|
Navigasi |
|
|
|
|
|
Warta Jemaat |
|
|
|
|
Layanan Jemaat |
|
|
|
|
Kegiatan Ouikumenis
|
|
|
| |
|
|
|
|
 |
|
Kesehatan |
|
17 Oktober 2005
Tetap Sehat di Atas Usia 50 Tahun Dr. Handrawan Nadesul |
|
|
Rata-rata
orang lebih duapertiga masa hidupnya dihabiskan untuk
bekerja. Bukan sedikit yang sampai menjelang ajal masih
terus mencari nafkah. Aktivitas otak sepanjang hayat
eloknya memang tidak boleh ikut pensiun. Namun aktivitas
fisik berlebihan tanpa henti membuat tubuh lekas aus.
Mereka yang bekerja fisik tanpa henti sampai uzur, Maximum
Life Potential-nya berisiko tidak lagi penuh.
Seseorang dikatakan mampu menikmati hidup, dan hidupnya
dirasakan bermakna kalau hidupnya ditempuh dengan seimbang.
Untuk itu tak perlu hidup berlebihan. Perlu menyediakan
waktu untuk merenung. Punya waktu untuk ‘time-out’ sejenak,
melakukan check-up terhadap kehidupan. Tahu pula kapan
saatnya harus minggir menepi (Ruralisasi).
Menjadi sehat itu katanya seberapa bagus kita
memperlakukan tubuh di sepanjang hidup. Cukupkah gizi,
sehingga mesin tubuh kita awet tahan lama. Cukupkah jeda
harian sehingga roda dan ban tubuh kita tidak lekas aus
dan gundul. Sudah cukupkah tenang jiwa kita.
Jiwa yang gundah merusak badan juga. Stres sendiri
merongrong tubuh. Kencing manis, jantung koroner, darah
tinggi, lemak darah, maupun kanker diperburuk oleh stres.
Barangkali itu sebab usia krisis yang dulu rata-rata baru
terjadi setelah usia 50, akibat cenderung dirundung stres
berkepanjangan (malstress) krisis orang sekarang sudah
muncul lama sebelumnya. Kita melihat semakin banyak kasus
psychosomatic muncul sekarang, bentuk keluhan di badan
yang dihibahkan oleh jiwa yang gundah. Bentuk penyakit
badan yang muncul akibat jiwa yang merana. Sesungguhnya
masihkah ada yang bisa kita lakukan agar tetap sehat
sampai di ujung hayat?
- Umur tubuh kita (Maximum Life Potential) ditentukan
oleh kualitas pembuluh darah yang berada di dalamnya.
Pembuluh darah bertugas memasok makanan bagi seluruh sel
tubuh. Agar pembuluh darah optimal melaksanakan tugasnya
bukan saja dindingnya yang harus tetap elastis, melainkan
perlu dicegah agar tak menumpuk karat lemak
(atherosclerosis) di dalam sana. Untuk itu kadar lemak
dalam darah (cholesterol, triglyceride) tidak boleh
dibiarkan tinggi. Kencing manis, darah tinggi, asam urat,
dan radikal bebas sendiri membantu menambah tebal karat
lemak dinding pembuluh darah.
Dengan bertambahnya usia, dinding pembuluh darah sendiri
akan semakin mengeras dan kaku (arteriosclerosis). Proses
kekakuan ini dipercepat selain bila nutrisi yang kita
konsumsi tidak selalu lengkap, darah tinggi pun tetap
dipelihara. Untuk itu selain darah tinggi harus dikontrol,
menu harian perlu kecukupan seluruh zat gizi, termasuk
vitamin dan mineral yang membantu memelihara pembuluh
darah.
Namun dinding pembuluh darah yang masih elastis dan tanpa
karat lemak saja belum cukup untuk menyehatkan jika
kualitas darah yang mengalir di dalamnya tidak normal.
Darah dikatakan sehat kalau penuh bermuatan oksigen selain
lengkap pula zat nutrien yang dikandungnya. Untuk itu
perlu olah napas (lewat bergerak badan dan meditasi)
selain tetap doyan makan apa saja (pemakan segala).
Dinding pembuluh yang sehat, darah yang lengkap muatan
oksigen dan nutriennya masih belum menjamin makanan itu
bisa tiba ke dalam sel yang membutuhkannya bila jantung
tidak memompa optimal. Sel-sel tubuh yang kekurangan
makanan menjadi tidak optimal menunjang tubuh.
