Media Mall
9 Desember 2007
Mendisiplinkan Anak Dengan Kasih Sayang
Dr. Fitzhugh Dodson
Sebuah buku yang menawarkan cara mendisiplinkan anak tanpa makian, bentakan, pukulan dan sebagainya. Yang terpenting adalah Anda memberikan kasih sayang kepada anak Anda, dan semua masalah bisa diatasi.

Mempunyai anak adalah impian setiap orang tua. Namun mendidik dan membesarkan anak untuk menjadi “orang baik” di kemudian hari, bukan perkara yang mudah. Untuk itu, sejak kecil orang tua perlu mengajarkan anak-anaknya untuk hidup disiplin. Yaitu disiplin dalam melakukan hal-hal yang baik.

Namum membuat anak disiplin dalam berbagai hal, bukan perkara yang mudah. Untuk mendisiplinkan anak-anaknya, para orangtua biasanya menempuh cara memukul dan menghukum anak-anak mereka. Apakah cara ini cukup efektif?

Buku yang ditulis Dr. Fitzhugh Dodson ini, secara tegas menolak cara-cara tersebut. Untuk membuat seseorang “menjadi lebih baik”, kita perlu membinanya dengan penuh kasih sayang. Demikian dalil utama Dr. Fitzhugh.

Dalam buku ini, pakar psikologi yang sudah sangat berpengalaman ini, menawarkan beragam cara untuk mendisiplinkan seorang anak. Pertama-tama di katakan bahwa dasar dari semua metode disiplin adalah membangun hubungan baik antara Anda dan anak Anda. Hubungan baik yang dimaksud adalah saling menyenangi dan menghormati, saling “menanggapi” dengan baik antara orang tua dan anak. Sayangnya, banyak orang tua yang menghiraukan premis psikologis yang dasar ini. Orang tua sering mengajukan perintah atau permintaan kepada anak-anaknya, hanya karena mereka merasa anak-anak harus patuh kepada mereka. Cara seperti ini, kata Dr. Fitzhugh, hanya membuat anak disiplin dalam beberapa waktu, tetapi tidak untuk selamanya. Bahkan cara-cara seperti itu bisa menimbulkan rasa marah dan dendam dalam diri anak.

Setelah prinsip “hubungan baik”, dalam mendisiplinkan anak, maka masih ada beragam cara yang dapat dikembangkan sesuai dengan persoalan yang dihadapi, umur anak, dan hal-hal penting lainnya.

Cara pertama menurut Dr. Fitzhugh adalah menerapkan hadiah yang positif. Hadiah yang positif ini bisa berupa ungkapan pujian, pemberian barang, atau pemberian kemudahan tertentu. Buku ini memberi contoh, ketika anak mengerjakan pekerjaan rumahnya secara teratur, tidak memukul adiknya, atau mengembalikan sesuatu pada tempatnya, sudah selayaknya orang tua memberikan hadiah positif kepada mereka. Hakikat dari sistem hadiah ini adalah bahwa selalu ada hadiah untuk suatu perilaku yang diinginkan, tetapi tidak ada hadiah untuk perilaku yang tak diinginkan.

Namun yang terjadi justru sebaliknya, orang tua tidak pernah atau sangat jarang memberikan hadiah positif untuk hal-hal baik yang dilakukan anaknya. Sebaliknya, ketika mereka melakukan kesalahan, orang tua langsung memberikan hadiah negatif berupa marahan, bentakkan, pukulan, dan sebagianya. Sebaliknya, dengan memberikan hadiah positif anak merasa pekerjaannya dihargai dan dia akan mengulangnya terus dan terus.

Cara lain adalah dengan membuat perjanjian. Hakikat dari metode perjanjian ini adalah memberikan kesempatan kepada anak untuk bernegosiasi dengan orang tua. Anda meminta anak Anda untuk mencuci piring tiga hari seminggu. Jika hanya berhenti sampai di situ, berarti Anda telah melakukan metode “pemaksaan” kepada anak. Ini cara keliru. Anda bisa membuat perjanjiian dengan anak Anda. “Sonny, papa minta untuk cuci piring tiga kali seminggu. Sebagai hadiahnya, bagaimana kalau papa belikan es krim?” Anak bisa saja tidak setuju dengan perjanjian Anda dan dia mengajukan syarat yang lain. Yang terpenting di sini adalah anak diberi kesempatan untuk bernegosiasi dengan Anda. Anak tidak merasa dipaksa.

Masih ada pembahasan lain lagi yang sangat menarik untuk Anda ikuti. Misalnya cara-cara untuk menangani perilaku yang tidak diinginkan, pro kontra soal pukul pantat, teknik umpan balik, teknik memecahkan persoalan bersama, dan sebagainya. Buku ini ditulis dengan bahasa yang sangat mudah dimengerti dan menyertakan sejumlah contoh praktis, sehingga sangat mudah dan enak untuk dibaca dari awal sampai akhir. Sungguh sebuah kemalangan jika sebagai orang tua apalagi orang tua muda tidak sempat membaca buku ini.
 
>> Arsip

   

Gereja Kristen Indonesia Pondok Indah @ 2003