Media Mall
30 agustus 2004
Kahlil Gibran “Yesus yang Disalib”
Pdt. Tumpal Tobing
Pada tanggal 31 Jul 2004, Tim Perpustakaan GKI Pondok Indah melakukan terobosan baru melalui penyelenggaraan “bedah buku”.
Buku “Yesus yang Disalib” tulisan Kahlil Gibran telah dibedah oleh Bambang Noorsena dengan sangat tajam dan memikat, serta membuka wawasan baru.

Bambang Noorsena memulai pengantarnya dengan menjelaskan tentang tokoh Kahlil Gibran yang mempunyai banyak predikat. Bukan saja sebagai penulis/penyair dan pelukis, tetapi juga dijuluki The Immortal Prophet of Libanon dan The Mystic, The Philosopher, The Religions, The Heretic, The Serene, The Rebellions dan The Ageless.

Ia juga menceritakan bahwa penyair dan pencipta lagu Indonesia cukup dipengaruhi oleh tulisan-tulisan Kahlil Gibran, mulai dari Taufik Ismail, Katon Bagaskara, Dani “Dewa 19”, hingga mimbar-mimbar Pengajian Ramadhan K.H. Abdullah Gymnastiar.

Popularitas Gibran terus melambung, mengatasi batas-batas bahasa, bangsa bahkan perbedaan agama. Justru di sinilah menariknya mengangkat kembali spiritualitas Kahlil Gibran, mulai dari latar belakang Kristen Arab “Sang Nabi” dari Libanon itu, hingga sumbangannya dalam renaissance Kesusasteraan Arab modern.

Hal-hal lain yang sangat menarik dalam pengantarnya, beliau menceritakan tentang pengalaman real dengan orang-orang Arab –Kristen di Libanon, dimana dalam pembacaan Kitab Suci di gereja, sama seperti yang dilakukann oleh saudara-saudara dari Muslim yang melagukan bacaan Al-Quran. Sehingga ketika mendengarkan saudara muslim berdoa dengan dilagukan, kita juga dapat menikmatinya serta ikut berdoa. Demikian juga dengan pemakaian jilbab, hal itupun bukan sesuatu yang aneh, karena orang-orang perempuan Krisen di Libanon juga mengenakannya.

Dari pengalaman pribadi ini, jemaat yang hadir sangat tertarik dan mendapatkan pemahaman yang baru mengenai beberapa kebiasaan yang selama ini dianggap asing dan bukan untuk orang kristen.

Hubungan antara agama Kristen dan Islam di negara-negara Arab jauh lebih harmonis dibandingkan di tempat lain yang jauh darisana. Bahkan Presiden Palestina Yasser Arafat pernah menghadiri perayaan Natal di Gereja Kelahiran Yesus, Betlehem.
Peristiwa-peristiwa menarik lainnya dapat juga dinikmati dengan membaca buku “Renungan Ziarah ke Tanah Suci” yang ditulis oleh Bambang Noorsena sendiri.

Tentang Buku “Yesus yang Disalib”

Judul asli karya ini dalam bahasa Arab, Yasu’al-Masylub (Yesus yang Disalib), ditulis Gibran pada hari Jumat Agung, yaitu pada ‘Id al-Fashhah’ (Perayaan Paskah). Beberapa penjelasan, gagasan dan pemikiran penting dari buku ini:

  • Gibran sangat dekat dengan ibunya dan cerita-cerita tentang Yesus selalu dikisahkan oleh ibunya dari sejak kecil, sehingga figur ‘Sang Anak Manusia’ inilah yang paling besar membentuk imaji-imajinya mengenai dunia dan kemanusiaan.

  • Bagi Gibran tidak ada cara yang lebih tepat untuk memahami misi Yesus kecuali cinta yang universal, yang terutama terarah kepada mereka yang miskin, lemah dan tidak berdaya.

    Bagi Gibran, menabur kasih kepada ‘saudara-saudara Yesus yang paling hina” adalah bentuk tanggapan terhadap kasih Kristus, ketimbang menyambutnya dengan kemeriahan perayaan-perayaan gereja. Gibran mempunyai pengalaman buruk dengan praktek kehidupan gereja yang korup, penindas dan pendukung tuan-tuan tanah kaya. Begitu mendalam sakit hatinya terhadap gereja sehingga ia tidak dapat lagi menghadiri kebaktian. Namun Gibran tidak lari atau mengusir Tuhan dari kehidupannya seperti yang telah dilakukan oleh Frederich Nietzche sang filosof, tetapi Gibran justru mengadukan semua pergumulannya kepada Yesus, Juruselamat dan pujaan hatinya.

  • “Holistic Spirituality” atau “spiritualitas semesta” adalah titik berangkat pengalaman iman Khalil Gibran didasarkan pada mistik Kristen atau pemahaman yang lebih menonjolkan pergumulan batin (hati)daripada dengan ratio.

