|
Navigasi |
|
|
|
|
|
Warta Jemaat |
|
|
|
|
Layanan Jemaat |
|
|
|
|
Kegiatan Ouikumenis
|
|
|
| |
|
|
|
|
 |
|
Media Mall |
|
21 Desember 2005
“Sajak-sajak PERGI BERJALAN JAUH” oleh Handrawan Nadesul Pdt. Purboyo W. Susilaradeya |
|
|
Majalah Kasut baru-baru ini
mendapat hadiah yang tak
ternilai harganya dari Dr. Handrawan Nadesul. Sebuah buku,
karyanya sendiri. Sebuah kumpulan sajak berjudul
“Sajak-sajak PERGI BERJALAN JAUH”. Pak Handrawan adalah
seorang dokter yang piawai, “anggota” jemaat kita,
kontributor tetap rubrik kesehatan Majalah Kasut. Dan ia
juga adalah seorang penyair.
Namun Pak Handrawan Nadesul bukanlah sembarang penyair.
Pernah –dalam suatu kesempatan di kediamannya,– dengan
rendah hati ia menjelaskan bahwa ia adalah sastrawan satu
generasi di bawah Sapardi Joko Damono. Satu generasi di
bawah bukan berarti mutu dan isi karyanya kurang
dibandingkan dengan generasi Sapardi. Ia adalah penyair
kondang angkatan Adri Darmadji Woko, Dami N. Toda, Noorca
Marendra, Yudhistira Ardi Noegraha. Maka kalau bicara
batik ia bukanlah sekadar batik cetak atau cap, tetapi
batik tulis yang halus.
Oleh karena itu saya sempat berpikir berulang kali sebelum
menyanggupi permintaan redaksi Kasut untuk membuat semacam
resensi atas kumpulan sajak Pak Handrawan ini. Karena saya
– yang sekadar punya hobi menulis sajak,– jelas tidak
sekelas dengan Pak Handrawan. Apalagi membaca berbagai
apresiasi para petinggi dalam komunitas sastrawan
Indonesia yang dimuat dalam bukunya itu, saya kian merasa
tidak layak.
Namun sebagai penanggungjawab majalah Kasut, saya tidak
dapat/boleh menolaknya. Oleh karena itu saya memberanikan
diri untuk alih-alih membuat resensi atas buku kumpulan
puisi Pak Handrawan, saya sekadar “mempresentasikan dan
memperkenalkannya” sebagai ucapan terima kasih atas hadiah
bukunya yang amat berharga itu, serta atas kehadiran Pak
Handrawan di tengah komunitas majalah Kasut, serta di
tengah jemaat kita. |
|
|
Seorang penyair adalah seseorang yang memilih menjalani
kehidupan ini dengan nafas yang teratur, dengan hati dan
perasaan yang peka sarat dengan empati, dengan nalar yang
melampaui nalar yang lazim, dengan indra yang tak terukur,
serta dengan emosi yang menggelora. Ini jelas tampak pada
sajak-sajak Pak Handrawan. |
Dengan
apakah kututup mataku
jika keterpejaman masih menyisakan silau kehidupan
Di depan masih jelas kulihat potret-potret nurani
pisau batin yang mengiris sukma-Mu
(“Dengan Apakah Kututup Mataku”, hal. 146) |
Hidup
ini harapan
dituangkan dalam keringat
dibenihi dengan hati
tumbuh di sela-sela waktu
menjadi mekar dalam kekeringan
(“Hidup Ini”, hal. 46) |
|
C. Day Lewis, seorang sastrawan Amerika, dalam sebuah buku
yang amat membelajarkan tentang apresiasi sastra (W.
Eller, R.E. Reeves & E.J. Gordon, The Study of Literature,
Ginn and Company, hal. 595-596), mengatakan bahwa yang
membedakan puisi dari sains adalah perasaan (feeling).
Ilmu pengetahuan (meminjam istilah Pak Handrawan:
tergolong aktifitas otak kiri) mustinya tidak hanya
menganalisis hal-hal, tetapi berusaha mengaitkannya satu
sama lain sehingga menemukan hukum-hukum alam yang bekerja
di baliknya. Untuk itu seorang ilmuwan menggunakan teori,
observasi dan eksperimen. Seorang penyair mengupayakan hal
yang sama, namun ia menggunakan perasaannya sendiri bahkan
emosinya.
Adalah tidak bertanggungjawab bila seorang ilmuwan menjadi
emosional ketika mendeskripsikan sekuntum mawar.
Sebaliknya adalah tidak bertanggungjawab bila seorang
penyair melakukannya tanpa perasaan dan emosi.
