Kesehatan
30 Nopember 2003
Menyiasati Serangan "Masuk Angin"
Dr. Handrawan Nadesul

Tidak ada kata “masuk angin” dalam kamus medis. Untuk kondisi yang sama orang Inggris bilang catch cold. Sesungguhnya tidak betul-betul ada angin yang memasuki tubuh. Maksudnya barangkali tubuh sedang terpapar oleh dingin (angin, hujan, cuaca).

Tidak sedikit pasien bertanya, “Apa saya masuk angin, Dokter?” Untuk setiap pertanyaan yang sama saya tak mudah menjawab. Selain tak jelas di mana letak uraian gangguan fungsinya di dalam tubuh, apakah masuk angin selalu berarti juga infeksi, atau hanya sekadar akibat perubahan fisis (suhu) belaka. Namun satu hal pasti, dalam kondisi apa yang orang maksudkan dengan “masuk angin”, orang merasa tidak enak badan.

Arti tidak enak badan bisa dirinci sebagai badan pegal-pegal dan linu, tulang dan sendi nyeri, kepala pening, dan mungkin merasa panas dingin dan demam. Tidak enak kalau kena angin, merasa dingin sebelum mandi, badan panas, tapi merasa dingin, dan keluhan yang seperti itu lainnya.

Dan jika itu yang dirasakan, bukankah itu sesungguhnya bisa berarti ada jasad renik, ada microorganisme, ada bibit penyakit yang sudah memasuki tubuh. Biasanya berasal dari udara bebas yang sudah dicemari berbagai bibit penyakit dari mana-mana (bersin, batuk, udara napas waktu berbicara pengidap bibit penyakit) dan hidung kita menghirupnya membawanya masuk ke paru-paru. Umumnya dari jenis virus. Dan jenis virusnya biasanya virus influenza yang di alam ada ratusan jenisnya. Ada virus flu yang ganas, yang liar, ada juga yang jinak. Flu Hong Kong, misalnya tergolong ganas.

Serangan virus apa pun menimbulkan demam tinggi dadakan. Begitu juga virus influenza. Selain itu pegal linu juga, nyeri kepala, dan gejala penyerta, seperti umumnya infeksi, selera makan menurun, mual muntah, dan selebihnya tergantung di organ mana virus bersarang dan berkembang biak.

“Masuk angin” umumnya berarti ada virus yang bersarang dan berkembang biak di saluran napas bagian atas. Kita sering menyebutnya ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Atas (Upper Respiratory Tract Infection), yang perlu dibedakan dengan Infeksi Saluran Pernapasan Bawah (Lower Respiratory Tract Infection) atau infeksi yang langsung bersarang di paru-paru, seperti bronkhitis, pneumonia, dan TBC.

Semua serangan virus tak ada obat khusus, dan umumnya akan menyembuh sendiri setelah dilawan oleh kemampuan dayatahan antibodi yang dibentuk oleh tubuh sendiri. Semakin kuat dan kebal tubuh kita (riwayat pernah terinfeksi oleh virus yang sama), semakin lekas sembuh “masuk angin” kita.

Sebaliknya semakin lemah tubuh (belum pernah terserang virus yang sama, kurang gizi, stres, dan faktor yang melemahkan tubuh seperti kurang tidur, kurang waktu jeda, terlambat makan, terpapar dingin oleh hujan, mandi malam, atau terpapar angin kencang), semakin menjadi berkepanjangan penyakit “masuk angin”-nya. Mestinya 2-3 hari sudah sembuh sendiri, mungkin menjadi sampai lebih seminggu.

Itu maka, untuk memampukan tubuh melawan virus apa pun, untuk mencegah flu tubuh sebetulnya bisa diperkuat. Selain dengan vaksin influenza, yang dapat kita lakukan melawan “masuk angin” yang bersifat dingin itu dengan cara-cara melawannya dengan membuat tubuh menjadi “panas”, seperti membaluri tubuh dengan obat gosok (panas), minum dan makan yang hangat-hangat (Orang Inggris biasa menyantap sop hangat, dan kita bisa pilih sop kambing), tidak mandi air dingin, tidak minum es, tidak terpapar hawa (angin, AC) dan yang serba dingin. Jika masih awal, setelah membuat tubuh serba hangat, lalu minum obat flu dari warung, gejala flu biasanya segera mereda begitu bangun tidur, dan tidak jadi sakit.

Sebaliknya flu menjadi bertambah buruk jika badan malah dipapar dingin, seperti tetap mandi air dingin, keluar rumah kena angin, tetap melakukan aktivitas, minum es, kurang tidur, dan tidak mengasoh. Pada kondisi demikian, tubuh yang lemah ini bisa, dan sering terjadi demikian, ditumpangi oleh bibit penyakit lain dari golongan kuman.

Kita mengenal banyak sekali jenis kuman (lebih besar dari virus) yang memilih saluran napas sebagai tempat bersarangnya. Pada saat kuman lain menimbrung masuk itulah terjadi infeksi tumpangan (secondary infection), dengan gejala demamnya tidak setinggi demam virus, namun ingus virus yang tadinya bening encer sudah berubah menjadi kental berwarna (kuning sampai hijau tergantung jenis kumannya).

