|
Navigasi |
|
|
|
|
|
Warta Jemaat |
|
|
|
|
Layanan Jemaat |
|
|
|
|
Kegiatan Ouikumenis
|
|
|
| |
|
|
|
|
 |
|
Media Mall |
|
25 Maret 2008
Gembalakanlah Gembala-Gembala-Ku Flora Slosson Wuellner |
|
|
Subjudul: Penyembuhan dan Pembaruan Spiritual bagi Para
Pemimpin Kristen; Penulis: Flora Slosson Wuellner;
Penerbit: BPK Gunung Mulia 2007; ISBN: 978-979-687-400-2
Pendeta juga
manusia! Plesetan dari petikan syair lagu rock yang
aslinya “rocker juga manusia” nampaknya tepat untuk
menggambarkan isi buku ini. Buku ini memang berawal dari
kegelisahan seorang pendeta perempuan yang setelah puluhan
tahun melayani jemaatnya tiba-tiba disergap oleh rasa
kekosongan batin mendalam. Kekosongan batin atau
spiritualitas itu mendesaknya untuk mempertanyakan kembali
hakikat seluruh bentuk pelayanan kejemaatan dan juga jati
dirinya sendiri dalam kesibukan-kesibukan pelayanan yang
dilakukannya.
Sejak awal Flora menyadari bahwa untuk menjadi seorang
pendeta dibutuhkan kompetensi tertentu: melayani Allah dan
orang lain, pengetahuan teologi yang cerdas, pengetahuan
tentang Alkitab, keterampilan berkhotbah dan memimpin
kebaktian penuh makna, kemampuan mengorganisasikan dan
memimpin komunitas gerejawi, serta perhatian yang cukup
terhadap keadilan sosial. Namun, dalam proses pelayanannya
dia kemudian mengakui bahwa tak pernah terpikirkan
bagaimana pendeta itu sendiri memperoleh “makanan”,
“dirawat” dan “dibarui”. “Tak seorang pun menunjukkan
bahwa jika seorang gembala tidak diberi makan seperti
domba-dombanya, gembala tersebut akan kelaparan dan
mungkin saja melahap habis domba-domba tersebut” (hlm.
16).
Bertolak dari
pengalaman-pengalamannya sendiri selama menjadi pendeta
jemaat, Flora menggali kembali sumber-sumber spiritualitas
dari cerita-cerita Alkitab untuk menemukan kegairahan baru
dan pembaruan identitas sebagai “gembala”. Kisah-kisah
seputar kebangkitan Yesus memberinya inspirasi untuk
memahami inti spiritualitas kristiani. Menurutnya,
“perjumpaan” - yang mewarnai kisah-kisah tersebut -
merupakan jantung atau inti spiritualitas kristiani (hlm.
29). Hakikat unik Kekristenan tumbuh dalam perjumpaan
dengan hati Allah melalui Yesus sang Kristus. Akan tetapi,
apa itu “Kekristenan”? Flora menunjuk pada perdebatan
apakah Kekristenan itu agama tentang Yesus atau agama dari
Yesus. Untuk konsep yang pertama, Yesus ditempatkan “di
luar”, seorang tokoh sempurna eksternal yang kepada-Nya
kita tunduk. Untuk konsep yang kedua, Yesus ditempatkan
sebagai saudara tua yang ramah, suatu model peran, seorang
guru dan pembimbing. Flora sendiri menawarkan definisinya
sendiri yaitu Kekristenan adalah agama melalui Yesus.
Pilihan ini menawarkan kepada kita ikatan yang hidup,
hubungan dengan Yesus yang hidup, yang melalui-Nya kita
mengalami Allah, diri kita, orang lain dan segenap
kehidupan dengan cara baru dan lebih baik. Memang, lantas
yang jadi persoalan ialah para pemimpin Kristen terlalu
sering menyebut nama Yesus secara profesional sehingga
sulit untuk mengalami pengaruh kekuatan-Nya yang akrab dan
mengagumkan.
