|
Navigasi |
|
|
|
|
|
Warta Jemaat |
|
|
|
|
Layanan Jemaat |
|
|
|
|
Kegiatan Ouikumenis
|
|
|
| |
|
|
|
|
 |
|
Media Mall |
|
15 Juli 2005
Bedah Buku; Dengarlah yang Dikatakan Roh Paul P. Poli SH |
|
|
|
Penulis Buku: Pdt. Eka Darmaputera, Penerbit: Gloria
Cyber Ministries, 2002 |
|
|
|
Pesan Penulis |
Beberapa abad
yang lampau Rasul Paulus berpesan kepada Pdt. Timotius
tentang keadaannya di arena pertandingan. Demikian pun Pdt.
Eka yang dengan kobaran semangat seorang atlit sejati,
berpesan bahwa ia pun ingin segera “mengakhiri
pertandingan yang baik,” dan “mencapai garis akhir,” akan
tetapi dengan tetap teguh “memelihara iman.” (2 Tim. 4:7).
Masih dalam tetap suasana arena pertandingan, sungguh luar
biasa bahwa orang-orang Galilea sederhana di Yerusalem
secara estafet mampu mencapai jemaat GKI Pondok Indah
untuk menyampaikan pesan Kristus. Dalam tradisi itu hamba
Tuhan yang ini pun ingin menyerahkan tongkat estafet itu
kepada generasi penerus.
Dalam konteks itu Pdt. Eka berpesan: “Sebelum Tuhan
menyatakan tugas saya usai di bumi ini, betapa rindu hati
saya menyaksikan kita menjadi orang-orang kristiani yang
mendengarkan, dan gereja kita menjadi gereja yang
mendengarkan, apa yang dikatakan Roh. Bila itu terjadi,
saya pasti akan menutup mata dengan senyum yang lebih
lepas.” (hal 14).
Pesan Pdt. Eka itu dituangkan dalam bentuk autokritik,
karena ditujukan juga kepada dirinya sendiri, seraya
mengundang kita untuk membuka “cermin yang pertama.
Kemudian yang kedua, lalu yang ketiga, dan seterusnya,”
dengan mengutip Yakobus: “seumpama seorang yang sedang
mengamat-amati mukanya yang sebenarnya di depan cermin. [Tapi]
baru saja ia memandang dirinya, ia sudah pergi atau segera
lupa bagaimana rupanya.” (Yak. 1:23,24). Business as
usual. Sebab kalau ini yang terjadi, alangkah sayangnya
dan alangkah malangnya.” (hal 35). |
|
|
|
Peringkat Gereja |
Autokritik termaksud diwarnai
nada agak bergurau Pdt. Eka, seraya memperkenalkan suatu
peringkat sebagai tolok ukur untuk menilai kinerja
gereja-gereja kita. Dengan cara itu menurut penalarannya
dapat ditentukan dalam kategori manakah sebuah gereja
berada.
Kelompok A untuk yang berstatus “Sempurna”, sedang B
menandakan “Baik Sekali.” Yang termasuk kelompok C berarti
“Tidak Memuaskan, tapi masih dapat ditoleransilah.”
Kemudian kelompok D, “sungguh pun berarti Buruk, namun
masih sayang untuk dibuang.” Lalu tanpa menggunakan E
langsung ia memperkenalkan kategori F (flunk). Kelompok F
ini memang sudah keterlaluan karena berarti, “gagal
total,” sehingga menurut Pdt. Eka: sudah “pantas diapkir.”
(hal. 19).
Penilaian gereja itu bukanlah suatu wacana belaka, karena
menurut Pdt. Eka, dilakukan pada kesempatan suatu seminar
para cendikiawan dan kader muda Kristen sepuluh tahun yang
lalu (1992?). Ternyata “tidak ada satu pun peserta yang
memberi nilai A terhadap kinerja gereja-gereja kita.”
Autokritik para peserta seminar itu “hanya satu dua orang
memberi nilai B atau F,” sedang “sebagian terbesar memberi
nilai C atau D.” (lanjutan hal.19).
Namun, tidak semua pihak setuju dengan autokritik itu
karena dianggap bernada dan bercorak pesimistis. Bahkan
banyak juga yang diametral berbeda dan mengatakan: “betapa
masa kini adalah justru masa keemasan bagi gereja. Masa
penuaian. Masa kebangkitan. Revival. Juga lihat banyaknya
gedung-gedung gereja baru, dan megahnya! Ibadah-ibadah
Minggu hampir di semua hotel-hotel berbintang dan
ruko-ruko di jalan-jalan utama. Dan seterusnya”. (hal.21).
Dalam hal ini Pdt. Eka mengutip Firman Tuhan dalam surat
Yakobus, yang menghimbau agar: “Tahirkanlah tanganmu dan
sucikanlah hatimu” “Sadarilah kemalanganmu, berdukacita
dan merataplah.” (Yak. 4:7,9). Kutipan itu dijadikan dasar
baginya untuk menasehati gereja-gereja: “Sebab kebesaran
serta kemegahan yang dicapai dengan tangan yang najis dan
hati yang kotor, sungguh, tak akan pernah mampu bertahan
lama dan akan runtuh dengan sangat tragis.” (hal. 23).