Itu berarti, kalau ingus sudah berubah kental dan berwarna, obat flu dari warung saja sudah tidak memadai. Biasanya flu yang tak menyembuh lebih dari seminggu akan berkembang menjadi infeksi tumpangan. Jika cuma mengandalkan obat warung saja, infeksi kuman yang berkepanjangan bisa berkomplikasi ke mana-mana. Yang ditakuti, pada anak sering menjadi congekan (Otitis Media Chronica), dan menyisakan ketulian, atau turun menjadi infeksi paru-paru bronkhitis, atau bronkhopneumonia yang jauh lebih berat dari flunya sendiri. Tak jarang bisa berakhir dengan kematian.

Bagi orang usia lanjut, infeksi virus apa pun lebih buruk komplikasinya dibanding jika menimpa usia muda. Dengan bertambah usia sistem kekebalan semakin menurun. Maka di Barat (Eropa) serangan flu bukan sedikit merenggut banyak korban jiwa. Wabah Flu sangat ditakuti.

Agar komplikasi flu yang merembet ke organ telinga, paru-paru, atau lainnya, seberapa bisa dicegah agar infeksi tumpangan tidak sampai terjadi, dengan cara-cara menatalaksana “masuk angin” secara tepat. Dan kalau masih jebol juga, sehingga sudah terjadi komplikasi infeksi tumpangan, segera minta antibiotika untuk membasmi kuman pendomplengnya agar tidak berkepanjangan dan lalu menimbulkan komplikasi. Untuk memberantas infeksi tumpangan itu perlu resep dokter.

Yang sering salah kaprah, baru “masuk angin” sudah langsung minum antibiotika. Selain tidak ada gunanya, dan mubazir, tubuh tercemar bahan obat yang tidak perlu. Artinya jika belum seminggu, dan ingus belum kental berwarna, tunda dulu minum antibiotika. Baru jika infeksi tumpangan yang mengubah ingus encer jadi kental berwarna, antibiotika boleh mulai diminum. Sampai kapan?

Paling kurang 3 hari. Jika setelah 3 hari ingusnya masih tetap keluar dan gejalanya belum berkurang, kemungkinan obatnya masih perlu dilanjutkan, atau antibiotikanya mungkin sudah tidak mempan (resisten). Dokter menentukan harus bagaimana.

Kita tahu, sekarang begitu banyak jenis antibiotika yang sudah tidak mempan terhadap kuman tertentu saking kelewat sering dan sembarangan digunakan. Untuk itu perlu generasi antibiotika yang lebih baru untuk menumpasnya, yang berarti ongkos berobatnya menjadi lebih tinggi.

Obat flu di warung juga beragam jenis dan merknya. Tidak soal bagi orang yang tidak mengidap penyakit lain. Namun yang perlu dibedakan, bahwa obat flu anak berbeda dengan untuk orang dewasa. Tidak semua obat flu orang dewasa boleh diberikan buat anak, apalagi bayi. Demikian pula tidak semua pengidap jantung, darah tinggi, glaucoma, pengidap penyakit hati, atau ginjal, boleh minum semua jenis obat flu warung.

Yang sering salah kaprah juga, bahwa kendati pada flu atau “masuk angin” ada keluhan nyeri kepala, tak cukup memilih obat sakit kepala saja (Puyer, obat encok). Kita perlu meredakan batuk, pilek, hidung mampet, atau mungkin sesak napasnya juga. Obat nyeri kepala semata (paracetamol) tak cukup diandalkan untuk melawan flu. Sebaliknya jika cuma sakit gigi, hanya nyeri kepala, tak perlu memilih minum obat flu yang berisi beberapa jenis obat lain sebab yang dibutuhkan cuma obat pereda nyeri kepalanya.

Memasuki musim penghujan, udara pancaroba mengandung banyak cemaran berbagai virus dan kuman yang bisa menyerang saluran pernapasan. Selain tubuh perlu diperkuat dengan membuatnya menjadi serba “panas” melalui makanan-minuman, kerikan dan baluran, mandi, dan gizi berprotein tinggi (daging, telur, susu) serta vitamin-mineral, banyak bergerak badan – perlu pula menghidar dari paparan hawa dingin. Kalau tak perlu jangan terpapar air hujan, angin kencang, atau keluar rumah malam hari.

Bersihkan lubang hidung setiap mandi atau jika baru berdekatan dengan pasien flu yang sering batuk dan bersin di dekat kita. Ingat, di kita, flu dianggap penyakit enteng, sehingga orang tetap pergi ke sekolah, kuliah, kerja, rapat, nonton, dan ke gereja juga.

Yang dirugikan bukan cuma diri pasien sendiri sehingga penyakitnya jadi tak sembuh berkepanjangan, melainkan orang-orang di sekitarnya yang berada di dekatnya juga. Tanpa perlu mengajaknya berbicara pun, udara di sekitar pasien flu sudah tercemar oleh virus flu. Kebersihan dan pembersihan lubang hidung, dengan cara menyabuni dan menghembuskan kuat-kuat udara napas keluar berkali-kali, diharapkan virus yang melekat di saluran napas bisa terenyahkan keluar.

Dayatahan tubuh dapat ditingkatkan dengan melancarkan aliran darah tubuh. Pijat, kerik, bisa melancarkan aliran darah. Cara sederhana lainnya dengan banyak bergerak badan, dan tidak duduk berdiam diri saja. Gerak badan paling murah meriah dengan berjalan kaki rutin setiap hari sambil berjemur. Bagi mereka yang sudah berusia lanjut mungkin perlu ekstra suplemen khusus yang membantu meningkatkan sistem imun tubuh, termasuk multivitamin-mineral, selain banyak buah dan sayur mayur.


 
>> Arsip

   

Gereja Kristen Indonesia Pondok Indah @ 2003