|
Navigasi |
|
|
|
|
|
Warta Jemaat |
|
|
|
|
Layanan Jemaat |
|
|
|
|
Kegiatan Ouikumenis
|
|
|
| |
|
|
|
|
 |
|
Kesehatan |
|
9 Desember 2007
Iklan Obat Kita Dr. Handrawan Nadesul |
|
|
RAMAI dibicarakan orang minuman berserat, minuman penyegar,
dan sejenisnya (smart drink) yang di Barat disangsikan
orang. Orang bertanya apa ada faedahnya? Kalau ada, apa
perlu diminum? Kalau memang perlu, apa tidak ada efek
sampingnya?
Pasien kita umumnya kelewat gampang termakan iklan obat.
Jika iklan obat semakin genit, konsumen pasti merugi.
Iklan obat keputihan di televisi, misalnya. Pasien mungkin
mengira jenis keputihan cuma satu, dan obatnya hanya itu.
Bujukan iklan barang tentu tak menyembuhkan jika
keputihannya disebabkan infeksi. Keputihan juga bisa
gejala kanker kandungan. Jika kanker terus mengandalkan
obat iklan, kanker tak sembuh. Itu berarti kanker tertunda
tidak diterapi. Terlambat kanker diterapi, buruk buntutnya.
Demikian pula bunyi iklan obat batuk, atau obat mencret.
Di mata medis terkesan iklan menyederhanakan penyakit.
Persepsi masyarakat tentang penyakit jadi rancu, seakan
semua obat batuk, obat mencret, atau obat lainnya niscaya
menyembuhkannya. Padahal tidak begitu di penglihatan medis.
Penyebab penyakit bisa lebih dari satu. Lain penyebabnya,
lain pula obatnya.
Harus diakui pranata kesehatan masyarakat kita rata-rata
belum tinggi. Wawasan dan pengetahuan obat masyarakat
belum memadai untuk berobat swamedikasi. Padahal di tengah
krisis begini, agar berobat bisa efisien, ketika harga dan
ongkos berobat masih tinggi, selama sakit belum berat,
berswa-medikasi dianggap pilihan paling tepat.
Namun pilihan berswamedikasi membahayakan khalayak jika
iklan obat masih mengecoh. Masih banyak konsumen terpedaya
iklan panas dalam, susu kuda liar, jamu sarirapet, benalu
kanker, serat antisembelit, dan entah apa lagi yang tak
jelas indikasi dan sukar masuk nalar medis. Pasien kita
pun gampang sembarang memakai sendiri obat resep dokter,
karena obat dokter bisa dibeli bebas di pasar gelap.
Sejatinya tidak semua yang mengaku obat, masuk nalar medis.
Dunia medis sendiri sedang ditantang mengorek begitu
banyak ragam pengobatan dan penyembuhan nonmedis yang
membingungkan pasien. Memang tidak semuanya nonsens. Ada
yang perlu diperhitungkan.
Harus diakui pula pengetahuan dokter tentang phytopharmaca,
tumbuhan berkhasiat, dan jamu, tidak seluruhnya dikuasai.
Alih-alih memberi advis profesional, mengenal produk saja
pun dokter mungkin belum tahu. Padahal kini banyak jamu
nakal sebab diisi obat dokter, selain ramuan yang mengaku
bisa menyembuhkan segala penyakit. Dalam nalar medis, tak
ada obat penyembuh seribu satu macam penyakit seperti kata
iklan.
Di mata medis pun tidak semua obat tradisional aman
dikonsumsi. Belum lagi menghadapi banjirnya pengobat dan
penyembuh tradisional berkedok terapi alternatif. Tidak
semua yang mengaku terapi alternatif bisa diterima nalar
medis. Namun harus diakui ada terapi dan penyembuhan
alternatif yang masuk akal medis, sambil harus dicegah
jika masih ada masyarakat terkecoh oleh iklan penyembuhan
herpes, AIDS, atau hepatitis, yang di dunia medis belum
ada obatnya. Logikanya, andai obat atau penyembuh nonmedis
seperti itu terbukti benar, sudah dari dulu-dulu untuk
temuan itu berhak mendapatkan Nobel. Nyatanya tidak.
SELAMA pranata dan wawasan kesehatan konsumen belum tinggi,
berbahaya jika iklan obat, terapi alternatif, dan obat
tradisional yang mengecoh tidak ditindak. Di keseharian
masih ada pasien pergi ke orang pintar. Kasus tumor yang
minta diangkat orang pintar, lalu pasien kecele sebab yang
dikeluarkan cuma gajih kambing, misalnya, bukan kejadian
satu-dua kali.
