|
Navigasi |
|
|
|
|
|
Warta Jemaat |
|
|
|
|
Layanan Jemaat |
|
|
|
|
Kegiatan Ouikumenis
|
|
|
| |
|
|
|
|
 |
|
Kesehatan |
|
21 Juni 2008
Serangan Jantung dan Stroke Dapatkah Dicegah? Dr. Handrawan Nadesul |
|
|
Serangan jantung selain stroke, sekarang menimpa usia yang
lebih muda, dan kalangan mana saja. Tidak selalu sebab
faktor turunan, lebih karena kesalahan gaya hidup, kalau
mereka yang tak berbakat jantung koroner atau stroke,
masih terkena juga. Lebih lantaran ulah sendiri, jika
penyakit yang sebetulnya dapat dicegah itu, menimpa kita
juga. Bagaimana mudah mencegah penyakit yang tak selalu
perlu terjadi itu?
JANGAN sampai penyakit jantung dan stroke menimpa
keluarga kita. Sekali ada anggota keluarga yang menjadi
korban, orang serumah harus memikulnya bersama. Bagi
keluarga, merawat pasien jantung dan stroke bukan urusan
satu-dua tahun.
Bisa jadi pasien yang dirawat di rumah menjadi beban
keluarga sepanjang sisa hidup. Dan itu bisa berarti
ongkos dapur harus lebih dihemat, dan negara telanjur
kehilangan sumber daya bangsa yang mungkin masih
produktif.
Apalagi jika yang menjadi korban tulang punggung
keluarga. Kendati pasien jantung dan stroke masih bisa
aktif bekerja, namun tak sebagus kinerja selagi masih
normal. Maka seberapa bisa malapetaka itu jangan sampai
singgah ke rumah kita. Bagaimanakah cara mencegahnya
agar tamu tak diundang itu tidak datang? |
|
|
|
Menjinakkan faktor risiko |
Boleh dibilang hampir semua serangan jantung dan stroke
sesungguhnya dapat kita cegah. Bagi yang berisiko
terkena, perlu berupaya mengurangi semua faktor risiko
yang diwarisinya. Sedang bagi yang tidak berisiko,
jangan membiarkan risiko itu masuk dan bersarang dalam
kehidupan.
Meniadakan faktor risiko penyakit jantung dan koroner
berarti perlu ada usaha agar tubuh tidak gemuk, tak
darah tinggi, tiada kencing manis, lemak darah tidak
dibiarkan terus meninggi, bertekad untuk berhenti
merokok, dan tidak memilih pola hidup yang memancing
stres. Itu semua bisa diupayakan dengan cara lebih arif
dalam makan, rajin bergerak badan, selain rutin minum
obat.
Jangan menyerah pada keadaan. Mungkin ada bakat darah
tinggi dan kencing manis. Dan itu bukan akhir segalanya.
Obat dan cara hidup dapat mengendalikannya sehingga
tidak harus merusak badan nantinya. Membiarkan keduanya
merajalela, itulah kesalahan.
Dengan menghapus faktor risiko terserang jantung dan
stroke, mereka yang membawa risiko bisa memiliki harapan
hidup sama panjang dengan mereka yang tidak mewarisi
risiko. Sebaliknya justru mereka yang sebetulnya tidak
mewarisi risiko kena jantung dan stroke bisa mengundang
risiko itu datang jika tubuhnya dibiarkan gemuk.
Gemuk bisa berarti banyak. Lemak darahnya mungkin tinggi,
bisa jadi ada kencing manis juga. Apalagi kalau tetap
merokok, darah tinggi dan kencing manis yang diidap
bukan karena warisan melainkan lantaran salah dalam pola
dan gaya hidup, bisa menjadi petaka.
Tanpa diobati, membiarkan kedua penyakit menahun itu
orang akan menanggung nasib yang sama buruknya dengan
mereka yang mewarisi turunan berisiko. Fakta begini yang
semakin banyak tumbuh dalam keluarga modern, yang
kecukupan maupun yang serba kekurangan. Orang susah yang
hanya mampu makan dengan ikan asin tiap hari mencetuskan
darah tinggi juga yang mungkin bukan bakatnya. Konsumsi
garam dapur berlebihan pencetus kebanyakan darah tinggi
orang sekarang. |
|
|
|
Kaya miskin sama saja |
Orang bisa mati akibat kekayaannya, bisa juga lantaran
hidup serba kekurangan. Yang hidup kecukupan,
berkelimpahruahan yang ditumpahkan ke dalam menu dan
keliru dalam memilih gaya dan pola hidup itulah yang
membawanya masuk ke dalam risiko terkena jantung, dan
atau stroke.
