|
Navigasi |
|
|
|
|
|
Warta Jemaat |
|
|
|
|
Layanan Jemaat |
|
|
|
|
Kegiatan Ouikumenis
|
|
|
| |
|
|
|
|
 |
|
Kesaksian |
|
12 Mei 2005
Cinta Kasih Tuhan Menyelamatkan Suamiku dari Marabahaya Yohana P. Andrini |
|
|
Sore itu Rabu,
16 Maret 2005, Zilvanus, suamiku bersiap-siap untuk
menghadiri Rapat Badan Pekerja Majelis Jemaat. Saya tahu,
bahwa Rapat BPMJ akan dimulai pada pk. 19.00 dan akan
berakhir menjelang tengah malam. Sebagai seorang Sekum,
apabila ada Rapat BPMJ ataupun ada undangan rapat dari
Komisi, Pak Zil selalu berusaha untuk berangkat lebih awal.
Pk. 17.30 dia sudah bersiap-siap untuk berangkat dari
rumah, untuk itu saya mempersiapkan makan malamnya.
Walaupun di Rapat telah disediakan makan malam, namun Pak
Zil, sebelum menghadiri rapat, selalu ingin makan terlebih
dahulu di rumah. Sore itu ia menikmati sop yang saya
sediakan.
Sekitar pk 22.00 saya menelpon Pak Zil dan mengingatkannya
untuk menelpon bila sudah dekat rumah agar saya dapat
membukakan pintu baginya. Sekitar pk 23.00 telpon di rumah
berdering, saya berpikir pastilah telpon dari suamiku yang
sudah mendekati rumah dan yang mengangkat telepon adalah
anak pertama kami, Hendy. Tetapi apa yang saya dengar dari
Hendy? Dengan suara bergetar ia memberitahukan kepada saya,
bahwa papa mengalami kecelakaan di Jl. Metro Pondok Indah
di depan lapangan golf. Seketika itu juga tubuhku lemas
dan panik, namun saya berusaha untuk tenang sambil memohon
pertolongan Tuhan.
Anak kami Hendy dan keponakanku Felix segera berangkat
menuju lokasi kecelakaan. Kemudian saya teringat penatua
yang tinggal di daerah Pondok Indah dan yang mengikuti
BPMJ adalah Pnt. Harry Natanael dan Pnt. Tom Surjadi. Saya
segera menghubungi Pnt. Harry Natanael, yang kemudian
segera datang untuk menolong Pak Zil. Tak lama kemudian,
saya kembali menelpon Pnt. Harry menanyakan keadaan Pak
Zil dan Pnt. Harry mengatakan kepada saya: “Tenang saja,
Bu, Pak Zil tidak apa-apa”, demikian pun juga Hendy dan
Felix mengatakan bahwa, Papa tidak apa-apa hanya mobilnya
saja yang rusak. Saya berpikir, mereka hanya ingin
menenangkan saya saja agar tidak panik dan cemas. Saya
baru percaya bahwa suamiku tidak mengalami luka-luka
setelah ia tiba kembali di rumah.
Malam itu Pak Zil menceritakan peristiwa yang dialaminya.
Ketika ia mengendarai mobil menuju ke rumah seusai Rapat
BPMJ, di depan lapangan golf Pondok Indah, tiba-tiba bus
Metromini dengan kecepatan tinggi menabrak Nissan X Trail
yang dikendarainya pada bagian belakang sebelah kiri
sehingga mobil Pak Zil terdorong ke kanan dan naik ke
pembatas jalan. Pada saat itu Pak Zil mengendari kendaraan
dengan kecepatan antara 60 – 70 km dan kami semua tahu,
bahwa apabila mengendarai mobil, Pak Zil selalu
berhati-hati. Ketika ditabrak oleh bus Metromini tersebut,
dari arah depan Pak Zil melihat banyak kendaraan yang
melaju dari arah yang berlawanan, sehingga ia membanting
stir ke kiri, akibatnya mobilnya terbalik di jalur semula
dengan ke empat rodanya menghadap ke arah lapangan golf,
bagian kiri mobil di aspal jalan dan meluncur beberapa
meter. Namun ketika mobil terhenti, Pak Zil berada dalam
posisi berdiri di dalam mobil dengan menginjak pecahan
kaca pintu samping kiri dan pintu kanan berada di atas
kepalanya, sedangkan seat belt sudah terlepas.
