|
Navigasi |
|
|
|
|
|
Warta Jemaat |
|
|
|
|
Layanan Jemaat |
|
|
|
|
Kegiatan Ouikumenis
|
|
|
| |
|
|
|
|
 |
|
Kesaksian |
|
20 Agustus 2007
Si Kembar : AKU INGIN HIDUP!
|
|
|
Dering telpon
di kantor pada siang hari itu memecah konsentrasi Papa.
“Ed,” terdengar suara gembira seseorang yang begitu
dikenalnya, “Selamat ya, anakmu sudah lahir!”
Sejenak Papa tertegun. Bagaimana bisa ia punya anak lagi?
Putrinya yang keenam, Rini, belum lagi genap empat bulan
usianya. Tetapi kemudian ia teringat akan perjanjian yang
pernah diikatnya dengan Oom Dewanto dan istrinya beberapa
bulan yang lalu ketika kami sekeluarga bertandang ke
Magelang. Waktu itu Mama sedang hamil besar, dan Tante
Anna, istri Oom Dewanto, juga sedang hamil tiga bulan.
Dengan bercanda Papa berkata kepada Oom Dewanto bahwa
kalau kelak anaknya lahir kembar dan laki-laki semuanya
karena Oom Dewanto sudah memiliki tiga putra pada saat itu
sedangkan anak yang dikandung Mama nanti perempuan lagi,
ia minta agar salah satu dari bayi kembar itu diberikan
kepadanya. Ketika itu Oom Dewanto tertawa lebar sambil
mengangguk setuju, karena ia sendiri tidak yakin bahwa
istrinya mengandung anak kembar. “Mana mungkin punya
kembar,” ujarnya, “tidak ada yang kembar di kedua keluarga
kami!” Pemeriksaan ultrasonik (USG) belum dikenal orang
pada tahun 60-an, sehingga setiap kehamilan merupakan
penantian yang penuh harapan sampai kelahiran tiba.
Oom Dewanto memang sepupu Mama dari pihak ayahnya, tetapi
juga saudara jauh Papa dari pihak ibunya. Oleh karena itu
hubungan kami dengan mereka cukup dekat, apalagi kedua
keluarga sering saling mengunjungi. Pagi itu Tante Anna
melahirkan kembar laki-laki di RS Tentara Magelang.
“Tolong Ed, kata Oom Dewanto, segeralah ambil anakmu itu.
Ia lahir prematur dan sangat kecil. Ia harus segera
diselamatkan.”
Papa menelpon Mama di rumah untuk memberitahukan kabar
gembira itu. Mama terkejut, karena tidak pernah
membayangkan harus merawat seorang anak lagi dalam waktu
dekat. Meskipun demikian, ia sepenuhnya mendukung niat
Papa untuk mengambil bayi itu. Setelah Papa menyerahkan
pekerjaan kantor kepada asistennya yang sudah lama bekerja
padanya, ia pergi ke RS St. Elisabeth Semarang untuk
menghubungi dokter anak yang sudah dikenalnya dengan baik.
Atas petunjuk dokter itu, ia lalu mengatur dengan pihak
rumah sakit untuk meminjam seorang perawat dan sebuah
inkubator yang akan dibawanya ke Magelang keesokan harinya.
Semua berjalan dengan baik, dan keesokan hari sekitar
pukul 10.00, Papa dan perawat itu sampai dengan selamat di
RS Tentara Magelang. Papa disambut dengan bahagia oleh Oom
Dewanto, yang segera mengajaknya melihat kedua bayi yang
diletakkan di dalam inkubator. Ketika Papa tiba di ruang
bayi, terdengar tangis keras dari salah satu bayi itu,
yang justru paling kecil dari keduanya. Oom Dewanto
berbisik kepada Papa, “Ed, itu anakmu.” Papa mengangguk
dengan terharu. Bayi itu seakan-akan memanggil dan meminta
pertolongannya. Namun saat Papa mengunjungi Tante Anna
yang berbaring lemah di tempat tidurnya, dilihatnya air
mata Tante Anna mengucur deras. “Berat rasanya memberikan
anakku,” katanya sedih, “masakan kulepas anak yang sudah
kukandung di bawah jantungku.” Tetapi akhirnya ia mengalah
setelah disadarkan bahwa kondisi putranya yang terkecil
berada di ujung tanduk, sehingga untuk menyelamatkan
nyawanya, ia harus segera dibawa ke rumah sakit yang lebih
lengkap peralatannya. “Kita bisa mengunjunginya nanti
kalau kita ke Semarang,” kata Oom Dewanto membujuknya,
“toh dia dirawat oleh saudara sendiri.”
Sadewa,
begitulah nama yang diberikan kepada bayi kecil ini,
segera masuk RS St. Elisabeth sesampai di Semarang,
sedangkan Nakula tetap diasuh oleh kedua orang tuanya.
Berat Sadewa yang hanya 1,3 kg ketika lahir, tidak tampak
banyak bertambah selama perawatan enam bulan di sana.