Petaka yang sama dialami pula oleh yang karena kepapaan
hidupnya sehingga membawanya jatuh ke dalam risiko
terserang jantung dan stroke juga. Faktor peradangan (inflamasi)
oleh kuman tertentu (Chlamydia sp) pada pembuluh darah,
kini kedapatan menjadi salah satu penyebab terbentuknya
penyumbat pembuluh koroner jantung dan otak
(atherosclerosis). Itu berarti kaum papa berisiko kena
jantung dan stroke juga.
Begitu juga dengan peran vitamin-mineral tertentu
terhadap keutuhan pembuluh darah tubuh yang bisa juga
dirusak oleh racun radikal bebas dari menu harian,
polusi udara, atau dari mana pun datangnya.
Itu maka dibanding tubuh orang yang hidup kecukupan,
tubuh orang papa lebih rentan terkena peradangan selain
kekurangan vitamin-mineral sehingga nasib pembuluh
darahnya sama buruk dengan orang kecukupan dalam hal
terserang jantung dan stroke.
Kita tahu warisan bertubuh gemuk, darah tinggi, dan
kencing manis sebagai faktor risiko kena penyakit
jantung dan stroke, tidak harus berasal dari silsilah
kelompok orang berkecukupan. Orang yang hidupnya susah
dan membiarkan gemuk akan sama memikul risiko terserang
jantung koroner, atau stroke-nya juga. Belum dihitung
faktor stres terhadap kemunculan jantung koroner dan
stroke.
Akibat kepapaan, ketidakmampuan, dan
ketidak-terdidikannya, mengonsumsi menu murah yang
mengandung racun radikal bebas menjadi penyebab lain
serangan jantung dan stroke di kalangan kaum papa.
Kita tahu dampak sosial penyakit jantung dan stroke bagi
keluarga papa lebih tak terpikulkan. Selain kehilangan
produktivitas, penyakitnya belum tentu tuntas terobati.
Jika harus operasi bypass, atau dipasang cincin stent,
yang ratusan juta rupiah, misalnya. |
|
|
|
Kembali hidup pasrah alami |
Maka pilihan hidup kembali ke alam, siapa pun kita, sikap
bijak hidup di alam modern. Menu alami, guyub dalam
keluarga, sikap menerima, mengendurkan stressor, dan
merasa cukup sebagai orang biasa.
Kita melihat dari tokoh-tokoh nama besar. Di antara
mereka juga kalangan atlet. Kelihatan secara fisik
mereka bugar. Tapi kalau nyatanya terserang jantung
koroner atau stroke juga, itu karena stressor yang
mereka pikul melebihi kemampuan ketahanan jiwa.
Orang kecil, yang hidupnya dirundung kesusahan memikul
stressor yang berbeda. Namun sesungguhnya, sikap pasrah,
dan positif terhadap stressor, tahu bahwa Tuhan bekerja,
dan memberi jalan kepada kita, sikap pasrah sempurna
insani. Tidak berharap lebih, tahu porsi sendiri, sikap
mawas diri, merasa cukup untuk apa yang sudah Tuhan berimerupakan
bentuk kepasrahan total yang menyehatkan jiwa. Separo
penyakit orang sekarang, faktor stres pencetusnya.
Percuma badan sudah dibuat bugar, kalau jiwa getas dan
rapuh. Percuma badan dan jiwa tegar, dirundung stressor
tak berkesudahan jiwa akan kalah juga. Pada saat jiwa
gagal menyesuaikan diri dengan stressor itulah, orang
jatuh stres. Bentuknya bisa macam-macam. Salah satunya
berupa serangan jantung, dan atau stroke.
Memilih makan sederhana, tidak berlebih, hidup santai,
tidak mimpi muluk, nyaman dalam keluarga, bercengkerama
dengan tetangga, merasa diri diterima orang lain, merasa
memberi manfaat dan berkat bagi orang lain, dan hidup
guyub, barangkali cara mudah dan murah membatalkan
penyakit yang tidak sederhana dampaknya bagi anggaran
keluarga, pekerjaan, dan beban keluarga di kemudian hari. |
|
|
|
>> Arsip
|
|
|
|
|
|