Sel-sel tubuh membentuk jaringan. Jaringan membentuk
organ. Jika organ tubuh tidak mendapatkan makanan yang
optimal porsi maupun kualitasnya, mereka akan lekas merana,
dan mundur fungsinya. Jika semua organ tubuh mengendur
fungsinya, mesin tubuh tidak bekerja optimal. Kondisi ini
yang memunculkan gejala penurunan vitalitas fisik. Kasus
“tidak-sehat-tidak-sakit” di kalangan orang modern berhulu
dari kondisi ini juga.
Kasus lesu-letih-lemah lazim dikeluhkan orang sekarang.
Dokter dihadapkan pada kenyataan pasien minta dokter
membuatkan resep untuk mendongkrak vitalitasnya yang
dirasakan mundur. Kasus demikian lazim bermula dari sel
tubuh yang dibiarkan berlama-lama menderita kekurangan
pasokan makanan yang dibutuhkannya.
Kondisi itu bisa sebab pembuluh darahnya sendiri yang
sudah tidak sehat, atau bisa juga sebab kualitas darahnya
yang kurang gizi, atau boleh jadi sebab kerja jantung yang
memang sudah lemah (akibat penyakit atau kurang bergerak
badan), atau gabungan dari ketiganya.
Sel-sel tubuh yang kekurangan makanan akan menjadikannya
cepat aus dan lekas tua. Tanpa kekurangan pasokan makanan
saja, dengan bertambahnya usia, sel-sel tubuh mengalami
proses degenerasi. Menyaksikan semakin lajunya proses
degenerasi itulah yang kemudian menggerakkan Linus Pauling
mengubah paradigma hidup sehat dengan menilik langsung
pada nasib sel tubuh orang modern (Konsep “Orthomolecular
Medicine”).
- Jadi upaya menyehatkan tubuh berarti harus ditujukan
pada upaya menyehatkan seluruh sel tubuh. Supaya sel tubuh
sehat dan jaringan organ yang dibangunnya bekerja normal,
pasokan makanannya pun harus optimal. Untuk itu pembuluh
darah di seluruh tubuh perlu dirawat. Caranya, selain menu
harian meja makan keluarga perlu ditata porsi dan
kelengkapan nutriennya, semua penyakit yang merongrongnya,
khususnya kencing manis, darah tinggi, asam urat, radikal
bebas, harus disingkirkan. Untuk itu selain perlu obat dan
pantang, perlu pula menu seimbang: memadai porsi dan
lengkap pula seluruh nutrien yang dibutuhkan tubuh.
Kasus orang modern “kurang gizi” bagian yang diperhatikan
oleh penganut “Orthomolecular Medicine”. Dari situ pula
muncul alasan mengapa sekarang begitu banyak makanan
suplemen ditawarkan.
- Radikal bebas (free radicals) ada di dalam dan di luar
tubuh. Tubuh sendiri memproduksi antioxidant untuk
menawarkan racun radikal bebas yang terbentuk dalam tubuh.
Namun kehidupan zaman sekarang yang penuh polusi (udara,
air, makanan, overtraining), antioxidant yang tubuh
produksi tak mampu lagi menawarkan begitu meruahnya
radikal bebas yang tubuh terima. Untuk mengurangi tumpukan
radikal bebas kita bisa menata hidup dengan memilih gaya
dan pola hidup yang lebih arif dalam soal makan, bekerja,
aktivitas harian, dan pilihan berdomisili.
- Usahakan agar menu harian lebih alami, menjauhkan
makanan olahan (junk food), kini menjadi kiblat orang di
negara maju. Kita sendiri malah bangga kalau bisa makan
burger, steak, dan menu fast food, yang sebetulnya sudah
banyak kehilangan gizinya, namun boros lemak, gula, dan
garam. Jenis menu begini yang bikin lemak dalam darah kita
cenderung lebih tinggi. Anggapan semakin gemuk semakin
memberi kesan makmur harus pupus dari benak anak-anak kita.
Bukan yang gemuk melainkan yang tidak gemuk justeru yang
tergolong sehat.
Status kesehatan seseorang mencerminkan otobiografi menu
hariannya sepanjang hidupnya. Menu modern di satu sisi
bikin kelebihan gizi sehingga bikin berat badan selalu
melebihi ukuran normal, pada sisi lain bikin banyak orang
yang hidupnya kecukupan berisiko kekurangan gizi. Kenapa?
