|
Navigasi |
|
|
|
|
|
Warta Jemaat |
|
|
|
|
Layanan Jemaat |
|
|
|
|
Kegiatan Ouikumenis
|
|
|
| |
|
|
|
|
 |
|
Kesehatan |
|
12 April 2006
Soal Makanan Berformalin, dll Dr. Handrawan Nadesul |
|
|
Makanan berformalin sebetulnya potret dari kondisi
mayoritas rakyat yang tidak punya pilihan dalam menyusun
menu hariannya. Daya beli rata-rata masyarakat yang belum
tinggi menyuburkan industri makanan rumahan yang nakal,
ketika permintaan makanan berharga rendah masih dicari
orang. Sudah barang tentu lantaran kebanyakan masyarakat
awalnya memang tidak tahu seberapa besar bahaya makanan
yang ditambahi ini-itu bahan berbahaya, termasuk formalin.
Berbahayakah formalin dalam makanan harian kita?
Memang belum tentu. Bahwa formalin dalam makanan dosisnya
benar sangat kecil, dan sifat formaldehyde langsung
terurai begitu masuk termakan. Jadi sesungguhnya kejahatan
formalin tidak seburuk yang dikira. Lalu harus bagaimana
sikap kita sekarang?
Banyak yang belum tersingkap ihwal efek buruk bahan kimia
bukan laik makan, termasuk bumbu, penyedap, pewarna,
pengawet, bahkan di luar yang sekarang dianggap aman
sekalipun. Seperti halnya dengan obat. Awalnya dinilai
aman, namun setelah sekian lama pemakaian, barulah muncul
sifat jeleknya, lalu obat ditarik dari peredaran. Hal
serupa juga mungkin untuk bahan kimiawi dalam makanan yang
masih dipakai sampai sekarang. Mana tahu kalau nantinya
tergolong bahan berbahaya juga.
Jadi sikap kita terhadap makanan berformalin, sekalipun
terbukti masih aman dicampurkan dalam makanan harian kita,
seberapa bisa kita jauhi sajalah. Bagaimana pun formalin
dan pecahannya tetap termasuk bahan kimiawi, yang mestinya
tidak perlu mencemari sel-sel tubuh kita, karena asing
menerimanya.
Bagaimana tahu kalau suatu makanan pilihan kita bebas
formalin?
Itu susahnya. Tidak gampang mengenali makanan berformalin,
hanya dari wujud tanpa menganalisisnya. Tidak selalu bisa
diendus dari baunya, atau dari rasanya. Namun satu hal
mungkin dapat dipatok untuk mencurigainya, yakni bila
harga makanan yang kita beli tergolong tidak masuk akal
seturut perhitungan ekonomi. Bila makanan sejenis lebih
murah dari pesaingnya.
Tapi rakyat kebanyakan jelas tetap tidak punya pilihan.
Sikap pemerintah yang harus turun tangan melakukan
langkah-langkah agar semua jenis makanan, atau apa pun
yang dikonsumsi publik sebaiknyalah tidak diformalin.
Tapi industri rumahan ada ratusan ribu. Bagaimana mungkin
tangan pengawasan pemerintah bisa menjangkau yang sebanyak
itu, selain dengan cara membuat konsumen lebih cerdas dan
kritis memilih makanan yang akan dikonsumsinya. Hukum saja
belum tentu bergigi kalau daya beli masyarakat masih
rendah, dan pengawasan masih ompong.
Bukan cuma formalin sebetulnya. Kita masih dirongrong oleh
begitu beragam jenis bahan kimiawi berbahaya yang
mencemari makanan dan minuman kita. Selama kondisi
masyarakat masih kurang informasi seperti sekarang, tubuh
mereka masih terus akan dirusak oleh bahan kimiawi dalam
penganan harian mereka. Ambil contoh, saus tomat dan
sambal murah, yang konon isinya ubi, cukak, dan zat warna
(konon) tekstil (rhodamine B). Zat warna ini populer
dipakai buat sirop, limun, lipstik, pemerah pipi, yang
dijajakan sebagai jajanan murah.
Boraks sebagai pengawet juga tak layak dipakai, selain
meruahnya pemakaian penyedap dalam jajanan dan menu
restoran. Bukan sedikit penganan jajanan juga diimbuhi
macam-macam bahan kimiawi (berbahaya), tanpa terkontrol
oleh pemerintah. Membuat limun jajanan sekolah dengan air
mentah, ditambah pemanis buatan (sacharine dan aspartame,
yang belakangan, juga kedapatan tidak menyehatkan), selain
memakai pewarna tekstil juga.
Begitu juga dengan petis, terasi, selain ikan asin,
kerupuk murah, sudah barang pasti bisa juga memakai bahan
bukan yang menyehatkan. Di negara maju beragam pula jenis
makanan publik yang mengandung dioxane, salah satu kimiawi
dalam makanan-minuman yang perlu dijauhi juga. Bahan
tersebut konon juga mencemari makanan bayi.
Kita juga mengenal kecap murah, selain camilan produksi
rumahan yang tidak jelas bahan maupun campurannya. Di kita
tidak ada ketentuan memasang label pada kemasan makanan
maupun minuman. Alih-alih menyebutkan takaran isinya,
kandungannya pun hanya pabriknya yang tahu. Ketentuannya,
bahkan berapa banyak garam dapur ditambahkan pun mestinya
tertera dalam label kemasannya.
Jadi sekali lagi, kiat dan strategi menghadapi kondisi
simpang-siur makanan dan jajanan berbahan kimiawi
berbahaya, harus disikapi dengan seberapa bisa menjauhkan
semua jenis makanan olahan (pabrik, industri rumahan), dan
memilih jenis makanan yang lebih alami, seperti ubi,
singkong, pisang rebus, atau talas kukus, kalau bukan
kacang rebus, dan bubur kacang hijau.
Kalau takut ikan laut diawetkan dengan formalin, pilih
dulu ikan tawar, seperti lele, mas, gurame, belut, tawes,
tembakang, atau patin. Banyak pilihan untuk tidak terbawa
arus kenakalan pengusaha makanan yang culas. Juga bagi
masyarakat kebanyakan. Membuat jajanan dan menu harian
serba alami jauh lebih menyehatkan ketimbang tidak mau
repot membeli makanan dan minuman jadi, instant, atau siap
saji.
Kesehatan kita sebetulnya otobiografi dari apa yang selama
ini kita konsumsi. Rapor kesehatan kita ditentukan pula
oleh isi meja makan kita, dan apa saja jajanan yang kita
beli secara serampangan. Tumpukan kimiawi dari makanan
harian yang tertimbun di tubuh itulah yang kelak menjadi
sarang penyakit. Bukan satu-dua penyakit, bisa jadi semua
jenis penyakit besar, termasuk kanker. Salam. |
|
|
|
>> Arsip
|
|
|
|
|
|