|
Pada hari itu, Sabtu 25 Mei 2003 sekitar pukul 08:30 WIB,
anak saya tercinta, David Alexander Basar Muliana Siahaan,
menelpon saya:
“Mama sehat? Kemana rencana mama hari ini?”
Dia memang biasa menelpon pada pagi maupun malam hari agar
selalu dapat mengetahui keadaan ibunya.
“Pagi ini mama tidak ke mana-mana, cuma nanti mau latihan
koor wilayah. Don’t worry, mama pergi bersama teman-teman,
dan kau ke mana sayang,” saya balik bertanya.
“Ke BSD, Ma, latihan untuk lomba balap mobil/rally besok.
Kita mesti menang!” katanya di seberang sana.
Seperti biasa, dia selalu menunjukkan optimismenya. Telah
menjadi sikapnya, jika saya mempunyai kegiatan ke luar
rumah pagi hari dan kalau tidak mengganggu program
kerjanya, anak saya akan selalu berkata: “Tunggu, nanti
saya antar Mama!”
Saya tidak dapat menolaknya, meski sebenarnya tak perlu
baginya untuk mengantar, sebab saya tahu betul sifatnya
karena dia tidak suka kalau uluran tangannya ditolak.
Sebelum mengakhiri percakapan telpon itu, saya masih
berucap: “Hati-hati sayang!”
“Beres, Ma, kita pasti menang!” katanya penuh keyakinan.
Setiap anak saya mau pergi balap mobil/rally, hati saya
selalu kecut. Saya tak suka akan hobby-nya itu, karena itu
hobby yang berisiko tinggi.
“Ahh, Mama! Mama kan suka berdoa. Kalau Tuhan mau panggil
kita, waktu tidurpun kita dapat diambil-Nya,” begitu
jawabnya jika saya mengutarakan kekhawatiran saya.
Dan memang, setiap dia menjalani hobby-nya itu, saya akan
terus-menerus berdoa dan pernah sampai-sampai bos saya di
kantor mengira saya mengantuk atau tertidur, pada hal saya
sedang berdoa.
Begitulah, sekitar pukul 11:30 WIB, saya menerima telpon
dari salah seorang teman anak saya:
“Tante, Alex kecelakaan dan kini dibawa ke RS A.A. Sobirin di BSD!”
Saya segera bergegas untuk menuju ke RS Sobirin, namun
beberapa saat sebelum berangkat, telpon berdering lagi
dari teman anak saya tadi, yang mengatakan:
“Tante, Alex
sudah tiada! Tante jangan ke RS lagi, ke rumah Alex saja.
Di sana tante tunggu, sebab sekarang Alex sedang
dimandikan dan akan terus kami bawa pulang!”
Semua menjadi gelap. Apa yang saya khawatirkan selama ini,
kini menjadi kenyataan. Hancur segalanya. Saya berdiri
kaku seperti patung dan tak tahu harus berbuat apa.
Gemetaran dan merasa tak berdaya lagi.
Saya menjerit kepada Tuhan, Bapaku!
“Tio yang malang, Tio yang malang, kini tinggal seorang
diri hidup di dunia,” kata hati kecil saya.
Akhirnya saya sadar dan segera bergegas berangkat ke rumah
anak saya dengan badan terasa terus bergemetaran.
Di saat menantikan kedatangan jenazah anak saya, saya
memohon kepada Pdt. Joas Adiprasetya yang saya minta untuk
datang ke situ untuk mendoakan saya.
“Pak Joas, doakan
saya! Saya merasa gelap betul. Rasanya saya berada di
awang-awang yang gelap sekali, tak dapat berpijak, tak
dapat berpegang. Saya ditinggal sendirian, saya tak tahu
dan tak dapat berdoa kepada Bapa. Saya merasa pahit sekali.
Doakan saya Pak Joas. Saya mau ikut bersama anak saya!”
Pdt. Joas kemudian mengiyakan permohonan saya tersebut,
dan beliau berdoa kira-kira seperti berikut ini:
“Bapa
yang di sorga, yang Maha Pengasih, saya kenal ibu ini.
Saya tidak lebih beriman dari dia. Kepercayaan saya tidak
lebih besar dari ibu ini. Jika kejadian yang dialaminya
ini terjadi pada saya, sayapun tidak tahu mau mengatakan
apa. Ya Bapa, Roh Kuduslah yang mengungkapkan kepada Bapa.
Semua yang tak mampu kami ungkapkan kepada Bapa, biarlah
Roh Kudus yang menyampaikannya kepada Bapa. Kami mohon
pertolongan Bapa!”
Mendengar Pdt. Joas menyampaikan kata-kata Roh Kudus dalam
doa tersebut, saya sangat terkejut dan sadar bahwa
walaupun saya tak tahu harus bagaimana berdoa saat itu,
Roh Kudus yang ada di dalam diri saya akan menyampaikannya
kepada Bapa. Semua kepahitan yang tak dapat saya ungkapkan,
semuanya akan disampaikan oleh Roh Kudus kepada Bapa. Saya
merasa “terhibur”, karena Bapa tahu semua yang saya alami.
Sekarang saya mengerti bimbingan Bapa kepada saya melalui
kata-kata dalam doa saya kepada Bapa, seperti yang
terungkap di atas.
Kini Alex telah pergi. Bapa telah memanggil anak-Nya itu.
Dan semakin lama saya semakin mengerti dan bersyukur
kepada Bapa, Allah Tritunggal, karena saya telah dipilih
Bapa menjadi ibu duniawi bagi Alex. Bapa mengaruniakan
anak-Nya itu dalam sukacita kehidupan saya sebagai ibu
selama 39 tahun masa hidup anak saya.
Kami merayakan ulang tahun perkawinannya yang ke-4 pada
tgl 19 Mei 2002, merayakan hari ulang tahun kelahirannya
yang ke-39 pada tgl 23 Mei 2002 dan Bapa memanggil
kepangkuan-Nya tgl 25 Mei 2002.
“Selamat jalan anakku. Selamat melayani Tuhan, Bapa kita
di sorga sekarang, sampai kita bertemu di pangkuan Bapa
kelak, sebab itulah doa Mama selalu. Tuhan, apapun cara
Bapa, aku dan anakku akan sama-sama berada di pangkuan
Bapa kelak!”
(tm/rw-skt)
Ibu Tio M. Manihuruk,
Jln. Kartika Alam - Pondok Indah
23 Mei 2004 pkl 02:10 WIB.
|