Dari puisi kita belajar untuk mengenal dunia ini melalui
perasaan kita. Puisi menajamkan kepekaan kita, membuat
kita kian siuman dalam kehidupan. |
sesekali lihatlah bintang-bintang
ukurlah berapa jauh dari jendela kamar
tambahkan dengan dua setengah mil lagi
maka di situlah letak angan-angan
(“Imajinasi”, hal. 61) |
Jangan
kecam kematian
kecambahnya telah melembaga dalam darah
Biarkan pada saatnya merekah
Tapi teruslah cemas
Pada yang bakal kita ucapkan
sebelum kapan kau kupisahkan
(“Kematian”, hal. 88) |
|
|
Dunia yang ditunjukkan seorang penyair adalah dunia yang
menggelitiknya. Menggelitik perasaan dan emosinya, rasa
keindahannya, rasa keadilannya, belarasanya, cintanya.
Saya teringat pada ucapan Pak Handrawan sendiri: “Hidup
saya kian mapan, akibatnya saya kian kehilangan ketajaman
dan kepekaan untuk menulis puisi. Amat berbeda
dibandingkan dengan ketika saya masih kerap nongkrong
dengan teman-teman di kakilima di Malioboro. Kini saya
hidup jauh dari kehidupan yang sesungguhnya...” |
Belati
yang kuasah semenjak kanak-kanak
kutikamkan ke tengah-tengah uluhatiku
pedihnya tidak lebih kuat
daripada lapar yang dirasakan saudaraku
hampir di seperempat dunia
(“Ada yang Mengusik Ketika di Trotoar Kota Membaca
Koran”, hal. 72) |
Peluh
lama berceceran
melukai trotoar kota
keperihan milik jutaan uluhati
dalam diam mereka nanap
menatap jendela kereta
(“Masihkah Jauh Stasiun Tempat Indonesia Berteduh”,
hal. 178). |
|
|
Dunia seorang penyair adalah juga “dunia cinta”. Maka
tidak boleh absen dalam kumpulan ini “sajak-sajak jerawat”,
–menurut istilah Pak Handrawan sendiri– yang sayangnya
tidak terlalu jelas apakah semua itu ditujukan kepada Ibu
Belinda semasa mereka berpacaran. Tetapi bukan itu saja.
Karena cinta kepada ibunda dan kepada anak-anak juga
diekspresikan Pak Handarawan dengan indah. |
Kalau
begitu biar kupacu matahari pagi
melarutkan cintamu sekeras batu
Kutumbuk hidupku harap engkau tahu
Cuma ini punyaku
(“Dalam Sepiku”, hal. 36) |
Barangkali hanya kepada malam
Ada yang harus kukatakan
Penghiburan bagi seorang ayah
Di depan ombak, awan, dan lautan
Bagaimana rasanya menikmati rembulan
Menunggu kapan engkau pulang.
(“Kapan Pulang, Kuda Pacuku - Buat Mill”, hal. 172) |
|
|
Dan tentunya spiritualitas adalah segi yang biasanya amat
kental mewarnai ujung pena seorang penyair. Juga ujung
pena (elektronik?) Pak Handrawan. Alfons Taryadi dalam
apresiasinya (hal. 180-182) mengatakan: “...saya terutama
tersentuh oleh nafas religiusitas dalam sajak-sajak Bung
Hans...” Nafas itu memang hadir dengan dominan baik secara
eksplisit maupun implisit. |
bersama-sama kita menyeberang lautan
melawan badai
menumpas topan
jika bukan karena Tuhan
tidak mungkin sebegini lama
kita tidak karam
(“Sajak Keyakinan”, hal. 119) |
Dengan
apakah kita akan menjawab
keluh kesah hutan
Suara rimba yang hilang
Hari sudah semakin merembang petang
(“Mengeja Jejak Kita”, hal. 135) |
|
Akhirnya, kumpulan sajak Pak Handrawan ini adalah monumen
kehidupan yang unik dan tak ternilai. Catatan abadi dari
“pergi berjalan jauh” yang dialaminya. Betapa tidak?
Sajak-sajak yang lahir dari tahun 1967 hingga 2005 ini
adalah sejarah Pak Handrawan. Bukan cuma riwayat hidup, –tanpa
mengurangi rasa hormat saya pada pencapaian Pak Handrawan
yang lain,– tetapi riwayat pergumulan sekaligus pengamatan
yang kritis dan jeli atas kehidupan. Karena kehidupan
nyata adalah satu-satunya sumur darimana seorang penyair
menimba kata-kata, seperti yang dikatakan oleh Taufiq
Ismail dalam apresiasinya (hal. 179).
