|
Navigasi |
|
|
|
|
|
Warta Jemaat |
|
|
|
|
Layanan Jemaat |
|
|
|
|
Kegiatan Ouikumenis
|
|
|
| |
|
|
|
|
 |
|
Kesaksian |
|
12 Desember 2005
Tuhan Yesus Memang Hebaaattt!!! Pdt. T.A. Hartono Jati, S.Si. GKJ. Waringinsari, Sukanegara, Banjar, Jawa Barat |
|
|
|
Haleluya,
Segala puji dan syukur kami panjatkan selalu kepada Tuhan
Yesus Kristus, Sang Pemberi Berkat. |
Menerima dan menjalani panggilan pelayanan sebagai pendeta
pada jemaat kecil di pedesaan merupakan tantangan
tersendiri bagi saya. Apalagi Jemaat Gereja Kristen Jawa (GKJ)
tempat saya melayani sebagai pendeta sekarang ini termasuk
sebuah jemaat kecil di pedesaan, bahkan tergolong jemaat
pelosok desa.
Berada di wilayah Propinsi Jawa Barat paling timur, di
pesisir sungai Citanduy, Banjar Patroman (40 km dari
Ciamis, 60 km dari Tasikmalaya dan Pantai Pangandaran.
Dari seluruh kepala keluarga yang berjumlah 44 KK, hampir
semuanya bekerja sebagai petani sederhana atau buruh tani
dengan penghasilan yang tidak menentu.
Persoalan klasik yang menjadi pergumulan jemaat pedesaan
pada umumnya antara lain hal perekonomian gereja, yaitu
bagaimana dengan keterbatasan ekonomi, gereja dapat
menjalankan tugas panggilannya untuk memelihara iman
jemaat dan bersaksi memberitakan Injil.
Masalah keterbatasan ekonomi gereja juga menjadi
pergumulan jemaat yang saya layani ini sejak dulu. Bahkan
sampai tahun 1998 ada Visitator Sinode GKJ yang mensurvai
kelayakan gereja ini untuk memiliki pendeta sendiri, (rencana
program wiyata bhakti) kesimpulannya bahwa gereja ini
tidak layak untuk mempunyai pendeta sendiri.
Karena gereja ini memang belum layak mempunyai pendeta
sendiri, maka sejak terbentuknya persekutuan jemaat 50
tahun yang lalu dan setelah 26 tahun didewasakan menjadi
gereja, jemaat ini baru dapat menahbiskan pendeta
pertamanya atas diri saya. |
|
|
|
Selalu defisit |
Sampai saat ini, hampir setiap bulan bendahara gereja
melaporkan defisit anggaran atau saldo minus. Total
pendapatan gereja dari persembahan jemaat setiap bulan
berkisar antara Rp 750.000.- sampai Rp 850.000,-.
Namun demikian, selama enam (6) tahun saya melayani, Tuhan
selalu mencukupkan segala kehidupan saya sekeluarga dan
pelayanan dapat berjalan sesuai dengan kemampuan yang ada.
Bahkan jemaat semakin berkembang dan bertumbuh dengan baik
dan memperoleh banyak kemajuan. Berbagai kemajuan itu
antara lain:
- Pertambahan jumlah jemaat dari 30 KK menjadi 44 KK, dari
106 jiwa menjadi 144 jiwa. Pertambahan itu berasal dari
pertobatan, kelahiran dan perkawinan serta pindahan jiwa
dari daerah lain.
- Sumber daya manusia semakin baik. Semula rata-rata
berpendidikan SD-SMP, sekarang SMA dan Perguruan Tinggi.
Berkat bantuan dari GKI Pondok Indah untuk pertamakalinya
ada sarjana berprestasi, lulusan dari Universitas Gadjah
Mada (UGM) dan sebentar lagi akan menyusul lulusan dari
Institut Pertanian Bogor (IPB). Gereja juga menyalurkan
beasiswa untuk 50 anak SD, SMP dan SMA baik dari warga
gereja maupun anggota masyarakat lainnya.
- Pengembangan ekonomi jemaat sudah mulai berjalan.
Program yang belum lama dimulai ini, gereja sekarang telah
memiliki lebih dari 30 ekor kambing. Kambing ini merupakan
hasil dari kerjasama yang dijalin antara GKJ Waringinsari
dan GKI Pondok Indah. Sebagian besar kambing gereja ini
dipelihara oleh masyarakat sekitar. Gereja juga telah
memiliki sebidang tanah sawah dan Dana Abadi lokal lebih
dari Rp 50 juta.
