|
Navigasi |
|
|
|
|
|
Warta Jemaat |
|
|
|
|
Layanan Jemaat |
|
|
|
|
Kegiatan Ouikumenis
|
|
|
| |
|
|
|
|
 |
|
Kesehatan |
|
21 Desember 2005
Masalah-masalah Kesehatan di Atas Usia 50 Tahun Dr. Handrawan Nadesul |
|
|
Sampai umur
70 tahun orang kehilangan kira-kira 10 Kg otot, 15 persen
tulang, dan 5 Cm tinggi badan. Buah zakar pria sudah mulai
menciut pada usia 40 tahun, produksi sperma menurun, dan
tidak bisa menghamili lagi setelah usia 90 tahun. Jarak
ejakulasi sudah menurun dari semula 2 feet waktu remaja
menjadi tinggal 2 inci saja lagi pada usia tua. Jaringan
ikat penis meningkat sehingga sifat busa spongiosa
pembuluh darah di dalamnya sudah berkurang. Hormon pria
testosteron menurun 1% setiap tahun.
Sedang wanita sudah tidak subur sejak rata-rata umur 50
tahun. Pada masa itu hormon kewanitaan estrogenik juga
sudah menurun.
FAKTA tubuh menjadi tua tidak bisa dilawan. Tapi ilmu dan
teknologi masih dapat menahan agar tubuh tak lekas menjadi
rawan. Sejatinya tubuh manusia diprogram mampu bertahan
sampai usia 120 tahun (Maximum Life Potential), kata Dr.
Walter M. Bortz.
Ada yang keliru dalam kita memperlakukan tubuh,
mengelolanya, sehingga tubuh yang sebetulnya bisa bertahan
sampai umur 120 tahun, harus kandas jauh tahun sebelumnya.
Tak sedikit kematian terjadi belum pada jamnya karena ulah
salah kita dalam merawat tubuh.
Tanpa didera penyakit pun, tubuh akan merosot seiring
bertambahnya usia. Apalagi kalau dirongrong penyakit. Ada
penyakit yang memang tak mungkin bisa kita elakkan (fetal
programming), namun lebih banyak penyakit yang tak perlu
terjadi dan sebetulnya bisa kita cegah. Bila cita-citanya
bagaimana umur bisa lebih diulur, paradigmanya tetap tak
boleh berubah: menjadi tua yang berkualitas (Healthy
aging).
Umur biologis seseorang ditentukan oleh nasib pembuluh
darah tubuhnya. Sel tubuh menjadi tetap bugar bila pasokan
makanan dan oksigen ke setiap sel tubuh selalu cukup dan
lancar. Makanan untuk sel mencukupi bila menu harian
memadai, dan pernapasan longgar.
Agar makanan tiba ke dalam sel tubuh, perlu pemasoknya.
Menu mencukupi dan napas masih longgar belum jaminan
kebutuhan sel tubuh pasti terpasok sempurna kalau pembuluh
darah sudah lamban bekerja.
Aliran darah melamban, dan tekanan darah cenderung
meninggi bila pipa pembuluh darah semakin kaku
(arteriosclerosis). Menjadi lebih buruk lagi bila
dindingnya juga berkarat lemak (atherosclerosis), dan
menjadi malapetaka bila terjadi kedua-duanya.
Dengan bertambahnya umur, ibarat selang air, pembuluh
darah tubuh sudah semakin kaku. Pipa pembuluh yang kaku
tak banyak lagi menolong kerja jantung memompakan darah
agar darah bisa lancar mencapai bagian ujung-ujung tubuh,
lalu mengirimkannya kembali balik ke jantung. Kelemahan
ini bagian dari proses menua juga.
Namun ”karat” lemak tak perlu terjadi kalau lemak darah (kolesterol,
trigliseride) tidak dibiarkan tinggi. Pembuluh juga
terawat baik bila pipanya cukup mendapat nutrisi
(protein-vitamin-mineral-element), dan tekanan darahnya
tidak dibiarkan tinggi untuk waktu lama.
Memburuknya nasib pembuluh darah, khususnya pembuluh
koroner, otak, mata, dan ginjal, ikut menentukan umur
induk semangnya. Kalau saja penyakit budaya modern: doyan
menu restoran, kurang gerak badan, hobi stres, dan
kegemukan tidak dibiarkan, banyak penyakit yang merongrong
pada usia tua menjadi batal muncul.
Umur seseorang juga ditentukan oleh (1) faktor gen
(genetic clock); (2) mutasi somatik; (3) runtuhnya sistem
kekebalan; (4) kerusakan oleh radikal bebas; (5)
metabolisme yang salah. Kian tahun iptek kedokteran kian
mampu menyiasati agar faktor-faktor yang bikin lekas tua
umur tersebut dihambat.
Penyakit usia lanjut itu tak lebih dari sepuluh (encok,
darah tinggi, jantung, paru-paru, kencing manis, stroke,
kanker, patah tulang, dan akibat drop attack). Ada juga
yang membatasi sebagai ”Geriatric Giants” (sindroma otak,
gagal otak dadakan (confutio), gangguan saraf otonom;
inkontinentia; terjatuh, patah tulang, dan dekubitus).
Bagian dari proses menua lainnya terjadi pada pancaindera,
gigi-geligi, dan urusan tidur. Ketajaman mata dan
pendengaran akan terus berangsur menurun. Gangguan gigi
berdampak pada kekurangan gizi, dan gangguan tidur
berujung hidup yang kurang berkualitas. Semua itu tak
perlulah disesali, eloknyalah tetap diarifi.
LAJU penurunan proses menua tak sama pada setiap orang.
Hanya bila tubuh dirawat dengan selalu memberikan pasokan
makanan yang lengkap dan oksigen cukup, organ-organ tubuh
yang layu sebelum waktunya dalam proses degeneratif, tak
perlu terjadi.
