|
Navigasi |
|
|
|
|
|
Warta Jemaat |
|
|
|
|
Layanan Jemaat |
|
|
|
|
Kegiatan Ouikumenis
|
|
|
| |
|
|
|
|
 |
|
Kesehatan |
|
29 April 2006
Penyakit Alzheimer, momok bagi para senior! Dr. J. Widyaharsana, D.E., Facb.
|
|
|
Selama hampir
100 tahun, peneliti medis telah berusaha untuk memecahkan
suatu misteri yang diungkapkan pertama kali oleh dokter
Jerman ALOIS ALZHEIMER pada tahun 1907, dan yang sampai
sekarang ini masih menghantui para warga usia SENIOR, pria
maupun wanita, karena dapat merusak pikiran mereka secara
menakutkan, sampai-sampai penyakit yang satu ini disebut
sebagai: MIND-ROBBING-disease!
Asal-mulanya, seorang wanita berusia 51 tahun bernama
Augusta D. dibawa ke rumah sakit jiwa di Frankfurt, Jerman,
oleh keluarganya yang panik dan bingung atas kehilangan
ingatan (forgetful) dan disorientasi (lupa dirinya berada
di mana) yang dialami Augusta D. tersebut. Ia dirawat oleh
DR. ALZHEIMER, yang tidak bisa berbuat banyak kecuali
mengawasi dan mengobservasi keadaannya yang semakin
memburuk. Pasien ini tinggal selama lima tahun di dalam
rumah sakit itu, tanpa mampu mengingat nama suaminya atau
merawat dirinya sendiri.
Sesudah kematiannya, DR. ALZHEIMER melaksanakan autopsi
otaknya, dan menemukan “substansi aneh” di dalam
cerebral-cortex-nya, yaitu kelompok-kelompok yang tebal
dari serat-serat (fibers) di antara “kekosongan” sel-sel
otaknya. Gambaran di atas menjadi bentuk anatomis yang
menentukan bagi penyakit ALZHEIMER dan tampak di dalam
jaringan otak beribu-ribu pasien ALZHEIMER.
Kelompok-kelompok serat-serat itu dinamakan Plak.
Timbullah jalan pikiran bahwa yang menjadi masalah adalah
kematian sel-sel otak, sedangkan plak yang kurang
dikehendaki tadi merupakan penyebab dasarnya. Jalan
pikiran di atas berlaku terus sampai beberapa tahun
terakhir. Pada saat itu riset oleh DR. MASLIAH dan DR.
ROBERT TERRY menunjukkan bahwa tingkat dementia para
pasien tidak menunjukkan korelasi dengan jumlah plak di
dalam otak pasien pada saat autopsi. Tidak adanya korelasi
langsung antara plak dan dementia mengakibatkan pergeseran
dalam pengertian yang berlaku tentang penyebab penyakit
ALZHEIMER.
Paradigma baru tentang penyebab yang sebenarnya dari
penyakit tersebut kini dijelaskan oleh DAVID TEPLOW,
Ph.D., profesor bagian Neurologi di Harvard, sebagai
berikut: fragmen-fragmen yang lengket (sticky) dari suatu
protein yang dinamakan amyloid-beta (A-beta) yang
diproduksi dan disekresi oleh sel-sel otak, dan amat
mengganggu pekerjaan dan fungsi sinopsis yang meneruskan
sinyal-sinyal dari otak melalui neuro-transmitters.
Setelah
berjuang hampir 100 tahun lamanya, dunia kedokteran
akhirnya berhasil menemukan, bahwa apa yang dinamakan
“PLAQUES” di dalam substansi-otak para penderita
Alzheimer-disease, bukanlah penyebab sebenarnya dari
penyakit ini, melainkan hanya produk-sampingan yang cukup
mencolok. Penyebab langsung adalah sticky-fragments dari
protein Amyloid-beta (A-beta) yang diproduksi dan
di-sekresi oleh sel-sel otak, dan yang amat mengganggu
peranan serta fungsi Sinopsis yang mentransmisi
sinyal-sinyal dari otak melalui neurotransmitters!
Paradigma baru ini membuka jalan bagi usaha-usaha
penanganan/pengobatan baru oleh berbagai pusat ilmu
kedokteran yang tenar di dunia untuk berusaha meringankan
dampak dari momok para Senior yang dijuluki
Mind-Robbing-disease ini dengan berbagai macam approach.
- Pendekatan lewat Vaksinasi; Elan Pharmaceuticals
mentest 3 (tiga) formulasi vaksin: Satu pada tahun 2002
dan dua lagi tahun 2003 dan 2004 difile-kan pada FDA untuk
testing pada manusia. Sebagaimana halnya dengan semua
pendekatan yang menggunakan cara vaksinasi, dibutuhkan
banyak waktu yang lama sebelum dapat diambil kesimpulan
yang pasti tentang hasilnya.
- Pendekatan Pharmaceutical (lewat obatan-obatan);
- Pfizer, Znc., menyumbangan biaya besar pada pasaran
sebesar USD 1,5 Trilliun, yang didominasi oleh ARICEPT,
salah satu dari empat obat, yang di-design untuk
mempertahankan tingkatan Acethylcholine, di dalam jaringan
otak. Acethylcholine merupakan salah satu neurotransmitter
yang penting untuk proses belajar dan memori.
Di samping itu, Pfizer juga bekerja keras dalam
identifikasi suatu Compound yang dapat mempengaruhi
enzyme-enzyme yang memprodusir protein beta-amyloid.
- Glaxo Smith Kline meneliti compound-compound yang dapat
menghambat enzyme-enzyme yang ada sangkut paut dengan
produksi beta-amyloid.Glaxo Smith Kline juga bekerja di laboratorium-researchnya
atas sebuah protein yang dinamakan No-Go, yang ada
kemungkinan terlibat dengan menghambat regenerasi
sel-syaraf. Mereka mengharap, bahwa mem-block kerja No-Go
akan memungkinkan sel-sel neuron yang rusak, untuk
tumbuh-kembali (re-growth of nerve cells).
- Pendekatan Surgical (Cara-cara pembedahan);
Pendekatan Surgical ini yang paling menjanjikan hasil saat
ini (most promising) karena beberapa hal:
- Prinsip pembedahannya sama dengan pembedahan yang
dilakukan sebagai pengobatan bagi bayi dengan
Hydrocephalus.
- Prinsipnya: cairan cerebro-spinalis yang mengaliri
ruang-ruang di antara jaringan otak (yang berlebihan pada
hydrocephelis) dialirkan keluar dari rongga-kepala melalui
cathater yang dinamakan “SHUNT” lewat ruang abdominal.
Pada Alzheimer cairan ini akan “menggelontor”jaringan otak,
sambil membawa keluar (meng-oplos) protein Bety-Amyloid
yang mengganggu, sehingga kurang menumpuk dan merusak
kerja sel-sel neuron.
- elaksanaan “Shunting” excess-cerebrozpinal-jenid ini
dapat dilakukan oleh setiap dokter ahli bedah syaraf yang
kompeten,dengan Shunt (Chateter) plus-valve-special yang
di-design dan diproduksi oleh tim dari neuro-surgeon
Gerald Silverberg, M.D, dari Stanford-Universtiy, USA.
|
|
|
|
>> Arsip
|
|
|
|
|
|