Selama nalar medis masyarakat belum tajam, pengobatan
nonmedis mudah melipat-lipat akal sehat. Bahwa ada terapi
alternatif yang masuk akal medis, sudah bagian dari
penerimaan medis. Praktek accupuncture, homeopathy,
macrobiotics, dan banyak lagi, kini berdampingan
memperkaya praktik medis. Namun itu tak menjadi berarti
setiap pengobatan maupun penyembuhan nonmedis laik
diterima. Dan oleh karena nalar medis masyarakat masih
lemah, banyak iklan obat memanfaatkan kelemahan semacam
itu buat mengecoh.
Di Amerika yang masyarakatnya sudah lebih melek sehat
pun Badan Pengawasan Obat Amerika FDA cukup dipusingkan
iklan obat. Dalam setahun FDA harus mengirimi tak kurang
100 surat kepada perusahaan farmasi nakal. Mereka diimbau
tidak memasang iklan obat yang menyesatkan di TV, majalah,
atau koran. Jenis iklan yang membangun persepsi seolah
obat bisa untuk segala penyakit (Dr.Bradford Ponzt).
Rata-rata iklan obat menjanjikan klim efektivitas obat
secara berlebihan, dan tidak balans menyebut efek samping.
Buat masyarakat kita yang masih belum semua melek sehat,
pembuat iklan obat yang condong mengambang perlu diajak
berunding. Media massa yang memuat iklan obat, pengobat
nonmedis, dan penyembuh yang serong, juga perlu diajak
mempertajam nalar medis agar masyarakat tak sesat berobat
dan memilih obat dalam berswamedikasi.
Iklan obat tetes mata yang menjanjikan rabun jauh tak
perlu pakai kacamata, sukar diterima nalar medis. Iklan
obat kuat oles dari Cina, teknik memperbesar kemaluan,
jamu sehat lelaki, samimawon. Tak jelas unsur berkhasiat
tangkur buaya, pasak bumi, dan sejenisnya buat indikasi
seks. Selain terkecoh boleh jadi juga membahayakan.
Jika iklan obat kulit berisi bahan berbahaya mercury
dibiarkan, konsumen berisiko kena kanker kulit. Selain
bahan berbahaya, mungkin akibat salah cara pakai sebab tak
semua konsumen bisa baca aturan pakai dalam bahasa asing,
sehingga bisa buruk efek sampingnya.
Begitu juga dengan obat kurus suntikan amphetamine di
salon-salon yang berpotensi bikin sakit jantung, jadi
murus-murus terus, atau menimbulkan kecanduan. Iklan obat
gemuk tapi bikin tembam dan jerawatan, dan mens jadi kacau
sebab isinya hormon berbahaya. Selain menyalahi kaidah
medis, iklan-iklan nakal seperti itu berisiko merusak
kesehatan konsumen.
ETIKA beriklan harus sama jujurnya dengan kerja profesi
dokter. Jika iklan obat masih tak etis, semakin tumpul
nalar medis masyarakat dibuatnya, dan masyarakat tersesat
untuk menjadi sehat, selain tak hemat membelanjakan obat.
Ke depan kita masih akan menyaksikan masyarakat tersesat
sewaktu berobat, oleh karena tentu jumlah obat bebas yang
beredar semakin banyak dan beragam, sedang masyarakat
belum dibikin pintar memilih obat, dan cara berobat yang
benar. Itu berarti, ongkos berobat swamedikasi agar bisa
mengirit, malah jadi pemborosan, dan hasilnya pun mungkin
nihil.
Dalam berswamedikasi masyarakat perlu dimampukan kritis
memilih berobat. Pemasang iklan obat, biro iklan, dan
mereka yang menawarkan pengobatan dan penyembuhan nonmedis,
perlu diajak bersepakat tidak menambah bodoh konsumen.
Kontrol pemerintah terhadap semua iklan obat yang nakal
tidak boleh lagi setengah hati.
Diperlukan sebuah komitmen ulang. Bahwa pekerjaan servis,
melakukan reparasi, perawatan, pengobatan, dan penyembuhan
terhadap tubuh manusia sepatutnya tetap diluhurkan. Tak
elok membujuk orang sakit yang masih saja cenderung
disikapi seperti sedang menawarkan parfum, menu akhir
pekan, mirip layanan montir radio, atau kesibukan layaknya
di sebuah bengkel mobil. |
|
|
|
>> Arsip
|
|
|
|
|
|