|
Usia perkawinan kami sudah 9 tahun dan dikaruniakan
seorang putera berumur 7 tahun. Saya sendiri saat ini
berumur 38 tahun dan isteri saya 37 tahun. Sesudah
kelahiran putera kami, kami tidak mengikuti program KB
secara khusus melainkan memakai sistem kalender saja.
Dimulai kira-kira empat tahun yang lalu kami mulai serius
memikirkan dan berusaha untuk memperoleh anak kedua. Sudah
berbagai dokter ahli yang kami kunjungi dan berbagai
pemeriksaan yang dilalui, namun sampai sekarang belum
menunjukkan hasilnya.
Pemeriksaan yang sudah kami jalani antara lain:
- Pap smear oleh isteri saya dengan hasil baik
- Pemeriksaan kesuburan dan tes hormon dengan hasil yang
juga baik
- Analisa sperma dengan hasil juga baik/normal
- Laparaskopi dimana ditemukan endometrosis mild dan
sedikit myom dimana kedua-duanya sudah dibersihkan
- Tes Hydrotubasi untuk mengetahui saluran rahim dengan
hasil baik
- Biopsi endometrium untuk mengetahui apakah sudah
terjadi penebalan kembali lapisan endometrosis dengan
hasil baik (tidak ada penebalan).
Di samping pemeriksaan di atas, kami juga sudah pernah
mengikuti 3 kali inseminasi akan tetapi belum membuahkan
hasil.
Selanjutnya, pada waktu dilakukan uji kibrik pasangan
ternyata ditemukan adanya antibody yang tinggi dalam darah
isteri terhadap sperma suami. Sehingga, saat ini kami
sedang melakukan terapi PLI (Paternal Leucosyt
Immunisation) untuk menurunkan tingkat antibody tersebut.
Adapun pertanyaan-pertanyaan yang ingin kami ajukan adalah:
- Apakah memang hasil uji kibrik tersebut menjadi salah
satu faktor penghambat infertilitas sekunder ini. Kalau ya,
apa penyebabnya dan kenapa tidak terjadi pada saat
kehamilan pertama. Apakah terapi PLI tersebut memang dapat
menurunkan tingkat antibody?
- Apakah ada pemeriksaan lain yang belum kami lakukan?
- Apakah proses inseminasi ada batasan seberapa banyak
dapat dilakukan. Apabila hal ini tetap tidak membuahkan
hasil, proses apa lagi yang dapat kami tempuh?
- Seberapa besar faktor non-medis (misalnya tingkat
stress, polusi udara, pola hidup, dsb) dapat mempengaruhi
kondisi kami?
Pengirim: NN
Menganalisis persoalan infertilitas Anda berdua, agaknya
memang terjadi reaksi penolakan sperma oleh istri. Anda
tidak sendiri. Kasus begini seperlima dari semua kasus
infertilitas, baik yang primer maupun yang sekunder.
Yang sedang Anda berdua hadapi ini masalah mekanisme
imunitas tubuh. Kebetulan sperma Anda tergolong zat asing
(antigen) bagi tubuh istri Anda. Sehingga apa pun yang
berasal dari diri Anda, baik darah, dan produknya,
termasuk sperma (spermatozoa maupun getah dan cairannya)
merupakan zat asing bagi tubuh istri.
Seperti kebanyakan mekanisme imunitas, setiap zat asing,
termasuk bibit penyakit, akan ditolak oleh tubuh baik oleh
sistem kekebalan (pertahanan tubuh) yang bersifat sel
(cellular) berupa sel darah puting dan perangkatnya,
maupun oleh kekebalan yang bersifat cairan (imunoglobulin).
Reaksi pertempuran zat asing dengan zat kekebalan tubuh
terjadi. Tujuannya memusnahkan zat asing agar tidak
mengganggu tubuh. Dan jika zat asing yang memasuki tubuh
itu spermatozoa, itu pun akan dirusaknya.
Setiap ada zat asing memasuki tubuh, secara spesifik tubuh
akan membentuk zat anti atau antibodi. Tubuh merekam zat
asing dalam memory (imunitasnya), sehingga jika zat asing
yang sama memasuki tubuh untuk yang keduanya kalinya, dan
seterusnya, reaksi serangannya terjadi lebih cepat dan
lebih hebat, oleh karena sudah lebih sigap dan hafal akan
sifat tabiat musuhnya itu.