- Beberapa penambahan bangunan di komplek gereja, antara
lain: aula remaja, perluasan pastori, kantor gereja,
sertifikasi tanah dan IMB untuk gedung gereja, dan
lain-lain.
Semua kemajuan tersebut saya yakini dapat terjadi karena
campur tangan Tuhan Yesus sendiri, melalui uluran tangan
berbagai pihak yang peduli pada pelayanan di pedesaan,
termasuk dalam bentuk kerjasama pelayanan dengan Jemaat
GKI Pondok Indah, Jakarta.
Saya sekeluarga juga senantiasa merasakan berkat dan
pertolongan Tuhan selalu tepat pada waktunya. Hal ini
sungguh sangat saya rasakan, baik ketika isteri saya sakit
typus hingga harus dirawat di rumah sakit atau waktu anak
kami lahir dan juga segala kebutuhan sehari-hari, semua
keperluan ini diberikan Tuhan tepat pada waktunya.
Tuhan menggerakkan hati dan mengutus para hamba-Nya yang
lain untuk menjadi saluran berkat bagi saya sekeluarga.
Warga gereja dan jemaat GKI Pondok Indah juga terus
dipakai Tuhan untuk menjadi saluran berkat itu bagi kami.
Setiap tahap dalam pelayanan selalu kami nikmati dengan
penuh ucapan syukur. Kami bersyukur ketika dua tahun
pertama pelayanan, saran transportasi yang ada hanya
sebuah sepeda jengki. Sampai sekarang jalan yang dilalui
masih berlumpur jika hujan dan berdebu serta
“nggronjal-nggronjal” waktu kemarau. Kami juga bersyukur
ketika sepeda motor sekarang menjadi sarana pelayanan kami. |
|
|
|
Tantangan lain |
Ada tantangan lain yang kami rasakan sekeluarga dari
lingkungan pelayanan. Kita semua tahu dari catatan sejarah
bangsa Indonesia, bahwa Kabupaten Ciamis dan sekitarnya
merupakan basis Islam garis keras DI/TII pimpinan
Kartosuwiryo. Sekarang juga masih menjadi salah satu basis
kelompok Islam garis keras. Sampai sekitar tiga tahun lalu,
perusakan dan pembakaran gereja dan rumah orang Kristen
masih terjadi di sekitar daerah pelayanan saya.
Itulah sebabnya mengapa surat pindah penduduk yang saya
bawa sewaktu pindah dari Jakarta tahun 1999 ditolak oleh
pihak pemerintahan desa setempat dengan berbagai alasan
dan diharuskan menambahi berbagai syarat. Hal itu terutama
karena mereka tahu bahwa saya akan menjadi pendeta di desa
ini.
Akhirnya saya urus kembali ke Jakarta berbagai persyaratan
yang diperlukan pihak pemerintahan desa itu. Namun setelah
surat pindah dan berbagai persyaratan lainnya sudah
terpenuhi secara lengkap, dokumen tersebut tidak saya
berikan ke pemerintahan desa, melainkan saya serahkan ke
kantor kecamatan yang membawahi desa itu, sehingga saya
sekeluarga dapat diterima sebagai penduduk setempat.
Tantangan iman juga saya rasakan pada empat bulan pertama
pelayanan saya di desa itu. Pada suatu malam Minggu,
ketika saya sedang melayani para remaja-pemuda di gereja,
tiba-tiba datang ratusan massa dengan membawa obor dan
berbagai senjata tajam hendak menghancurkan gereja dan
menghabisi pendeta beserta keluarganya.
Sebagai alasan niat massa itu menyerang gereja adalah
karena ada pohon orang Kristen (bukan warga jemaat gereja
saya) yang roboh terserang angin dan menimpa pagar masjid
yang terletak di depan gereja. (Gereja kami berhadapan
persis dengan masjid tersebut).
Massa mulai tidak terkendali ketika pemilik pohon itu
melarikan diri dan bersembunyi. Pertama mereka mengancam
keluarga kyai yang bersahabat dengan kami sekeluarga agar
mereka tidak usah membela kami. Jika mereka nekad, maka
kyai sekeluarga yang akan terlebih dulu mereka habisi.
Selanjutnya sebagian massa dengan kasar mulai masuk ke
rumah salah seorang sesepuh gereja yang tinggal paling
dekat dengan gereja. Sementara sebagian massa lainnya
(yang kemudian ketahuan berasal dari daerah basis Islam
garis keras) mulai berteriak-teriak dengan mengatakan
“Sembeleh pendetane ndisik” (Sembelih pendetanya terlebih
dahulu), “Ayo gempur gerejane” (Ayo kita gempur gerejanya)
serta kata-kata yang bersifat provokatif lainnya untuk
mendorong massa bergerak.