Dalam konteks itu, Pdt. Eka berpendapat bahwa himbauan
Yakobus itu mengandung makna, bahwa “yang ia maksudkan
sebenarnya agar kita melakukan autokritik. Dan autokritik
semacam itu pula yang saya serukan untuk kita lakukan di
dalam dan mengenai diri kita masing-masing.” (hal. 30). |
|
|
|
Ortodoksi dan Relevansi |
Dalam
melakukan autokritik terhadap gereja-gereja kita, Pdt. Eka
memakai “Tujuh Surat Kepada Tujuk Jemaat, yang terdapat
dalam Wahyu 2:1-3:22 sebagai referensi dan cermin,” dalam
proses pengenalan diri (hal. 31).
Argumentasi Pdt. Eka adalah, bahwa “tujuh jemaat yang
disebutkan dalam kitab Wahyu adalah contoh yang menarik,
mengenai bagaimana gereja senantiasa berinteraksi dengan
sekitarnya. Untuk itu gereja harus dengan sadar dan terus
menerus mempertahankan ortodoksinya sehingga ia tidak
dihanyutkan atau ditenggelamkan begitu saja oleh dunia.” (hal.
33).
Namun, di pihak lain ia mengingatkan, bahwa “bersamaan
dengan itu, gereja juga harus secara terus menerus
memperbarui relevansinya, meninjau ulang serta menyegarkan
kembali penghayatan imannya, sehingga ia mampu berdialog
dengan dunia, dan dengan demikian menjadi berkat bagi
dunia.” Menurut pengamatan Pdt. Eka, “ada pula
gereja-gereja kita yang terobsesi untuk menjadi gereja
yang relevan, begitu takut dijuluki gereja yang
ketinggalan zaman, lalu kehilangan ortodoksinya, dan –oleh
karena itu– seluruh jatidiri dan kepribadiannya.” (hal.
34).
Secara konsekuen ia mengeritik sikap tidak peduli seraya
mengatakan: “Tapi yang lebih, bahkan paling membuat saya
trenyuh adalah karena sebagian besar gereja-gereja yang
berprinsip pokoknya jalan, biar memenuhi target-target
yang telah ditetapkan, tak peduli doktrin maupun
persoalan-persoalan yang ada di masyarakat. Karena itu,
saya yakin tak akan ada seorang pun yang akan menangisinya,
merasa kehilangan atau mengibarkan bendera setengah tiang
bagi mereka, sekiranya malam ini juga gereja-gereja
tersebut tiba-tiba lenyap dari muka bumi.” (hal. 35).
Dalam konteks itulah Pdt. Eka mengajak kita bercermin pada
tujuh gereja dalam Kitab Wahyu, dalam urutan di bawah ini,
yang dimulai dengan gereja Efesus dan diakhiri dengan
gereja Laodikia. |
|
|
|
Cermin Tujuh Gereja |
| • |
Gereja Efesus
yang pertama mendapat sorotan Pdt. Eka dalam konotasi
‘Ortodoksi Terlalu Mahal,” karena gereja itu dianggapnya
“mempertahankan dan memper”tuhan”kan doktrin dengan
mengorbankan kasih” (hal. 43).
Bercermin pada gerea Efesus ia pun melakukan kritik
terhadap gereja-gereja dewasa ini, bahwa: “Ketika kita,
entah sadar atau tidak sadar, telah meletakkan apapun (kecuali
Tuhan, tentu saja) di atas manusia, itu berarti kita telah
membayar harga yang terlalu mahal. Juga ketika ortodoksi
menjadi lebih mutlak ketimbang mengasihi.” (hal. 44). |
| • |
Tentang lingkungan
gereja Smirna apabila dibandingkan
gereja Efesus, dapat dijumpai kadar kekejaman penguasa
Romawi, sehingga Uskup Polykarpus gugur sebagai martir
pada tanggal 23/2/155. Pdt. Eka mengutip sapaan lembut
Tuhan terhadap jemaat Smirna, bahwa: “Aku tahu kesusahanmu
dan kemiskinanmu, tetapi engkau kaya. Jangan takut
terhadap apa yang engkau derita. Hendaklah engkau setia
sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota
kehidupan.” Aspek kesetiaan gereja itu yang dijadikan
fokus pertanyaan retorik Pdt. Eka, yakni: “Atau telah lama
[kesetiaan gereja] kita campakkan, karena “tidak praktis”
dan “tidak realistis”? (hal. 52). |
| • |
Gereja berikutnya yang dijadikan cermin ialah
Pergamus,
seraya mengutip Firman Tuhan tentang gereja ini, bahwa:
“Aku tahu di mana engkau diam, yaitu di sana di tempat
tahta Iblis.” Sungguh menyeramkan! Hal ini mengenai
“kultus pemujaan kaisar,” sebagai Tuhan, sehingga “ribuan
martir telah berjatuhan sebagai korban. Bukan cuma dalam
jumlah yang luar biasa banyak, tetapi juga dengan cara
yang luar biasa biadab. Masuk akallah, bila karena ini
Tuhan menyebut Pergamus sebagai tempat Iblis bertahta.” (hal.
