|
Navigasi |
|
|
|
|
|
Warta Jemaat |
|
|
|
|
Layanan Jemaat |
|
|
|
|
Kegiatan Ouikumenis
|
|
|
| |
|
|
|
|
 |
|
Kesaksian |
|
21 Januari 2005
Bersyukur karena Tuhan baik Ibu Mieke R Tobing |
|
|
Sudah lama
aku memendam keinginanku untuk membagikan kesaksian ini.
Entah kenapa, dorongan ini selalu terasa lebih kuat pada
saat menjelang Hari Natal. Akhirnya, aku putuskan untuk
melakukannya menjelang Natal tahun ini. Inilah tulisan
mengenai apa yang aku rasakan dan aku alami.
Setiap kali memasuki bulan Desember, hatiku merasa senang
dan bahagia, karena aku akan mulai disibukkan dengan
menata rumah dan menghias pohon Natal. Tanggal 1 Desember
yang lalu, pohon Natal telah selesai aku hias, aku merasa
senang memandang pohon yang dipenuhi lampu dan hiasan yang
cantik. Ini semua adalah ungkapan syukurku kepada Tuhan
Yesus yang sangat baik kepadaku dan keluargaku. Kegiatan
pelayananku di gereja juga cukup padat, mulai dari
berlatih paduan suara untuk Kebaktian Natal sampai
pelayananku bersama pasanganku di Komisi Dewasa.
Aku berasal dari keluarga yang bukan Kristen, tetapi
sebelum menikah aku telah menjadi pengikut Tuhan Yesus.
Keputusanku untuk masuk Kristen adalah didasarkan pada
pertimbangan bahwa aku tidak mau ada dua agama dalam
keluargaku. Ini semua aku lakukan dengan sukarela, tanpa
paksaan dari pihak manapun juga. Bahkan sebelum aku
melakukan rencana ini, aku meminta ijin kepada ibuku.
Beliau mengijinkan dengan satu pesan, “Jadilah kamu
seorang Kristen yang baik dan kamu harus jalani dengan
sungguh-sungguh”. Pesan itu masih tetap aku ingat dan aku
kenang sampai saat ini.
Walau ibuku telah mengijinkan aku untuk memeluk agama
Kristen, masih banyak saudara-saudaraku yang tidak setuju.
Keadaan ini sering membuatku goyah dan lemah. Akan tetapi,
aku selalu berdoa minta kekuatan kepada Tuhan. Dalam
perjalanannya, aku merasa senantiasa dikuatkan oleh Tuhan,
melalui firman-Nya dalam Yohanes 14:6 yang mengatakan,
“Akulah jalan dan kebenaran dan hidup, tidak ada
seorangpun yang datang kepada Bapa kalau tidak melalui Aku”.
Aku dan Rudy, suamiku, memulai membangun mahligai rumah
tangga dari nol, karena kami menikah dalam usia yang
relatif muda. Semangat dan tanggung jawab Rudy dalam
membina rumah tangga membuat kami dapat hidup berbahagia
bersama anak-anak buah cinta kasih kami. Kami dikaruniai
empat orang anak, tiga laki-laki dan satu perempuan.
Sebagai orang tua, tentunya kamipun mulai menabung untuk
persiapan masa depan anak-anak kami. Rencana dan impian
yang ada di pikiran kami, ternyata lain dengan kehendak
Tuhan.
Tahun 1996, ketika anak kedua kami menginjak masa remaja,
dengan tujuan untuk memberikan pendidikan yang terbaik,
kami menyekolahkannya ke Amerika. Namun, bukannya ilmu
yang didapat, tetapi anak kami terlibat dalam narkoba.
Keadaan ini membuat aku sebagai ibunya merasa terpuruk,
sedih, malu bercampur menjadi satu. Keadaan ini menjadi
lebih parah lagi ketika kami mengetahui bahwa anak kami
yang ketiga juga terkena narkoba. Aku merasa semakin tidak
berdaya.
Setelah beberapa lama, aku mencoba bangkit dari kesedihan
dan keterpurukan ini. Aku harus menolong Rudy, membantunya
membawa anak-anak kami berobat agar mereka terlepas dari
jeratan narkoba. Segala macam cara dan upaya kami lakukan,
kami juga berkonsultasi dengan banyak dokter, tetapi
memang tidaklah mudah untuk menyembuhkan mereka.
Pada suatu hari, anak kedua kami yang masih dalam proses
penyembuhan, menyampaikan keinginannya untuk menikah.