Melihat situasi seperti itu, saya meminta semua
remaja-pemuda gereja untuk segera meninggalkan gedung
gereja. Dan saya langsung masuk ke dalam rumah sesepuh
gereja yang sedang dipojokkan massa tersebut dengan
perlakuan kasar. Dengan penuh keyakinan akan pertolongan
Allah, saya bersama sesepuh gereja tersebut mencoba
menenangkan dan berdialog dengan mereka.
Sementara itu, di luar rumah ada beberapa ibu warga gereja
saya dan mendengar keributan yang terjadi. Di antara
mereka kemudian ada seorang ibu dengan berani menghadang
kerumunan massa itu dan berkata “sak durunge nyembeleh
pendetaku, sembeleh ndisit aku, nyoh tak mapan” (Sebelum
menyembelih pendeta saya, sembelih dulu saya, ini saya
sudah siap. Red), dan suasanapun semakin tegang.
Pada akhirnya atas segala hikmat dan kuasa Tuhan, ratusan
massa yang sudah siap membakar dan menghancurkan, bahkan
siap menganiaya semua orang Kristen itu mulai dapat
terkendali dan akhirnya membubarkan diri tanpa ada korban...
Halleluya!
Esok paginya saya mengajak warga gereja saya
dan gereja lain untuk memulai pekerjaan perbaikan pagar
masjid yang kejatuhan pohon tadi. |
|
|
|
Terjalin persahabatan |
Puji Tuhan,
melalui berbagai dialog dan pendekatan yang kami lakukan
terus-menerus, hingga sekarang ini hubungan gereja dengan
masyarakat dan pemerintah desa telah terjalin dengan baik.
Persahabatan saya dengan kyai sepuh yang tinggal di
samping masjid yang berada di depan gereja saya, maupun
dengan warga Muslim juga tetap baik. Setiap hari pak kyai
membuat dan menjual tempe, dan hampir setiap hari pula
saya sekeluarga makan tempe buatannya.
Ketika isteri saya baru melahirkan, keluarga pak kyai
turut menyumbang dana, demikian pula ketika pak kyai sakit,
saya boncengkan beliau ke Puskesmas. Insyaallah, hubungan
kami tidak terpengaruh oleh berbagai provokasi dari luar.
Jika semula anggota masyarakat setempat tidak menghargai
keberadaan gereja serta menolak segala bantuan dari gereja,
termasuk menolak batu untuk memperbaiki jalan, maka
sekarang ini kehadiran gereja dapat diterima dengan baik
oleh masyarakat setempat. Masyarakat tidak hanya mau
menerima batu pemberian gereja untuk perbaikan jalan,
tetapi kini justru mereka yang memintanya.
Masyarakat juga mau memelihara kambing yang ditawarkan
oleh gereja, bersedia menerima beasiswa untuk anak-anak
sekolah mereka, menerima pelayanan kesehatan dari gereja
serta bersedia menerima berbagai bantuan dan pemberian
dari gereja. Semua yang kami berikan itu kami peroleh dari
berbagai pihak yang peduli pada pelayanan gereja di
pelosok pedesaan.
Demikian pula sampai saat ini saya sering diminta untuk
memberikan saran dan masukan untuk kemajuan desa, baik
dari masyarakat maupun dari pemerintahan desa ... Puji
Tuhan!
Kendati demikian, kekerasan yang dilakukan oleh kelompok
Islam garis keras beberapa waktu lalu, masih sering
terjadi di wilayah sekitar tempat pelayanan saya. Sehingga
pernah ada seorang pendeta gereja Pentakosta (sekitar
tujuh kilometer dari tempat pelayanan saya dan dekat
dengan basis kelompok Islam garis keras di Banjarsari)
yang dibacok oleh seseorang dengan golok ketika sedang
berbelanja di pasar.
Bacokan tersebut mengenai leher dan pipi kirinya. Ajaib!
Tuhan melindungi dirinya... Namun, meski tidak sampai
meninggal dunia, mata kiri hamba Tuhan tersebut kini
menjadi buta. Padahal, baru sekitar dua bulan isterinya
meninggal.
Hamba Tuhan itu kini hidup bersama dua orang anaknya, satu
diantaranya adalah seorang anak perempuan yang masih
balita. Saya mengajak anggota jemaat saya serta
sahabat-sahabat saya untuk bergantian menjenguk dan
membantunya.
