Media Mall
24 Pebruari 2008
Facing Your Giants, Menerapkan kemenangan-kemenangan Daud dalam hidup Anda sehari-hari
Max Lucado
Banyak di antara kita yang mengenal kisah Daud yang mampu mengalahkan Goliat. Jika kita menjadi saksi mata pertarungan mereka, kita mungkin akan mengernyit. Perbandingan antara Daud dan Goliat adalah bagaikan cungkil gigi dengan tornado; sepeda mini melawan truk gandeng. Jika Anda hadir pada saat itu, Anda akan menjagokan siapa? Apakah Anda berani menjagokan si kerempeng Daud?

Seperti Daud, kita pun menghadapi Goliat yang gemar membuat kita menggigil ketakutan. Goliat Anda barangkali mengacung-acungkan pisau pengangguran, pengasingan, penganiayaan seksual, atau depresi. Goliat Anda menguasai hari-hari dan menyusupi kegembiraan Anda. Mungkinkah Anda menjadi Daud yang dengan sekali lemparan mampu merobohkan Goliat? Buku ini mengupas habis kisah tentang Daud: pertarungannya dengan Goliat, petualangannya saat dikejar-kejar Saul, kejatuhannya saat berzina dengan Betsyeba, persahabatannya dengan Yonatan, kebimbangannya, dan beberapa hal lain. Harus diakui bahwa Max adalah penulis yang mahir dalam merangkai kata. Ia dapat menghidupkan kembali kehidupan Daud di masa lalu dan menghubungkannya dengan kehidupan kita di masa kini.

Max mengangkat sisi-sisi penting dalam hidup Daud yang dapat kita teladani. Untuk membuatnya aktual, Max menggunakan ilustrasi nyata dan pengalaman hidupnya. Misalnya, ketika Saul mengejar-ngejar Daud, Max menggunakan ilustrasi Sharon yang dikejar-kejar oleh mantan suaminya yang selalu menganiaya. “Sharon memeriksa kaca spion … lagi. Ia meneliti wajah-wajah pengemudi-pengemudi lainnya … lagi. Matanya terus mengawasi kalau-kalau melihat orang itu, sebab ia tahu bahwa pria itu akan mengejarnya … lagi” (hal. 31). Anda dapat membayangkan ketakutan Sharon, bukan? Barangkali ada di antara kita yang memiliki pengalaman yang sama seperti Sharon.

Daud yang sedang diselimuti ketakutan bertanya-tanya saat Saul mengejarnya. “Kemarahan Saul membuat Daud bertanya-tanya. Apa yang dilakukannya, padahal ia telah berbuat kebaikan? Ia telah menyembuhkan jiwa Saul yang terganggu roh jahat dengan musik, membawa pengharapan kepada bangsa yang mulai lemah (hal. 33, par. 1). Saul bukanlah sosok yang jauh, yang hanya muncul di zaman Perjanjian Lama. “Saul masih merajalela di planet kita. Diktator-diktator menyiksa, atasan-atasan merayu dan meniduri, menteri-menteri menyalahgunakan …. Saul-Saul masih memburu Daud-Daud” (hal. 33, par. 4).

Daud bukanlah superman, ia juga bukan pahlawan fiktif seperti yang ditawarkan media massa. Ia adalah manusia biasa seperti kita. Kita dan Daud memiliki kemiripan: dilahirkan seorang ibu, merasakan penderitaan fisik, menikmati pesta yang mengesankan, ditolak para sahabat, dan seterusnya. Karena itu, kita pun dapat mengalami kunci kemenangan seperti Daud.

Di bab terakhir Max Lucado menjelaskan bahwa Daud memiliki lima “batu” yang ia gunakan untuk merobohkan Goliat. Yang pertama adalah Batu Masa Lalu, yaitu Daud mengingat kebaikan-kebaikan di masa lalu. Batu yang kedua adalah Batu Doa; Daud senantiasa berdoa. Ketika ia membenamkan pikirannya di dalam Allah, ia sanggup bertahan. Ketika Allah dilupakan, ia gagal. Yang ketiga adalah Batu Prioritas, Daud selalu ingat bahwa prioritas utamanya adalah menjaga kemuliaan nama Allah. Di sini Daud memandang Goliat sebagai kesempatan bagi Allah untuk unjuk gigi. Batu yang keempat adalah Batu Kegairahan. Daud tidak berlari menghindari Goliat, tetapi justru berlari menyongsongnya (1 Samuel 17:48,49). Yang terakhir (ke lima) adalah Batu Ketekunan; Daud terus maju. Ia tidak hanya berusaha sekali dan selesai, tetapi ia juga pantang menyerah.

Sesekali kita mungkin perlu merasakan sakitnya dipukul hingga roboh … tetapi janganlah menyerah. Jika Anda sedang dihantui oleh Goliat, maka Anda perlu belajar dari Daud. Dan buku ini dapat membantu Anda serta mengobarkan semangat Anda kembali.

Judul : Facing Your Giants, Menerapkan kemenangan-kemenangan Daud dalam hidup Anda sehari-hari
Penulis : Max Lucado.
Jumlah halaman : 255.
Penerbit : Gloria Graffa, Juni 2007
 
>> Arsip

   

Gereja Kristen Indonesia Pondok Indah @ 2003