|
Navigasi |
|
|
|
|
|
Warta Jemaat |
|
|
|
|
Layanan Jemaat |
|
|
|
|
Kegiatan Ouikumenis
|
|
|
| |
|
|
|
|
 |
|
Kesehatan |
|
10 Maret 2006
Ramai-ramai Menyusu Kolostrum Agar Panjang Umur Dr. Handrawan Nadesul |
|
|
Hampir semua
ada gantinya untuk bekal menempuh umur yang semakin menuju
tua, kecuali satu hal. Yaitu kekebalan tubuh. Tanpa
kekebalan yang cukup, waktu muda tersia-sia, dan hari tua
tak lagi berkualitas. Ketika tubuh sudah tak berdaya, dari
mana lagi berharap kekebalan itu datang? Semakin ranum
umur, semakin susut kapasitas organ tubuh kita. Umur
panjang terkait dengan masih awetnya kerja pabrik-pabrik
hormon di dalam tubuh. Termasuk apakah sistem kekebalan
tubuh masih belum lumpuh.
Dr. Robert Butler pernah mengatakan kalau tubuh manusia
diprogram mampu bertahan hidup sampai 120 tahun. Kalau tak
banyak orang sampai ke situ, penyebabnya ada dua. Sistem
kekebalan tubuh mulai lumpuh, atau zat anti tubuh sudah
tandas. Pada saat yang sama beragam bibit penyakit lama
kian beringas, sedang untuk menumpas hama penyakit yang
baru, penangkalnya kita masih belum punya.
Dengan
semakin bergesernya umur, dayatahan tubuh perlu terus
didongkrak. Untuk sebagian penyakit infeksi tubuh kita
masih bisa kebal. Namun masih ratusan jenis bibit penyakit
di mana-mana menghadang umur kita. Tidak semua bisa
dilawan lewat imunisasi. Upaya medik sendiri baru sebatas
memanfaatkan vitamin, mineral, obat, atau bahan berkhasiat
yang diduga bisa bergotong-royong mengungkit sistem imun
tubuh, kekebalan tubuh kita.
Bukan itu saja derita kehilangan manusia direnggut ketika
umur kian mengulur. Di usia tua otot susut hampir sepuluh
kilo, masa tulang ciut sepertujuhnya, tinggi badan
berkurang dua inci, dan seks pun semakin menguncup. Orang
medis menemukan penyulihnya pada androgen (DHEA), sebuah
molekul hormon buatan yang digandrungi orang modern,
selain minta bantuan hormon pertumbuhan hasil bioteknologi
(h-GH). Tapi itu saja belum membuat tubuh bertambah kebal
dihadang aneka bibit penyakit.
Lagi pula berpihak pada hormon buatan, banyak orang merasa
takut. Harapan satu-satunya tinggal pada janji kolostrum,
sang susu perdana dari mana zat kekebalan bagi setiap
bayi baru lahir dengan sempurna Tuhan kirimkan.
Selain berisi zat yang bikin tubuh tahan segala penyakit
infeksi, kolostrum dalam ASI manusia berisi hormon
pertumbuhan juga (human-Growth Hormone). Hormon jenis ini
bukan hanya istimewa bagi yang berusia tua, yang belia pun
perlu rajin-rajin memetiknya. Termasuk yang bisa
dimanfaatkan dari susu perdana hewan.
Seorang ibu manusia tak punya cukup banyak kolostrum.
Apalagi kalau niatnya untuk produksi skala besar. Kita
harus meminjamnya dari ibu sapi, sapi yang sehat. Seekor
sapi baru melahirkan memproduksi tak kurang dari 5 galon
kolostrum. Jumlah sebesar itu melebihi kebutuhan bayi sapi.
Maka beralasan kalau manusia sekarang mengambil kesempatan
memanfaatkannya tanpa perlu merampas hak anak sapi.
Kolostrum dilindungi oleh zat antirusak (protease
inhibitor) terhadap enzym pencernaan, sehingga sekalipun
melewati usus, zat berkhasiat pemberi kekebalan tubuh yang
dikandungnya tetap saja utuh.
Sejumlah dokter di dunia menyampaikan pengakuan tulusnya
kalau jasa kolostrum memang sungguh luar biasa. Belum ada
zat pengganti lain yang sekuat dan selengkap yang bisa
kolostrum berikan, ketika usia kita kian merangkak tua,
dan yang muda pun kini mulai tak berdaya.
Untuk sekian jenis virus yang menghantui kita di mana-mana,
juga di hadapan kita sekarang, musuh perongrong umur yang
obatnya kita tak punya, namun kolostrum senantiasa siap
menghadang.
Kita sadar di mana-mana kita mudah berjumpa dengan virus
AIDS, virus hepatitis B dan hepatitis C, virus herpes,
virus flu burung, SARS, dan banyak lagi. Di luar virus,
kita gampang dihadang pula oleh sekian jenis bakteri,
parasit, atau jamur. Untuk bisa menyingkirkan itu semua,
kolostrum berada di barisan depan pertahanan tubuh kita.
Termasuk untuk reaksi alergi yang bersifat janggal.
Kolostrum mengandung lebih sembilan puluh zat gizi, selain
zat-zat berkhasiat lain. Kandungan ini bekerja erat
bahu-membahu membangun tubuh bayi yang selain menjadi kuat
melawan infeksi, laju pula gerak pertumbuhannya.
Bagi tubuh orang dewasa, kolostrum tak ubahnya imunisasi
alami. Imunisasi yang tak ada duanya saking paling lengkap
gatra perlindungannya. Ia kini agaknya satu-satunya
perangkat zat spesial untuk melindungi tubuh manusia dari
ancaman beraneka ragam penyakit infeksi.
Bagi semua makhluk menyusui, sifat kolostrum tak berbeda,
sehingga masih berkecocokan kendati diberikan untuk
mamalia jenis lain. Di usus kita, zat kekebalan dalam
kolostrum akan diserap darah kemudian mengalir ke seluruh
tubuh.
Bersama aliran darah, zat kekebalan kolostrum lalu
memasuki pelosok-pelosok tubuh, siap menggempur siapa pun
hama penyakit yang sudah telanjur memasuki tubuh. Sebagian
di antaranya tetap berada dalam tabung usus, menumpas
infeksi yang tumbuh di dalam sana. Peran kolostrum tak
ubahnya antibiotika serba bisa. Bedanya, ia berasal dari
alam.
Satu kelebihan kolostrum yang tidak dipunyai pengungkit
kekebalan tubuh buatan lainnya. Bahwa ia tidak pernah
merugikan tubuh kita. Berapa mangkuk pun kolostrum kita
konsumsi, tak ada satu pun jejak kejelekan ia sisakan pada
tubuh kita, selain badan yang menjadi bertambah kebal,
kembali belia, atau sekurang-kurangnya menjadi tidak lekas
tua.
Untuk mendapatkan kolostrum, kini kita tak perlu langsung
menyusu pada sapi, melainkan sudah dikemas menjadi susu
bubuk. Layaknya cucu atau buyut kita yang masih
mengonsumsi susu kaleng, dan bukan aib bila kita masih
ikut menyusu juga. |
|
|
|
>> Arsip
|
|
|
|
|
|