56).
Bercermin pada situasi gereja Pergamus, Pdt. Eka
berpendapat: “Orang Kristen tidak harus kaku seperti kayu.
Boleh juga bila Anda lentur seperti bambu. Namun, selalu
harus setia pada prinsip. Pantang membohongi hati nurani.”
(hal. 61). |
| • |
Surat terpanjang ditujukan kepada
gereja Tiatira mengenai
masalah klasik, yakni hubungan gereja dengan dunia. Itulah
cermin, yang menurut Pdt. Eka, mengungkapkan “krisis
identitas dan kredibilitas yang banyak dihadapi oleh
gereja-gereja Tuhan di Indonesia akhir-akhir ini sama
sekali tidaklah disebabkan oleh “gereja berada dalam dunia.”
Krisis terjadi karena kita membiarkan yang sebaliknya yang
terjadi, yaitu membiarkan dunia berada dalam gereja.”
Bahkan, “Jangan-jangan adalah roh-roh dunia, yang kita
beri baju Roh Kudus!” (hal. 71). |
| • |
Gereja Sardis, berlokasi di kota yang dipayungi
konglomerat Croesus, sehingga selalu dalam keadaan aman
terkendali, karena jaminan kekayaan sang konglomerat.
Memang benar: “Jemaat Sardis bebas dari gangguan ibadah,
bukan karena komitmennya yang sadar untuk mempertahankan
ortodoksi, tetapi semata-mata karena otaknya berhenti
berpikir. Karena matanya malas mencari. Kelihatannya hidup,
padahal mati. Kelihatannya beriman, padahal cuma beragama.”
Itulah cermin jemaat Sardis. (hal. 79) |
| • |
Sebaliknya, jemaat Filadelfia berstatus minoritas karena
jumlahnya, tetapi tidak mencari perlindungan dengan
bersandar pada pihak mayoritas, melainkan semata-mata
mengandalkan kekuatan Tuhan. Oleh karena itu Tuhan pun
menghargainya dalam sabda-Nya: “Aku tahu kekuatanmu tidak
seberapa, namun engkau menuruti firman-Ku dan engkau tidak
menyangkal nama-Ku.” (hal. 90). Refleksi pada gambar yang
dipantulkan cermin gereja Filadelfia dan kiranya membantu
pertumbuhan jemaat kita. |
| • |
Cermin terakhir ini, yakni
gereja Laodikia memberikan
informasi tentang kota kebanggaan mereka yang menjadi
pusat perdagangan yang dimodali industri perbankan, yang
juga membiayai industri tekstil berbasis serat wol
tersohor, serta perguruan tingginya yang masyhur di bidang
kedokteran. Lingkungan demikian itu membentuk mentalitas
jemaat Laodikia yang serba mapan karena berbasis kecukupan
kebendaan. Tetapi mentalitas jemaat Laodikia itu justeru
mengundang tegoran Kristus dalam sabda-Nya, yang direkam
Rasul Yohanes: “Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku.
Karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas.
Alangkah baiknya jika engkau dingin atau panas.” (hal.
97). |
|
|
Bagaimana dengan temperatur baik pribadi maupun
persekutuan jemat kita? |
|
|
|
Refleksi atas Otokritik |
|
Guided tour
perjalanan wisata mengunjungi Tujuh Jemaat Asia Kecil di
mana Pdt. Eka bertindak sebagai pemandu wisata (Tour
Leader), maka kita dimungkinkan untuk berbagi pengalaman
iman, yang dikemas dalam bentuk autokritik dengan judul:
“DENGARLAH yang DIKATAKAN ROH.” Dalam refleksi autokritik
itu ada tiga jenis perilaku, baik bersifat pribadi maupun
dalam persekutuan jemaat gereja yang hendak diangkat,
yakni: |
| 1. |
“Bahwa tidak ada
sikap yang lebih dibenci Yesus, di samping kemunafikan,
daripada ketidak-pedulian.” (hal. 98) |
| 2. |
“Bagi Yesus tidak
ada sikap yang lebih tidak kristiani daripada sikap
netral, alias tidak mau bersikap atau enggan berpihak.”
(hal. 99) |
| 3. |
“Tidak ada
kecenderungan yang lebih berbahaya ketimbang
kecenderungan untuk menjadi kristiani yang
konvensional, yang kehilangan makna fungsionalnya baik
ke dalam bagi orang-orang kristiani sendiri, apalagi
keluar bagi dunia.” (hal. 99) |
|
|
|
|
>> Arsip
|
|
|
|
|
|