|
Navigasi |
|
|
|
|
|
Warta Jemaat |
|
|
|
|
Layanan Jemaat |
|
|
|
|
Kegiatan Ouikumenis
|
|
|
| |
|
|
|
|
 |
|
Media Mall |
|
5 Mei 2006
Gereja Harus Bertumbuh, Efesus 4 : 11–16 |
|
|
|
Eka Darmaputera, “Gereja Harus
Bertumbuh”, Yogyakarta, Kairos Books, Februari 2005 |
Banyak orang
menyangka bahwa Gereja merupakan persekutuan yang sudah
jadi, yang sekali begitu dan harus tetap begitu. Bahwa
Gereja adalah persekutuan yang aman, tenteram, dan penuh
kedamaian. Suatu tempat bernaung yang nyaman dan
menyenangkan. Seperti sebuah pohon beringin yang rindang
dan kokoh, yang melindungi kita dari sengatan matahari.
Di tengah kegelisahan dan kelelahan hidup sehari-hari,
banyak orang mencari gereja untuk dijadikan sebagai tempat
bernaung dan berlindung. Agar dapat menikmati angin sejuk
atau tempat yang dapat membuatnya beristirahat dengan
tenang walaupun hanya sebentar.
Tetapi banyak orang yang salah sangka. Dan menjadi amat
kecewa karena harapannya tak terpenuhi. Ketika itu,
kenyataan yang dihadapinya ternyata jauh berbeda dari
impiannya. Gereja ternyata bukan (sekadar) tempat mengaso
yang nyaman. Bukan tempat perteduhan yang teduh aman.
Bukan pohon beringin yang kokoh dan rindang.
Rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat Efesus pun
berkata begitu. Bahwa gereja itu tidak diam. Bahwa gereja
itu bukan sesuatu yang sudah jadi, dan harus selalu begitu.
Menurut
Paulus, Gereja justru adalah persekutuan yang senantiasa
bergerak, yang senantiasa mencari. Ia harus selalu
berkembang dan bertumbuh, seperti setiap manusia pun harus
bertumbuh, makin lama makin dewasa.
Dan bertumbuh menjadi dewasa itu bukanlah sesuatu hal yang
nyaman! Perhatikanlah bagaimana manusia itu bertumbuh!
Dari bayi yang hanya sanggup makan makanan halus, ia harus
melatih diri untuk mencerna makanan yang kasar dan keras.
Dari gerak telentang dan tengkurap, ia harus mulai
merangkak dan berjalan. Entah berapa kali ia harus jatuh
dan terluka. Entah berapa kali ia harus gagal, karena
kakinya belum terlampau kuat.
Lalu ia pun harus belajar membaca dan menulis. Betapa
sedihnya harus “meninggalkan” gelanggang permainan untuk
memeras otak di belakang meja.
Ketika seseorang memasuki masa remaja, betapa banyak
kegelisahan dan kebingungan yang dihadpinya, terutama bila
masa bercinta telah dimulai.
Adakah saat ketika manusia menjadi dewasa ia dapat leluasa
menikmati masa istirahat? Juga tidak. Masa ini adalah masa
mencari nafkah dan membangun karier. Dan entah berapa
banyak orang yang harus memeras tenaga serta membanting
tulang untuk itu.
Demikianlah irama hidup manusia. Perjuangan yang tak
putus-putus. Pergumulan yang terus-menerus. Kapan ia boleh
berhenti berjuang dan mengaso? Hanya kalau ia telah
berhenti menjadi manusia, kalu ia sudah tidak lagi menjadi
manusia.
Kata Paulus, Gereja juga seperti itu. Selama ia masih
disebut gereja, ia pun harus siap untuk jatuh dan bangun,
merasakan banyak kegelisahan. Ia harus siap untuk jatuh
dan bangun, merasakan banyak kegelisahan. Ia harus selalu
mencari, mengalami banyak tantangan dan pergumulan. Tak
satu detik pun ia boleh berhenti dan mengaso. Waktunya 24
jam sehari, 30 hari sebulan, dan 365 hari setahun.
Tentu tidak banyak orang yang suka pada kegelisahan dan
ketidakpastian. Dan orang pun mengajukan protesnya:
Mengapa kita harus mencari yang baru? Tidakkah yang lama
dapat dipakai–kalau kita mau? Mengapa kita harus
menghindari kekacauan dan ketidaktenteraman?
Tidakkah hal itu juga merupakan protes kita? Bukankah
menyebalkan ketika di masa kecil kita sedang asyik bermain
tiba-tiba orangtua kita memanggil untuk belajar? Ah,
mengapa harus belajar? Alangkah tidak enaknya!
