|
Navigasi |
|
|
|
|
|
Warta Jemaat |
|
|
|
|
Layanan Jemaat |
|
|
|
|
Kegiatan Ouikumenis
|
|
|
| |
|
|
|
|
 |
|
Kesaksian |
|
1 Juli 2005
Mendampingi orang tua yang sakit dan Akhirnya Pulang ke Rumah Bapa N.S |
|
|
Sungguh saya sangat terpukul pada waktu itu, di saat kami
tidak punya pembantu dan di rumah orang tua pun tanpa
pembantu, Papi sakit stroke dan harus dirawat di rumah
sakit (RS). Bisa dibayangkan betapa repotnya. Terpaksa
Mami harus tinggal di rumah kami, meskipun Mami agak
keberatan. Suami saya mengatakan, bahwa segala sesuatu
harus berjalan seperti biasa, baik yang bekerja (suami dan
adik saya) maupun kedua anak kami yang masih kuliah.
Walaupun begitu semua akan saling mendukung.
Selama tiga minggu, setelah mengerjakan pekerjaan rumah
tangga, saya ke RS. Sore hari saya pulang sebentar untuk
mandi dan Mami menggantikan saya di RS. Hal ini membuat
Mami batuk-batuk, sehingga sehari sebelum Papi pulang ke
rumah, Mami harus berobat. Selama kurang lebih satu bulan
setelah itu Mami dalam keadaan sehat, alerginya pun tidak
pernah kambuh.
Di rumah, Papi didampingi seorang pemuda yang kurang bisa
ngemong Mami. Sedangkan Papi sendiri dalam keadaan belum
sembuh betul, sehingga seringkali rewel misalnya tidak mau
tidur di kamar. Kadang kami bingung harus berbuat apa.
Suatu ketika dalam keadaan seperti itu saya menyanyikan
lagu ”Bersyukur kepada Tuhan sebab Ia baik” (Kidung Jemaat
299), ternyata lagu tersebut membuat Papi terkejut dan
tidak rewel lagi. Hal ini menyadarkan saya bahwa pujian
kepada Tuhan amat penting untuk orang sakit.
Sementara Papi dalam proses penyembuhan, Mami mengeluh
tentang tubuhnya yang lemah, susah tidur sehingga tidak
bisa menyiapkan makan pagi buat Papi serta mengeluh soal
pemuda yang mendampingi Papi. Tiap sore kami berkumpul,
membaca Firman Tuhan dan renungannya (dari Saat Teduh) dan
berdoa. Setiap Sabtu-Minggu, pemuda yang mendampingi Papi
minta ijin untuk pelayanan di gerejanya sehingga kami
lebih bebas. Mami sangat menikmati saat-saat seperti itu.
Saya bagikan apa yang saya dapat di kebaktian, semampu
saya. Saya ingin agar kedua orang tua saya mempunyai iman
yang tetap teguh sekalipun dalam keadaan yang terjepit.
Saya tekankan bahwa “apapun yang Tuhan kehendaki atas
hidup kita, kita harus menang sampai pada akhirnya. Kita
harus saling dukung supaya kuat, tidak berantakan,
sehingga Nama Tuhan tetap dimuliakan. Di balik semua yang
tidak enak ini, pasti Tuhan mempunyai maksud yang baik
sehingga kita harus tetap bersyukur”.
Memang ada banyak hal yang patut disyukuri, antara lain
kembalinya pembantu lama yang tidak betah bekerja di
tempat majikan barunya, yaitu dua orang tua yang sakit (masing-masing
didampingi seorang suster), sehingga secara tidak langsung
ia belajar bagaimana meladeni orang sakit. Kami yakin ini
bukan hanya kebetulan, tetapi Tuhan yang telah mengaturnya.
Tak lupa kami juga memuji–muji Tuhan.