Saya juga menceritakan kejadian tersebut kepada sebuah
rombongan ibu-ibu dari Jakarta yang mengadakan kunjungan
kasih ke gereja saya. Dan rombongan tersebut menyerahkan
dana sebesar Rp 2 juta melalui gereja saya untuk
disampaikan kepada hamba Tuhan dari gereja Pentakosta yang
terkena musibah tersebut.
Atas dasar keyakinan iman dan banyaknya anugerah Tuhan
Yesus Kristus yang terus saya lihat, terima dan rasakan
itulah, maka ketika ada kesempatan untuk mengembangkan
diri dan pelayanan melalui studi lanjutan pada jenjang
strata dua (S-2) dalam program studi Master of Ministry di
Universitas Kristen “Duta Wacana” di Yogyakarta, maka
kesempatan tersebut tidak saya sia-siakan.
Sampai sekarang, dukungan jemaat berupa surat rekomendasi
studi dan doa, telah menjadi modal utama bagi saya dalam
menjalani studi ini. Sekalipun di tangan saya tidak pernah
memegang dana untuk studi lanjut, diperkirakan sebesar Rp
25 juta untuk keperluan studi dan lain-lain selama dua
tahun, namun Puji Tuhan, sekarang sudah dapat
menyelesaikan semester tiga dari empat yang harus saya
jalani.
Dana studi yang diberikan Tuhan melalui Sinode GKJ sebesar
Rp 3 juta sampai selesai dan dari almarhum Bpk. Radius
Prawiro melalui sebuah yayasannya sebesar Rp 4 juta sampai
selesai, dan bantuan dana studi dari kedua lembaga
tersebut sudah saya terima.
Demikian pula bantuan dari jemaat GKI Pondok Indah sebesar
Rp 1 juta yang dikirim melalui rekening pribadi saya dan
dari jemaat GKI lainnya di Jakarta melalui seorang teman
pendeta yang melayani di jemaat itu, telah mengusahakan
bantuan studi dari gerejanya sebesar Rp 2 juta dan dikirim
langsung ke rekening kampus di BNI atas nama Universitas
Kristen “Duta Wacana”.
Hal ini bukti bahwa selain keluarga dan jemaat GKJ, para
hamba Tuhan dari gereja lain juga sangat peduli dan
memperhatikan studi saya. Semua berkat Tuhan ini sungguh
di luar dugaan saya. Tuhan memang sering bertindak di luar
dugaan kita. Inilah kenyatannya... Hingga saat ini memang
saya masih mempunyai tunggakan yang belum saya bayar,
yaitu sumbangan pertama masuk kuliah dan konsumsi sebesar
Rp 2.300.000,- ditambah dana untuk semester empat (mulai
12 Oktober 2005) sebesar Rp 2.400.000,-. Tetapi saya yakin
dan percaya bahwa Tuhan akan mencukupkan semua keperluan
studi saya tersebut. Tuhan pasti tahu akan kesungguhan
hati saya untuk terus belajar dan mengembangkan diri dalam
pelayanan. |
|
|
|
Hanya Tuhan Yesus |
Dalam segala
hal yang telah saya jalani, saya memang bukan orang hebat,
sama sekali tidak hebat. Bagi saya, yang hebat hanya Tuhan
Yesus Sang Penuntun si Jati. Apa hebatnya saya?
Sebagai contoh, setiap akan kuliah, bahkan sampai sehari
menjelang keberangkatan ke Yogyakarta, hati saya selalu
harap-harap cemas, karena tidak ada uang di tangan. Untung
selalu masih ada sedikit tempat untuk iman di hati,
sehingga berkat Tuhan selalu dapat dinikmati tepat pada
waktunya.
Sekarang inipun, menjelang awal kuliah di akhir studi ini,
harap-harap cemas juga ada di hati, semata-mata karena
belum ada dana di depan mata (Ini mungkin karena iman saya
masih belum sebesar biji sesawi seperti Firman Tuhan Yesus).
Semoga sedikit tempat bagi iman di hati ini terus membuat
berkat tiada berhenti. Amin.
Saya senang sekali dapat bertegur sapa dengan Bapak, Ibu
dan Saudara semua di GKI Pondok Indah melalui media ini.
Mohon maaf jika ada hal-hal yang kurang berkenan di hati.
Tetapi jika berkenan, kiranya Bapak, Ibu dan Saudara dapat
menjalin hubungan dengan saya sekeluarga.
Semoga surat terbuka ini berguna untuk menguatkan iman
kita kepada Tuhan Yesus Kristus. Sebab Tuhan Yesus memang
hebaatt!!!
Desa Indah Penuh Tantangan Iman dan Kasih, 29 Agustus 2005
Teriring Salam Hormat dan Doa. (Skt) |
|
|
|
>> Arsip
|
|
|
|