Namun bagaimanapun tidak enaknya, kita tahu bahwa itulah
satu-satunya jalan untuk menyongsong hari esok yang lebih
baik. Kita amat gelisah, karena hasil yang dicapai tidak
segera terasa untuk kita nikmati. Bermain itu nikmat,
hasilnya langsung kita rasakan. Tapi belajar, apanya yang
dapat kita nikmati untuk masa sekarang?
Ketika kita setuju bahwa kita harus segera meninggalkan
lapangan kasti dan bertekun mengerjakan pekerjaan rumah;
ketika kita tahu apa sebabnya Gereja tidak boleh berhenti,
melainkan harus senantiasa mencari; kemudian Rasul Paulus
mempersoalkan ini.
Kalau manusia itu bertumbuh makin lama makin dewasa, maka
manakah yang benar: Makin dewasa seseorang menyebabkan
makin kuat tubuhnya; atau sebaliknya makin kuat tubuh
seseorang menyebabkan makin dewasa orang itu. Manakah yang
benar: karena bayi itu berjalan, maka kaki-kakinya kuat,
si bayi itu dapat berjalan? Manakah yang benar: karena
kita banyak belajar, maka otak kita makin menjadi kuat;
atau sebaliknya karena otak makin menjadi kuat, kita dapat
semakin banyak belajar?
Jawaban kita pastilah: Keduanya benar! Keduanya harus ada!
Bayi baru mulai belajar berjalan setelah tulang-tulang
kakinya cukup kuat. Tetapi sebaliknya juga benar. Kalau si
bayi itu tidak pernah belajar berjalan, tulang-tulang
kakinya tidak pernah akan menjadi kuat. Tidakkah begitu?
Benar, kata Paulus, memang begitulah jawabannya. Dan
begitu pula dengan Gereja. Manakah yang benar:
Anggota-anggota gereja yang kuat akan menyebabkan Gereja
kuat; atau gereja yang kuat akan menghasilkan
anggota-anggota yang kuat?
Keduanya benar! Keduanya harus ada! Gereja akan makin
dewasa kalau anggota-anggotanya juga makin dewasa, dan
akan membuat anggota-anggota gereja menjadi makin dewasa
pula.
Tahukah anda,
apa yang sering menyulitkan Gereja untuk bertumbuh menjadi
dewasa? Karena banyak orang berpendapat terlampau berat
sebelah. Pada satu sisi kita melihat betapa banyak orang
kristiani yang mengatakan “saya baru mau bekerja, saya
baru mau melayani, kalau Gereja akan makin dewasa kalau
anggota-anggotanya juga makin dewasa, dan akan membuat
anggota-anggota gereja menjadi makin dewasa pula.
Gereja sudah menjadi baik dan maju. Kalau semuanya sudah
menjadi beres.” Orang pindah dari satu gereja ke gereja
yang lain, apa sebabnya? Ah, karena gereja itu brengsek
dan gereja ini hebat.
Kalau semua orang berpendapat begini, kapan gereja akan
maju kalau tidak ada orang yang mau berkiprah untuk
memajukannya. Kemajuan dan pertumbuhan sebuah gereja tidak
pernah menjadi beres dalam waktu sekejap. Tidak. Ia harus
diusahakan, dikiprahkan, dikerjakan. Oleh siapa? Oleh
setiap orang di gereja itu sendiri yang menginginkan
kemajuan dan perkembangan gereja itu.
Tapi para pemimpin di gereja juga sering lupa bertanya
kepada diri mereka sendiri: Adakah mereka telah memberi
kesempatan kepada anggota-anggota jemaatnya untuk
berpartisipasi, atau sebaliknya mereka selalu memegang hak
monopoli? Adakah mereka telah melengkapi anggota-anggota
jemaatnya, ataukah jangan lupa, anggota-anggota gereja
juga mempunyai kemungkinan yang sama untuk menjadi dewasa!
Semuanya harus bertumbuh menuju kedewasaan penuh, demikian
kata Paulus. Tetapi menjadi dewasa ia ingin makan, ia
tidak hanya menuntutnya, tetapi ia tidak hanya mengkritik
atau menjadi apatis, tetapi (berkiprah) memperbaikinya!
Kalau ia tidak puas, ia tidak melarikan diri dan menjadi
sinis, tetapi berjuang mencapai cita-citanya sekuat tenaga.
Sehingga kita bukan lagi anak-anak (ayat 14) – tetapi
menerima pertumbuhan dan membangun diri kita di dalam
kasih (ayat 16). |
|
|
|
|
|
>> Arsip
|
|
|
|
|
|