|
Navigasi |
|
|
|
|
|
Warta Jemaat |
|
|
|
|
Layanan Jemaat |
|
|
|
|
Kegiatan Ouikumenis
|
|
|
| |
|
|
|
|
 |
|
Media Mall |
|
5 Maret 2008
Lihatlah Sang Manusia! Suatu Pendekatan pada Etika Kristen Dasar Verne H. Fletcher |
|
|
Spritualitas keagamaan seorang penganut agama tertentu
pada hakikatnya selalu disandarkan pada ajaran-ajaran
utama agamanya. Ajaran-ajaran agama itu sendiri bersumber
pada kekuatan interpretatif yang menghubungkan pemahaman
personal mengenai Tuhan (Ultimate Being) dengan
pengalaman-pengalaman keseharian sebagai manusia, yang
pada gilirannya juga terhubung secara kreatif dengan
“orang-orang lain”. Keberagamaan itu sendiri - yang
dihayati sebagai implementasi nilai-nilai religius -
mewujud dalam bentuk-bentuk simbolik, seperti ritual
ibadah, simbol-simbol, tafsir kitab suci yang
dikorelasikan dengan kenyataan hidup, dan juga etika
beragama.
Setiap agama memiliki sistem etikanya sendiri. Artinya,
dalam sejarah suatu agama para penganutnya selalu mencoba
mengorelasikan tafsir atas kitab suci dengan realitas
kehidupan yang dialaminya. Jadi, sistem etika keagamaan
selalu berada dalam jalur dialogis antara tafsir kitab
suci (yang diyakini sebagai sumber nilai religiositas)
dengan pengalaman keseharian. Dalam arti itu, etika adalah
suatu sistem pemikiran yang kritis dan dinamis, karena
berlangsung dalam kreativitas hermeneutis untuk mencermati
dan menanggapi setiap perubahan yang terjadi pada setiap
zaman.
Dalam buku ini, Verne H. Fletcher mengelaborasi sebuah
sistem etika yang bersumber dari tafsirnya atas Alkitab,
yang menjadi sumber sekaligus fondasi keberimanan umat
Kristen. Namun demikian, Fletcher mengakui bahwa, sebagai
bidang studi, “etika meneliti dan menilai tabiat dan
tingkah laku manusia dari sudut normatif” (hlm. 20).
Dengan kata “penelitian” dan bukan “ajaran”, Fletcher
memaksudkan buku bukan sebagai uraian historis atau ajaran
resmi, melainkan uraian sistematis dan konstruktif.
Didahului dengan bagian Pendahuluan (bab 1), Fletcher
mengolah isi buku ini menjadi tiga bagian ditambah dengan
bagian bacaan tambahan, yang secara ringkas dapat dilihat
sebagai berikut:
Bagian Pertama: terdiri dari tiga bab yang diawali dengan
pengertian “etika” (bab 2), kemudian bab 3 yang mengulas
tentang manusia sebagai “objek” penelitian etika dengan
perhatian utama pada “kebebasan” dan “hati nurani”.
Kebebasan manusia pada hakikatnya terkepung dalam
pembatasan fisik (akibat penyakit, kecelakaan, perang dsb)
dan pembatasan sosial (keadaan-keadaan dalam mana
kehidupan orang terjepit dan tertekan karena
struktur-struktur sosial dan ekonomi yang merintangi
perkembangan berbagai kemampuan yang ada padanya).
Sedangkan hati nurani bukanlah suara surgawi atau
pembimbing yang tak pernah keliru, melainkan salah satu
fungsi kepribadian manusia yang tidak sempurna bahkan
sering keliru dan oleh karenanya perlu dididik dan
didewasakan. Dalam bab 4 Fletcher membahas beberapa segi
dari perdebatan yang terjadi belakangan ini mengenai teori
dan metode etika. Apa yang hendak dituju ialah suatu etika
kontekstual dimana ada konteks yang harus dicermati, yaitu
[1] konteks situasi konkret yang sedang dihadapi; [2]
konteks realitas baru yang telah diciptakan Allah dalam
Kristus. Oleh karena itulah, sekalipun sumbangan filsafat
dan ilmu pengetahuan tak boleh diabaikan etika Kristen,
sumber-sumber alkitabiah perlu digali dengan
sungguh-sungguh yang pada gilirannya menciptakan tiga pola
etika - heternonomi, otonomi dan teonomi.