Saya ingat betul, hari itu hari Pentakosta. Dalam saat
teduh kami nyanyikan lagu “Ya Yesus t’rang dan kuat kami,
b’rikanlah-b’rikanlah api-Mu. Dan masuk dalam hati kami,
b’rikanlah-b’rikanlah api-Mu. Supaya oleh api itu hati
yang dingin dinyalakan. Kasih yang mati dihidupkan,
b’rikanlah-b’rikanlah api-Mu”. Dengan berbaring Papi
begitu bersemangat menyanyikan lagu ini, tapi Mami sama
sekali tidak bereaksi. Pandangan matanya sudah berbeda.
Menurut saya, Mami depresi. Tidak ada minat lagi untuk
mengisi teka-teki silang yang menjadi kesukaannya atau
menonton telenovela di TV.
Tubuh Mami makin lemah, makannya sangat sedikit. Itupun
harus disuapin. Malamnya kejang-kejang. Dalam keadaan
bingung, saya nyanyikan lagu doa “Yesus, Tuhan dengar
doaku. Jangan Tuhan jalan lalu, b’rilah berkat-Mu”. Aneh
dalam keadaan seperti itu, Mami dapat ikut menyanyi. Mami
dibawa dengan ambulans ke RS, tapi diperbolehkan pulang
setelah dirawat di Ruang Gawat Darurat. Esok malamnya
terjadi lagi hal serupa dan Mami kembali dibawa ke RS
dengan ambulans. Mami dirawat inap dan saya harus
mendampingi di RS.
Pagi-pagi sekali di hari yang kelima Mami bangun setelah
banyak bicara sampai jauh malam. Mami ingin mandi, keramas,
sikat gigi dan ganti pakaian. Katanya akan ke gereja,
padahal hari Sabtu. Akhirnya setelah saya bantu sikat gigi,
Mami makan sepotong kue sembari duduk di kursi seperti
permintaannya. Setelah naik ke tempat tidur lagi, Mami
bertanya “apakah Mami sudah hampir ajal?”. Saya jawab
”tidak ada yang tahu ajal seseorang, tapi Mami harus dekat
sekali dengan Tuhan”. Rupanya hari itu Mami berusaha dekat
dengan Tuhannya, penuh pergumulan.
Baru saja saya sampai di rumah untuk istirahat karena
malamnya tidur di RS, ada telepon agar saya cepat kembali
ke RS karena Mami perlu didampingi. Sorenya Mami berkata
”kita harus menang, ayo berdoa!” Setelah saya berdoa, Mami
tenang. Ketika hal ini saya ceritakan pada Papi, Papi
menangis bahagia karena menurutnya Mami mencapai
kemenangan imannya. Malamnya Mami masuk ke ICU.
Pada hari ketiga di ICU, saya dipanggil oleh dokter jaga
yang menceritakan kondisi Mami dan saya diminta untuk
berdoa. Lalu saya persiapkan Mami agar menuju ke Rumah
Bapa dengan perasaan lega, tenang, tidak takut dan
sukacita. Akhirnya saya menyerahkan Mami ke tangan Tuhan
dalam doa. Tidak berapa lama kemudian dokter memberitahu
bahwa Mami telah tiada. Saya dan adik saya menyaksikannya.
Sesuai dengan permintaan Mami, jenazahnya dikremasi.
Kata-kata terakhir Mami pada saya adalah “mana peti
matinya?”
Setelah Mami tiada, saya terbeban oleh janji saya pada
Mami di ICU untuk mengurus Papi. Saya juga ingin membantu
agar iman Papi tetap terpelihara. Karena sudah ada Suster
yang mendampingi dan pembantu yang mengurus rumah, maka
saya mengkhususkan waktu pada sore hari untuk dapat
bersaat teduh dan berbincang-bincang dengan Papi. Sore
hari merupakan waktu yang tepat karena Papi sudah tidur
siang dan mandi, pikirannya segar.
Setiap sore kami bersaat teduh, berdoa dan memuji Tuhan.