Itu maka reaksi alergi, mekanisme imunitas umumnya lebih
hebat setelah reaksi untuk yang kedua kali, dan
selanjutnya. Anda bertanya kenapa kok bisa hamil waktu
anak pertama, dan baru muncul ketidakcocokan sperma oleh
istri setelah menghendaki kehamilan yang kedua?
Hal tersebut terjadi oleh karena reaksi penolakan istri
terhadap sperma suami yang pertama kali masih belum
membentuk cukup antibodi yang bisa merusak sperma. Setelah
tubuh istri Anda mengenali zat asing sperma suaminya,
dalam tubuh Anda sudah terbentuk antibodi terhadap sperma
yang cukup banyak. Antibodi yang cukup banyak itulah yang
akan selalu menumpas sperma tak berdosa setiap kali
kohabitasi (senggama). Sperma Anda selalu dirusak oleh
antibodi istri Anda. Semakin sering kohabitasi, semakin
tinggi antibodi antisperma yang terbentuk dalam tubuh
istri.
Jadi saya kira memang itu penyebab Anda tidak bisa
menghamili istri untuk yang kedua kali. Dan agaknya tidak
diperlukan pemeriksaan lain. Yang perlu Anda berdua
kerjakan upaya menekan antibodi dalam tubuh istri Anda
agar bisa berdamai, dan sudi menerima kehadiran sperma
Anda ke dalam rahimnya, lewat cara PLI itu.
Persoalan infertilitas yang Anda berdua hadapi tidak juga
bisa diatasi dengan cara inseminasi. Oleh karena bagi
kasus Anda berdua bukan seberapa sering inseminasi benar
yang menjadi pertimbangan, melainkan pilihan inseminasi
bukanlah terapi yang tepat alamat. Dengan inseminasi akan
tetap percuma jika sperma Anda masih tetap dimusnahkan
begitu memasuki leher rahim istri Anda. Lendir di vagina
dan leher rahim istri Anda yang galak dan selalu menumpas
setiap kali sperma Anda disemprotkan baik saat bersenggama
maupun dengan suntikan inseminasi, yang mesti dijinakkan.
Jika uji kibrik benar, agaknya memang siapa penyakit
infertilitas Anda itu sudah tertangkap. Oleh karena
penyebab penyakitnya ada pada tubuh istri Anda yang
menolak sperma suaminya, maka tubuh istri yang harus
dibuat jinak, ramah, dan sudi menerima sperma Anda yang
sungguh tidak bersalah itu. Caranya dengan menjinakkkan
sistem kekebalan tubuh istri Anda yang selama ini melihat
sperma Anda sebagai musuh, dan digiring agar mau berubah
memandang sperma suaminya sebagai sahabat. Dengan cara
demikian sperma Anda tidak sia-sia bertandang, dan bebas
dari ancaman dihancurkan, kalau datang menjenguk rahim
istrinya.
Soal faktor nonmedis dalam kasus infertilitas memang ada.
Namun itu merupakan keranjang sampah belaka, setelah semua
faktor yang diperkirakan menjadi penyebab infertilitas
tidak ditemukan. Bagi pasangan yang dua-duanya normal,
namun tetap belum juga dikaruniai anak, sering dipikirkan
kemungkinan ada penyebab faktor nonmedis, seperti stres
yang berkepanjangan, misalnya. Stres bisa menekan
terjadinya ovulasi. Begitu stresnya dikendurkan, lewat
honeymoon kedua, misalnya, sering-sering langsung bisa
hamil. Itupun baru mungkin terjadi kalau tidurnya sekamar
seranjang, dan malamnya harus ngapa-ngapain.
Pada Anda, sudah jelas bukan faktor nonmedis penyebabnya
oleh karena medis sudah menemukan siapa dan apa sebetulnya
biang keladi pada kasus Anda berdua. Sekarang tinggal
apakah Anda berdua telaten menempuh terapi yang tidak
pendek itu, sehingga istri bukan cuma mesra dan ramah (rajin
menjamah) ketika duduk berdua di beranda saja, melainkan
rahimnya juga sudah bisa jinak dan tidak galak lagi pada
sperma Anda. Semoga bakal begitu jadinya nanti. Tuhan
memberkati.
|