Bahkan, nama Yesus kerap diselewengkan hanya untuk
memperkuat otoritas kepemimpinan seorang pendeta atas
jemaatnya. Padahal - merujuk pada kisah Yesus yang
menampakkan diri di tengah-tengah murid - nyata bahwa
kasih Allah datang dengan lemah lembut, namun penuh kuasa.
“Kekuatan yang sejati adalah lawan dari pemaksaan” (hlm.
45). Penyembuhan yang dikerjakan Allah melalui Yesus tidak
menyingkirkan topeng-topeng (penyalahgunaan spiritualitas)
atau mendobrak pintu-pintu. Allah bukan penghancur,
melainkan Roh Pembaru yang bekerja dan berkreasi dari
akar-akar kemanusiaan yang paling dalam. Dalam pemahaman
itulah Flora berbicara mengenai “spiritualitas
inkarnasional” - Yesus tidak muncul di tengah-tengah para
sahabat-Nya sebagai makhluk halus atau hantu, yang
berbicara dengan kata-kata mitis. Yesus datang kepada
mereka sebagai diri-Nya sendiri dengan cara yang dapat
mereka kenal, lihat, peluk, sapa dan makan bersama.
Gambaran yang terbersit ketika mendengar kata “spiritual”
sering adalah suatu keadaan tak bertubuh dan yang secara
mendasar terlepas dari emosi-emosi duniawi. Tetapi
spiritualitas inkarnasional justru secara sadar hendak
memperlakukan tubuh-tubuh fisik bukan sebagai mesin-mesin
impersonal yang mekanis. “Tubuh kita merupakan getaran
manifestasi roh, sama seperti materi adalah bentuk energi
yang dapat ditangkap oleh pancaindra kita” (hlm. 65). Oleh
karena itu, ketika berbagai emosi melanda, kita harus
memperlakukannya dengan penuh hormat. Perasaan dan emosi
itu tidak datang dari luar, tetapi merupakan bagian dari
diri kita, yang perlu kita lihat, dengar, belajar darinya
dan kemudian membawanya kepada tangan dan hati Sang Tabib
sejati.
Mengapa Yesus masih mempunyai luka-luka pada tubuh-Nya
yang telah bangkit? Bagi Flora, luka-luka itu adalah tanda
yang memastikan bahwa Allah yang kekal melalui Yesus tidak
pernah dan tidak akan pernah mengabaikan, meniadakan,
mengecilkan atau menganggap sepele luka-luka manusiawi. Ia
ada di antara kita menanggung luka-luka kita, bahkan dalam
tubuh yang tak bercahaya. “Setiap kata dan tindakan-Nya
memancarkan arti dan hati Allah. Hati Allah menanggung
luka-luka kita. Allah menderita bersama-sama dengan kita”
(hlm. 79). Gereja adalah suatu komunitas yang di dalamnya
diharapkan terjadi penyembuhan. Tragisnya, menurut Flora,
banyak liturgi gereja masih berpusat di sekitar dosa
daripada luka, bahkan sering tidak menyebutkan kondisi
keterlukaan. Tragis pula bahwa banyak gereja tidak
melibatkna kelompok-kelompok pelayanan penyembuhan dan
kelompok doa penyembuhan sebagai sesuatu yang semestinya
dilakukan.
Ulasan yang
sederhana tetapi padat, dengan gaya penulisan bersilang
antara pengalaman dan refleksi alkitabiah (yang juga
didasarkan atas pengalaman kemanusiaan para murid Yesus),
serta refleksi/meditasi pada setiap akhir bab, membuat
buku ini menjadi bacaan yang penting, khususnya bagi para
pendeta. Tetapi tidak hanya bagi pendeta, buku ini juga
layak dibaca oleh anggota-anggota jemaat untuk belajar
menyelami hakikat pelayanan seorang pendeta, dan tentu
saja makin sadar bahwa “sang pendeta” bukanlah “superman”
yang bisa terbang dan mengatasi segala masalah.
Resensi Oleh: Steve Gaspersz
editor BPK Gunung Mulia, Jakarta.
katabuku.wordpress.com |
|
|
|
|
|
>> Arsip
|
|
|
|
|
|