Ada berapa wanita penulis sajak di Indonesia? Tidak banyak.
Ada berapa wanita penulis puisi di gereja? Juga tak banyak.
Tapi kalau sesekali ada sajak yang muncul di Kasut, nama
Henny J. Sutjioko bukan asing buat kita.
Baru-baru ini Ibu tiga anak ini menerbitkan sebuah
kumpulan puisi kurun waktu 1997-2003. Judul kumpulan
sajaknya “Bukan Kasih Semusim”, sungguh menawan. Sajak
manis yang ditulis oleh seorang matematikawati. Sebuah
perkawinan antara logika dunia eksak dengan sentuhan rasa.
Senyawa otak kanan dengan otak kiri.
Membaca “Bukan Kasih Semusim” saya menangkap, bahwa Henny,
seorang yang Kristen betul. Dari 25 sajak dalam bukunya,
tak kurang 10 sajak berbicara tentang Tuhan, selebihnya
masih tentang doa, tentang rasa syukur, keteguhan hati,
dan kentalnya kehidupan orang beriman.
Seperti yang diungkap sendiri dalam pengantar kumpulan
sajaknya, Henny memang mudah tersentuh oleh apa saja dalam
faset hidup kesehariannya. Ia begitu gampang terusik oleh
kegelisahan menyaksikan yang timpang, yang serong, yang
tak senonoh di sekitar hidupnya. Maka ia tak jemu
berbicara tentang rasa iman, rasa syukur, rasa teguh, dan
rasa-rasa lain yang belum tentu orang lain pikir dan
rasakan sebelum membaca sajak-sajaknya.
Demikian memang adanya orang yang punya sentuhan menulis.
Henny sudah menjalaninya sejak tahun 1950-an, ketika
sajak-sajaknya dimuat di Majalah (zaman baheula) Star
Weekly, kemudian di Majalah Mutiara tahun 1960-an. Penulis
sajak umumnya cermat menangkap, merasakan, berpikir,
tentang apa saja yang orang lain mungkin belum pikir, rasa,
dan tangkap akan segala sesuatu di seputar hidup dan
kehidupan. Henny sudah melakukannya dengan telaten.
Ia bukan cuma bicara tentang pribadinya, tentang
hubungannya dengan Tuhan, ia juga bicara tentang bangsa,
negara, dan Tanah Air. Dua kali ia menulis tentang hari
kemerdekaan, dua kali menulis buat Presiden, dan tentang
kedamaian dunia. Bacalah sebuah penggalan sajaknya:
"Kini...tengok! Fajar merah merekah indah/mengusir awan
kelam di langit cerah/selamat datang citra demokrasi/bersama
datangnya perdamaian di bumi/bersama merekahnya damai di
hati nurani. "Tampak ia amat peduli pada apa saja, dan
hidupnya kaya akan cinta kasih, mengutip seperti yang
ditulis Pendeta Rudianto Djajakartika dalam pengantar.
Apa inti yang mengkristal dari “Bukan Kasih Semusim”?
Bahwa kekuatan, kuasa Tuhan, dan rasa kasih setia akan
Tuhan betul tidak terperi. Henny membuktikannya berkali-kali
dalam pengalaman pribadi yang dengan khusuk
diterjemahkannya ke dalam kata-kata, betapa Tuhan, betapa
iman yang semakin tebal, iman yang selalu naik kelas itu,
membuatnya tegar:
"...dari gelap menjadi terang, dari susah menjadi senang,
dari putus asa menjadi penuh harapan".
Henny menuliskannya dengan tekun untuk setiap baris,
setiap sisi, setiap alur hidup dan kehidupannya. Terungkap,
bukan saja memilih jalan yang benar di mata Tuhan,
melainkan juga benar pula cara menempuhnya sesuai dengan
yang Tuhan kehendaki. Dengan kata-kata di dalam
sajak-sajaknya ia asyik terbang melayang-layang dengan
sayap iman.
Sajak merupakan cermin jiwa, cermin batin, cermin
penulisnya. Kita menangkap banyak bukan saja sesosok
kehidupan kristiani dalam “Bukan Kasih Semusim”, melainkan
sosok seseorang yang ingin hidupnya punya makna. Dan
sebuah kumpulannya ini hadir untuk mengungkapkan sikap
hidupnya:
"...bahwa agar kelak ada sesuatu yang ditinggalkan. Yang
terucap akan hilang terbawa angin, namun yang dituliskan,
apalagi jika dilakukan dengan tekun dan bersungguh-sungguh,
bisa menjadi sebuah tanda mata. Tanda mata buat suami,
anak-anak, buat siapa saja, dan buat kita juga".
Proficiat, Henny. Teruslah menulis puisi, kendati sudah
berumur senja. Sebab dengan terus menulis, batin kita akan
terasah, otak kanan kita terus bertambah tajam, membuat
hidup kita semakin arif, selain menjadi berkat buat banyak
orang yang bisa tersentuh membacanya, lalu menikmatinya.
Orang menemukan Tuhan di dalam sajak.
Pengalaman batin dari membaca puisi, tak ternilai
kepuasannya. Tak terperi pula harganya, dan kita sudah
memetiknya memperkaya batin, menebalkan iman, serta
menyuburkan rasa kasih kita yang tentu jangan sampai cuma
semusim, tapi sepanjang segala abad, sepanjang musim di
negeri rumah kehidupan kita.
Jakarta, 19 Agustus 2003
|