|
Navigasi |
|
|
|
|
|
Warta Jemaat |
|
|
|
|
Layanan Jemaat |
|
|
|
|
Kegiatan Ouikumenis
|
|
|
| |
|
|
|
|
 |
|
Kesaksian |
|
19 Mei 2007
Bagiku Hidup Adalah Kristus dan Mati Adalah Keuntungan
|
|
|
Ia seorang perempuan
biasa. Namun semangatnya luar biasa. Tatkala berumur
sebelas tahun ia berangkat ke Jakarta untuk menemani
kakaknya yang baru menikah. Ia tinggal bersama keluarga
kakaknya dan bersekolah di Hollands Inlandsche School
(HIS) Gemeente di Gondangdia hingga kelas 6, kemudian
menamatkannya di Sibolga pada tahun 1932. Pada tahun yang
sama yakni pada tanggal 13 Maret di Sibolga, ia menyatakan
iman percayanya melalui sidi.
Ketika masih berusia 21 tahun ia dinikahkan. Selama hampir
26 tahun ia mengecap kasih sayang suami, karena dalam usia
55 tahun ayah dipanggil pulang oleh Bapa di Surga.
Mulailah ia menghadapi tahun-tahun yang sulit. Sebagai
orang tua tunggal ia harus membimbing ke-enam anaknya
sekaligus mencukupi kebutuhan keluarga padahal dengan umur
47 tahun tentu sulit baginya untuk mempunyai mata
pencaharian sendiri. Berbekal pensiun ayah dijalaninya
hari demi hari dengan rasa syukur. Segala persoalan itu
satu per satu dapat diatasi, karena tuntunan Tuhan.
Walaupun penghasilannya sangat minim dan sering tekor, ia
tidak pernah mau meminjam uang. Ia juga tidak mau ngebon.
Sekarang ini penawaran kartu kredit sangat marak. Orang
diiming-imingi kemudahan berbelanja dengan kartu kredit
Visa, Master, dan sebagainya. Kalau pada masa itu juga
sudah ada kartu kredit, saya yakin ia tidak mau
menggunakannya.
Saya ingat pada tahun 60-an kami tidak memiliki beras lagi
untuk dimakan dan harus makan bulgur sebagai gantinya.
Kalau ada uang, kami membeli santan yang membuat rasa
bulgur menjadi agak gurih, mirip havermouth yang kasar.
Namun karena lebih sering tak mampu membeli kelapa maka
harus dimakan dengan garam dan sedikit gula. Kemudian ia
menguatkan anak-anaknya, katanya: “Sabarlah, nanti kita
akan mendapat beras”. Ternyata betul! Tuhan telah
mengirimkan salah seorang famili kami dari Jakarta datang
ke Bandung membawa beras sekarung. Inilah kebenaran yang
dikatakan dalam Filipi 4:6 Janganlah hendaknya kamu kuatir
tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal
keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan
ucapan syukur.
Kehidupan yang keras menempanya menjadi seorang perempuan
yang tegar dan mandiri. Tidak mudah bagi seorang janda
membesarkan enam orang anak yang mempunyai karakter yang
bermacam-macam. Ia tidak pernah kuliah di Psikologi namun
kepekaannya membuatnya bisa “membaca” gelagat yang
sekarang ini kita kenal dengan terminologi body language.
Dengan melihat mata orang intuisinya mengatakan apakah
seseorang itu tulus atau tidak. Dengan berpegang pada
nilai-nilai hidup yang telah membentuknya, ia tidak
segan-segan mengingatkan seseorang akan kekeliruannya yang
kadang-kadang membuat orang itu salah tingkah atau merasa
terperangah. Rupanya ia berpegang pada 2 Timotius 4:2
Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik
waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan
nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran.
