|
Navigasi |
|
|
|
|
|
Warta Jemaat |
|
|
|
|
Layanan Jemaat |
|
|
|
|
Kegiatan Ouikumenis
|
|
|
| |
|
|
|
|
 |
|
Kesaksian |
|
24 Oktober 2008
Stroke Membuat Pasangan Ibu Lili dan Pak Andi Kembali ke Jalan Tuhan
|
|
|
Tuhan
memanggil manusia dengan berbagai-bagai cara, agar
kembali ingat dan berbalik kepada-Nya. Hal itu dialami
oleh Ibu Liliyanti Sudarto dan suaminya, Pak Andi Kowara,
ketika empat tahun yang lalu mobil Avanza mereka
dilarikan oleh sopir pribadi mereka. Tersentak oleh
musibah yang tak pernah mereka duga ini, Ibu Lili mulai
mencari Tuhan yang sudah begitu lama ditinggalkannya.
Pada waktu itu mereka sungguh-sungguh putus asa untuk
melaporkan kehilangan tersebut ke polisi, karena mereka
tak dapat menunjukkan sepotong pun identitas diri atau
foto si sopir. Tetapi sungguh ajaib bahwa polisi dapat
tepat menggambarkan wajah sopir itu berdasarkan
ciri-ciri yang disebutkan oleh Ibu Lili. Mobil merekapun
ditemukan kembali di Komdak hanya 100 hari setelah
peristiwa tersebut, dan si sopir tertangkap karena
ternyata tinggal berdekatan dengan kantor polisi, tepat
seperti yang selalu didoakan oleh Ibu Lili. Di
pengadilan, kedua suami-istri ini melepaskan segala
tuntutan atas sopir ini, sehingga si sopir mendapat
hukuman ringan atas kesalahannya.
Namun kejadian ini baru merupakan awal dari rentetan
masalah lebih berat yang kemudian datang dengan
bertubi-tubi di dalam kehidupan tentram pasangan ini.
Ibu Lili lahir sebagai anak keempat dari 9 bersaudara di
sebuah kota kecil dekat Brebes, Jawa Tengah, 74 tahun
yang lalu. Sejak kecil orangtuanya mendidik anak-anak
mereka dengan sangat keras, dan untuk mendapatkan uang
jajan, anak-anak harus mencarinya sendiri dengan bekerja.
Karena itu, sejak kecil Ibu Lili sudah terbiasa hidup
berdisiplin dan bekerja keras.
Ketika mulai remaja, Ibu Lili pindah ke kota Cirebon dan
tinggal sementara bersama keluarga Tantenya (adik
ayahnya) yang sangat taat beribadah kepada Tuhan. Dari
Tantenya ini, dan dari pendidikannya di sekolah Katolik,
Ibu Lili mengenal Tuhan, sehingga dibaptis dan mengaku
percaya pada tahun 1956. Ia bahkan pernah sangat aktif
sebagai Ketua Pemuda di gerejanya.
Namun kepergian pendeta panutannya ke Bandung mulai
membuatnya mundur dari persekutuan jemaat.
Perpindahannya ke Jakarta dan pernikahannya dengan Pak
Andi yang bukan Kristen pun semakin menjauhkan dirinya
dari Tuhan. Meskipun Pak Andi akhirnya dibaptis dan
mengaku percaya pada usia 60 tahun, kehidupan bergereja
kedua suami-istri ini hanya rutinitas belaka. Saat itu
semua terasa begitu mulus dan baik. Hidup seakan-akan
mengalir di air tenang. Kesehatan mereka prima, bahkan
Ibu Lili sendiri tak pernah sakit berat, apalagi sakit
gigi. Mungkin karena itu Ibu Lili terlena.
