|
Tidak ada kata “masuk angin” dalam kamus medis. Untuk
kondisi yang sama orang Inggris bilang catch cold.
Sesungguhnya tidak betul-betul ada angin yang memasuki
tubuh. Maksudnya barangkali tubuh sedang terpapar oleh
dingin (angin, hujan, cuaca).
Tidak sedikit pasien bertanya, “Apa saya masuk angin,
Dokter?” Untuk setiap pertanyaan yang sama saya tak mudah
menjawab. Selain tak jelas di mana letak uraian gangguan
fungsinya di dalam tubuh, apakah masuk angin selalu
berarti juga infeksi, atau hanya sekadar akibat perubahan
fisis (suhu) belaka. Namun satu hal pasti, dalam kondisi
apa yang orang maksudkan dengan “masuk angin”, orang
merasa tidak enak badan.
Arti tidak enak badan bisa dirinci sebagai badan
pegal-pegal dan linu, tulang dan sendi nyeri, kepala
pening, dan mungkin merasa panas dingin dan demam. Tidak
enak kalau kena angin, merasa dingin sebelum mandi, badan
panas, tapi merasa dingin, dan keluhan yang seperti itu
lainnya.
Dan jika itu yang dirasakan, bukankah itu sesungguhnya
bisa berarti ada jasad renik, ada microorganisme, ada
bibit penyakit yang sudah memasuki tubuh. Biasanya berasal
dari udara bebas yang sudah dicemari berbagai bibit
penyakit dari mana-mana (bersin, batuk, udara napas waktu
berbicara pengidap bibit penyakit) dan hidung kita
menghirupnya membawanya masuk ke paru-paru. Umumnya dari
jenis virus. Dan jenis virusnya biasanya virus influenza
yang di alam ada ratusan jenisnya. Ada virus flu yang
ganas, yang liar, ada juga yang jinak. Flu Hong Kong,
misalnya tergolong ganas.
Serangan virus apa pun menimbulkan demam tinggi dadakan.
Begitu juga virus influenza. Selain itu pegal linu juga,
nyeri kepala, dan gejala penyerta, seperti umumnya infeksi,
selera makan menurun, mual muntah, dan selebihnya
tergantung di organ mana virus bersarang dan berkembang
biak.
“Masuk angin” umumnya berarti ada virus yang bersarang dan
berkembang biak di saluran napas bagian atas. Kita sering
menyebutnya ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Atas (Upper
Respiratory Tract Infection), yang perlu dibedakan dengan
Infeksi Saluran Pernapasan Bawah (Lower Respiratory Tract
Infection) atau infeksi yang langsung bersarang di
paru-paru, seperti bronkhitis, pneumonia, dan TBC.
Semua serangan virus tak ada obat khusus, dan umumnya akan
menyembuh sendiri setelah dilawan oleh kemampuan dayatahan
antibodi yang dibentuk oleh tubuh sendiri. Semakin kuat
dan kebal tubuh kita (riwayat pernah terinfeksi oleh virus
yang sama), semakin lekas sembuh “masuk angin” kita.
Sebaliknya semakin lemah tubuh (belum pernah terserang
virus yang sama, kurang gizi, stres, dan faktor yang
melemahkan tubuh seperti kurang tidur, kurang waktu jeda,
terlambat makan, terpapar dingin oleh hujan, mandi malam,
atau terpapar angin kencang), semakin menjadi
berkepanjangan penyakit “masuk angin”-nya. Mestinya 2-3
hari sudah sembuh sendiri, mungkin menjadi sampai lebih
seminggu.
Itu maka, untuk memampukan tubuh melawan virus apa pun,
untuk mencegah flu tubuh sebetulnya bisa diperkuat. Selain
dengan vaksin influenza, yang dapat kita lakukan melawan
“masuk angin” yang bersifat dingin itu dengan cara-cara
melawannya dengan membuat tubuh menjadi “panas”, seperti
membaluri tubuh dengan obat gosok (panas), minum dan makan
yang hangat-hangat (Orang Inggris biasa menyantap sop
hangat, dan kita bisa pilih sop kambing), tidak mandi air
dingin, tidak minum es, tidak terpapar hawa (angin, AC)
dan yang serba dingin. Jika masih awal, setelah membuat
tubuh serba hangat, lalu minum obat flu dari warung,
gejala flu biasanya segera mereda begitu bangun tidur, dan
tidak jadi sakit.
Sebaliknya flu menjadi bertambah buruk jika badan malah
dipapar dingin, seperti tetap mandi air dingin, keluar
rumah kena angin, tetap melakukan aktivitas, minum es,
kurang tidur, dan tidak mengasoh. Pada kondisi demikian,
tubuh yang lemah ini bisa, dan sering terjadi demikian,
ditumpangi oleh bibit penyakit lain dari golongan kuman.
Kita mengenal banyak sekali jenis kuman (lebih besar dari
virus) yang memilih saluran napas sebagai tempat
bersarangnya. Pada saat kuman lain menimbrung masuk itulah
terjadi infeksi tumpangan (secondary infection), dengan
gejala demamnya tidak setinggi demam virus, namun ingus
virus yang tadinya bening encer sudah berubah menjadi
kental berwarna (kuning sampai hijau tergantung jenis
kumannya).
