Media Mall
30 agustus 2003
Sajak-sajak Religius Seorang Wanita Sarjana Matematika
Dr. Handrawan Nadesul
Ada berapa wanita penulis sajak di Indonesia? Tidak banyak. Ada berapa wanita penulis puisi di gereja? Juga tak banyak. Tapi kalau sesekali ada sajak yang muncul di Kasut, nama Henny J. Sutjioko bukan asing buat kita.

Baru-baru ini Ibu tiga anak ini menerbitkan sebuah kumpulan puisi kurun waktu 1997-2003. Judul kumpulan sajaknya “Bukan Kasih Semusim”, sungguh menawan. Sajak manis yang ditulis oleh seorang matematikawati. Sebuah perkawinan antara logika dunia eksak dengan sentuhan rasa. Senyawa otak kanan dengan otak kiri.

Membaca “Bukan Kasih Semusim” saya menangkap, bahwa Henny, seorang yang Kristen betul. Dari 25 sajak dalam bukunya, tak kurang 10 sajak berbicara tentang Tuhan, selebihnya masih tentang doa, tentang rasa syukur, keteguhan hati, dan kentalnya kehidupan orang beriman.

Seperti yang diungkap sendiri dalam pengantar kumpulan sajaknya, Henny memang mudah tersentuh oleh apa saja dalam faset hidup kesehariannya. Ia begitu gampang terusik oleh kegelisahan menyaksikan yang timpang, yang serong, yang tak senonoh di sekitar hidupnya. Maka ia tak jemu berbicara tentang rasa iman, rasa syukur, rasa teguh, dan rasa-rasa lain yang belum tentu orang lain pikir dan rasakan sebelum membaca sajak-sajaknya.

Demikian memang adanya orang yang punya sentuhan menulis. Henny sudah menjalaninya sejak tahun 1950-an, ketika sajak-sajaknya dimuat di Majalah (zaman baheula) Star Weekly, kemudian di Majalah Mutiara tahun 1960-an. Penulis sajak umumnya cermat menangkap, merasakan, berpikir, tentang apa saja yang orang lain mungkin belum pikir, rasa, dan tangkap akan segala sesuatu di seputar hidup dan kehidupan. Henny sudah melakukannya dengan telaten.

Ia bukan cuma bicara tentang pribadinya, tentang hubungannya dengan Tuhan, ia juga bicara tentang bangsa, negara, dan Tanah Air. Dua kali ia menulis tentang hari kemerdekaan, dua kali menulis buat Presiden, dan tentang kedamaian dunia. Bacalah sebuah penggalan sajaknya:

"Kini...tengok! Fajar merah merekah indah/mengusir awan kelam di langit cerah/selamat datang citra demokrasi/bersama datangnya perdamaian di bumi/bersama merekahnya damai di hati nurani. "Tampak ia amat peduli pada apa saja, dan hidupnya kaya akan cinta kasih, mengutip seperti yang ditulis Pendeta Rudianto Djajakartika dalam pengantar.

Apa inti yang mengkristal dari “Bukan Kasih Semusim”? Bahwa kekuatan, kuasa Tuhan, dan rasa kasih setia akan Tuhan betul tidak terperi. Henny membuktikannya berkali-kali dalam pengalaman pribadi yang dengan khusuk diterjemahkannya ke dalam kata-kata, betapa Tuhan, betapa iman yang semakin tebal, iman yang selalu naik kelas itu, membuatnya tegar:

"...dari gelap menjadi terang, dari susah menjadi senang, dari putus asa menjadi penuh harapan".

Henny menuliskannya dengan tekun untuk setiap baris, setiap sisi, setiap alur hidup dan kehidupannya. Terungkap, bukan saja memilih jalan yang benar di mata Tuhan, melainkan juga benar pula cara menempuhnya sesuai dengan yang Tuhan kehendaki. Dengan kata-kata di dalam sajak-sajaknya ia asyik terbang melayang-layang dengan sayap iman.

Sajak merupakan cermin jiwa, cermin batin, cermin penulisnya. Kita menangkap banyak bukan saja sesosok kehidupan kristiani dalam “Bukan Kasih Semusim”, melainkan sosok seseorang yang ingin hidupnya punya makna. Dan sebuah kumpulannya ini hadir untuk mengungkapkan sikap hidupnya:

"...bahwa agar kelak ada sesuatu yang ditinggalkan. Yang terucap akan hilang terbawa angin, namun yang dituliskan, apalagi jika dilakukan dengan tekun dan bersungguh-sungguh, bisa menjadi sebuah tanda mata. Tanda mata buat suami, anak-anak, buat siapa saja, dan buat kita juga".

Proficiat, Henny. Teruslah menulis puisi, kendati sudah berumur senja. Sebab dengan terus menulis, batin kita akan terasah, otak kanan kita terus bertambah tajam, membuat hidup kita semakin arif, selain menjadi berkat buat banyak orang yang bisa tersentuh membacanya, lalu menikmatinya. Orang menemukan Tuhan di dalam sajak.

Pengalaman batin dari membaca puisi, tak ternilai kepuasannya. Tak terperi pula harganya, dan kita sudah memetiknya memperkaya batin, menebalkan iman, serta menyuburkan rasa kasih kita yang tentu jangan sampai cuma semusim, tapi sepanjang segala abad, sepanjang musim di negeri rumah kehidupan kita.

Jakarta, 19 Agustus 2003

 
>> Arsip

   

Gereja Kristen Indonesia Pondok Indah @ 2003