Bus Metromini yang menabrak, langsung kabur. Ketika
orang-orang akan menolong untuk membalikkan mobil ke
posisi normal, Pak Zil sempat memberikan kode agar mobil
jangan dibalikkan dahulu dengan maksud agar dia keluar
terlebih dahulu dari mobil, baru kemudian mobil dibalikkan
ke posisi normal. Namun dia tidak dapat membuka pintu
kanan mobil yang berada di atas kepalanya, baru kemudian
dia meminta orang-orang untuk membalikkan mobil ke posisi
normal. Ketika mobil sudah dalam posisi normal, sungguh
mengherankan dan ajaib, Pak Zil sudah duduk lagi di bangku
kanan sambil memegang stir mobil, kemudian dengan
tenangnya membuka pintu mobil dan keluar dari mobil.
Para penolong mau membawa Pak Zil ke rumah sakit, tetapi
ditolak oleh Pak Zil karena dia tidak merasa ada luka-luka
di tubuhnya. Para penolong itu merasa heran dan tercengang
melihat Pak Zil tidak mengalami luka sedikitpun. Hal
pertama yang diingat oleh Pak Zil ketika keluar dari mobil
ialah, bagaimana caranya untuk menghubungi keluarga di
rumah, karena ia tidak menemukan hand phone-nya, sebab
sebelumnya hand phone tersebut ditaruh oleh Pak Zil di
dashboard (kemudian ternyata hand phone tersebut
tersangkut di bawah dash board di antara kabel dan selang
AC).
Pada waktu Pak Zil ingin meminjam hand phone dari para
penolongnya, ternyata tidak ada yang mempunyai hand phone,
karena mereka adalah buruh tukang bangunan yang sedang
merenovasi rumah di dekat tempat kejadian. Tak lama
kemudian datang seorang perempuan berumur sekitar 20–25 th
yang cacat dan mempergunakan penyangga tubuh, memberikan
pinjaman hand phone kepada Pak Zil. Saat itulah baru Pak
Zil dapat menghubungi kami di rumah, dan kemudian saya
menghubungi Pnt. Harry Natanael.
Kami bersyukur dan memuji kebesaran Tuhan, ternyata dalam
peristiwa tersebut suamiku tidak mengalami luka-luka
ataupun benturan, bahkan luka segores pun tidak ada di
tubuhnya. Sungguh ajaib kuasa Tuhan yang telah
melindunginya. Kami tidak dapat membayangkan, apabila Pak
Zil tidak sadar dan tidak membanting stir ke kiri, tentu
ada pihak lain yang akan menjadi korban. Sampai saat ini
yang tidak dapat kami mengerti adalah, bagaimana caranya
dia terlepas dari seat belt dan dalam posisi berdiri di
dalam mobil menginjak pecahan kaca pintu samping kiri
ketika mobil terhenti. Juga ketika mobil dibalikkan ke
posisi normal, tanpa disadari, dia sudah duduk kembali
dengan tenang di kursi kanan sambil memegang stir mobil.
Seharusnya dia duduk di kursi kiri, sebab posisinya pada
waktu itu berdiri dengan menginjak pintu kiri mobil,
tetapi mengapa ia berada di kursi kanan sambil memegang
stir mobil? Sungguh ajaib. Demikianpun juga dengan hand
phone yang dipinjamkan oleh seorang wanita muda yang cacat
tubuhnya, di tengah malam seperti itu, sehingga suamiku
dapat menghubungi kami di rumah.
Mobil kemudian ditarik dan dititipkan ke Bengkel Nissan
Pondok Indah. Keesokan harinya saya dan Pak Zil ke bengkel
untuk mengurus kendaraan, sambil menelpon ke kantor agar
sekretarisnya melaporkan kecelakaan tersebut ke pihak
asuransi. Saya sempat shock melihat kondisi kendaraan, dan
sopir kami mengatakan: “Heran ya Bu, di dalam mobil penuh
pecahan kaca, tetapi bapak tidak mengalami luka sedikitpun”.
Bahkan mekanik Nissan bertanya kepada Pak Zil, “Pak
sopirnya masuk rumah sakit?”. Setelah mengetahui bahwa
yang mengendari mobil tersebut adalah Pak Zil sendiri,
mekanik tersebut tidak percaya dan berkata, “Syukurlah
Pak, kalau melihat kondisi mobil, kami tidak percaya dan
merasa sedih, namun kami gembira karena Bapak tidak
mengalami luka sedikitpun”. Demikian pun juga petugas
asuransi, setelah melihat kondisi mobil pada hari Kamis
siang, tidak percaya bahwa Pak Zil tidak mengalami luka
sedikitpun sehingga ia menelpon sekretaris Pak Zil di
kantor untuk menanyakan kondisi Pak Zil yang sebenarnya,
karena menurut petugas asuransi tersebut, kondisi mobil
dalam keadaan rusak parah, pasti Pak Zil mengalami luka
berat dan masuk rumah sakit.
