|
Navigasi |
|
|
|
|
|
Warta Jemaat |
|
|
|
|
Layanan Jemaat |
|
|
|
|
Kegiatan Ouikumenis
|
|
|
| |
|
|
|
|
 |
|
Kesehatan |
|
24 Pebruari 2008
Penyakit Chikungunya Dr. Handrawan Nadesul |
|
|
BULAN-BULAN
ini penyakit virus ini kembali menyerang beberapa daerah.
Hampir setiap tahun seperti itu. Di beberapa daerah
berjangkit serempak. Beberapa keluarga terserang
berbarengan.
Demam tinggi yang datang disertai dengan nyeri hebat pada
persendian. Sedemikian hebat nyeri sendinya sehingga
menghebohkan. Pasien mengalami kesukaran dalam upaya
bangkit dari posisi duduk atau berbaringnya. Terkesan
pasien menderita kelumpuhan. Benar lumpuhkah?
Tidak. Ini bukan penyakit aneh. Namun oleh karena
serangannya menimbulkan gangguan sendi, dan pasien tidak
mampu menggerakkan sekujur badannya, sehingga terkesan
seolah-olah ini penyakit aneh. Penyebabnya virus Afrika
Chikungunya (banyak di Zambia, dan Tanzania), sekerabat
dengan virus demam berdarah dengue, dan sama seperti demam
berdarah, virusnya ditularkan lewat gigitan nyamuk kebun
Aedes aegypti. Orang medis menyebutnya penyakit
Chikungunya.
Chikungunya tergolong penyakit zoonosis sebab selain pada
manusia bisa menyerang hewan juga, dengan gejala khas
menyerang seluruh sendi. Oleh karena sendi-sendi tak bisa
digerakkan sebab terasa kaku, dan nyeri, terkesan
seolah-olah terjadi kelumpuhan. Padahal sejatinya bukan
betul-betul lumpuh.
Awalnya ini penyakit pada kera hutan di Afrika. Virusnya
tersebar meluas sepanjang Sub-Sahara Afrika, Asia Tenggara,
India, Filipina, termasuk Indonesia sendiri. Secara
sporadik acap menimbulkan wabah. Tercatat wabah berjangkit
di Thailand tahun 1962, dan tahun 1997, di Selangor
Malaysia Januari 1999 lalu (Time, 31/01/99).
Buat Indonesia ini bukan penyakit baru. Tahun 1980-an
sudah pertama kali berjangkit di Kalimantan Tengah. Pada
waktu itu diperkirakan 20 tahun kemudian penyakit virus
ini bakal meluas sebab siklus iklim dan virologis (faktor
kevirusan). Dan ternyata benar, serangan virus yang sama
kini berjangkit lagi.
LALU apakah
penyakit ini begitu menakutkan?
Tidak. Chikungunya tidak berakhir dengan kelumpuhan,
apalagi kematian. Hanya tercatat satu-dua meninggal akibat
komplikasi pada jantung (endocarditis) yang biasanya
mengenai katup jantung. Umumnya kasus begini menyembuh
sendiri tanpa menyisakan kecacatan apa pun.
Chikungunya berjangkit di wilayah-wilayah beriklim tropis.
Oleh karena sering menjangkiti pendatang, penyakit ini
tergolong penyakit para pesiar (travelling disease).
Mereka yang berwisata ke wilayah Afrika, Asia tenggara,
India, dan sekitarnya perlu mewaspadainya, terutama jika
penyakit yang punya alias ONyong-Nyong ini, tengah
berjangkit.
Kendati tidak mematikan, atau menyisakan cacat, atau
kelumpuhan, serangan virus cukup membuat pasien cukup
menderita. Oleh karena seluruh persendian tubuh diserang,
sekujur tubuh seakan tidak bisa digerakkan. Pasien takut
menggerakkan tubuh yang sendi-sendinya kaku dan nyeri,
sehingga menimbulkan kesan telah terjadi kelumpuhan.
Tidak ada obat khusus untuk penyakit ini selain meredakan
demam, dan nyeri sendinya saja. Dengan atau tanpa obat,
penyakit yang bisa menyerang kambing, sapi, kuda, kera,
dan burung ini, akan menyembuh sendiri (self-limiting
febrile viral). Kerugiannya, waktu kerja, waktu berwisata,
dan waktu untuk melakukan aktivitas rutin terganggu dalam
hitungan minggu.
Tahunya betul terserang virus Chikungunya, dengan cara
pemeriksaan darah di laboratorium. Contoh darah dikirim ke
Laboratorium Biofarma Bandung untuk memastikan betul virus
Chikungunya penyebab serangan demam, gangguan semua sendi
tubuh, dan munculnya bercak merah pada kulit. Hasil
positif pemeriksaan ini hanya memberikan nilai
epidemiologis, mewaspadai agar jangkitan tidak terus
meluas di suatu wilayah, namun kurang memberikan makna
klinisnya.
Pemerintah berkepentingan untuk melacak setiap serangan
wabah sporadik Chikungunya untuk tujuan eradikasi, dan
membatasi penularan penyakit agar tidak bertambah menyebar
luas. Caranya seperti pada pemberantasan Demam Berdarah
Dengue, yakni dengan membasmi jentik nyamuk kebun Aedes
aegypti serta semua tempat perindukannya, menyiangi air
jernih (air hujan) yang tergenang, serta pengasapan
(fogging) jika terjadi jangkitan Chikungunya di suatu
wilayah.
VIRUS
Chikungunya termasuk mikroorganisme dalam daftar bahan
untuk bioterorisme juga. Melihat tabiatnya yang bisa
mengganggu sekujur sendi tubuh, virus ini dianggap
berpotensi untuk dipilih dalam gerakan teror selain
anthrax, dan virus cacar air (varicella). Amerika Serikat
mewaspadai pemakaian virus Chikungunya sebagai bahan teror
(Ann M Fritzpatrick).
Dapat dibayangkan jika ribuan orang sengaja dijangkiti
virus Chikungunya dalam waktu yang bersamaan. Mendadak
terjadi gangguan sendi yang menjadikan orang tak sanggup
berdiri, alih-alih berjalan, atau berlari. Pasien yang
terserang Chikungunya merasa betul-betul tidak berani
menggerakkan badannya, saking sendi-sendinya kaku dan
nyeri. Kondisi demikian yang diharapkan terjadi pada
puluhan, bahkan ratusan ribu serdadu yang memang sengaja
dirancang untuk menyerangnya sebagai sebuah bentuk
kegiatan teror. |
|
|
|
>> Arsip
|
|
|
|
|
|