Itu berarti, kalau ingus sudah berubah kental dan berwarna,
obat flu dari warung saja sudah tidak memadai. Biasanya
flu yang tak menyembuh lebih dari seminggu akan berkembang
menjadi infeksi tumpangan. Jika cuma mengandalkan obat
warung saja, infeksi kuman yang berkepanjangan bisa
berkomplikasi ke mana-mana. Yang ditakuti, pada anak
sering menjadi congekan (Otitis Media Chronica), dan
menyisakan ketulian, atau turun menjadi infeksi paru-paru
bronkhitis, atau bronkhopneumonia yang jauh lebih berat
dari flunya sendiri. Tak jarang bisa berakhir dengan
kematian.
Bagi orang usia lanjut, infeksi virus apa pun lebih buruk
komplikasinya dibanding jika menimpa usia muda. Dengan
bertambah usia sistem kekebalan semakin menurun. Maka di
Barat (Eropa) serangan flu bukan sedikit merenggut banyak
korban jiwa. Wabah Flu sangat ditakuti.
Agar komplikasi flu yang merembet ke organ telinga,
paru-paru, atau lainnya, seberapa bisa dicegah agar
infeksi tumpangan tidak sampai terjadi, dengan cara-cara
menatalaksana “masuk angin” secara tepat. Dan kalau masih
jebol juga, sehingga sudah terjadi komplikasi infeksi
tumpangan, segera minta antibiotika untuk membasmi kuman
pendomplengnya agar tidak berkepanjangan dan lalu
menimbulkan komplikasi. Untuk memberantas infeksi
tumpangan itu perlu resep dokter.
Yang sering salah kaprah, baru “masuk angin” sudah
langsung minum antibiotika. Selain tidak ada gunanya, dan
mubazir, tubuh tercemar bahan obat yang tidak perlu.
Artinya jika belum seminggu, dan ingus belum kental
berwarna, tunda dulu minum antibiotika. Baru jika infeksi
tumpangan yang mengubah ingus encer jadi kental berwarna,
antibiotika boleh mulai diminum. Sampai kapan?
Paling kurang 3 hari. Jika setelah 3 hari ingusnya masih
tetap keluar dan gejalanya belum berkurang, kemungkinan
obatnya masih perlu dilanjutkan, atau antibiotikanya
mungkin sudah tidak mempan (resisten). Dokter menentukan
harus bagaimana.
Kita tahu, sekarang begitu banyak jenis antibiotika yang
sudah tidak mempan terhadap kuman tertentu saking kelewat
sering dan sembarangan digunakan. Untuk itu perlu generasi
antibiotika yang lebih baru untuk menumpasnya, yang
berarti ongkos berobatnya menjadi lebih tinggi.
Obat flu di warung juga beragam jenis dan merknya. Tidak
soal bagi orang yang tidak mengidap penyakit lain. Namun
yang perlu dibedakan, bahwa obat flu anak berbeda dengan
untuk orang dewasa. Tidak semua obat flu orang dewasa
boleh diberikan buat anak, apalagi bayi. Demikian pula
tidak semua pengidap jantung, darah tinggi, glaucoma,
pengidap penyakit hati, atau ginjal, boleh minum semua
jenis obat flu warung.
Yang sering salah kaprah juga, bahwa kendati pada flu atau
“masuk angin” ada keluhan nyeri kepala, tak cukup memilih
obat sakit kepala saja (Puyer, obat encok). Kita perlu
meredakan batuk, pilek, hidung mampet, atau mungkin sesak
napasnya juga. Obat nyeri kepala semata (paracetamol) tak
cukup diandalkan untuk melawan flu. Sebaliknya jika cuma
sakit gigi, hanya nyeri kepala, tak perlu memilih minum
obat flu yang berisi beberapa jenis obat lain sebab yang
dibutuhkan cuma obat pereda nyeri kepalanya.
Memasuki musim penghujan, udara pancaroba mengandung
banyak cemaran berbagai virus dan kuman yang bisa
menyerang saluran pernapasan. Selain tubuh perlu diperkuat
dengan membuatnya menjadi serba “panas” melalui
makanan-minuman, kerikan dan baluran, mandi, dan gizi
berprotein tinggi (daging, telur, susu) serta
vitamin-mineral, banyak bergerak badan – perlu pula
menghidar dari paparan hawa dingin. Kalau tak perlu jangan
terpapar air hujan, angin kencang, atau keluar rumah malam
hari.
Bersihkan lubang hidung setiap mandi atau jika baru
berdekatan dengan pasien flu yang sering batuk dan bersin
di dekat kita. Ingat, di kita, flu dianggap penyakit
enteng, sehingga orang tetap pergi ke sekolah, kuliah,
kerja, rapat, nonton, dan ke gereja juga.
Yang dirugikan
bukan cuma diri pasien sendiri sehingga penyakitnya jadi
tak sembuh berkepanjangan, melainkan orang-orang di
sekitarnya yang berada di dekatnya juga. Tanpa perlu
mengajaknya berbicara pun, udara di sekitar pasien flu
sudah tercemar oleh virus flu. Kebersihan dan pembersihan
lubang hidung, dengan cara menyabuni dan menghembuskan
kuat-kuat udara napas keluar berkali-kali, diharapkan
virus yang melekat di saluran napas bisa terenyahkan
keluar.
Dayatahan tubuh dapat ditingkatkan dengan melancarkan
aliran darah tubuh. Pijat, kerik, bisa melancarkan aliran
darah. Cara sederhana lainnya dengan banyak bergerak
badan, dan tidak duduk berdiam diri saja. Gerak badan
paling murah meriah dengan berjalan kaki rutin setiap hari
sambil berjemur. Bagi mereka yang sudah berusia lanjut
mungkin perlu ekstra suplemen khusus yang membantu
meningkatkan sistem imun tubuh, termasuk
multivitamin-mineral, selain banyak buah dan sayur mayur.
|