Dari bengkel Nissan, kemudian kami mengunjungi keluarga
Pdt. Agus Susanto, untuk melawat Ibu Nani yang sedang
sakit. Di rumah kel. Pdt. Agus, Pak Zil menceritakan apa
yang dialaminya ketika pulang dari Rapat BPMJ, yang
membuat kami terharu, ketika akan pulang, Emmi, pembantu
keluarga Pdt. Agus berkata kepada saya: ”Bu, semalam waktu
terjadi kecelakaan Bapak digendong ya, Bu?”. Saya jawab:
“Tidak Em, bapak keluar sendiri dari mobilnya dan tidak
digendong”. “Ooh …. Bukan itu Bu, maksud saya bapak
digendong oleh Tuhan Yesus!” Saya kaget dan merasa terharu,
memang… sungguh Tuhan telah menggendong suamiku.
Karyawan-karyawan di kantor tempat suamiku bekerja pun,
tidak ada yang percaya bahwa Pak Zil tidak mengalami luka
sedikit pun. Dalam pikiran mereka Pak Zil sudah terbaring
di rumah sakit. Itulah sebabnya, ketika siangnya saya
menemani suamiku ke kantor, mereka semua kaget dan merasa
bersyukur kepada Tuhan karena Pak Zil tidak mengalami luka
sedikit pun. Ada yang mengatakan kepada Pak Zil, kami tahu
bahwa Bapak dilindungi oleh Tuhan karena Bapak pulang dari
gereja. Ada pula yang mengatakan, tangan Tuhan melindungi
Bapak dan mengirimkan malaikatnya untuk menolong Bapak.
Ada lagi yang mengatakan, kami kenal dan bergaul dengan
Pak Zil setiap hari, Tuhan telah menunjukkan kuasa-Nya
kepada Bapak, sungguh ajaib. Yah… mereka telah menyaksikan
kebesaran Tuhan yang telah melindungi dan menolong suamiku.
Demikian pun dengan teman-teman dari PS Agape yang
mendengar kesaksian Pak Zil pada waktu kami latihan paduan
suara, dengan terharu serta menitikkan air mata mereka
bersyukur kepada Tuhan yang telah menolong Pak Zil
sehingga terhindar dari marabahaya.
Pada malam itu, setelah Pak Zil menceritakan apa yang baru
saja dialaminya, kami sempat berdiskusi dan merefleksi
peristiwa-peristiwa yang kami sekeluarga alami, yang cukup
menggangu kami, justru setelah kami lebih aktif melayani
Tuhan. Tetapi suamiku berkata: “Jangan menyalahkan Tuhan,
tetapi kita harus bersyukur atas semua kejadian yang
menimpa kita, sehingga dengan demikian iman kita semakin
bertumbuh. Tuhan ingin tahu sampai di mana kesetiaan kita
dalam mengikuti dan melayani-Nya. Tuhan ingin tahu dan
menguji kita, apakah motivasi pelayanan kita memang
sesungguhnya keluar dari hati yang bersyukur kepada Tuhan
karena telah menerima anugrah dan berkatnya atau ada
motivasi yang lain".
Saya teringat apa yang dikatakan oleh Pdt. Raprap dalam
salah satu sesi di Pendidikan Teologi Jemaat: ”Anak Tuhan
kalau terjatuh tidak akan sampai tergeletak”. Memang
itulah yang dialami oleh suamiku sebagaimana juga yang
tertulis dalam Mazmur 91:9–11: “Sebab Tuhan ialah tempat
perlindunganmu, Yang Mahatinggi telah kau buat tempat
perteduhanmu, malapetaka tidak akan menimpa kamu, dan
tulah tidak akan mendekat kepada kemahmu; sebab
malaikat-malaikat-Nya akan diperintahkan-Nya kepadamu
untuk menjaga engkau di segala jalanmu”.
Akhirnya kami menyadari dan berkesimpulan, bahwa melalui
musibah yang telah dialami oleh suamiku, bisa menjadi cara
dan sarana bagi Tuhan untuk menyatakan pekerjaan dan karya
Tuhan dalam kehidupan kami sekeluarga, sebagaimana yang
dinyatakan oleh Emmy, mekanik Nissan, petugas asuransi dan
teman-teman serta karyawan sekantor Pak Zil, baik yang
seiman maupun yang tidak seiman dengan kami. Mereka
menyatakan puji dan syukurnya kepada Tuhan yang telah
melindungi suamiku. Kami sekeluarga percaya atas kehadiran
Tuhan yang selalu menjadi jaminan, bahwa dalam melewati
setiap peristiwa dan musibah, kami merasakan “tak
berkesudahan kasih setia Tuhan, tak habis-habisnya
rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi, besar kesetiaan-Mu” (Ratapan
3 : 22 – 23) |
|
|
|
>> Arsip
|
|
|
|
|
|