Sekalipun ia memegang kuat prinsip hidupnya, namun
sikapnya tidak kaku. Ia sadar betul bahwa dunia berubah,
karenanya pikirannya terbuka untuk menerima masukan dari
orang lain tanpa rasa curiga, kemudian ia mengendapkannya
dalam renungan yang mendalam dengan mengaitkannya dengan
Firman Tuhan.
Sejak
pertengahan usia hidupnya, ia diberi berbagai ragam tugas
pelayanan oleh gereja. Meskipun ia tidak berpengalaman di
dalam tugas yang baru, semuanya diterimanya dengan sepenuh
hati dengan mengingat bahwa Tuhan akan melengkapi
kekurangannya. Di antaranya ia menjabat sebagai Ketua
Seksi Ina yang bertanggung jawab atas sarana gereja.
Kerajinannya membuat ia turun tangan sendiri memeriksa
segala sesuatu terutama berkaitan dengan kebersihan gereja
dan lingkungannya. Ketekunan dan kedisiplinannya di dalam
melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya mengingatkan saya
pada pesan Paulus kepada Arkhipus: Perhatikanlah, supaya
pelayanan yang kauterima dalam Tuhan kaujalankan
sepenuhnya.(Kolose 4:17).
Tuhan mengaruniakannya kesehatan yang prima dan dalam
usianya yang lanjut tidak pernah mengalami gangguan
kesehatan yang berarti. Namun tidak urung pada saat
berumur 83 tahun ia menderita pengeroposan tulang
(osteoporosis). Rasa sakit yang amat sangat hampir-hampir
mematahkan semangatnya. Namun ia berdoa seperti yang
dikatakan pemazmur dalam Mazmur 71: “Ya Allah, Engkau
telah mengajar aku sejak kecilku, dan sampai sekarang aku
memberitakan perbuatanMu yang ajaib; juga sampai masa
tuaku dan putih rambutku, ya Allah, janganlah meninggalkan
aku, supaya aku memberitakan kuasaMu kepada angkatan ini,
keperkasaanMu kepada semua orang yang akan datang”. Ia
merasa sangat dikuatkan oleh kasihNya dan beberapa bulan
kemudian kesehatan dan kekuatannya berangsur pulih.
Acapkali orang bertanya kepadanya: “Ompung, apa resep
panjang umur dan sehat?” Tanpa ragu ia menjawab: “Berpikir
positif dan kalau makan berhentilah sebelum menjadi
kenyang”. Inilah yang dipraktikkannya. Fokusnya kepada
Tuhan membuat ia selalu bersemangat yang melahirkan
optimisme. Keyakinan akan pimpinan dan penyertaan Tuhan
ini ditularkan ke sekitarnya dan dirasakan sebagai suatu
energi oleh orang-orang yang bertemu dengannya. Namun ia
tidak berhenti pada membagikan sesuatu yang bersifat
metafisik saja, tapi juga sesuatu yang berwujud karena
rasa pedulinya terhadap orang lain. Ia merasa bahagia jika
ia bisa melakukan sesuatu untuk kebaikan orang lain.
Pemberian dilakukannya dengan sukacita seringkali diiringi
nyanyian lagu berbahasa Belanda... beter te geven, dan
t’ontvangen...
Suatu kali
salah seorang teman saya pernah bertanya kepada saya:
“Menurutmu apakah seseorang berusia sangat lanjut seperti
ibumu itu masih merasakan kesenangan?” Saya menjawab dari
kaca mata duniawi: “Tidak”, karena saya melihat bahwa usia
sangat lanjut seperti ibu saya ini penuh dengan keletihan.
Tetapi ompung ini menjadi saksi bahwa setiap hari yang
Tuhan karuniakan kepadanya dapat ia lalui dengan sukacita
dan penuh syukur. Bahkan dengan sangat antusias ia sering
bertanya-tanya apakah ia dapat mencapai usia 100 tahun!