Papi suka menyanyi dan masih ingat lagu-lagu rohani,
bahkan lagu-lagu dalam bahasa Belanda yang diajarkan waktu
sekolah dulu. Selain itu memperbincangkan Firman Tuhan,
mengingat pengalaman iman dan hidup yang menyenangkan,
yang lucu, keberhasilan/kegagalan dan mengingat kembali
berkat-berkat Tuhan. Papi bisa tertawa terpingkal-pingkal
tapi juga dapat menangis karena terharu.
Kesehatan Papi semakin baik. Berkat kesabaran suster yang
mendampingi, Papi sudah dapat berjalan beberapa langkah
dengan dibantu tongkat. Papi juga mau ke gereja dengan
kursi roda. Ketika tubuh terasa enak, Papi merasa yakin
bahwa Tuhan akan menyembuhkannya dan akan dipakai Tuhan
sebagai alat untuk memuliakan-Nya. Saya mendukungnya agar
tetap mempunyai semangat hidup, tetapi saya juga
mengingatkan bahwa Tuhan yang berkuasa atas diri kita.
Jadi harus siap menerima dengan rasa syukur apapun yang
terjadi. Yang penting belajar hidup kudus dan benar di
hadapan-Nya.
Selama kurang lebih dua tahun sakit, Papi hampir tidak
pernah marah-marah. Kalaupun marah, cepat minta maaf.
Begitulah yang dikatakan oleh empat orang yang pernah
merawatnya.
Memasuki tahun kedua sakitnya, kesehatan Papi mulai
menurun. Semangatnya untuk dapat berjalan lagi mulai
mengendur. Ada perasaan takut jika ditinggal sendirian,
sehingga yang mendampingi harus ada di dekatnya. Mengalami
halusinasi yang amat mengganggu hidupnya, mungkin
disebabkan oleh kaburnya penglihatan Papi. Setiap hari
diperdengarkan lagu-lagu rohani yang menguatkan dan
menghiburnya. Saya menganjurkan agar Papi mengatakan
perasaan dan pergumulannya kepada Tuhan dalam bahasa
Belanda, sehingga tidak ada yang mengerti, sambil
memuji-muji Tuhan. Setelah melakukan hal itu, menurutnya
ada perasaan lega dan damai.
Ketika saya menangkap adanya keprihatinan Papi terhadap
adik saya yang belum menikah, saya menyanyikan lagu “Tak
kutahu kan hari depan namun langkahku tetap... .semua
Tuhan yang pegang”. Saya ingatkan Papi bahwa pada waktu
peringatan Pernikahan Perak Papi-Mami, saya dan kakak saya
berduet lagu ini. Pada waktu itu kakak dan saya masih
sekolah, tapi yakin bahwa masa depan kami dipegang oleh
Tuhan. Dan sekarang Papi bisa menyaksikan bagaimana
keadaan kami. Sebagai anak Tuhan kehidupan adik saya akan
dipimpin Tuhan. Sama sekali tak perlu dikuatirkan, apalagi
dia tidak membebani siapapun. Papi mengeluarkan air mata,
lalu tenang.
Setiap sore Papi yang menaikkan doa syafaat untuk negara
kita, untuk perdamaian dunia, untuk GKI PI yang sedang
mencari Pendeta (wanita) agar pelayanan di gereja kita
menjadi lebih baik, untuk keluarga besarnya dsb. Papi
merasa sangat senang ketika saya beritahu bahwa hasil
ujian anak-anak saya bagus, berkat doa Papi. Saya
mengingatkan bahwa dalam keadaannya, Tuhan memakai Papi
sebagai pendoa syafaat. Tuhan amat mengasihi Papi. Ia
selalu menangis bila mendengar lagu bahwa kita adalah biji
mata Tuhan. Papi pernah mengatakan bahwa Papi mau
mengalami semua karena Tuhan amat mengasihinya.
