Kesehatan
30 September 2003
Infertilitas Sekunder
Dr. Handrawan Nadesul

Usia perkawinan kami sudah 9 tahun dan dikaruniakan seorang putera berumur 7 tahun. Saya sendiri saat ini berumur 38 tahun dan isteri saya 37 tahun. Sesudah kelahiran putera kami, kami tidak mengikuti program KB secara khusus melainkan memakai sistem kalender saja.

Dimulai kira-kira empat tahun yang lalu kami mulai serius memikirkan dan berusaha untuk memperoleh anak kedua. Sudah berbagai dokter ahli yang kami kunjungi dan berbagai pemeriksaan yang dilalui, namun sampai sekarang belum menunjukkan hasilnya.

Pemeriksaan yang sudah kami jalani antara lain:

  1. Pap smear oleh isteri saya dengan hasil baik
  2. Pemeriksaan kesuburan dan tes hormon dengan hasil yang juga baik
  3. Analisa sperma dengan hasil juga baik/normal
  4. Laparaskopi dimana ditemukan endometrosis mild dan sedikit myom dimana kedua-duanya sudah dibersihkan
  5. Tes Hydrotubasi untuk mengetahui saluran rahim dengan hasil baik
  6. Biopsi endometrium untuk mengetahui apakah sudah terjadi penebalan kembali lapisan endometrosis dengan hasil baik (tidak ada penebalan).

Di samping pemeriksaan di atas, kami juga sudah pernah mengikuti 3 kali inseminasi akan tetapi belum membuahkan hasil.

Selanjutnya, pada waktu dilakukan uji kibrik pasangan ternyata ditemukan adanya antibody yang tinggi dalam darah isteri terhadap sperma suami. Sehingga, saat ini kami sedang melakukan terapi PLI (Paternal Leucosyt Immunisation) untuk menurunkan tingkat antibody tersebut.

Adapun pertanyaan-pertanyaan yang ingin kami ajukan adalah:

  1. Apakah memang hasil uji kibrik tersebut menjadi salah satu faktor penghambat infertilitas sekunder ini. Kalau ya, apa penyebabnya dan kenapa tidak terjadi pada saat kehamilan pertama. Apakah terapi PLI tersebut memang dapat menurunkan tingkat antibody?
  2. Apakah ada pemeriksaan lain yang belum kami lakukan?
  3. Apakah proses inseminasi ada batasan seberapa banyak dapat dilakukan. Apabila hal ini tetap tidak membuahkan hasil, proses apa lagi yang dapat kami tempuh?
  4. Seberapa besar faktor non-medis (misalnya tingkat stress, polusi udara, pola hidup, dsb) dapat mempengaruhi kondisi kami?


Pengirim: NN


Menganalisis persoalan infertilitas Anda berdua, agaknya memang terjadi reaksi penolakan sperma oleh istri. Anda tidak sendiri. Kasus begini seperlima dari semua kasus infertilitas, baik yang primer maupun yang sekunder.

Yang sedang Anda berdua hadapi ini masalah mekanisme imunitas tubuh. Kebetulan sperma Anda tergolong zat asing (antigen) bagi tubuh istri Anda. Sehingga apa pun yang berasal dari diri Anda, baik darah, dan produknya, termasuk sperma (spermatozoa maupun getah dan cairannya) merupakan zat asing bagi tubuh istri.

Seperti kebanyakan mekanisme imunitas, setiap zat asing, termasuk bibit penyakit, akan ditolak oleh tubuh baik oleh sistem kekebalan (pertahanan tubuh) yang bersifat sel (cellular) berupa sel darah puting dan perangkatnya, maupun oleh kekebalan yang bersifat cairan (imunoglobulin).

Reaksi pertempuran zat asing dengan zat kekebalan tubuh terjadi. Tujuannya memusnahkan zat asing agar tidak mengganggu tubuh. Dan jika zat asing yang memasuki tubuh itu spermatozoa, itu pun akan dirusaknya.

Setiap ada zat asing memasuki tubuh, secara spesifik tubuh akan membentuk zat anti atau antibodi. Tubuh merekam zat asing dalam memory (imunitasnya), sehingga jika zat asing yang sama memasuki tubuh untuk yang keduanya kalinya, dan seterusnya, reaksi serangannya terjadi lebih cepat dan lebih hebat, oleh karena sudah lebih sigap dan hafal akan sifat tabiat “musuh”nya itu.