Tidak sedikit di Amerika orang yang kekurangan mineral,
termasuk trace elements akibat monodiet, selain memilih
menu olahan yang gizinya sudah kritis. Tubuh membutuhkan
lebih 40 jenis nutrien setiap hari. Sebagian tidak bisa
dibuatnya sendiri dan mengandalkan dari menu harian.
Makanan kalengan, masakan olahan, junk food, fast food,
cenderung sebagai menu ampas, sebab sudah banyak
kehilangan zat gizi akibat cara panen, cara simpan, cara
olah. Sementara lapisan permukaan tanah (topsoil) bumi
kita sudah luruh ke laut sehingga kehilangan sebagian
besar unsur hara yang dibutuhkan tanaman maupun tubuh
manusia. Sayur mayur, dan ternak yang kita konsumsi sudah
tidak lengkap lagi kandungan zat gizinya. Jika tubuh
kekurangan zat gizi yang tubuh tidak bisa membuatnya
sendiri, lama kelamaan akan mengganggu mesin tubuh juga.
Sakit gizi macam begini yang kini banyak diderita orang
modern dalam bentuk keluhan dan gejala yang beraneka:
letih-lelah-lesu.
Bisa dimengerti jika banyak kasus penyakit jantung, hati,
prostat, pancreas, atau organ lainnya sampai gangguan jiwa
muncul hanya lantaran kekurangan trace elements tertentu.
Inilah mineral yang dibutuhkan dalam dosis yang amat kecil,
namun menimbulkan gangguan bila tubuh tidak mendapatkannya.
Tubuh kita membutuhkan puluhan jenis trace elements, yang
tidak selalu tersedia dalam menu harian kita sekarang ini
jika pola makan masih monodiet dan memilih “menu ampas”.
Kaitan zinc dengan gangguan prostat, chromium dengan
kencing manis, selenium dengan jantung, dan banyak riset
baru mengungkapkan betapa esensial peranan mineral dan
trace elements dalam memunculkan banyak penyakit (kurang
gizi) yang beraneka keluhan dan gejala yang mungkin tidak
selalu muncul nyata.
Polusi kita sudah kuyup di mana-mana. Udara yang kita
hirup setiap detik polutannya sudah melebihi ambang yang
diperkenan. Air yang kita minum belum tentu cukup
mineralnya selain banyak cemarannya. Menu harian kita juga
sudah tercemar pengawet, zat warna, penyedap, selain bibit
penyakit, radikal bebas yang memberi andil untuk
mencetuskan banyak penyakit termasuk kanker.
Hidup sehat sampai tua itu hidup yang senantiasa terjaga
tertib dan teratur. Tertib dan teratur waktu makan, waktu
bekerja, waktu jeda, dan waktu melepas lelah, rekreasi,
selain rutin bergerak badan.
Tak perlu bukti lagi kalau hidup kurang gerak (sedentary
life) meningkatkan risiko koroner, atau stroke, sama
jahatnya dengan merokok dan minuman keras. Ada baiknya
mulai berpikir untuk ‘do by yourself’ dalam keseharian (menjadi
Inem di rumah sendiri, atau tak malu menjadi suami yang
“Mr. Mom”, apa salahnya ikut mengganti popok bayi,
menggendong anak, mencuci baju, mengepel dan mencuci
piring, oleh karena semua pekerjaan rumah tangga merupakan
exercise paling alami bagi otot tubuh kita tanpa perlu
menyisihkan waktu khusus seperti kalau untuk golf, atau
tennis, misalnya).
Untuk vitamin batin perlu menyediakan waktu buat rekreasi,
dan banyak tertawa. Dosis tertawa sekurang-kurangnya tiga
kali sehari, kalau bisa sampai terpingkal-pingkal (asal
tidak di depan Pak Polisi). Tertawa menyehatkan jantung
dan paru-paru, selain menambah deras aliran darah.
Biasakan mengajak otak tetap aktif, senantiasa berpikir
positif (bagian dari kuasa doa), dan mengasah otak kanan
dengan lebih sering menikmati produk kesenian (musik,
pameran lukisan, sastra), selain dengan brain-gym, akan
membangun hidup seimbang antara pikir dan rasa. |
|
|
|
>> Arsip
|
|
|
|
|
|