Keinginannya ini sering kali disambungnya dengan berkata:
“Ah, guru di Tuhan i ma ate” (Ah, tergantung pada kehendak
Tuhan lah, ya). Tentu saja ia pernah mengeluh ketika
merasakan kelelahan yang amat sangat terutama karena
napasnya rupanya sudah tidak efektif, katanya: “Ooh, loja
na i” (Aduh, capainya). Namun ia segera menyadari
ucapannya itu dan langsung berkata: “Ah, tidak baik ya
mengeluh... padahal saya sudah meminta umur panjang, lalu
ketika diberi koq mengeluh?”. Kemudian saya menimpalinya:
“Betul mam, kalau mami merasa letih dan mau mengeluh,
segera alihkan saja dengan bernyanyi”. Lalu dia menyambut
baik usul itu dan segera bernyanyi memuji Tuhan lalu kami
berduet. Memang ia hafal beberapa kidung pujian terutama
dalam bahasa Batak.
Saya mengamati ada banyak pilihan sikap yang diambil
ketika seseorang merasakan keletihan pada usia lanjut. Ada
yang merasa bosan dan lelah dengan kerentaannya, lalu
dengan kesal protes secara verbal; untuk apa ia masih
diberikan usia panjang. Ada pula yang memberontak dengan
tindakan yaitu dengan mogok makan, padahal nyatanya Tuhan
masih terus memberikan umur sampai hari yang Ia tentukan.
Sikap yang sangat bertolak belakang ditunjukkan oleh
ibunda kami ini. Semangatnya selalu berkobar-kobar
memperlihatkan kasih Tuhan, apalagi jika ia bertemu dengan
seseorang sekalipun tidak dikenalnya. Ia akan berinisiatif
mendatangi dan menyapa dengan senyum tulus. Ia juga akan
memberi kata-kata yang menguatkan apabila dilihatnya orang
yang ditemuinya itu merasa lemah. Ia sadar benar bahwa
usia panjang yang dikaruniakan Tuhan kepadanya bukan untuk
disia-siakan, tetapi ada tujuannya karena itu ia merasa
bertanggung jawab untuk menjalaninya dengan sebaiknya.
Kehidupannya sangat dekat dengan alam. Ia sangat menikmati
duduk di tengah kebun rumahnya sambil membuat lidi dari
daun kelapa. Batang-batang lidi ini dihitung, diikat
kemudian diberikan kepada anak-anak, sanak saudara dan
temannya. Kemandiriannya membuat ia selalu menolak untuk
didorong di atas kursi roda sekalipun ia sudah sangat
lelah dengan napas tersengal-sengal. Katanya “Ah, seperti
orang sakit saja. Aku ‘kan sehat”. Karena tidak suka
berpangku tangan, aka meskipun telah berumur 92 tahun ia
masih sering mencuci piring sendiri, bahkan kadang-kadang
mencuci pakaiannya. Atau jika dilihatnya ada lap/serbet
yang lepas jahitannya, maka ia akan menjahitnya kembali.
Tidak pernah ia mau merepotkan orang lain walaupun anaknya
sendiri. Kebiasaannya yang bersih tidak bisa saya lupakan.
Tatkala mandi hampir selalu dibarengi dengan keramas,
kulitnya digosok-gosok, namun karena sudah kering tentu
saja tidak halus lagi. Komentarnya: “Songon adong horsik,
sugari lumolot ahu maridi” (koq rasanya seperti ada
pasirnya, mestinya saya mandi lebih lama).
Tibalah
saatnya ia harus mengalami pengobatan di Rumah Sakit.
Dalam perawatan, berkali-kali Ompu Ruth menekankan dengan
tegas agar percaya sepenuhnya kepada Tuhan, dan berserah
pada kehendak-Nya. Selama perawatan ia tidak pernah
berhenti berdoa dan menyanyi. Bahkan tatkala ada yang
menjenguknya, ia mendoakan mereka. Sungguh ajaib
penyertaan Tuhan bagi orang yang berpegang kepadaNya,
doanya diucapkan dengan jelas dan runtut. Kalau kata
Sigmund Freud doa sering kali merupakan jeritan seorang
yang merasa dirinya terancam, maka tidak demikian halnya
dengan dia. Acapkali ia berbicara dengan Tuhan mengenai
pergumulannya, atau hanya bertanya secara sederhana,
seperti...”benarkah begini yang Kau kehendaki, Tuhan?”