Dan kita, para pembacanya, diundangnya untuk juga menempuh
perjalanan kita masing-masing. Tidak dengan sekadar
mengikuti arus. Tetapi dengan siuman penuh bersama sang
Pencipta, orang-orang yang kita cintai, dan sesama kita.
Terima kasih Pak Hans (boleh kan saya menyapa Anda dengan
“Pak Hans”?). Terima kasih banyak. Dan proficiat atas buku
yang tak ternilai harganya ini. Salam untuk Ibu Belinda,
Netta dan Mill yang pasti juga selalu merindukan Anda. |
Barangkali sekarang saatnya kita mulai harus belajar
memahami angin, musim, lautan
atau apa-apa saja yang hidup pernah berikan
yang belum juga kita mengerti
(“Bunga-bunga Kehidupan”, hal. 158) |
|
|
Handrawan Nadesul
Istri : Belinda Christina, Dokter, Dosen Fakultas
Kedokteran Unika Atma Jaya Jakarta
Anak : Minetta Roselani (19 tahun) dan Millardi Nadesul
(17 tahun)
Kuliah di Fakultas Kedokteran Unika Atma Jaya Jakarta.
Lulus Ujian Dokter FKUI Jakarta 1981, langsung diangkat
menjadi pegawai negeri sipil.
- 1981-1984 memegang 3 buah Puskesmas di Bogor, menjabat
di Seksi Penyuluhan Dinas Kesehatan Kodya Bogor
- 1984-1986 dinas di Kantor Wilayah Kesehatan DKI Jakarta.
- 1986-sekarang dinas di Departemen Penerangan RI Jakarta,
kini berubah menjadi Kominfo.
- 1983-1988 aktif di Seksi Epilepsi Perdhaki Pusat Jakarta
- 1984-Anggota penyantun Rumah Sakit Karya Bhakti Bogor
- 1984-1986 Anggota Yayasan Kanker Indonesia
- Sampai sekarang memberikan seminar kesehatan untuk awam,
ibu, dan remaja, pendidikan seks, bina pranikah.
Kegiatan Menulis
Menulis sejak SMA, dimulai dengan sastra, berupa cerita
pendek, esai sastra, dan puisi. Aktif menulis puisi dekade
80-an, sampai sekarang. Sudah menerbitkan 6 Antologi Puisi
(3 Antologi pribadi, dan 3 Antologi bersama).
- Menulis artikel kesehatan sejak 1972 di Sinar Harapan (sekarang
Suara Pembaruan), Buana Minggu, dilanjutkan menjadi
pengasuh rubrik kesehatan di majalah-majalah wanita dan
keluarga, antara lain, Kartini, Selekta, Pertiwi, Sarinah,
Nova, Keluarga, Femina, Sportif, dan beberapa tabloid
Ibukota, antara lain Paron, Aksi, Kontan.
- Sejak 1974 menulis opini, antara lain di Kompas dan
Sinar Harapan, lalu berlanjut ke Suara Pembaruan, Media
Indonesia, Pikiran Rakyat, selain menulis kolom di
beberapa majalah mingguan, antara lain, Topik, Gatra,
Forum, Sportif, Gamma, Tempo, Matra, di Tabloid Nova.
- Pengasuh rubrik kesehatan di Majalah Hai sampai 1986,
selain menulis lepas di Gadis, Puteri, Kawanku.
- Pengasuh rubrik kesehatan di Majalah anak-anak Kucica
sampai 1984, dan pernah mengasuh rubrik kesehatan di
Majalah anak Bocil.
- Pengasuh rubrik kesehatan di Majalah Tiara sampai 1994.
- Pengasuh rubrik kesehatan di Tabloid Senior sampai
sekarang, selain tetap menulis artikel opini di Kompas,
Gatra, Tempo, dan Koran Tempo.
Menulis Buku
- Sejak 1974 sampai sekarang masih menulis buku kesehatan,
baik untuk anak maupun untuk umum. Sampai tahun 2005 sudah
66 judul buku diterbitkan. Sebagian besar buku untuk
Proyek Buku Inpres Diknas, Proyek Bangdes, perpustakaan
sekolah dan Kejar Paket, selain buku terjemahan untuk
Unicef, dan 22 judul adaptasi buku kesehatan Mediquest (Inggris).
Penghargaan
- Dari Departemen Kesehatan tahun 2000 sebagai Penulis
Surat Kabar Peduli Kesehatan.
|
|
|
|
|
|
>> Arsip
|
|
|
|
|
|