Bagian Kedua: dimulai dengan bab 5 yang membahas titik
tolak etika Kristen yang seyogianya bertumpu pada pola
teonom. Namun jika demikian, kita akan terbentur pada
kenyataan bahwa hubungan hakiki itu tidak berjalan
semestinya. Etika kristen, menurut Fletcher, tidak mulai
dengan apa yang wajib kita lakukan tetapi dengan apa yang
telah dan terus-menerus Allah sudi lakukan. Etika tentu
saja berurusan dengan perbuatan-perbuatan manusia, tetapi
terlebih dahulu semuanya harus diletakkan dalam perspektif
prakarsa ilahi. Titik tolaknya adalah anugerah Allah.
Berhadapan dengan kenyataan bahwa kekristenan dibangun di
atas landasan hermeneutika Perjanjian Lama, Fletcher
menelusuri bentuk dasar etika Perjanjian Lama (bab 6) dan
melanjutkannya pada bab 7 dengan pertanyaan: apakah hukum
Taurat masih memegang peran dalam kehidupan Kristen?
Pertanyaan tersebut membawanya menjelajahi
pandangan-pandangan “warisan reformasi” (Luther, Calvin,
Althaus), menelisik hubungan Yesus dan Hukum Taurat, lalu
Paulus dan Hukum Taurat. Pada bab 8 ia merekonstruksi
etika Kristen dan realitas baru dalam Kristus. Penekanan
Paulus pada Kristus yang dimuliakan membawa Fletcher pada
kesimpulan bahwa Paulus begitu terpesona oleh citra
Kristus yang bangkit sehingga ia (Paulus) sama sekali
tidak menaruh perhatian pada Yesus dari Nazaret atau Yesus
historis. Dalam pemikiran Paulus, “Tuhan yang mulia tidak
pernah terlepas dari Yesus historis” (hlm. 203).
Bagian ketiga: Fletcher mengelaborasi pencitraan Yesus
sebagai manusia baru. Ia melihat bahwa di kalangan Kristen
lazim terdengar pernyataan “Yesus adalah Kristus” (bab 9).
Tetapi yang tidak kalah penting adalah pernyataan “Kristus
adalah Yesus” yang berarti bahwa Kristus identik dengan
seseorang yang dikenal secara historis sebagai Yesus dari
Nazaret. Jika akar historis itu terputus atau dikaburkan
maka “Kristus” cenderung berubah menjadi suatu gagasan
mistik atau suatu dogma yang terisi keinginan dan idaman
kita. Sang Kristus adalah Yesus yang tersalib. Dengan
membangkitkan Yesus, Allah menegaskan bahwa Yesuslah yang
benar. Bagaimanakah memahami Yesus yang historis itu? Di
sini Fletcher tidak menghindari persinggungannya dengan
kajian Yesus historis. Baginya, Injil-injil lebih bersifat
jendela yang melaluinya sungguh terpancar wajah Yesus
sendiri. Di situ kita dapat menemukan Yesus sebagaimana Ia
diingat dan sekaligus ditafsirkan. Di balik ulasan-ulasan
Injil, yang tentu berbeda satu sama lain, tampak jelas
satu gambaran yang utuh, yang terbentuk dalam konteks
sosial-politik tertentu. Lebih lanjut, pada bab 10,
Fletcher memperlihatkan bahwa pola perilaku Yesus menjadi
pedoman yang konkret bagi cara hidup dan perilaku sosial
orang Kristen. Jadi, penggambaran pribadi tertentu beralih
kepada serangkaian panduan bagi sikap dan kelakuan
Kristen, yang tentu berakar pula pada pribadi yang sama.
Lalu Fletcher mengulasnya dalam bentuk panduan (ada lima
panduan).
Pada bagian paling akhir dari bukunya ini, Fletcher
menambahkan 14 artikel yang ditulis oleh para pakar
teologi, antara lain Boenhoeffer, Kung, dll.
Secara keseluruhan dengan membaca buku ini para pembaca
diajak untuk menjelajahi wilayah kajian etika Kristen
secara komprehensif. Memang sesuatu yang tak terhindari
bahwa penjelajahan tersebut mau tidak mau akan berjumpa
dan berdialog dengan sejarah pemikiran Kristen, filsafat,
matra-matra teologis yang lahir dari interpretasi
alkitabiah. Itu sebabnya, Fletcher pun rupanya sedikit
kewalahan dalam menyederhanakan bahasa kajiannya. Namun
demikian, toh buku ini tetap menarik untuk menjadi
referensi utama dalam memahami keluasan ranah etika
(Kristen) yang memang tidak sederhana itu.
Resensi Oleh: Steve Gaspersz
editor BPK Gunung Mulia, Jakarta.
katabuku.wordpress.com |
|
|
|
|
|
>> Arsip
|
|
|
|
|
|