|
Navigasi |
|
|
|
|
|
Warta Jemaat |
|
|
|
|
Layanan Jemaat |
|
|
|
|
Kegiatan Ouikumenis
|
|
|
| |
|
|
|
|
 |
|
Media Mall |
|
16 Januari 2008
Bermain Dengan Api Rijnardus A. van Kooij dan Yam'ah Tsalatsa A |
|
|
Jemaat bertumbuh dalam suatu ruang dan waktu tertentu.
Pengakuan iman bahwa “jemaat” atau “gereja” adalah
persekutuan umat Allah, mesti dengan segera disertai oleh
kesadaran kontekstual bahwa persekutuan itu masih berada
di dunia dengan seluruh kompleksitasnya. Sejarah
gereja-gereja (Katolik Roma dan Protestan) dan
gerakan-gerakan Kekristenan di dunia, yang berimbas pula
ke Indonesia, secara jelas memperlihatkan dinamika
internal kehidupan suatu gereja dan juga dinamika hubungan
antargereja dan/atau aliran keagamaan (dalam hal ini,
Protestantisme). Hubungan-hubungan tersebut tidak
selamanya manis. Malah, lebih sering ditandai oleh
ketegangan dogmatis dan praktis, yang berujung pada skisma
atau perpecahan.
Buku ini mencoba untuk mengupas dimensi-dimensi ketegangan
antargereja – yang disebut “gereja mainstream” (GM) dan
“kalangan kharismatik pentakosta” (KKP) – dalam konteks
Indonesia. Analisis dibangun melalui suatu proses
penelitian yang komprehensif dengan memadukan dua hampiran
penelitian (kualitatif dan kuantitatif) secara kreatif.
Dasar dan kerangka teoretik dari kajian dalam buku ini
dijelaskan pada bab 1, yang dapat dilihat sebagai proposal
penelitian.
Meskipun sasaran penelitian adalah kelompok GM dan
kelompok KKP, tetapi pada bab 2 perhatian lebih ditujukan
kepada kajian sejarah kalangan kharismatik dan neo-pentakosta.
Bab ini memberi informasi historis yang sangat penting
untuk memahami terbentuknya embrio kalangan kharismatik
dan neo-pentakosta, yang jarang diketahui oleh warga
jemaat GM.
Hasil penelitian terurai dalam bab 3 yang mencoba
melukiskan hubungan GM dan KKP. Beberapa faktor penting
yang selama ini ditandai sebagai pangkal “konflik” antara
GM dan KKP diuraikan secara cermat. Uraian hasil
penelitian di sini dilengkapi dengan kutipan-kutipan
pendapat hasil wawancara sehingga menampilkan suatu
penjelasan yang komprehensif dan sedapat mungkin berimbang.
Penulis buku memberikan ruang khusus untuk membahas
kalangan kharismatik dan pentakosta dalam konteks
Indonesia pada bab 4. Di sini dilakukan pemerian (deskripsi)
terhadap gejala-gejala urbanisasi dan globalisasi,
pluralitas dan proses institusionalisasi di dalam konteks
Indonesia, dan bagaimana KKP menjawab kebutuhan-kebutuhan
dari konteks tersebut. Salah satu hal yang menarik ialah
penjelasan bagaimana ciri-ciri spiritualitas dalam
masing-masing budaya (dalam hal ini, Jawa-Batak-Tionghoa)
membuat seseorang tertarik dengan KKP. Kesimpulan dan
rekomendasi pada bab 5 merupakan upaya kristalisasi
seluruh eksplorasi dalam buku ini.
Sebagai suatu hasil penelitian, kajian dalam buku ini
memberikan kepada setiap orang yang berminat pada
pembangunan jemaat dan kehidupan oikumenis, suatu
perspektif yang kritis dan segar, serta up-to-date
mengenai realitas Kekristenan khususnya di Indonesia. Oleh
karena itu, buku ini layak untuk dijadikan referensi utama
bagi pendeta, anggota jemaat, mahasiswa teologi, peminat
teologi praktis, bahkan komunitas lintas agama, dalam
memahami hubungan-hubungan eklesial maupun keagamaan (secara
sosiologis-teologis) yang lebih produktif dalam konteks
masyarakat yang terus-menerus digempur oleh arus perubahan.
Resensi Oleh: Steve Gaspersz
editor BPK Gunung Mulia, Jakarta.
http://kabaressi.blogspot.com/2007/12/resensi-buku-bermain-dengan-api.html |
|
|
|
|
|
>> Arsip
|
|
|
|
|
|