Mendengar hal ini, aku bagaikan mendengar suara halilintar
di siang hari. Bagaimana tidak, dia belum sembuh benar,
bagaimana dia harus membina rumah tangga, aku kuatir
kehidupan perkawinannya tidak akan lama, dan masih banyak
lagi pertanyaan dan kekuatiran dalam benakku. Akhirnya,
keinginannya tersebut kami kabulkan.
Pada saat kami sedang berjuang untuk menyembuhkan
anak-anak, Rudy diminta untuk menjadi anggota Majelis
Jemaat di gereja kami. Awalnya Rudy menolak karena kami
masih mempunyai masalah dengan anak-anak. Rudy takut
nantinya akan menjadi batu sandungan dalam pelayanannya.
Akan tetapi, aku sebagai istrinya justru mendorong Rudy
untuk menerima tugas mulia ini karena aku yakin betul
dalam hal ini pasti Tuhan mempunyai maksud lain. Aku
mendukung suamiku dengan sepenuh hatiku agar Rudy mau
menerima tugas pelayanan ini.
Kami berdua menjalani masa-masa sulit dalam upaya kami
mengobati anak-anak kami. Yang satu sembuh, yang satu lagi
kumat, demikian berganti-ganti dalam waktu yang cukup
lama. Kekuatiranku terhadap kehidupan perkawinan anakku
menjadi kenyataan. Setelah dua tahun, di mana telah
dikaruniai seorang anak, kehidupan rumahtangganya retak.
Anakku masih tetap memakai narkoba dan istrinya tidak
dapat mencegah dan tidak kuat menghadapi keadaan ini. Maka
terjadilah hal yang tidak kuinginkan, yaitu perceraian.
Demikian keadaan ini terus berlanjut. Sampai di tahun 2001
kami menemukan tempat rehabilitasi bagi pemakai narkoba
yang kami anggap baik. Kami membawa mereka ke sana walau
tidak sedikit biaya untuk mengobati mereka, tetapi
anak-anak kami lebih dari segala-galanya. Mereka adalah
buah cinta kasih kami, mereka masih mempunyai masa depan
yang panjang, mereka harus dapat hidup normal kembali
bersama keluarga dan teman-temannya. Kami rangkul mereka
dengan penuh kasih sayang, agar mereka mempunyai rasa
percaya diri untuk sembuh dan kembali ke masyarakat.
Kami sudah berada dalam keadaan yang tidak berdaya, kami
hanya dapat memohon kepada Tuhan saja. Kami berserah dan
menyerahkan masalah kami ini kepada Tuhan. Kami berdua
bersujud di hadapan Tuhan, memohon pertolongan-Nya, karena
tanpa Tuhan kami tidak dapat berbuat apa-apa, seperti
tertulis dalam 1 Korintus 10:13, “Pencobaan-pencobaan yang
kamu alami adalah pencobaan-pencobaan biasa yg tidak
melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena
itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui
kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan
kepadamu jalan keluar, sehingga kamu dapat menanggungnya”.
Bersandar dan berharap kepada Tuhan sajalah yang membuat
kami dapat melampaui semua masalah ini. Pada saat ini
anak-anak kami sudah disembuhkan dan mereka sudah dapat
hidup normal kembali. Aku begitu bangga kepada kedua anak
kami yang dengan penuh kesadaran mau sembuh dari
ketergantungan obat. Tanpa ada kerjasama yang baik, semua
itu akan sia-sia, karena aku dan Rudy hanya membantu
mereka saja.
Puji Tuhan, anak kami yang kedua pada saat ini sudah
bekerja di satu perusahaan, dan anak yang ketiga sekarang
bekerja di tempat rehabilitasi. Ia tergerak untuk menolong
anak-anak lain yang menderita seperti dia dahulu, sambil
melanjutkan kuliahnya di Universitas Terbuka (UT). Anak
kami yang pertama sudah menyelesaikan sarjananya, sudah
berkeluarga dan mempunyai dua orang anak.
Kini, aku dan Rudy dapat bernafas lega karena di usia kami
yang ke 50, kami sudah memiliki tiga orang cucu dan satu
menantu. Kami tetap melayani Tuhan di gereja kami dan kami
merasakan dukungan dan doa dari teman-teman sepelayanan
kami. Aku dan Rudy menjadi kuat dan tetap setia dengan
pelayanan kami dan tetap setia menjadi anak Tuhan, yang
artinya harus mau juga memikul salibnya.
Selamat Hari Natal 2004 dan Tahun Baru 2005 Tuhan
memberkati kita semua. Jakarta, 9 Desember 2004 |
|
|
|
>> Arsip
|
|
|
|
|
|