Itu maka reaksi alergi, mekanisme imunitas umumnya lebih hebat setelah reaksi untuk yang kedua kali, dan selanjutnya. Anda bertanya kenapa kok bisa hamil waktu anak pertama, dan baru muncul ketidakcocokan sperma oleh istri setelah menghendaki kehamilan yang kedua?

Hal tersebut terjadi oleh karena reaksi penolakan istri terhadap sperma suami yang pertama kali masih belum membentuk cukup antibodi yang bisa merusak sperma. Setelah tubuh istri Anda mengenali zat asing sperma suaminya, dalam tubuh Anda sudah terbentuk antibodi terhadap sperma yang cukup banyak. Antibodi yang cukup banyak itulah yang akan selalu menumpas sperma tak berdosa setiap kali kohabitasi (senggama). Sperma Anda selalu dirusak oleh antibodi istri Anda. Semakin sering kohabitasi, semakin tinggi antibodi antisperma yang terbentuk dalam tubuh istri.

Jadi saya kira memang itu penyebab Anda tidak bisa menghamili istri untuk yang kedua kali. Dan agaknya tidak diperlukan pemeriksaan lain. Yang perlu Anda berdua kerjakan upaya menekan antibodi dalam tubuh istri Anda agar bisa berdamai, dan sudi menerima kehadiran sperma Anda ke dalam rahimnya, lewat cara PLI itu.

Persoalan infertilitas yang Anda berdua hadapi tidak juga bisa diatasi dengan cara inseminasi. Oleh karena bagi kasus Anda berdua bukan seberapa sering inseminasi benar yang menjadi pertimbangan, melainkan pilihan inseminasi bukanlah terapi yang tepat alamat. Dengan inseminasi akan tetap percuma jika sperma Anda masih tetap dimusnahkan begitu memasuki leher rahim istri Anda. Lendir di vagina dan leher rahim istri Anda yang galak dan selalu menumpas setiap kali sperma Anda disemprotkan baik saat bersenggama maupun dengan suntikan inseminasi, yang mesti dijinakkan.

Jika uji kibrik benar, agaknya memang siapa “penyakit” infertilitas Anda itu sudah tertangkap. Oleh karena penyebab penyakitnya ada pada tubuh istri Anda yang menolak sperma suaminya, maka tubuh istri yang harus dibuat jinak, ramah, dan sudi menerima sperma Anda yang sungguh tidak bersalah itu. Caranya dengan menjinakkkan sistem kekebalan tubuh istri Anda yang selama ini melihat sperma Anda sebagai musuh, dan digiring agar mau berubah memandang sperma suaminya sebagai sahabat. Dengan cara demikian sperma Anda tidak sia-sia bertandang, dan bebas dari ancaman dihancurkan, kalau datang menjenguk rahim istrinya.

Soal faktor nonmedis dalam kasus infertilitas memang ada. Namun itu merupakan keranjang sampah belaka, setelah semua faktor yang diperkirakan menjadi penyebab infertilitas tidak ditemukan. Bagi pasangan yang dua-duanya normal, namun tetap belum juga dikaruniai anak, sering dipikirkan kemungkinan ada penyebab faktor nonmedis, seperti stres yang berkepanjangan, misalnya. Stres bisa menekan terjadinya ovulasi. Begitu stresnya dikendurkan, lewat honeymoon kedua, misalnya, sering-sering langsung bisa hamil. Itupun baru mungkin terjadi kalau tidurnya sekamar seranjang, dan malamnya harus ngapa-ngapain.

Pada Anda, sudah jelas bukan faktor nonmedis penyebabnya oleh karena medis sudah menemukan siapa dan apa sebetulnya biang keladi pada kasus Anda berdua. Sekarang tinggal apakah Anda berdua telaten menempuh terapi yang tidak pendek itu, sehingga istri bukan cuma mesra dan ramah (rajin menjamah) ketika duduk berdua di beranda saja, melainkan rahimnya juga sudah bisa jinak dan tidak galak lagi pada sperma Anda. Semoga bakal begitu jadinya nanti. Tuhan memberkati.
 


 
>> Arsip

   

Gereja Kristen Indonesia Pondok Indah @ 2003