    Para bapa Gereja Kristen Timur mencari dasar kesatuan transendental agama-agama dari kedudukan Kristus sebagai Firman Allah dan bukan pada wujud nuzul kemanusiaannya, yang menurut istilah Gibran “rumah daging dan tulangnya”

    Inti dari kesadaran mistik Kristen tersebut, bahwa gereja tidak berhak membatasi jangkauan wahyu ilahi. Karena itu gereja sadar sepenuhnya bahwa kebenaran Ilahi itu satu, dan tidak terbagi-bagi. Itulah dalil “benih Sabda Ilahi” berdasarkan pada Yoh.1:1-4 dan 8:42 dan 57-58.

    Dari Sang Sabda yang sudah ada sejak semula bersama Allah itu, segala kebenaran universal itu berasal dan bermuara.

    Konsekuensinya dari pandangan ini bahwa setiap orang yang hidup menurut the supreme logos (Firman yang mahatinggi), mereka adalah orang kristen dan semua orang dapat mengambil bagian di dalamnya. “Mereka yang hidup menurut jalan Sang Sabda adalah orang-orang “Kristen”, sekalipun mereka itu disebut atheis.”

    Jadi kesimpulannya, Kristen bukan nama tapi perbuatan. “Segala yang telah dikatakan dengan benar oleh siapapun, adalah milik kami orang Kristen, ingat orang Samaria yang baik hati”. Gibran menekankan bahwa setiap cahaya kebenaran darimanapun juga asalnya adalah karya Allah, dan tidak berasal dari selain Dia.

    Mistik Kristen Timur memahami Salib Kristus sebagai ‘jalan cinta’ menuju Allah, dan akhir dari semua perjalanan jiwa manusia adalah manunggal dengan-Nya, bukan dalam dzat-Nya melainkan dengan tubuh kemuliaan Kristus yang telah bangkit dari antara orang mati dan naik ke Surga duduk di sebelah kanan Bapa-Nya.

  • Perbedaan Yesus dengan para filosof menurut Kahlil Gibran demikian. Hubungan Sokrates dengan pengikutnya lebih bersifat mental tetapi para murid Yesus lebih merasakan Ia selalu hadir ketimbang sekadar meresapi ajaran-ajaran-Nya. Inilah misteri yang selalu mempesona Gibran. Baginya Allah tidak dapat dipenjara oleh tembok-tembok pemisah agama.

    Spiritualitas ‘passing over’ (melintas batas) dalam penghayatan agama sang Pujangga tidak lagi memandang baju atau simbol tapi isi atau hakikat.
Kesimpulan:
  1. Pendekatan Khalil Gibran memahami siapa sosok Kristus melalui mistik Kristen merupakan suatu pendekatan yang sangat perlu untuk dipelajari lebih dalam lagi, mengingat pluralitas agama dan adat istiadat di Indonesia. Harus diakui bahwa pendekatan melalui mistik Timur untuk memahami ajaran dan sikap hidup Kristus, bukanlah hal yang mudah, karena pendekatan yang diajarkan orang kristen di Indonesia lebih cenderung pendekatan barat yang lebih mengarah pada upaya-upaya memahami melalui pikiran seperti yang diajarkan para misioner yang datang pertama kali ke Indonesia.

  2. Kritik dan kekecewaan Khalil Gibran terhadap gereja, merupakan suatu peringatan bagi kita, untuk tidak lupa memberikan perhatian pada yang miskin, kekurangan dan tertindas sebagaimana yang telah dilakukan oleh Kristus sendiri. Persekutuan gereja tidak mempunyai makna apa-apa, jika tidak menghadirkan Kristus dalam pelayanannya. Apabila Kristus selalu kita hadirkan, maka Ia akan selalu mengajarkan kepada kita untuk melayani dan bukan untuk dilayani, sebagaimana kedatangan “Anak Manusia” ke dunia ini.

  3. Gagasan ‘spiritual semesta’ dari Kahlil Gibran sangat cemerlang, namun masih sulit diterapkan di Indonesia. Apakah ini kembali pengaruh dari missioner yang dari barat? Walaupun demikian mungkin kita juga perlu berhati-hati jangan sampai pemahaman iman kita dicampuradukkan dengan pemahaman iman yang lain dan kita anggap semuanya sama saja. Kita harus jujur bahwa kita sendiri belum pernah punya pengalaman iman dengan agama lain, bagaimana mungkin kita bisa mengatakan semuanya sama. Oleh karena itu, biarlah kita tetap memegang teguh apa yang sudah kita pahami dan imani, sementara itu kita juga mau menghormati teman-teman kita yang beragama lain dengan meyakini bahwa Tuhan Yesus lebih dari hanya sekadar gereja, agama atau ajaran sebab Ia ada di mana-mana seperti yang tertulis dalam I Korintus 15:28b “supaya Allah menjadi semua di dalam semua”


>> Arsip

   

Gereja Kristen Indonesia Pondok Indah @ 2003