Teori Freud ini tidak berlaku baginya karena kehidupannya
tidak pernah lepas dari doa dan kidung pujian sejak masa
mudanya, baik di saat gembira maupun sedih. Sering sekali
saya mendapatinya sedang berdoa sendiri dengan menyebut
nama keturunannya satu persatu dan orang lain yang sedang
di dalam pergumulan.
Pada hari ke empat ia mengatakan bahwa tidak semua yang
dimintanya dikabulkan oleh Tuhan karena memang Tuhanlah
yang mengatur apa yang baik bagi manusia. Kemungkinan apa
yang dikatakannya ini terkait dengan cita-citanya untuk
hidup sampai seratus tahun. Lalu ia mengatakan bahwa ia
“melihat” ada ulaon di bagas yang di dalam bahasa
Indonesia kira-kira berarti suatu hajatan diadakan di
rumahnya di Pasar Minggu. Event yang “dilihatnya” itu
diselenggarakan oleh anak-anaknya dengan bagus. Hari
kelima ia minta dibawa pulang ke rumah dan mengingatkan
untuk melakukan makan bersama sebagai acara perpisahan.
Lagi-lagi ia “melihat” bahwa pintu sudah dibuka dan
“Seseorang” sudah menunggunya. Ia ingin duduk di sebelah
ayah kami. Berangsur-angsur kekuatannya surut sampai pada
hari ke-tujuh ketika bibirnya tidak bisa lagi bergerak
untuk bernyanyi dan berdoa. Akhirnya pada hari ke-delapan/Jumat
tanggal 23 Februari 2007 jam 15.08 orang tua/ompung/buyut
yang kami cintai ini pergi di dalam damai di tengah-tengah
keturunannya. Beautiful Death. Ia pulang ke rumah Bapa
Surgawi, Sang Pencipta yang telah menenunnya di dalam
kandungan ibunya.
Saya
beruntung telah menyaksikan kehidupan seseorang yang
begitu patuh mengikut Yesus. terhadap pengenalannya akan
Injil. Penghayatannya akan penyertaan Tuhan mengkristal di
dalam hidupnya. Ia diberi kesempatan untuk mengalami
digendong oleh Tuhan seperti tertulis di Yesaya 46:4
Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih
rambutmu Aku menggendong kamu. Aku telah melakukannya dan
mau menanggung kamu terus; Aku mau memikul kamu dan
menyelamatkan kamu. Sekalipun masih diliputi rasa
kehilangan yang mendalam, saya percaya bahwa setiap orang
yang masih diberi nafas kehidupan oleh Tuhan harus selalu
bekerja giat dengan bersyukur. Rasa syukur itu mendorong
untuk mengerjakannya dengan usaha terbaik, selagi ada
kairos. Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk
dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga, karena tak ada
pekerjaan, pertimbangan, pengetahuan dan hikmat dalam
dunia orang mati, ke mana engkau akan pergi” (Pengkhotbah
9:10).
Semasa hidup berulang-ulang ia mengatakan: “Demikianlah
Tuhan Yesus mati di kayu salib menggantikan kita, tapi Ia
telah bangkit di hari ke tiga dari antara orang mati”.
Begitu pula saya merasa diingatkan agar jangan lagi
meratapi kematian karena kehidupan telah dianugerahkan-Nya
bukan hanya baginya tetapi kepada semua umat manusia yang
mau menerima.
(Kesaksian dari: Riani Tjahjono Soerjodibroto) |
|
|
|
>> Arsip
|
|
|
|