
Berhadapan dengan kenyataan itu, menurut John Stott, kita
memerlukan gereja yang lebih “konservatif-radikal”.
“Konservatif” dalam arti memelihara (conserve) segala
sesuatu yang dituntut oleh Alkitab, tetapi “radikal” dalam
kaitan dengan kombinasi antara tradisi dan kesepakatan
yang disebut budaya. Oleh karena itu, melalui bukunya ini
John Stott mengulas sejumlah ciri dari gereja yang otentik
atau gereja yang hidup.
Stott
mengawali uraiannya dengan meletakkan pemahaman mengenai
visi Allah untuk Gereja-Nya. Stott melihat bahwa orang
Kristen sebenarnya mempunyai dua komitmen, yakni komitmen
kepada Kristus dan komitmen kepada tubuh Kristus (gereja),
sehingga orang Kristen tanpa gereja sebenarnya merupakan
anomali. Oleh karena itu, orang Kristen selalu bergerak
secara kreatif dalam dua arah: satu pihak, dipanggil
keluar dari dunia untuk menjadi milik Allah, dan di pihak
lain diutus kembali ke dunia untuk menjadi saksi dan untuk
melayani.
Dalam bagian pertama mengenai visi, Stott menyebutkan
empat pokok sebagai ciri-ciri gereja yang hidup:
- Gereja yang belajar (KPR 2:42) - Orang-orang Kristen
mula-mula tidak mengandaikan bahwa karena mereka telah
menerima Roh Kudus sebagai satu-satunya “guru”, maka
mereka dapat mengesampingkan guru-guru manusia. Mereka
malah bersemangat mendengarkan pengajaran para rasul.
- Gereja yang mengasihi - orang-orang Kristen mula-mula
menunjukkan pola hidup persekutuan yang saling mengasihi.
Secara khusus, mereka mengasihi dan memperhatikan
saudara-saudari yang miskin dan karena itu berbagi
kekayaan dengan mereka.
- Gereja yang beribadah - ibadah gereja perdana bersifat
baik penuh kegembiraan maupun kekhidmatan. Sukacita dan
khidmat harus menjadi ciri ibadah kristiani.
- Gereja yang mengabarkan Injil - gereja perdana
bukanlah komunitas yang hidup di dalam ghetto. Mereka
tidak hanya memikirkan urusan sendiri, tetapi juga
menyebarkan pengajaran kristiani kepada orang lain.
Tindakan tersebut didasarkan pada tindakan pelayanan Yesus
yang menyampaikan pengajaran ke banyak tempat dan kepada
banyak orang, serta mengajak orang lain untuk terlibat
dalam kehidupan persekutuan gereja perdana itu.
Dengan landasan keempat ciri gereja yang hidup itulah John
Stott membedah satu demi satu makna tindakan gereja dalam
perkembangan zaman ini. Semuanya terurai dengan sederhana
namun padat dalam bagian-bagian: ibadah, pemberitaan,
pelayanan, persekutuan, berkhotbah, persembahan, dampak (garam
dan terang).
Melalui
bukunya ini, John Stott mengajak pembaca untuk
merefleksikan kembali makna dari setiap tradisi yang
selama ini telah membentuk wajah gereja. Dengan refleksi
kontemporer tersebut setiap pembaca - dan tentu saja warga
gereja - menemukan kembali spirit untuk bertumbuh dalam
gerejanya sendiri tanpa merasa perlu mencari gereja lain
yang lebih “modern” (kelihatannya). Karena, betapapun,
gereja di sepanjang sejarah selalu merupakan upaya
mengombinasikan secara kreatif aspek-aspek tradisional dan
kontemporer, yang semuanya bermuara pada pertumbuhan
spiritualitas orang-orang Kristen dalam dunia yang berubah
pesat.
Resensi Oleh: Steve Gaspersz
editor BPK Gunung Mulia, Jakarta.
katabuku.wordpress.com |
|
|
|
|
|
>> Arsip
|
|
|
|
|
|