Memang pada masa itu sangat jarang ada bayi dengan berat
serendah itu dapat tetap bertahan hidup, dan bagi pihak
rumah sakit, Sadewa merupakan kasus yang luar biasa.
Setiap pagi Mama berjalan kaki ke rumah sakit yang tidak
jauh letaknya dari rumah untuk menengoknya, sedangkan Papa
mencari waktu berkunjung di sela-sela pekerjaan kantornya
yang sibuk. Suatu siang dokter anak, yang memantau
perkembangan Sadewa, berbicara serius kepada Papa. “Saya
rasa sebaiknya bayi ini dirawat saja sendiri di rumah,”
katanya, “ia sangat membutuhkan kasih sayang kalian. Saya
kagum karena kemauan hidupnya sangat besar, tetapi di sini
kemajuannya hampir tidak ada.” Papa meminta waktu sehari
untuk membicarakannya dengan Mama di rumah. Untunglah Mama
tidak berkeberatan, karena Rini sudah berumur 10 bulan dan
merupakan bayi yang tenang dan sehat, sehingga Mama dapat
membagi waktu untuk mengurus Sadewa kecil ini.
Meskipun demikian, ketika Sadewa benar-benar dibawa pulang,
Mama sangat terkejut melihatnya. Bayi ini masih keriput,
kecil dan rapuh dengan kepala yang lebih besar daripada
badannya, sehingga Mama harus ekstra hati-hati memandikan
atau mengganti bajunya. Selain itu ia juga tidak bisa
minum susu dari botol, sehingga Mama harus telaten
memberinya minum dengan pipet. “Ya Tuhan, tolonglah agar
ia bisa tumbuh normal,” doa Mama setiap kali ia
menggendongnya dengan hati-hati. Papa juga sangat
memperhatikan Sadewa. Kedua daun telinga bayi kecil ini
yang terkulai, diplesternya berhari-hari dengan hati-hati
agar bisa membuka kembali. Ia juga mengamati bahwa mata
Sadewa juling, lalu mengambil gagasan untuk sekali-sekali
menutup mata kanannya yang aktif dengan plester, agar
menggiatkan mata kirinya yang malas. Hasilnya luar biasa.
Mata Sadewa berfungsi dengan baik. Mama yang hangat dan
periang, sering membelai dan mengurut Sadewa sambil
mengajaknya berbicara. Ia juga mengajari kami, sebagai
kakak-kakak Sadewa, untuk membantu mengurusnya. Mula-mula
kami memang merasa ngeri memegangnya, tetapi Sadewa
ternyata bayi yang kuat dan tahan uji. Ia tidak pernah
sakit, dan pertumbuhannya sangat menggembirakan,
seakan-akan mengejar ketinggalannya. Dulu berat badannya
waktu lahir terlalu rendah sehingga terdapat keterlambatan
dalam bicara, jalan dan perkembangan otaknya. Namun
ternyata belum genap tiga tahun usianya, Sadewa sudah bisa
berjalan, dan karena ia banyak bermain dengan Rini,
perlahan-lahan ia mulai ber-bicara dengan terbata-bata.
Alangkah bahagianya hati Papa dan Mama!
Sadewa mendapat tempat istimewa di hati Papa yang sudah
sekian lama merindukan seorang putra. Ia berbagi kecintaan
Papa pada mobil, dan betah melewatkan waktu berjam-jam
lamanya di garasi untuk bersama-sama Papa membetulkan
sebuah kerusakan atau mempelajari sesuatu yang baru.
Keterampilan tangan Sadewa inilah yang kelak menunjang
hidupnya.
Oom Dewanto dan Tante Anna sering mengunjunginya di rumah
kami, sehingga sejak kecil Sadewa sudah tahu bahwa ia
mempunyai saudara kembar dan keluarga di Magelang.
Meskipun demikian, ia tetap merasa paling aman bersama
kami. Setelah remaja, Tante Anna memintanya untuk
berkumpul kembali dengan saudara-saudara kandungnya, agar
ia tidak cenderung berperilaku seperti perempuan, karena
selalu berada di lingkungan kami. Papa dan Mama setuju dan
melepaskannya pergi, tetapi hubungan dengannya tetap
terpelihara, sehingga setelah ia bekerja, ia tak ragu-ragu
kembali ikut Papa, yang ketika itu sudah pindah ke
Jakarta.
Tahun-tahun
cepat berlalu dan Sadewa sekarang sudah berumah tangga dan
mempunyai dua putra yang sehat dan pandai. Cintanya dan
kesetiaannya kepada Papa kami yang sudah tua Mama sudah
lebih dahulu meninggal dunia†sangat dalam dan mengharukan.
“Aku berhutang nyawa kepada Papa dan Mama,” katanya selalu,
“Aku takkan melupakannya seumur hidupku.” (ibp) |
|
|
|
Apa yang tidak pernah dilihat
oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan
yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: Semua yang
disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia. (1
Korintus 2:8) |
|
|
|
>> Arsip
|
|
|
|