Sesuai permintaan Papi, kakak saya datang (tinggal di luar
kota), namun suara Papi tak terdengar jelas. Yang
terdengar hanya “Puji Tuhan” dan ingin tidur. Saya
memberanikan diri, duduk di sampingnya sambil
mengelus-elus saya katakan: “Papi sudah lelah dan ingin
tidur saja? Minta pada Tuhan untuk pindah tempat ke
Yerusalem baru (Papi dulu mengatakan bahwa Mami pergi ke
Yerusalem baru)”. Papi terkejut tapi wajahnya berseri-seri.
Setelah itu kami berdoa.
Seminggu sebelumnya Papi minta potong rambut karena akan
ada tamu, katanya. Seperti biasa pemangkas rambut yang
disediakan Tuhan datang mencukurnya. Sejak kondisi tubuh
Papi makin merosot kami menemui kesukaran membawanya ke
tempat pangkas rambut. Tiba-tiba di dekat rumah ada papan
bertulisan “Pangkas rambut Pria dan Wanita”. Setelah
dihubungi, wanita pemangkas rambut itu malah menyediakan
diri untuk datang ke rumah. Puji Tuhan!
Papi makin lemah, walaupun begitu Papi berusaha untuk
setenang mungkin. Seminggu setelah kakak saya datang,
kesehatan Papi menurun secara drastis dan sore itu di
samping Papi, saya membaca sebuah ayat emas, lalu memuji
Tuhan. Saya lakukan beberapa kali lalu berdoa. Seperti
biasa setelah berdoa saya menyanyikan lagu; ”Yesus, Tuhan
dengar doaku … … B’rilah berkat-Mu”. Papi ikut menyanyikan
lagu ini padahal sejak pagi sangat lemas dan tidak bicara.
Akhirnya Papi dibawa ke RS dengan ambulans. Setelah cukup
lama nenunggu di Ruang Gawat Darurat akhirnya masuk ke
kamar. Esok harinya Papi kritis, kemudian harus masuk ICU.
Meskipun tidak dapat bicara tapi Papi masih dapat mengerti
apa yang saya katakan, Papi memandang saya terus. Saya
merasa bahwa waktu Papi untuk pindah tempat sudah dekat
dan saya mempersiapkan Papi. Terakhir saya ajak berdoa
“Bapa kami”. Itulah saat terakhir saya dapat berkomunikasi
dengan Papi. Sorenya Papi berada di Ruang Isolasi, saya
hanya menyanyi berulang-ulang “Papi berserah, Papi
berserah pada Engkau, Juruslamat/ Tuhan Yesus. Papi
berserah”
Malam itu ketika berjaga di depan Ruang ICU, saya
dipanggil untuk segera masuk dan berdoa. Waktu sangat
mendesak, saya hanya menyerahkan Papi ke tangan Bapa di
surga. Saya tutup mata kirinya yang masih terbuka. Dokter
mengatakan bahwa Papi telah pulang ke Rumah Bapa-Nya. Kali
ini saya menyaksikan seorang diri.
Kedua orang tua saya meninggal dengan tenang dan damai di
Ruang ICU dalam usia di atas 80 tahun. Walau Papi tidak
pernah mengatakan apa-apa, jenazahnya dikremasi seperti
jenazah Mami. Saya bersyukur boleh mendampingi mereka.
Semuanya menjadi kenangan yang tidak akan terlupakan.
Selain doa dari banyak orang dalam mengalami semua itu
saya mendapat kekuatan dari Firman Tuhan, yaitu Kolose
3:23: “Pekerjaan apa saja yang diberikan kepadamu,
hendaklah kalian mengerjakannya dengan sepenuh hati,
seolah-olah Tuhanlah yang kalian layani, dan bukan hanya
manusia” (Alkitab bahasa sehari-hari) |
|
|
|
>> Arsip
|
|
|
|