|
Navigasi |
|
|
|
|
|
Warta Jemaat |
|
|
|
|
Layanan Jemaat |
|
|
|
|
Kegiatan Ouikumenis
|
|
|
| |
|
|
|
|
 |
|
Kesehatan |
|
20 Januari 2007
Cyberchondria Dr. Handrawan Nadesul |
|
|
Sekarang
internet kian menggampangkan orang menambah wawasan medis.
Semua penyakit bisa dibaca tuntas di internet. Bahkan awam
pun bisa berinteraksi langsung dengan ahlinya. Apa
bahayanya?
Bagi sekelompok orang, semakin banyak tahu penyakit,
semakin muncul perasaan takut. Konon itu sebabnya buku dan
tabloid kesehatan tidak dicari segala orang. Banyak orang
takut membaca seluk beluk penyakit lantaran cenderung
diproyeksikan pada diri sendiri.
Kondisi itu sekarang sudah menggejala pada banyak pengguna
internet. Label baru orang dengan kondisi itu disebut
sebagai internet print out syndrome. Dr. Trover Roscoe
menjulukinya sebagai Cyberchondria.
Studi di Universitas Alabama, AS, melihat munculnya
kondisi orang-orang yang cenderung mendiagnosis
penyakitnya sendiri setelah membaca rangkaian
gejala-gejala suatu penyakit di internet. Orang merasa
dirinya sedang berpenyakit setiap kali membaca gejala dan
tanda-tanda suatu penyakit.
Kita teringat kasus Baron von Munhausen dahulu yang
berhasil mengelabui sekian banyak dokter bedah. Ia
menguasai semua gejala penyakit bedah, mampu pula
memerankan diri sebagai pasien bedah betulan. Dokter
bedahnya yakin kalau ia benar kasus bedah. Namun setiap
kali dibedah, hasilnya selalu nihil sebab memang ia tidak
sakit. Ia memetik kenikmatan saban kali berhasil
mengelabui dokter bedahnya. Von Munhausen mengidap
penyakit jiwa doyan berbohong (pathological liar), dan
merasa nikmat kalau berhasil bikin orang lain tertipu.
Sindroma Munhausen bagian dari apa yang disebut
hypochondria. Orang selalu merasa dirinya banyak penyakit,
tapi secara medis tidak terbukti ada. Benar-benar merasa
ada keluhan penyakit entah apa saja, namun tak ditemukan
kelainan apa-apa kalau diperiksa. Kondisi seperti itu bisa
juga tergolong gangguan jiwa somatoform. Orang yang merasa
dirinya sakit terus padahal tidak sakit disebut
hypochondriasis.
Orang dengan cyberchondria pun punya kebiasaan langsung
mendiagnosis diri sendiri sakit setiap kali membaca gejala
suatu penyakit di dunia cyber. Ia merasa kena usus buntu
begitu tahu gejala usus buntu itu nyeri di perut kanan
bawah, demam, mual, dan sembelit. Padahal di mata medis,
tidak semua gejala seperti itu tentu usus buntu. Orang
dengan cyberchondria terganggu logika medisnya. Gejala
medis yang (kelihatannya) sama, belum tentu mewakili
penyakit yang sama, atau mungkin bukan penyakit apa-apa.
Berjuta-juta orang yang mengeluh nyeri kepala setiap
harinya. Tapi cuma satu-dua saja yang nyeri kepalanya
bermakna gejala tumor otak, misalnya.
Kecenderungan orang yang bersikap menyederhanakan dalam
mendiagnosis keluhannya sendiri, berpotensi menumpuk
kecemasan dalam dirinya. Orang yang punya bakat pencemas
mudah sekali gundah setiap kali tahu lebih banyak tentang
gejala-gejala penyakit. Kecemasan sendiri membuat orang
rentan jatuh sakit. Boleh jadi orang menjadi sakit justru
akibat rasa cemasnya sendiri yang dibiarkan terus
berlarut-larut.
Bahaya timbul
jika dari mendiagnosis penyakit sendiri, orang langsung
mengobatinya sendiri. Mata merah tidak selalu berarti
infeksi. Maka tidak semua obat tetes mata merah boleh buat
semua gejala mata merah. Mata merah bisa berarti alergi,
bukan tak mungkin glaucoma, penyakit mata serius yang bisa
buta jika terlambat diobati. Jika salah mengobatinya
sendiri bisa fatal sebab terlambat diberi obat yang tepat.
Simplifikasi bahwa gejala yang sama tentu mewakili
penyakit yang sama menggampangkan orang berswamedikasi.
Ketika ongkos berobat sekarang serba mahal, sikap
berswamedikasi memang menjadi dewa penolong rakyat kecil.
Tentu tak selalu aman.
Jika orang dengan cyberchondria merasa yakin pada
diagnosisnya yang belum tentu betul, memilih mengobati
diri sendiri bisa berisiko buruk. Bisa jadi semua keluhan
mencret dianggap perlu diberi antimencret, padahal tidak
semua kasus mencret perlu distop, misalnya.
Semakin gamblang dunia kesehatan virtual, semakin
telanjang informasi medis yang tidak semuanya perlu pasien
ketahui. Oleh karena sesungguhnya ada bagian-bagian
informasi yang cukup hanya dokter saja yang tahu jika itu
dianggap bisa berakibat merundung pikiran pasien dan tak
ada manfaatnya buat penyembuhan. Ini sisi ruginya kalau
awam rajin berinternet medik.
Ketelanjangan informasi medis tidak sehat buat semua orang.
Bagi yang lemah jiwa, alih-alih membuat orang lebih sehat
dan waspada terhadap penyakit, informasi medik di internet
bisa-bisa malah mungkin menambah berat sakitnya.
Sekarang semakin diyakini kalau pikiran kuat pengaruhnya
pada badan. Pikiran negatif menurunkan dayatahan, selain
merusak sistem dalam mesin tubuh. Sebaliknya pikiran
positif, termasuk berdoa, bermeditasi, dan berzikir,
misalnya, meningkatkan dayatahan tubuh. Orang dengan
cyberchondriasis cenderung berisiko dirundung pikiran
negatif.
Pada orang
awam, informasi medis yang sangat telanjang berpotensi
menimbulkan pikiran negatif. Orang yang semula sehat bisa
mendadak jadi sakit betulan begitu diberi tahu kalau di
tubuhnya sudah ada penyakit. Bukan mustahil bisa
membuatnya stres berat.
Bagi orang yang takut menghadapi kenyataan, jiwanya bisa
langsung runtuh begitu mendengar ada yang tidak beres pada
tubuhnya. Begitu pula yang mungkin dilakukan oleh
ketelanjangan informasi medis di internet yang terbuka
buat setiap orang kapan saja orang mau. Termasuk jika
menimpa orang yang berbakat hypochondria, mereka yang
selalu merasa badannya tidak pernah waras terus. Yang
seperti itu kini banyak menggejala di dunia, akibat saking
rajinnya orang membuka cybermedicine. |
|
|
|
>> Arsip
|
|
|
|
|
|