Kemungkinan penyebab sel tubuh kekurangan makan bisa tiga.
Atau menu harian di bawah standar, kalau bukan pipa
pembuluh pemasoknya sudah jelek, usus sebagai dapur dan
mesin tubuh sudah karatan, atau campuran ketiganya.
Pada usia lanjut, porsi makan cenderung kian berkurang,
namun kebutuhan tubuh akan zat gizi tetap tidak berkurang.
Penyakit gizi orang modern terjadi bila variasi menu
harian terbatas itu-itu saja lagi (monodiet). Itu yang
menjadikan rata-rata orang modern yang hidupnya kecukupan
bisa terancam ”kurang gizi” juga (Sepertiga orang Amerika
nyatanya kekurangan asupan kalsium, vitamin A, dan vitamin
C juga).
Sumber makanan yang tersedia sekarang, cara kita
mengolahnya, dan dominasi menu junk food, menjadikan
asupan zat gizi ke perut rata-rata orang modern tak
selengkap yang diterima orang dulu lagi. Belum dihitung
kemampuan tubuh yang sudah uzur dalam menyerap semua zat
gizi tatkala ”mesin” dan ”dapur” tubuh sudah menurun
fungsinya.
Kendati lengkap zat gizi yang dikonsumsi, masih bisa
berisiko kekurangan gizi bila yang diserap tidak penuh.
Orang usia lanjut yang cukup mengonsumsi kalsium ususnya
hanya mampu menyerap separuhnya. Demikian pula halnya
dengan penyerapan zat-zat gizi lainnya di ”dapur” tubuh
yang selain memerlukan enzim, butuh
vitamin-mineral-element, prebiotik serta probiotik juga (kuman-kuman
usus yang menjadi koki di ”dapur” mesin tubuh).
Pembuluh darah rambut (microcirculation) kini menarik
perhatian medis. Inilah tukang pasok makanan paling vital
yang memasok makanan sampai ke bagian tubuh paling pelosok.
Kita perlu memeliharanya bagi kecukupan makanan seluruh
sel tubuh. Banyak penyakit dan keluhan di usia tua berhulu
dari sini juga.
Selain pada mereka yang kelebihan lemak darah, pengidap
kencing manis pun tak bugar lagi pembuluh darah rantingnya
(impotensia pada diabetik, kasus neuritis). Menu harian
yang selalu memadai keterlengkapan dan kecukupan gizinya,
yang memungkinkan terpeliharanya pembuluh darah tubuh
tidak lekas tua. Bergerak badan akan menambah deras darah
mengalir melaluinya, sebagai jalan darah yang bukan jalan
tol.
Pembuluh darah si tukang pasok makanan sel masih bugar
saja pun belum cukup bila daya pompa jantung tidak
terlatih, sehingga kendor memompakan darah. Maka jantung
perlu dipacu, bahkan sejak usia muda, dengan rutin
bergerak badan, atau sedikit minum bir. Tak perlu jogging
lagi setelah umur kepala empat, cukup berjalan cepat
tergopoh-gopoh (”brisk walking”), seperti nasihat Kenneth
Cooper, tokoh aerobics.
Penyakit degeneratif bermunculan, bagian dari
merongrongnya onderdil mesin tubuh. Jantung, paru, ginjal,
kian merosot fungsinya. Otak bertahan bila pembuluh
darahnya terpelihara, namun jadi dungu kalau tidak tetap
diajak senam (gym-brain) dan dibiasakan terus berpikir (membaca,
menulis, berdiskusi, mengisi teka-teki silang). Dibiasakan
pula berpikir positif, berintegritas tinggi, memiliki
komunitas, dan hidup merasa happy (bisa bersyukur kendati
hanya sebagai orang biasa).
Proses menua terjadi meliputi penurunan dalam hal;
- Fungsi otak menyimpan memori ingatan baru;
- Jumlah kantung rambut, dan pertumbuhan rambut baru,
rambut tambah rontok (apex baldness);
- Ketajaman penglihatan sejak usia 50 tahun, lensa
menebal, begitu juga penglihatan malam;
- Respons jantung beradaptasi terhadap akselerasi
bergiat sejak 20 tahun;
- Endurance aerobics: kapasitas mengangkut oksigen untuk
kerja (kapasitas kerja 70 tahun separuh kapasitas 20 tahun);
- Gendang telinga menebal dan saluran telinga menyusut
setelah umur 50 tahun;
- Tumpukan gajih 2 kali pada otot dan organ;
- Libido menurun sebab hormon dan vitalitas menurun (frekuensi
orgasmus 20 tahun =120 kali/tahun – usia 70 tahun = 20
kali/tahun;
- Otot menciut dan melemah, dan tulang kehilangan
kepadatannya;
- Ketegangan penis puncaknya pada usia 30-50 tahun,
menurun setelah 50 tahun (jika ada penyakit pembuluh darah):
umur 30 tahun mampu ereksi 20 derajat di atas horizontal,
umur 50 tahun minus 1 derajat di bawah horizontal, dan
umur 70 tahun minus 25 derajat di bawah horizontal.
Proses penurunan itu tidak mungkin ditahan, namun
sekurang-kurangnya ditekan agar muncul lebih lamban.
Caranya dengan pola dan gaya hidup sehat, termasuk dalam
pilihan menu: kecil porsinya namun lengkap keanekaragaman
variasi menu hariannya. Sumber makanan alami lebih
menyehatkan ketimbang jenis makanan olahan. |
|
* Seminar Sehari Komisi Senior GKI
Pondok Indah Jakarta, Cipayung, 16 September 2005 |
|
|
|
>> Arsip
|
|
|
|
|
|