Suatu hari,
setelah peristiwa kehilangan mobil itu, Ibu Lili tak
dapat mengangkat tangannya dan pergi ke dokter
langganannya. Dokter yang memeriksanya segera
menyuruhnya dirawat di rumah sakit karena tensinya
tinggi. Sayang, sesampai di rumah sakit ia tak jadi
dirawat, karena saudara-saudaranya yang datang kemudian,
malah mengajaknya pulang ke rumah. Mereka semua tak
menyadari betapa parah sebenarnya penyakit itu. Di
perjalanan, Ibu Lili benar-benar terserang stroke.
Akibatnya ia sekarang agak sulit berjalan dan jari-jari
tangan kirinya pun belum bisa membuka.
Belum sampai ia pulih dari sakitnya, 5 bulan kemudian
suaminya pun kena stroke, bahkan lebih parah daripada
Ibu Lili, karena suaminya tak bisa berjalan lagi dan
harus selalu duduk di kursi roda. Selain itu, karena
usianya sudah 83 tahun, suaminya mulai kurang
pendengarannya. Untuk merawat suaminya, tentu diperlukan
seorang perawat, karena itu Ibu Lili segera menelpon
sebuah yayasan untuk mengirimkan seorang perawat ke
rumahnya. Sementara itu ia terus berdoa kepada Tuhan,
agar perawat itu bisa segera datang. Puji Tuhan, dalam
satu jam doanya dikabulkan. Demikian pula ketika perawat
pertama keluar, ia segera mendapat penggantinya,
sehingga sampai saat ini kehidupan mereka berdua
dipelihara oleh Tuhan.
Bagaimana mereka harus hidup di dalam keadaan sakit
seperti ini? Sebagian besar uang mereka sudah hilang
karena dipinjam orang dan tak pernah dikembalikan lagi.
Meskipun sempat terpukul oleh peristiwa yang menyesakkan
itu, Ibu Lili yang tabah itu kembali menemukan
semangatnya. Ia mencari bermacam-macam bisnis yang dapat
menunjang kehidupan mereka berdua. Ia berjualan baju,
makanan kering, dan sebagainya. Dengan rajin ia mencari
barang-barang di Pasar Tanah Abang untuk dijual kembali.
Ia pergi sendirian, hanya mobilnya dikemudikan oleh
sopir harian yang disewanya. Keadaan tubuhnya yang
berjalan terseok-seok itu tidak menyurutkan langkahnya
untuk membawa barang-barang yang dibelinya. Ia mengikat
kuat-kuat barang-barang itu dengan tali rafia, dan
menyeretnya di lantai. Untuk menuruni eskalator, ia
lemparkan barang-barang itu terlebih dahulu, lalu
menyusul kemudian. Sungguh luar biasa tekadnya! Ia
selalu percaya bahwa Tuhan melindungi dirinya. Padahal,
ia sudah pernah terguling-guling di undakan rumahnya
atau mengalami benjol di bagian belakang kepalanya
karena terjatuh.
Tetapi yang lebih mengagumkan lagi ialah kesetiaannya
untuk membaca Alkitab dan merenungkan firman Tuhan
setiap pagi, begitu bangun tidur. Firman Tuhan selalu
berbicara kepadanya, dan mengajarnya untuk menjadi
manusia yang lebih baik dan lebih taat kepada Tuhan. Ia
juga rajin berdoa karena ia tahu bahwa Tuhan
sungguh-sungguh memenuhi segala kebutuhannya.
Sikap hidup
Ibu Lili yang positif untuk tetap giat bekerja pada hari
tuanya dan sabar mendampingi suaminya, menjadi teladan
bagi orang-orang di sekitarnya untuk tidak menyerah
terhadap keterbatasan fisik atau hambatan keadaan.
Pengalaman hidupnya selama ini sudah mengajarnya bahwa
Yesus pasti menolong dan membuka jalan baginya.
Ibu Lili sudah belajar bagaimana hidup bahagia dengan
keadaannya. Ia telah membuang semua akar pahit yang
pernah dirasakannya dan ikhlas mengampuni kesalahan
orang lain. Ia menyadari bahwa Segala perkara dapat
kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku
(Filipi 4:13). (ib) |
|
|
|
>> Arsip
|
|
|
|